
Nia's
"Saya terima nikahnya Nia Rahma binti Fajar Kusuma dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar 1 jt rupiah dibayar tunai !" Farhan mengucapkan janji pernikahan dengan tenang dan mantap.
"Para saksi sah ?" ucap pak penghulu.
"Sah, sah !" Beberapa orang mengatakan sah .
"Alhamdulillah" semua orang bersyukur Pak Penghulu membacakan doa , dan para hadirin mengamininya dengan penuh suka cita.
Farhan menatapku dengan mata berbinar mengecup keningku dihadapan ibunya dan Pak Penghulu serta 4 orang saksi, mereka tersenyum sambil tepuk tangan.
Mataku masih terbelalak tak percaya, apakah ini mimpi? Farhan menikah denganku, ini pasti mimpi bagaimana mungkin secepat ini ? Aku masih bingung antara sadar dan tidak sadar, percaya dan tidak percaya, aku hanya mengikuti jalan mimpiku, kemudian kami menandatangani surat nikah setelah itu pulang kerumah. Sekarang kami berada didalam mobil bertiga Farhan sebagai pengemudi, aku duduk disampingnya dan tante Farida duduk dibelakang. Tante Farida terus berbicara saking semangatnya, aku tidak fokus dengan apa yang ia bicarakan aku menatap wajah Farhan yang sangat cerah senyuman manis terus terpancar dari wajahnya. Tapi aku tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang, hampa ? seperti apa wajahku sekarang ? aku tidak tahu.
Sampailah kami dirumah Tante Farida, Tante Farida menyuruhku dan putranya untuk istirahat Ia bilang kalau wajahku pucat sepertinya aku memang sakit pikirku. Kamipun naik ke atas kamar Farhan, tunggu aku belum pernah masuk kamar Farhan. Apakah ini benar-benar mimpi, Farhan membuka pintu aku menatap tidak percaya, ranjang besar yang terlihat simple tapi sepertinya nyaman, dua buah meja kecil di samping kanan dan kiri sisi tempat tidur, karpet bulu warna coklat yang menghiasi lantai dan ada sofa panjang dibawah tempat tidur, meja kerja yang rapi, dan ada dua pintu lagi sepertinya itu lemari dan yang satunya lagi kamar mandi, tapi yang lebih membuatku kagum rak buku yang besar dan penuh dengan buku, tunggu berapa ratus buku yang ia miliki. Aku terbengong melihatnya apakah ini mimpi tapi bagaimana mungkin aku bisa menggambarkannya sedetail ini.
Farhan menarik tanganku dan membuatku duduk diatas tempat tidurnya, ia menatapku, wajahnya seperti khawatir, ia menyentuh keningku dengan telapak tangannya.
"Apakah kamu sakit ? Kamu terlihat pucat kamu juga tidak mengatakan apapun dari tadi ?" Ia bertanya dengan nada khawatir.
Aku terkejut aku berusaha mengedip-ngedipkan mataku agar bangun dari mimpi ini. "Nggak, aku nggak papa kok" ucapku salah tingkah.
Ia tersenyum kemudian memelukku dengan hangat, "Nia aku tidak tahan lagi, bolehkah aku menciummu?" ucapnya sambil berbisik ditelingaku.
Deg ! Aku terkejut aku berdiri menghindar, sepertinya Farhan bingung dengan sikapku.Ia ikut berdiri "Kenapa ada apa ?" tanyanya lagi khawatir.
"Apakah ini mimpi ?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
Farhan tertawa kemudian ia mendekat, menggengam kedua tanganku dan meletakkan dipipinya, ia mendekatkan wajahnya, perasaan hangat apa ini, dan tunggu terlalu dekat jantungku sudah ingin melompat keluar wajahku pasti memerah sekarang. "Ini bukan mimpi sekarang aku adalah suamimu Nia" Ucapnya lembut.
Aku menggelengkan kepala melepaskan tanganku dari pipinya dan berbalik memunggunginya "Tidak mungkin, bagaimana mungkin secepat ini, baru kemarin kita masih bertengkarkan dan kita belum melakukan apapun bukankah banyak yang harus dilakukan sebelum menikah" Aku bingung aku mengacak rambutku, kebiasaan yang aku lakukan ketika sedang frustasi, "Benar, pasti ini mimpi, apakah aku sampai mimpi seperti ini karena merindukanmu?" ucapku masih tetap tidak mau menatapnya, perasaan takut aku merasa jatuh tenggelam dalam hayalanku.
