
Farhan's
"Mas aku lapar !" Renggek Nia berusaha lari dalam dekapanku.
"Tunggu sebentar lagi !" Ucapku tidak rela melepaskan pelukakku, aku malah semakin mempererat pelukaku, merasa sayang kalau kebahagiaan ini berlalu begitu saja.
"Kenapa sekarang? kau baik-baik saja, apakah punggungmu masih sakit ?" Sepertinya Nia bingung dengan sikapku yang seperti anak kecil yang tidak mau ibunya menurukannya dari gendongan.
"Nia aku takut !" bisikku disamping telinganya, sambil membenamkan wajahku dibalik bahunya.
Nia membelai rambutku perlahan "Apa yang kamu takutkan aku disini " Jawabnya pelan.
"Aku takut kamu akan lari dari dekapanku, aku sangat ketakutan, bahkan saat inipun ketika kamu masih berada dalam pelukakku aku merasa kamu bisa saja menghilang dalam sekejap, seperti ketika aku terbangun dalam mimpi" ucapku jujur karena aku sering memimpikan hal ini , tunggu jangan-jangan ini memang benar hanya mimpi?
"Kalau begitu peluklah aku sesukamu, biarkan aku mati dalam pelukanmu, dan aku tidak akan bisa lari lagi" ucapnya.
"Apa ?" aku terkujut dengan ucapannya dan Aku segera melepaskan pelukakku, menatapnya untuk mencari penjelasan atas apa yang ia katakan.
"Aku lapar, rasanya sudah hampir mati, kenapa kamu masih mau main peluk-pelukan ?" Ucapnya mengerucutkan bibir mungilnya.
Aku marah tidak menjawab dan berdiri meninggalkannya yang masih terduduk dilantai, aku kembali fokus pada kompor untuk menyalakan api, sial masih tidak mau nyala, apakah kompornya rusak ? aku mengerutu sendirian sambil mengecek keadaan sekitar kompor, Sial pasti Nia sedang menertawaiku sekarang.
Deg !! Tiba-tiba aku merasakan perasaan hangat dibalik punggungku Nia memelukku dari belakang sambil wajahnya mendongkak untuk melihat ekspresiku.
"Apa ?" ucapku ketus.
"Kamu tidak tahu caranya menyalakan kompor ?" tanyanya tanpa dosa.
Membuat wajahku bersemu merah, benar aku belum pernah menyalakan kompor sebelumnya, sepertinya ia mengerti meskipun aku tidak mengatakannya. Ia tersenyum kemudian melepaskan pelukannya dari punggungku, yah aku merasa sedikit kesal. "Apa yang ingin kamu lakukan ?" Ucapku bingung karena ia berjalan maju dan berdiri didepanku.
"Tuan suami tolong minggir, istrimu ini akan mengajarimu bagaimana caranya memasak mi instan oke " ucapnya dengan senyuman manis sambil mendorongku untuk pergi menjauh.
"Hey kamu kan sedang sakit, ayo kita beli makanan saja" Aku menggendongnya untuk menjauh.
"Aku sudah lapar sekali, ayolah aku baik-baik saja, turunkan aku" ia meronta untuk minta turun, tapi aku tetap menggendongnya dan meletakkanya di atas ranjang tempat tidurnya.
"Istirahat dulu aku akan memesan makanan kita pakai go food saja " ucapku sambil meraih hp dan membuka layanan go food mencari tahu info makanan "Kamu mau makan apa?" tanyaku sambil terus menatap layar hp, ia tidak menjawab membuatku beralih untuk melihatnya , dia sudah berada di bawah selimut sambil memunggungiku, sepertinya dia marah.
"Hey kamu mau makan apa?" tanyaku sambil menggoyangkan bahunya.
"Aku tidak mau makan, aku capek mau tidur !"
Haha aku malah menahan tawaku , dia ngambek dan itu malah membuatku semakin gemas. Akupun memesan satu bubur ayam untuknya dan nasi goreng untukku sendiri dan 2 gelas jus mangga.
Triing* Satu sms masuk di hp Nia , akupun meraih Hp yang berada diatas meja dekatku. "Hp mu bunyi nih" ucapku sambil memberikan hp padanya. Ia tidak menjawab, aku hanya menarik nafas panjang.
Triing* Satu sms lagi membuatku penasaran dan membukanya. Aku terkejut karena melihat isi pesan tersebut apa-apa an ini sayang ? isi pesan itu membuatku menjadi marah seketika.
"Sayang kamu belum tidur ?"
__ADS_1
"Kamu masih menungguku? Maaf aku nggak bisa datang lain kali aja ya , I Love You !"
Nomer tidak dikenal, siapa dia berani-beraninya menggangu milikku ? Apakah ini cowok waktu itu ? Benarkan Nia berselingkuh ? Apa yang harus ku lakukan ? Apakah aku harus marah lagi, tapi aku tidak mau kehilangannya? Apakah aku harus memohon agar dia memilihku dan meninggalkon cowok itu ?
