
Jonathan berdiri di belakang Irul, mengawasinya. Ini sudah hari ke 40, sudah waktunya pamitan. Irul berkali-kali masuk ke dalam mimpi istri dan orang tuanya untuk berpamitan dan memberi tanda dengan sedikit bantuan Jonathan.
Irul menangis haru melihat istrinya mengaji sampai semalam ini untuk mendoakan dirinya, sementara teman-teman mabuk dan judinya tidak menampakan diri sedikit pun. Pernah Irul penasaran dan meminta tolong Jonathan melihat teman-temannya.
Teman-temannya malah tetap judi dan mabuk tanpa dirinya, sesekali menertawakan dirinya yang meninggal karena mencuri. Dari situ Irul menangis sedih memiliki teman seperti ini dan menyesalinya.
"Sudah selesai?" tanya Jonathan.
Irul mengangguk, matanya sembab. "Ya."
"Sebentar lagi jam dua belas. Bersiaplah."
Irul mengangguk lagi.
Jonathan menatap Irul dan tersenyum. "Tidak usah takut, siksaan memang pedih tapi keluarga kamu mendoakan mu sampai seperti ini untuk meringankan siksaan kamu."
"Jangan menakuti ku," isak Irul.
"Mau bagaimana lagi, semasa hidupnya kamu seperti itu."
"Kamu mau temani aku?" Irul menggenggam jubah panjang Jonathan.
"Tidak, tugasku hanya mengirim mu."
Irul menatap pilu Jonathan. "Saya takut."
Salah satu alis Jonathan terangkat. Kebanyakan yang dia temui seperti ini, hidup di dunia layaknya preman, begitu mati langsung ketakutan seperti anak kecil bahkan menangis. "Tidak perlu takut."
"Sakit gak kena siksanya?" tanya Irul.
Jonathan menggeleng. "Aku tidak tahu."
Irul melihat istrinya sekali lagi. "Sepertinya siap tidak siap harus siap. Ngomong-ngomong terima kasih sudah mengajak saya ke Bali, itu pertama kalinya."
"Kamu hanya datang ke rumah-"
"Tapi tetap saja itu Bali kan, menginjak tanahnya saja saya tidak pernah. Ah, aku roh sih ya-"
Jonathan menepuk bahu Irul. "Jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Ini pilihan kamu."
Irul berdecak. "Kalau aku jadi orang kaya matipun tidak menyesal, ini boro-boro jadi orang kaya, mati aja karena mencuri ayam."
Jonathan meringis geli.
Handphone Andrea berdering, tanpa sadar Jonathan mengangkatnya. "Halo?"
"Halo, Andrea?"
Jonathan memaki dalam hati. Kenapa dirinya malah mengangkat handphone Andrea. Jonathan jalan menjauh dari Irul dan duduk di atap rumah. "Maaf, handphone Andrea terbawa saya."
Diam, tidak ada jawaban. Jonathan dua kali melihat layar handphone memastikan ada orang di seberang. "Halo?'
"Ini- Jonathan ya?"
Jonathan mengerutkan dahi. Memang ada temannya yang mengenal Andrea sampai telepon di handphone tunangannya? "Ini- siapa?"
"Ya ampun, masa lupa sih? yang pacaran berdua aja. Yah, aku sih gak bisa melihat malaikat pencabut nyawa." Terdengar celoteh riang di seberang.
Jonathan berusaha mengingat-ingat.
"Duh, duh belum ingat juga ya?"
Jonathan ingat sekarang. "Ini Aya, ya?"
"Yupz. Hehehehe, akhirnya bisa bicara dengan sampeyan."
"Uhm, ada yang ingin disampaikan?"
__ADS_1
"Ah, enggak Cuma hal yang enggak penting. Besok aja deh di sekolah, eh- sampeyan punya handphone juga?"
"Tidak. Kenapa? Saya tidak akan selingkuh!"
"Haduh, bukan gitu!" Aya berteriak nyaring di telepon, "Soalnya kalau ada apa-apa dengan Andrea dan tidak bisa dihubungi jadi bisa telepon situ."
"Saya tidak punya benda buatan manusia." Bohong Jonathan.
Aya tertawa keras. Dia tahu kebohongan Jonathan."Oh, begitu. Ya sudah deh, salam buat Andrea ya-"
Jonathan memutus sambungan telepon dan memasukan kembali handphone Andrea ke dalam saku celana. "Apa-apaan sih anak ini."
"Pacarnya?"
Jonathan terkejut, Irul sudah berdiri di belakang. "Ngapain kamu disini?"
"Bentar lagi jam 12 malam."
Jonathan melihat jam tangannya.
"Katanya tidak punya benda buatan manusia." Sindir Irul.
"Kamu dengar?"
Irul mengangguk. "Dari awal."
Jonathan menaikan kedua alisnya dan tersenyum, ia mengangkat tangan kanannya. "Waktunya berangkat."
"Tunggu! Tunggu! Saya tidak mendengar! Saya anggap tidak mendengar! Saya masih ingin disini sebentar!"
Jonathan menurunkan tangan kanannya.
"Saya Cuma ingin bertanya apakah saya bisa bicara dengan istri saya?"
"Di dalam mimpikan sudah."
Jonathan menggeleng, Irul menghela napas dan turun ke bawah. "Baiklah. Saya lihat putri saya dulu."
"Waktunya tersisa 30 menit!" seru Jonathan.
Irul melambaikan tangannya tanpa menoleh.