Farhan mendekapku sekarang, menciumi rambutku lembut membuat bulu kuduku merinding aku ingin menghindar tapi tidak bisa tenaganya terlalu kuat. "Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya kalau ini bukan mimpi" ucapnya sambil terus menciumku, tunggu dia pindah ke leherku sekarang ahhhh, benar-benar !
"Tunggu, tunggu sebentar " Ia mengendurkan pelukannya akupun berbalik menatapnya, mencari tahu kebenaran "Apakah kamu serius ini bukan mimpi?" tanyaku lagi. Ia hanya tersenyum dan mengangguk mantap. "Kalau begitu coba pukul aku ?" ucapku kalau ini mimpi mungkin saja ia akan memukulku, tapi ia diam saja "Pukul aku kalau rasanya sakit pasti ini bukan mimpi" .
Ia sepertinya berfikir lalu tersenyum ia mendekat dan mengigit telingaku, tanpa sadar aku mengerang karena geli. "Apa itu sakit?" tanyanya sambil tersenyum. "Haha wajahmu merah sekali" ucapnya menggodaku.
Ahhh aku malu sekali, aku berlari menghindarinya, untung saja kamar ini luas. "Pergi sana , dasar mesum!" ucapku ketika sampai disisi lain tempat tidur.
Ia malah tertawa dengan sikapku "Apakah kamu mau main kejar-kejaran sekarang?" Ia naik ke tempat tidur untuk menangkapku.
Ahh membuatku gemas sendiri aku kembali berlari kesisi lain, ia hanya tertawa dan berjalan perlahan untuk mendekatiku, aku malah berlari menghindar lagi dan lagi, sesekali aku melemparinya dengan bantal dan guling, suara tawa kami sudah memenuhi ruangan entahlah aku tidak memikirkannya mungkin saja orang diluar kamar ini juga bisa mendengarnya. Kamar sudah berantakan selimut, bantal, guling semua sudah berserakan dilantai membuatku susah untuk bergerak haha tapi kami merasa sangat senang.
"Haha dasar payah kau bahkan tidak bisa menangkapku" ucapku yang mungkin membuatnya geram, ia berlari dan mengejarku, haha akhirnya aku tertangkap ia menjatuhkanku ke tempat tidur dengan posisi aku dibawah dan dia diatasku masih bertumpu dengan kakinya, kami tertawa bersama sambil mengatur nafas kami masing-masing, dan akhirnya mata kami bertemu.
Farhan menatapku, matanya bersinar wajahnya benar-benar bercahaya, baru pertama kali aku melihat Farhan yang seperti ini, aku bisa mendengar nafasnya yang tersengal-sengal karena lelah berlarian mengejarku, ada setitik keringat di pelipisnya, ia tersenyum kemudian mencium bibirku tanpa bertanya terlebih dahulu, tapi aku hanya menerimanya dengan pasrah menutup mataku dan melayaninya. Ini bukan mimpi, Farhan sudah menjadi milikku sekarang, perasaan bahagia mulai mengalir mengisi semua ruang ditubuhku. Aku membuka mataku karena merasakan sesuatu dipipiku, aku kaget melihat Farhan meneteskan air mata, ia masih terus menciumiku. "Kenapa?" tanyaku bibir kami masih terus menempel.
Farhan membuka matanya, ia menatapku sayu masih tidak mau melepaskan bibirnya, ia berbicara seperti yang aku lakukan padanya, merasakan getaran bibirnya yang sedang berbicara dengan nafas kami yang masih bersatu, "Aku mencintaimu ucapnya".
"Kenapa kamu menangis ?" Tanyaku lagi.
"Karena kebahagian ini terlalu sempurna, aku tidak bisa menghentikan air mataku, seandainya kamu tahu betapa bahagianya aku sekarang, aku sangat bersyukur bisa menikah denganmu Nia" ucapnya lembut sambil air matanya terus menetes. Ia kembali menciumku lembut dan dalam.
Aku menikmatinya sesaat kemudian menggigit bibirnya agar ia menghentikan aksinya, Ia mengerti dan berdiri, Aku membenarkan posisi tubuhku yang tadi kurang nyaman, aku tersenyum melihatnya seperti anak kecil yang kebingungan. "Maaf, aku terlalu cepat ya!" Ucapnya merasa bersalah.
__ADS_1
Ahh manisnya, aku ingin mengingitnya lagi haha apaan sih, aku tersenyum dan menepuk-nepuk kasur disampingku memintanya untuk berbaring di sampingku. Ia pun mengikuti kemauanku dan berbaring disisiku, Aku memeluknya, ahh untuk pertama kalinya aku memeluknya sedikit malu sih, tapi gak tau ahh. "Terima kasih , aku juga merasa sangat bahagia sampai rasanya seperti mimpi". Farhan mulai memiringkan tubuhnya untuk ikut memelukku, membelai rambutku dengan hangat, mengecup kepalaku kemudian seperti biasa ia meletakan pipinya disana. Aku merasa aman dipelukannya, perasaan hangat karena merasa dilindungi, aku menempelkan wajahku didada Farhan aku bisa mendengarkan detak jantungnya, sangat menenangkan, akupun segera terlelap dalam tidur siangku.
