KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)

KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)
Bermalam 3


__ADS_3

Farhan's


Hangat, lembut, wangi, dimana aku seperti tertelan dalam mimpi panjang yang mengairahkan. Aku berusaha membuka mata karena mentari sudah bersinar dengan terangnya. Aku melihat seseorang dalam pelukanku tertidur lelap dengan nafas yang lembut aku bahkan dapat merasakannya, ia sedang bernafas dalam dan tenang. Nia ! aku tersenyum melihat wajahnya yang cantik masih terlelap dalam tidurnya. Aku kembali memejamkan mataku karena tidak ingin terbangun dari mimpi indahku ini.


Beberapa ingatan lewat dalam pikiranku, sepertinya hal ini baru terjadi kemarin. Nia yang berlari masuk kedalam selimutnya karena malu. Aku berusaha membangunkannya karena aku sudah selesai dengan makananku. Nia tidak mau menoleh ia hanya terus memunggungiku dan berkata "Tidurlah disofa !"


Akupun mendesah kesal, lalu mulai berbaring disofa. Aku memandangi langit-langit kamar karena tidak bisa tidur, sambil berfikir banyak sekali hal yang aku lalui hari ini. Karena tindakanku yang bodoh aku hampir saja membuat Nia celaka. Setelah ini bagaimana cara untuk melindunginya ? Aku tidak bisa meninggalkannya disini sendirian. Kalau aku mengajaknya kerumahku itu tidak mungkin kan. Dasar stalker sialan kalau aku bisa menangkapmu aku akan menghajarmu dengan tanganku sendiri.


Aku membalikkan tubuhku kesamping melihat sekeliling kamar, kamarnya bersih dan rapi walaupun sangat sederhana tapi aku rasa cukup nyaman berada disini. Jadi seperti ini tempat tinggal Nia, apakah ia selalu belajar sampai tertidur di meja belajar itu? Aku tersenyum ketika membayangkannya. Melihat satu persatu dengan teliti, kenapa aku merasa tertarik dengan apupun yang berhubungan denganya.


Mencoba berfikir apa yang Nia lakukan setiap hari. Mungkin ia bangun tidur, duduk dan merenggangkan tubuhnya sambil menguap atau mungkin mengucek matanya karena masih ngantuk, lalu masuk kamar mandi, lalu masak sarapan di dapur kecil itu, lalu makan sendirian , berangkat ke kampus, lalu pulang belajar disana sampai ketiduran, dan ia akan terbangun di tengah malam dan berjalan malas ke tempat tidurnya. Haha apaan sih, aku tersenyum dengan pikiran aneh yang terlintas dipikiranku.


Aku menatap punggung Nia, apakah ia sudah tertidur? Jam sudah menunjuk pukul 11.30 malam. Aku bangun berjalan perlahan mendekatinya, melihatnya sudah memejamkan mata, menyentuh bulu matanya mungkin saja dia akan terbangun.


Nia bergerak, ia mengerutkan dahinya, ia berbalik dan sekarang posisinya terlentang.Aku tersenyum melihatnya, aku menyentuh pipinya memastikan apakah ia sudah tidur. Nia memukul pipinya sendiri "Ahh pergi! dasar nyamuk" masih dengan mata terpejam. Haha aku mencoba menahan tawaku lucu sekali.


Entah apa yang merasukiku, aku berani berbaring disisinya, menatapnya sayang membelai pipinya lembut sambil menyibakan rambutnya kebelakang telinga.


Deg !!! Nia bergerak ia memegang tanganku agar tetap berada dipipinya "Jangan pergi !" ucapnya masih memejamkan mata. Apakah ia sedang bermimpi sekarang, aku menatapnya serius mencoba melihat isi hatinya tapi tidak bisa .


"Nia !" Aku memangilnya pelan, wajah kami sangat dekat sekarang.


"Hemm ?" Nia bergumam.


"Ayo kita menikah !"


"Ya !"


Aku tersenyum mendengar jawabannya, akupun segera memeluknya, karena terlalu senang aku terus menciumi kepalanya dengan penuh sayang. Anehnya Nia tidak terbangun dengan tingkahku. Sudah puas menciumi nya akupun tidur sambil memeluknya, dan posisi kami masih sama sampai sekarang ....


Tunggu! Ini bukan mimpi, aku membuka mataku, Nia masih tidur dalam pelukanku, aku bangun perlahan agar tidak membangunkannya. Hhhh, aman aku menarik nafas lega. Untung saja dia tidak melihatku sedang tidur bersamanya.