Tanpa kusadari Nia bangun, mungkin bingung karena aku hanya diam saja, atau mungkin ia ketakutan karena ketahuan berselingkuh lagi.
"Kenapa sayang?" Ia menatapku aku tidak menjawab dan aku menundukkan kepala mengalihkan pandanganku darinya "Siapa, yang sms?" Ia meraih hpnya dan membukanya, mungkin ia juga ingin melihat sms dari siapa kah itu.
"Siapa dia ?" ucapku dingin, masih dengan menundukkan kepala.
"Bukankah ini kamu?" jawabnya membuatku terkejut.
"Apa maksudmu aku tidak pernah mengirim sms itu, aku juga tidak pernah menghubungimu semenjak dua minggu lalu" Jawabku menatapnya mencari penjelasan.
Wajah Nia berubah menjadi pucat, Ia menyerahkan hpnya padaku menunjukkan semua sms yang ia terima dari cowok ini, akupun membacanya satu persatu.
Ia menatapku sambil memberi penjelasan ketika aku masih sibuk membaca sms itu. "Aku juga tidak tahu siapa pengirimnya, ia terus mengirimiku sms semenjak hari minggu lalu, sepertinya ia penguntit ia selalu tahu apa yang aku lakukan, tapi aku tidak peduli padanya, sampai hari ini, tadi sore aku pulang dari kampus, di jalan sempit depan gang rumahku sebuah motor melaju kencang dan menyerempetku, aku terlalu terkejut dan tidak bisa menghindar, jalanan sangat sepi tidak ada orang yang menolongku sama sekali, aku berjalan sendiri kesini, lalu ..!" Ia berhenti sejenak mengatur nafas.
"Lalu ?" Tanyaku beralih memandangnya setelah membaca seluruh sms itu, rasanya darahku mendidih aku ingin mengahancurkan siapapun yang berani menggangu Nia, milikku yang paling berharga.
"Aku lelah dan tidak sadarkan diri, aku terbangun sekitar jam 8, lalu aku membuka hpku dan ada sms masuk darinya lagi , aku ketakutan ketika dia bilang mau datang kesini, saat itu terdengar suara ketuk pintu aku tidak berani membukannya, setelah mendengar suaramu, jadi kupikir dia adalah kamu, kamu yang sangat marah padaku" ucapnya hampir menangis.
Aku duduk di samping ranjangnya, menariknya dalam pelukanku, membelai rambutnya perlahan. "Maaf, maafkan aku" ucapku lirih.
Nia mulai menangis lagi tanpa mengucapkan apapun, lidahku kelu semua kemarahanku berubah menjadi penyesalan, dia pasti ketakutan sekali waktu itu. "Kenapa kamu tidak menghubungiku ?" tanyaku lagi
"Kalau begitu kamu seharusnya menghubungi temanmu, meskipun aku tahu kamu kuat tapi hal seperti ini sangat berbahaya".
"Hiks, aku tidak punya teman!"
"Aku pernah melihatmu bermain bersama teman-temanmu" .
"Mereka bukan temanku mereka teman Ardan dan setelah kejadian waktu itu, di kelas seni aku sudah bicara pada Ardan untuk tidak perlu berhubungan lagi denganku, Aku mulai menjauh dari mereka , dan tidak ada satupun dari mereka yang mencariku, dari awal aku memang tidak memiliki apapun!" tangisnya semakin keras.
"Kalau kamu tahu akan menderita seperti ini, lalu untuk apa kamu berhenti berteman dengannya?" tanyaku karena masih penasaran betapa bodohnya gadis dipelukanku ini.
"Karena kamu tidak menyukainya, Aku tidak tahu bagaimana cara untuk meminta maaf padamu, bahkan aku juga tidak bisa memaafkan diriku sendiri, satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah tidak melakukan apapun yang membuatmu benci padaku!" jawabnya.
"Maksudnya ?" aku masih tidak mengerti.
"Aku tidak mau berteman dengan Ardan lagi, aku berhenti bekerja, Aku juga tidak pernah berantem lagi, bahkan aku pindah jurusan aku tidak mau melukis lagi, berharap suatu saat kamu akan menatapku lagi dan memaafkan semua yang telah kulakukan padamu".
Aku merasa bersalah dengan semua kelakuanku padanya "Maaf karena telah meninggalkanmu sendirian, maaf karena sudah tidak mempercayaimu" ucapku dan kembali mengecup kepalanya dengan sayang. Tunggu bukankah itu artinya Nia sangat mencintaiku ia bahkan mau kehilangan apapun demi aku, dia bahkan meninggalkan temannya hanya karena takut aku tidak akan suka. Membuat aku tidak bisa berhenti tersenyum sepertinya tubuhku sudah penuh kebahagiaan. "Apakah itu artinya kamu sangat mencintaiku, kamu meninggalkan cowok itu dan pekerjaanmu demi aku ?" tanyaku mencari kepastian lagi.