Kami makan malam bersama , Tante Farida sangat baik, ia memperlakukanku seperti anaknya sendiri bahkan kelihatannya ia lebih menyayangiku dari pada Farhan.
Aku meletakkan nasi di piring Farhan, wajahku memerah karena hayalanku sendiri ini lah yang seharusnya dilakukan istri untuk suaminya hehe. Tapi Farhan menghentikan tanganku dan bilang bahwa ia bisa mengambilnya sendiri, aku merasa kecewa tanpa aku sadari aku malah melipat bibirku karena kesal.
"Hey Farhan, biarkan istrimu yang melakukannya, lihat dia kesal tuh haha" Tante Farida terlihat senang sekali karena bisa menggoda kami.
Akhirnya Farhan membiarkanku mengambilkan makanan untuknya, kamipun makan dengan tenang sambil berbicara santai layaknya keluarga.
Setelah makan malam selesai kami bersantai lagi sambil menonton televisi, Tante Farida bercerita banyak hal tentang mendiang suaminya dan Farhan , Ia bilang kalau mereka benar-benar mirip, Farhan hanya diam saja mendengarkan, tumben ia tidak menyela atau marah ketika ibunya bercerita tentang masalalu. Apalagi tante bilang kalau Farhan itu sebenarnya anak yang sangat lemah ia bahkan suka menangis dipelukan ibunya , haha membuatku tidak percaya, melihat Farhan yang seperti ini menangis, memangnya ia bisa menangis karena apa ? Apakah karena wanita, aku tidak berani bertanya aku hanya tersenyum sambil mengiyakan ucapan tante. Cowok tampan dan sempurna mana mungkin menangis karena cewek, yang ada cewek-cewek yang bakalan nangis karena di tolak olehnya , seperti aku huhu dia meninggalkanku begitu saja . Aku kembali teringat kejadian diruang seni, awas aja kalau dia berani melakukan itu lagi, aku menatapnya sambil tersenyum sinis.
Dasar ia tidak memperdulikanku dan malah dengan kerennya mengambil cangkir kopinya, dan meminum kopi itu. Membuatku geram sendiri, sial kenapa dia malah terlihat ganteng.
Malam harinya kami tidur bersama, aku tidak bisa tidur mungkin karena tadi siang aku sudah tidur, atau mungkin karena...
Deg deg deg! Dasar jantungku tidak bisa dikondisikan, melihat wajah tampannya sedekat ini, bagaimana aku bisa tidur. Aku membalikan tubuhku untuk membelakangginya berusaha bernafas dengan teratur untuk menetralkan hatiku.
Deg!!! Farhan memelukku, tangannya melingkar diperutku, aku terdiam tidak bergerak mencoba untuk memejamkan mataku.Tunggu! Bulu kuduku merinding Farhan kembali menciumiku, rambut, leher, dan tanganya sudah tidak bisa dikondisikan.Aku berbalik untuk menatapnya, Farhan menundukkan kepala sepertinya wajahnya memerah. "Kamu belum tidur?" tanyaku.
"Aku sudah tidak tahan lagi, bolehkah aku melakukannya!" jawabnya masih tertunduk. Membuatku merasa bersalah, aku mendekat dan mencium pipinya. Ia menoleh kearahku , aku tersenyum dan mengangguk.
Ia bangun, kini posisinya berada diatas tubuhku dengan kedua kaki dan tangan kirinya menumpu pada kasur, menopang berat tubuhnya agar tidak terjatuh padaku. Tangan kanannya membelai rambutku menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahku kebelakang telinga, akupun memejamkan mata dibuatnya, menunggu apa yang akan ia lakukan padaku. Satu kecupan dikening , dihidung, pipi, telinga, leher ia berhenti disana menghembuskan nafas lembut sambil berbisik "Nia aku mencintaimu!".
Aku tersenyum dan membelai rambutnya "Aku juga mencintaimu, Farhan" memberi kecupan di kepalanya, kamipun melakukan hubungan suami istri .
Kyaaak, Nia kamu ingin tahu siapa yang bisa membuat Farhan menangis? Bodoh, bukankah itu adalah dirimu sendiri !! Hehe ^^
__ADS_1