Jam sudah menunjuk pukul 8, aku pergi kekamar mandi , lalu cuci muka. Aku menelfon mama menjelaskan apa yang terjadi dan meminta restu agar aku bisa menikah dengan Nia hari ini. Sepertinya mama terkejut tapi sesaat kemudian mama terlihat senang suaranya sangat keras berteriak-teriak tidak percaya tapi ia sangat bersyukur dengan keputusan yang aku buat. Mama bilang ia yang akan mengatur semuanya yang perlu kita lakukan hari ini hanya pergi ke KUA menikah secara resmi di depan penghulu dan beberapa orang saksi, lalu menandatangani surat nikah agar diakui oleh dunia bahwa kami sudah resmi menjadi pasangan suami istri, untuk pestanya nanti menunggu Nia sembuh dari ciderannya.


Aku menyandarkan tubuhku sofa, tersenyum melihat Nia yang masih tertidur. "Dia pasti capek!". Aku membuka hpku dan memesan makanan untuk sarapan. Setelah itu kembali fokus memandangi Nia yang sedang tertidur.

__ADS_1


Aku melihat Nia bergerak kekanan dan kekiri, merenggangkan tubuhnya berusaha untuk mengumpulkan seluruh nyawanya. Ia menatap jendela lalu segera bangun karena menyadari sesuatu "Ahh sudah siang, aku belum sholat, aduh jam berapa ini aku harus ke kampus" Ia bergumam sambil mengacak rambutnya, lalu segera beranjak untuk keluar dari tempat tidur. Haha tingkahnya lucu sekali tidak sama dengan yang kubayangkan kemarin malam.


Bruakk* "Ahhhh !!" Nia mengerang kesakitan karena terjatuh ketika mau berdiri dari kamar tidur.


"Hahaha" Aku tertawa keras sekali, tidak tahan melihat kelakuan Nia yang sangat lucu. Aku berdiri lalu berjalan menolong Nia yang terjatuh, lalu menggendongnya agar kembali duduk di ranjangnya.


Ia menatapku sebal "Kenapa kamu ada disini?" tanyanya setelah sadar.


"Kamu lupa ya kemarin kan kamu yang memintaku tidur disini" ucapku sambil memeriksa luka dikakinya.


Sepertinya ia berfikir, lalu diam mungkin malu haha. "Aku harus pergi kekampus" ucapnya mengalihkan pembicaraan.


"Hari ini hari minggu" jawabku santai.


"Ahh benar aku lupa"


Aku tersenyum lalu menatapnya "Mau ikut denganku ?"


"Kemana?" ia juga menatapku penasaran.


Ia mengedip-ngedipkan matanya, seperti berfikir, lalu dengan bingung ia merapikan rambutnya, melihat penampilannya yang berantakan , wajahnya memerah iapun berlari kekamar mandi "Aku akan mandi sekarang" ucapnya sambil berlari.


"Hati-hati kamu masih terluka, jangan lupa copot perbanya" ucapku khawatir tapi senyum di bibirku tetap tidak mau pergi.


Aku duduk sambil memainkan hpku, tapi aku tidak fokus, mendengarkan suara air dari kamar mandi membuat wajahku menjadi panas, ahhh apa yang aku pikirkan ?.


Tok tok tok* suara ketuk pintu sepertinya food delevery datang, "ahh selamat gumamku" aku bisa mengalihkan pikiran gilaku untuk sesaat , akupun segera membukakan pintu dan mengambilnya. Menatanya di meja dengan rapi.


"Mas !" teriakan Nia mengagetkanku.


"Ya ! Ada apa ?" tanyaku bingung.


"Aku lupa nggak bawa handuk, bisa ambilkan handuk dan bajuku juga dilemari itu" ucapnya membuat bulu kuduku merinding.


"Iya tunggu sebentar" Aku berdiri didepan lemari, menelan ludah, hhh untuk pertama kalinya aku membuka lemari perempuan, apa yang ada didalam sana dan apa yang harus aku ambil? Ahh sial aku berusaha mengalihkan pikiran kotorku, bagaimanapun aku adalah laki-laki dewasa yang normal, seharusnya aku tidak menginap dirumah wanita. Aku membuka lemari Nia, tidak ada banyak pakaian disana, Aku membuka pintu lemari yang satunya, menemukan beberapa dress, baiklah mengambil satu dress panjang berwarna pink muda sepertinya cocok untuknya, lalu handuk dan pakaian dalamnya.

__ADS_1


Mengetok pintu kamar mandi, Nia membuka sedikit pintu sehingga terlihat sedikit celah Nia mengulurkan tangannya dan aku memberikan bajunya, Nia mengucapkan terimakasih dan segera menutup pintu.


