KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
TUJUH


__ADS_3

"Pa, papakan tahu kalau Andrea itu ingin kuliah." Andrea menggigit kuku jarinya sambil jalan mondar-mandir di halaman rumah. "Tapi pa, papa bisa beli mobil, kenapa papa gak bisa biayain kuliah Andrea?"


Jonathan duduk di lantai teras halaman sambil melihat Andrea yang mondar-mandir.


Andrea memutus sambungan telepon dan kembali menelepon seseorang. "Halo, tante. Kenapa ya papa kok berubah pikiran? kemarin katanya mau membiayai kuliah jurusan ekonomi Andrea tapi sekarang gak mau kasih biaya."


Jonathan mengambil handphone Andrea dan menyalakan loud speaker nya.


"Tante kan sudah bilang kalau keponakan tante mengambil beasiswa ke luar negeri. Seharusnya kamu bisa contoh seperti itu."


Andrea tertawa hambar, Jonathan mengamati reaksi Andrea.


"Tante sudah bilang sama bapak kau supaya kau mandiri."


"Mandiri? Terus juga sama seperti saat aku tidak sekolah SMA? BUAT BIAYA KELAHIRAN ANAK HARAM KAMU!!"


Andrea melempar handphone yang dipegang Jonathan. Jonathan dengan sigap menangkapnya.


"BUANG AJA ITU HANDPHONE! AKU GAK BUTUH HANDPHONE! AKU JUGA GAK BUTUH AYAH!" Andrea lari ke kamarnya.


Jonathan menatap handphone Andrea di tangannya dengan geram. Andaikan dirinya bisa berbuat sesuatu.


Andrea menutup pintu kamarnya lalu merebahkan badannya di tempat tidur. "Sebal, sebal, sebal!" Andrea memukul-mukul tempat tidurnya.


"Bisakah kamu tidak seperti itu? emosi hanya menimbulkan dosa."


Andrea melirik Jonathan sekilas lalu memejamkan mata, "Kalau itu bisa membuat dosa aku tidak keberatan selama dia juga ikut masuk neraka."


"Andrea!"


"Jangan menggurui ku sekarang!"


Jonathan duduk di pinggir tempat tidur Andrea, "Biarkan karma berjalan, jangan bersikap buruk dan menimbulkan dosa terutama dendam."


Andrea memunggungi Jonathan.


"Orang itu sudah menyakiti aku terlalu dalam, rasanya aku ingin melihat karma yang dia buat."


"Andrea." Tegur Jonathan.


Andrea bangkit. "Kenapa harus aku yang harus berkepala dingin? kenapa harus aku yang mengalah? kamu paham tidak sih bagaimana perasaan aku? tahu nggak, aku seperti pengemis tadi hanya untuk biaya sekolah aku! kamu tahu tidak sih bagaimana perasaan aku sekarang?"


"Aku tidak tahu." Geleng Jonathan.


"Tuh kan." Andrea menjatuhkan kepalanya ke bantal, "Bahkan kamu tidak mengerti."


"Aku tidak memiliki keluarga makanya aku tidak mengerti."


"Kadang aku sempat berpikir, lebih baik menjadi anak yatim daripada mengetahui siapa bapak tidak bertanggung jawabnya."


"Andrea!"


"Nikahi aku!" Andrea menyuarakan ide gilanya, "Nikahi aku sekarang juga!"


"Andrea, berpikirlah jernih."


"Aku sudah berpikiran jernih!" Andrea menarik kedua wajah Jonathan untuk mendekati wajahnya dan mencium bibirnya. "Jernih kan?"


Jonathan mendorong jauh badan Andrea sambil mengusap bibir dengan punggung tangan. "Kamu-"

__ADS_1


"Begitulah manusia jaman sekarang, tidur dengan wanita lain tanpa memperdulikan anak dan istrinya di rumah lalu bum! saat dia menghamili wanita itu malah menyalah-nyalahkan kami semua ke semua orang." Air mata Andrea mulai mengalir, "Aku tidak keberatan melakukan dosa jika itu membuat dia masuk neraka, bukankah anak perempuan yang belum menikah adalah tanggung jawab ayah kandungnya? dan dosanya dia yang menanggung bukan?"


Kemarahan Jonathan mencair melihat kesedihan di mata Andrea.


"Dosa berat apa yang bisa aku lakukan supaya dia masuk neraka?" Andrea menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Andrea-" Jonathan menarik Andrea masuk ke dalam pelukannya. "Jangan berpikiran seperti itu, biar bagaimanapun dia ayah kandung kamu."


"Kenapa semua orang mengingatkan aku kalau dia adalah ayah kandungku tapi tidak ada yang mengingatkan dia kalau aku adalah anak kandungnya?"


Jonathan mengeratkan pelukannya.


"Aku- aku bukannya tidak bersyukur apa yang diberikan Tuhan. Semuanya aku bersyukur, tapi rasanya terlalu menyakitkan untuk mensyukuri kenyataan bahwa aku anak dari seorang penjahat, seorang yang menyakiti mamaku." Andrea menangis di dada Jonathan.


"Andrea, tenanglah." Jonathan mengerat kan pelukannya.


