KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)

KEEP THE FAITH (Percaya Pada Allah)
Cinta Ardan


__ADS_3

Ardan's


Cinta bisa datang kapanpun dan dimanapun, kadang tanpa kita sadari kita telah jatuh kedalamnya.


Aku mengendari motorku dengan kencang tidak peduli dengan kendaraan lain disekitar. Hidupku rasanya hampa, kemarin aku baru putus dengan Sinta, aku jarang membalas smsnya karena alasanku sedang sibuk. Kami juga jarang bertemu, setelah hubunganku dengan Nia berakhir, salah setelah kesempatanku untuk mendekati Nia berakhir, aku merasa hidupku hampa, tidak ada semangat sama sekali, beberapa kali kita berpapasan hatiku selalu bergetar ingin rasanya menyapanya dan mengajaknya ngobrol. Aku merasa kasihan melihatnya sendiri, tapi sudah beberapa hari ini aku melihat Nia bersama gadis bercadar sepertinya itu anak semester satu, aku tahu dia beberapa kali kita saling bicara sebentar, tapi aku lupa namanya, aku juga tidak tertarik sih hanya kasian karena dia di bully dan tidak punya teman. Mungkin lama-lama Sinta juga muak dengan kelakuanku dia minta putus, tentu saja aku menerimanya karena aku tidak memiliki alasan untuk mempertahankannya.


Aku rasa sudah sebulan aku tidak pernah berbicara dengan Nia , aku ingin mendekatinya tapi takut, apakah hubungannya dengan pacarnya baik-baik saja aku jadi penasaran.


Hari sabtu yang panas, selesai makan siang dari kantin aku kembali kekelas, aku malas untuk ngobrol dengan anak-anak lain, tapi di koridor guru olah raga memanggilku, Ia memintaku untuk mengantar kardus berisi data-data yang sudah tidak penting untuk ditaruh di gudang di lantai atas. Akupun melakukannya karena nggak ada kerjaan juga.


Aku membuka gudang di atap gedung sekolah ini pintunya tidak dikunci, lalu akupun masuk dan menutupnya, lalu menyalahkan lampu sebagai penerangan, gudangnya kotor sekali akupun meletakkan kardus ini dipojok an bersama dengan tumpukan buku bekas.


"Aaaa!" Aku berteriak kaget karena ada orang sedang bersembunyi dibawah kolong meja "Eh, kamu siapa ?" tanyaku sambil melihatnya dengan seksama, dia gadis bercadar itu, ngapain dia disini.


ia menatapku lalu keluar dari persembunyiannya dan berdiri "Eh kak Ardan ngapain di sini ?" tanyanya kemudian.


"Aku di suruh Pak Amin untuk meletakkan buku bekas disini, kamu ngapain disini ? bajumu kotor semua". Secara reflek aku membersihkan kotoran di bajunya seperti ketika melihat adikku main kotor-kotoran. "Gudangnya pasti lama nggak dibersihkan, disini kotor sekali" Aku sibuk dengan pekerjaanku, tidak sadar kalau gadis ini sedang menatapku, "Ehh maaf " ucapku berhenti karena sadar akan sikapku yang tidak sopan.


"Gak papa kok, terima kasih sudah membantuku bembersihkannya" jawabnya sambil menundukkan kepala.


"Kamu ngapain disini? lampunya tadi nggak dinyalakan lagi, membuatku kaget saja" tanyaku berusaha menghilangkan kecangunggan.


"Ohh tadi aku habis makan siang di luar sana, lalu tiba-tiba saja banyak anak cowok naik ke atas gedung, akupun reflek lari kesini untuk bersembunyi, sepertinya mereka merokok diluar, aku takut kalau ketahuan jadi aku tidak menyalakan lampunya" jawabnya menjelaskan.


"Kamu selalu makan kesini ? sendirian ?"


"Iya, biasanya kak Nia juga ikut kesini, tapi karena dia punya janji dengan profesor, jadi nggak bisa datang lalu aku makan sendirian, biasanya cowok-cowok itu nggak pernah datang kesini kok ,nggak tahu kenapa mereka tiba-tiba kesini"


"Lain kali jangan datang sendirian, bahaya kamu dari tadi disini nggak takut sendirian?"

__ADS_1


"Tentu saja aku takut, tapi aku lebih takut kalau ketahuan mereka" jawabnya aku tidak tahu seperti apa ekspresinya ia tidak pernah menatap mataku.


"Ayo keluar, sebentar lagi bel masuk kelas kan !" Akupun berjalan maju untuk membuka pintu. Gadis itu mengikutiku dari belakang. "Ehh gimana ini pintunya nggak bisa dibuka, masak rusak sih " ucapku sambil terus berusaha membuka pintu.


"Saya juga tidak tahu, baru pertama kali saya masuk sini".


"Gimana ini aku nggak bawa hp! kamu bawa ?" tanyaku sambil meraba sakuku berharap ada hp disana.


"Saya juga tidak bawa"


Akupun berkeliling mencari celah mungkin saja bisa keluar tapi tidak ada pintu lain hanya ada jendela kecil disamping pintu dan itu tinggi sekali aku harus naik tangga jika ingin mencapainya. Aku mencari tangga tapi tidak ada seandainya teriakpun tidak akan ada yang bisa mendengar. Akhirnya aku menyerah meminta gadis itu untuk duduk dan menunggu orang datang untuk mencari kita, bagaimanapun juga tasku masih ada di dalam kelas jadi jika sampai kelas berakhir dan anak-anak tidak menemukanku pasti mereka akan mencariku. Gadis ini diam saja mengikuti instruksiku.