-----
Andrea menatap jam dinding kamarnya. Sudah jam dua belas malam si malaikat itu belum datang juga padahal besok hari senin, Andrea lari turun ke bawah dan masuk ke kamar mamanya yang pintunya terbuka lebar.
"Ma."
Mama Andrea yang sedari tadi membuka majalah masakan menoleh ke anaknya. "Ada apa mbak?"
"Andrea ijin tidak masuk sekolah ya besok."
"Memangnya kenapa?"
"Besok gak ada pelajaran, Andrea malas masuk sekolah tapi mama tetap tulis surat ijin ya ke sekolah." Mohon Andrea sambil mendekati mamanya.
Mama Andrea menghela napas. "Ya boleh, besok mama buatkan surat ijin tapi besok kamu bantu mama ya."
"Memangnya besok mau ada apa ma?"
"Bersih-bersih sayang. Rumah ini mau dijual sama bude."
"Apa?"
"Kita harus siap-siap pindah mbak."
Andrea menggigit bibir bawahnya. "Terus kita mau tinggal dimana ma?"
__ADS_1
"Kata bude kamu sih mungkin kita pindah ke Jakarta, mas kamu juga kan sudah menikah, butuh uang untuk beli rumah bersama istrinya." Mama Andrea mengelus rambut anaknya. "Tapi mama bilang kita tetap di Malang saja. Nanti kita cari kontrakan atau kos-kosan, mama mikirin sekolah kamu dan Andre."
'Mas' yang dimaksud mama adalah anak bude, sepupu Andrea.
"Kapan kita pindah?"
"Kalau rumah ini sudah terjual baru kita pindah. Makanya bantuin mama bersih-bersih sekalian buang barang-barang yang tidak diperlukan."
Andrea mengangguk mengerti. "Tapi besok kirim surat ijin ke sekolah ya ma."
"Kamu titipin ke siapa?"
"Ada temen nanti Andrea mintai tolong." Tiba-tiba Andrea teringat dengan handphonenya, "Astaga, mama lihat handphone Andrea?"
Mama Andrea menggeleng, "enggak, beberapa hari ini mama gak lihat kamu pegang handphone."
Andrea coba mengingat-ingat. "Hm, coba Andrea cari deh di kamar, siapa tahu keselip."
Mama Andrea mengangguk. "Ya sudah, kamu tidur sana biar besok bisa-"
"Andrea mau begadang bentar ma, mau belajar makanya minta ijin gak masuk sekolah." Potong Andrea sambil berusaha menunjukan senyum terbaiknya.
"Jangan terlalu pagi ya tidurnya-"
Andrea mengangguk. "Ok!"
"Tolong tutupin kamar mama ya, mama kedinginan."
Andrea menutup kamar mamanya dan naik ke kamar, sebelum ke kamarnya ia melihat Andre dari jendela kamarnya sedang serius mengerjakan pr. Andrea bertanya dalam hati apakah Andre tahu mengenai rumah ini. Saat Andrea akan mengetuk kamar Andre, dia melihat Jonathan berdiri di depan pintu kamarnya dan menunjukan handphone miliknya di tangan.
Andrea tersenyum lebar setelah memegang handphonenya kembali. "Darimana mas nemuin ini?"
"Aku malah heran beberapa hari ini kamu tidak mencari handphone milik kamu dan malah lupa kemana handphone ini." Jonathan mengacak-acak rambut Andrea.
Andrea melirik kamar Andre yang tertutup rapat dan kamar mamanya yang juga tertutup, setelah itu mendorong masuk Jonathan ke dalam kamar. "Telat sekali sih, mas pikir ini sudah jam berapa? Hampir jam satu pagi."
Jonathan melihat sekeliling kamar. "Yah, aku ada kerjaan, jam 12 malam setelah 40 hari adalah batas mengirim roh. Tidak ada tanda-tanda bekas anjing, kamu bersihkan ya?"
"Mama yang bersihkan, mama memang rajin begitu." Andrea duduk di atas kasur, "jadi bagaimana dengan syarat ketiga?"
Jonathan menatap Andrea. "Kamu mau melakukannya sekarang?"
"Sekarang?"
Jonathan mengangguk. "Malam ini, sebentar lagi ulang tahun kamu jadi kita harus gerak cepat."
Andrea berdiri menghadap Jonathan, "Jadi, apa yang harus aku lakukan?"
Jonathan melepas jubahnya, "Hari ini kita menuju rumah seseorang."
Andrea mendongak. "Rumah siapa?"
Jonathan menghela napas. "Rumah papa kamu."
"Ap-"
"Syarat ketiga adalah mencari keris yang membuat ayah kamu menukar kehidupannya dengan kematian kamu."
Kepala Andrea mendadak pusing, kakinya gemetaran. Ia akan menuju rumah orang yang sudah menghancurkan hidup keluarganya. "Tapi kenapa-"
"Beberapa hari ini aku berkali-kali ke rumah papa kamu untuk mencari tahu penyebab sekaligus dimana keris itu, tapi sepertinya harus dengan kamu." Mata Jonathan beralih ke pelindung Andrea yang berdiri di tempat sama, Jonathan mendapat anggukan setuju meski Jonathan menebak kalau pelindung Andrea keberatan.
"Ayo." Jonathan mengulurkan tangan kanannya, sementara tangan kirinya disembunyikan ke belakang.
Andrea menelan ludah dan menatap mata hijau Jonathan, "Bagaimana kalau menyuruh orang lain atau kita memakai skype?" Tanya Andrea sambil mengangkat handphonenya.
Jonathan menggeleng.
__ADS_1
Andrea menghela napas menyerah dan menatap tangan Jonathan yang terulur. "Baiklah."