"Kadang aku berpikiran egois, tidak apa dia meninggalkan mama bahkan menyakitinya selama dia tidak melepas tanggung jawabnya dari aku dan Andrea tapi- tapi-" bibir Andrea bergetar. "Tapi semakin hari aku menyadarinya- meninggalkan dan menyakiti mama sama saja dengan meninggalkan aku dan Andre."


"Andrea- kamu ada aku, tenanglah." Hibur Jonathan sambil membelai rambut lurus Andrea.


Andrea memeluk pinggang Jonathan, wajahnya dibenamkan ke dada Jonathan. "Aku membencinya."


"Jangan membencinya Andrea, jangan dendam padanya. Biarkan Tuhan yang bekerja."


Andrea tertawa sinis. "Aku ingin membalas semua perbuatannya."


"Balas perbuatannya dengan prestasimu." Jonathan berkata dengan lembut, "Tapi jangan dendam padanya."


Andrea mengeratkan pelukannya. "Terima kasih."


Jonathan mencium puncak kepala Andrea. "Sudah menjadi tugasku sebagai tunangan kamu, sekarang istirahatlah supaya emosimu reda, mama dan adik kamu kemana?"


"Lama mereka pulang?"


"Nanti sore."


"Mereka bawa kunci rumahkan?"


Andrea mengangguk pelan.


"Aku kunci rumah kamu ya, setelah ini aku harus pergi."


"Kerja?"


"Ya."


Andrea termenung. "Hati-hati."


"Ya."


Setelah menemani Andrea tidur, Jonathan segera mengunci pintu rumah dan pagar setelah itu pergi melaksanakan tugasnya.


 ---


"Saya heran dengan perilaku anak perempuan sekarang. Padahal saya sudah bilang akan membiayai segalanya tapi masih saja dia menelepon ayahnya." Jonathan meminum kopi kalengnya dengan wajah muram di genteng rumah Irul. Hari ini dirinya memutuskan tidak ke rumah Andrea.


"Mungkin anak perempuan itu ingin tanggung jawab dari ayahnya." Jawab Irul yang mengamati kopi kaleng Jonathan. "Ngomong-ngomong malaikat pencabut nyawa minum kopi ya?"


Jonathan menatap kaleng kopinya, "Kenapa? terserah saya!."

__ADS_1


Irul gelagapan.


"Mau?" Jonathan menawari kaleng kopi baru yang masih disegel dari dalam kresek.


Irul menggeleng. "Saya hanya berupa jiwa kan, jadi tidak bisa makan atau minum."


Giliran Jonathan manggut-manggut. "Oh."


Irul menghela napas. "Seorang anak perempuan di manapun pasti membutuhkan sosok ayah. Saya teringat dengan perkataan bapak saya di desa ketika istri saya mengandung, surga seorang ayah ditentukan oleh anak perempuannya."


Jonathan meminum kembali kopinya. "Saya sering mendengar itu juga dan kebanyakan jiwa seorang ayah ditentukan dari amal baik anak-anaknya. Tapi, kebanyakan jiwa ayah masuk daftar tunggu gerbang neraka karena istri dan anaknya."


Irul menoleh cepat ke Jonathan. "Benarkah?"


Jonathan menatap Irul. "Kamu pikir saya berbohong?"


Irul menggeser duduknya mendekati Jonathan. "Terus kira-kira saya masuk mana?"


"Neraka!" Jawab Jonathan singkat.


"Apa! Istri saya berjilbab, anak perempuan saya juga diajarkan sholat dan mengaji, bagaimana saya bisa masuk neraka?"


Jonathan menatap jijik Irul. "Kamu lupa mati kamu gimana? Mabuk dan dipukuli karena mencuri kan?"


Irul menjadi salah tingkah dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Lagipula yang mengajari anak perempuan kamu mengaji dan sholat itu istri kamu dan keluarganya. Yang kamu lakukan hanya mabuk dan judi."


"Iya ya, malaikat pencabut nyawa memang tahu segalanya."


Jonathan dan Irul sama-sama menghela napas.


"Ibu! Bapak dimana?" Seru seorang anak perempuan di halaman.


"Bapak sudah pergi jauh nak-" Isak istri Irul dari bawah.


Irul yang mendengar itu menjadi sedih. "Seandainya saya tidak minum waktu itu."


"Terus kalau kamu tidak mati sekarang masih tetap minum gitu?"


"....................." Irul tidak berani menjawab.


Jonathan kembali meminum kopinya. "Manusia memang serakah, mereka bahkan tega menyakiti keluarga mereka sendiri."


Handphone Andrea yang dibawa Jonathan bergetar di mantelnya. Jonathan buru-buru mengambil dan membukanya.


Jonathan membaca SMS dari ayah kandung Andrea.


"Kau bukan anak saya, kau tidak ada sangkut pautnya dengan saya." Jonathan membaca keras-keras sms itu.


Irul ikut membacanya. "Memangnya malaikat pencabut nyawa juga punya keluarga?"


Jonathan melirik Irul. "Kamu mau ikut ke suatu tempat?"


"Apa?"


"Daripada melihat seperti ini, sekalian buat pembelajaran." Jonathan merangkul bahu Irul.


Lalu mereka berpindah tempat dalam satu kedipan mata.

__ADS_1


__ADS_2