"Namamu siapa ?" aku berusaha memecah keheningan.


"Mariam" ucapnya singkat.


"Disini panas sekali karena ventilasi udaranya buruk , kamu nggak papa pakai baju seperti itu pasti panas sekali" ucapku basa-basi.


"Ngomong-ngomong kenapa kamu harus menutup wajahmu seperti itu ?" tanyaku penasaran.


"Karena saya malu" jawabnya singkat, membuatku bingung saja , aku harus bertanya apa lagi, aku hanya tersenyum mengerti.


Sudah satu jam kami disini, kami hanya diam menunggu, gadis ini juga diam saja, apakah dia memang pemalu dia tidak berusaha untuk mengajakku bicara. Aku marah sendiri bagaimana mungkin aku terjebak seperti adegan di film saja, apalagi bersama gadis asing yang cuek seperti ini, kalau sama Nia sih gak papa , aku tersenyum dengan pikiranku sendiri, bodoh apa yang aku harapkan Nia nggak akan pernah datang kan.


Akhirnya aku tidak tahan lagi aku mencari cara untuk bisa keluar, gadis itu ikut berdiri dan melihat apa yang aku lakukan. Aku mengatakan padanya, aku akan menyusun kardus berisi buku, untuk dijadikan sebagai tangga, ia pun mengganguk mengerti dan membantu mengambil kardus lagi dan menyusunnya, akupun berusaha untuk naik sedangkan gadis ini memegangi tumpukan kardus agar tidak jatuh, tinggal sedikit lagi, tapi gagal aku terpeleset jatuh, dan tanganku membentur dinding, "Aaaah !" Aku mengerang kesakitan, tangan kananku berdarah sepertinya tergores paku yang ada di tembok barusan. Aku masih tersungkur kesakitan tidak bergerak dari tempatku.


Gadis itu mendekatiku, kemudian melihat lukaku "Aduh bagaimana ini, darahnya banyak sekali robek nya juga besar" ucapnya, kemudian ia mengecek tubuhku, kepala, tangan kiri hingga kaki, "Apakah ada luka lain, kamu baik-baik saja ? Apakah kepalamu juga terbentur ?" Tanyanya lagi khawatir.


"Aku baik-baik saja" ucapku sambil masih meringis kesakitan.

__ADS_1


Gadis itupun pergi mencari sesuatu , tapi sepertinya ia tidak menemukan apapun yang ia cari, ia kembali kehadapanku, ia membuka cadarnya, dan memakainya untuk membungkus lenganku yang berdarah. "Luruskan tanganmu jangan bergerak, kalau tidak nanti pendarahannya tidak bisa berhenti, diam seperti ini hingga orang lain datang menyelamatkan kita" ucapnya sibuk membungkus tanganku.


Tapi anehnya aku tidak merasakan sakit lagi, aku terpesona dengan wajahnya aku tidak bisa berpaling memandang wajahnya yang berbicara sambil tangannya sibuk untuk membungkus lukaku. Cantik, cantik sekali itulah yang terpikir olehku. Hingga ia selesai dengan pekerjaannya mata kamipun bertemu, untuk pertama kalinya aku bisa dengan jelas menatap matanya, tubuhku rasanya terhipnotis pandanganku tidak berpaling.


"Kak, kamu nggak papa?" tanyanya menyadarkanku.


"Ahh iya makasih ya " Akupun mengalihkan pandanganku, dan gadis ini siapa tadi ? ah Mariam , ia duduk disampingku.


"Maaf karena saya, kakak jadi terluka?" ucapnya sambil wajahnya tertunduk.


"Bukan salah kamu kok, aku kan memang disuruh dosen untuk kesini" ucapku menenangkan.


"Tapi saya merasa beruntung karena ada kakak disini, seandainya saya sendirian mungkin saya akan sangat ketakutan, terimakasih " ucapnya masih tidak mau menatapku.


Dia manis, membuatku tersenyum kulitnya putih bibirnya juga mungil, aku menyukainnya, ahh tidak apa yang aku pikirkan. "Kamu tadi bilang kalau kamu malu makannya kamu memakai cadar, tapi aku rasa kamu cantik kok lalu untuk apa kamu malu".


"Aku malu pada Allah, aku ingin menjaga diriku dari tatapan laki-laki yang bukan mukhrim, aku hanya ingin menjaga diriku hanya untuk suamiku kelak" ucapnya masih menunduk.


Akupun memalingkan wajahku "Maaf tidak seharusnya aku menatapmu tadi" ucapku merasa bersalah.


"Nggak papa kok, mas boleh menatapku !"


Akupun kembali menatapnya bingung "Kenapa ?"


Ia menatapku dan tersenyum "Karena aku menyukai Kak Ardan" lalu dengan cepat ia kembali menunduk, aku melihatnya pipinya jadi memerah.


Akupun tersenyum "Benarkah, kamu menyukaiku ?" ia hanya diam saja tapi ada senyum tipis malu-malu disana.


Kamipun hanya diam hanyut dalam lamunan masing-masing , hingga sore hari teman-temanku menemukanku disini dan menolong kami, Mariam menutup wajahnya menggunakan buku bekas yang ada disini. Aku tidak menjawab pernyataan cintanya tapi bunga dihatiku mulai tumbuh. Haha semudah inikah aku jatuh cinta, aku rasa aku harus berani mendatangi Nia dan meminta maaf agar kita bisa jadi teman lagi, bagaimanapun juga Mariam adalah teman Nia.

__ADS_1


Cieeee ada cinta baru nih !! Hehe ^^


__ADS_2