Aku kembali duduk disofa , wajahku panas ahh sepertinya pipiku juga memerah.


Nia keluar dari kamar mandi, ia masih sibuk mengeringkan rambutnya.


Aku berjalan dan mendekat meraih handuk yang ada di tangannya. "Tanganmu terluka biar ku bantu" ucapku menjelaskan. Jantung diamlah aku berusaha untuk menenangkan diriku Nia terlihat sangat cantik meskipun tanpa make up, aroma sabun yang ia pakai sangat lembut dan wangi.


"Kenapa kamu memilihkan baju ini untukku? memangnya kita mau kemana? apakah tidak terlalu berlebihan?" ucapnya berkomentar tidak suka dengan gaun pilihanku.


"Kenapa? cantik kok " jawabku jujur.


"Inikan untuk pergi kepesta bahkan aku hanya pernah memakai ini sekali saja, aku malu tahu" ucapnya masih tidak suka.


"Aku menyukainya!" jawabku santai.


"Tapi ...." belum selesai ia bicara aku sudah menutup mulutnya dengan tanganku.


Aku menatapnya dan tersenyum lalu bebisik "Apakah aku harus menciummu dulu agar kamu bisa diam !"


Ia melotot kaget lalu geleng-geleng kepala, yang membuatku tertawa dibuatnya. Aku melepaskan tanganku, lalu ia cemberut "Kenapa kamu teropsesi sekali dengan ciuman?" ucapnya lagi dengan tatapan sebal.


"Memangnya kenapa, itu hal yang wajar kok, kamu sendiri bagaimana apakah kamu tidak ingin menciumku?" Aku menatapnya tajam, menunggu jawabannya tapi ia tidak menjawab, aku pun memalingkan wajahku lalu menarik nafas panjang "Kamu selalu saja menghindar, apakah kamu sebenci itu dengan ciuman, atau kamu memang tidak menyukaiku, kamu tidak menyukaiku sebesar aku menyukaimu, mungkin ini mudah untukmu, tapi aku sangat sulit mengendalikan diriku" jawabku kecewa.


"Maaf" jawabnya sambil menundukkan kepala.


"Hhhh, apa yang bisa aku harapkan darimu, ayo kita makan" ucapku dan beranjak untuk pergi. Nia mengenggam lenganku dengan kedua tangannya, membuatku berhenti dan memandangnya.


Ia masih menundukkan wajahnya "Maaf, aku juga sangat mencintaimu, aku juga sulit untuk mengendalikan diriku, tapi .." ia menatapku sekarang "Aku berusaha menjaga kesucianku untukmu, meskipun aku ingin memberikan semuanya untukmu, tapi bisakah kamu tunggu sebentar lagi, tunggu setelah kita menikah, tunggu setelah kita menjadi kekasih halal di hadapan orang tua kita, dan dihadapan Allah, ya !" ucapnya memohon.


Deg! ucapannya seperti tamparan untukku, aku telah berdosa selama ini, aku lupa siapa diriku, aku sudah berjalan melewati batas, aku tertuduk meminta maaf padanya "Aku mengerti!" Aku tersenyum padanya "Ayo kita makan" ucapku sambil berjalan duluan. Ia menatapku dan mengikuti langkah kakiku.


Kami makan bersama dengan tenang setelah itu aku membantu nya memasang plaster di lukanya lagi, aku berhati-hati agar tidak menyentuh tubuhnya, berusaha mengalihkan pandanganku agar pikiranku tidak dipenuhi oleh hal-hal mesum lagi . Sudah cukup aku berbuat dosa sekarang aku benar-benar ingin menjaganya, menjadikannya kekasih halalku. Berusaha melindunginya dengan seluruh hidupku. Ya Allah terimakasih telah mempertemukanku dengannya, dan maaf karena sesaat aku melupakanmu, jadikanlah cinta kami cinta yang engkau ridhoi, jadikanlah hubungan kami sebagai jalan kami untuk menuju kebaikan, lapangkanlah hati kami untuk saling menerima kekurangan masing-masih, jadikanlah pernikahan kami Barokah, sakinah , mawadah, warohmah.


Aku tersenyum memandang jalan, hatiku merasa tenang karena seseorang yang aku cintai berada disisiku, kami akan pergi menuju kebahagiaan yang hakiki, saling berpegangang tangan dan berjanji untuk saling setia.

__ADS_1


You will never have true love, before you get married !! Hehe ^^


__ADS_2