Nia tidak menjawab ia malah mempererat pelukannya, ia masih menenggelamkan wajahnya didadaku membuatku menjadi tenang. "Jangan pergi!" ucapnya lagi.
Aku tersenyum "Jangan takut, aku disini sayang, sebagai gantinya jangan mengotori bajuku dengan ingusmu " Ucapku ingin menggodanya agar berhenti menangis.
Ia melepaskan pelukanya dan berlari menjauh, mengambil satu box tissue yang ada di meja belajarnya, membersihkan air mata dan ingusnya, lalu duduk di kursi depan meja belajar. Ia tidak berhenti menangis, tapi kenapa aku malah suka dengan kelakuan lucunya.
__ADS_1
Kini aku berdiri dihadapannya ingin memeluknya lagi tapi dia menolak. "Maaf karena sudah mengotori bajumu" ucapnya.
Aku tersenyum " Sekarang sudah nggak papa" jawabku sambil menariknya dalam pelukakku lagi. Ia juga ikut melingkarkan tangannya di pinggangku.
Tok tok tok, Ahh suara ketuk pintu, pasti makananya sudah siap. Aku segera berdiri dan mengambil makananya, menatanya di meja ruang tamu karena Nia tidak memiliki meja makan. Aku ingin menyuapinya tapi Nia menolak ia makan dengan lahap tanpa bicara apapun, aku tersenyum sepertinya ia kelaparan, aku lebih memilih untuk menatapnya saat makan, Sesaat kemudian ia menghabiskan buburnya, ia menatapku bingung.
"Maaf aku terlalu lapar hehe , jadi sudah menghabiskannya" ucapnya malu, "Kenapa kamu nggak makan, apakah kamu kehilangan selera setelah melihat cara makanku yang berantakan?" ucapnya lagi.
"Tidak, aku terpesona melihatmu makan seperti itu, bahkan ketika pipimu penuh dengan makanan kenapa masih terlihat sangat cantik" jawabku jujur.
Wajahnya bersemu merah "Aku tahu kamu bohong, jangan menggodaku lagi cepat makan, dan pulang ini sudah larut malam"
"Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian, biarkan aku menginap disini aku akan bilang pada mama aku akan menginap dirumah teman" jawabku khawatir.
Sepertinya Nia mengerti, mungkin saja dia juga takut sendirian , akhirnya Nia membolehkanku untuk menginap di kamarnya.
"Kamu masih lapar, mau makan nasi gorengku ?" ucapku kemudian.
"Tidak kamu pasti juga lapar, makanlah aku akan menunggumu " ucapnya sambil tersenyum.
Aku ikut tersenyum dan menyodorkan satu sendok nasi goreng kemulutnya, ia pun memakannya matanya berbinar sepertinya ia menikmatinya, aku terus menyuapinya dengan penuh cinta hehe.
"Berhenti, aku sudah kenyang kamu harus makan juga" ucapnya menghentikan tanganku yang sedang menyuapinya.
Akupun tersenyum dan memasukkan nasi goreng kemulutku, menggunakan sendok yang sama.
Sepertinya Nia terkejut, matanya terbelalak menatapku "Hei itukan jorok, ambil sendok baru sana!" ucap Nia.
"Kenapa ? Kamu malu karena kita berbagi sendok, lagipula kita kan sudah berciuman ". Jawabku santai dan menyondorkan satu sendok nasi goreng kemulutnya. Sepertinya ia enggan untuk membuka mulut, membuatku cemberut "Kenapa kamu merasa jijik padaku ?".
Ia mengedip-ngedipkan matanya karena bingung ia pun membuka mulutnya, haha lucu sekali.
"Bagaimana rasanya ?" tanyaku lagi
"Apanya ?"
"Makananmu, apakah rasanya jadi berbeda ?"
"Sama aja, itu kan nasi goreng yang sama" jawabnya cuek.
Aku kembali cemberut "Kenapa hanya aku yang merasakan nasi goreng ini menjadi lebih manis ?"
"Hey apa maksudmu ? berhenti menggodaku!" ucap Nia pipinya memerah sekarang.
"Bibirmu rasanya sangat manis Nia !" jawabku masih ingin menggodanya.
Nia berdiri, "Hentikan itu menggelikan sekali, aku kenyang aku mau tidur sekarang, terimakasih atas makananya !" ucapnya lalu berjalan menuju tempat tidurnya . Haha aku hanya tertawa melihat sikap manis nya.
Farhan sepertinya kamu yang lebih manis deh !! Hehe ^^
__ADS_1