KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
DUA PULUH SATU


__ADS_3

"Satu hal yang tidak boleh kalian lakukan selama berada di khayangan. Tidak boleh menatap! Jangan menatap siapapun, kalian menatap mata para bidadari sudah dianggap penghinaan terutama kalian bukan berasal dari khayangan."


Jonathan, teman Jonathan, Andrea dan Aya berhasil masuk ke dalam gerbang dengan pertukaran makhluk besar itu.


"Tidak ku sangka makhluk itu bisa berguna, untung saja waktu itu kamu memaksa aku." Geleng teman Jonathan.


Jonathan membalas dengan cengiran.


"Tapi mengerikan sekali lho kalau dilihatnya- udah gede, tampangnya juga seram." Aya memeluk tubuhnya sendiri mengingat makhluk yang terkapar itu.


"Katanya dia bisa hidup." Teman Jonathan bicara ke Jonathan. "Bagaimana caranya?"


"Kekuatan mereka berbeda dengan kekuatan kita, cara bekerjanya pun berbeda. Jadi tidak perlu heran lagi," jawab Jonathan.


Aya dan Andrea saling berpandangan. Tidak mengerti apa yang dimaksud Jonathan dan temannya.


"Ngomong-ngomong kita ini sudah dimana? Kok begitu melewati gerbang malah keliatan hutan begini." Aya membuka tudungnya untuk melihat sekelilingnya.


"Jangan dibuka tudung kamu, Aya." Tegur teman Jonathan.


"Tapi inikan kawasan bidadari, tidak apa-apakan?" tanya Aya ke Jonathan untuk mencari pembelaan.


Jonathan tersenyum dan menggeleng. "Sebaiknya dipakai, bidadari sangat sensitive terhadap manusia, kamu memakai jubah itu saja sudah cukup menyamarkan bau manusia kamu."


"Apakah bidadari sejahat itu?" tanya Aya sambil memakai tudungnya.


"Tidak, mereka justru baik. Tapi mereka agak kesal akhir-akhir ini karena tempat favorit mereka dirusak manusia," sahut teman Jonathan.


"Kamu tahu tujuannya kita kemana?" tanya Andrea ke Jonathan.


Jonathan mengangguk. "Aku mendapat informasi terpercaya."


Andrea tersenyum. Ia sudah terlalu lelah mendengar gerutuan Aya dan sahutan teman Jonathan. "Lebih cepat lebih baik."


Jonathan menepuk punggung Andrea dengan lembut. Ia paham bagaimana kondisi Andrea sekarang. "Kalau kamu kecapekan bisa bilang ke aku."


Andrea mengangguk pelan.


"Ah, lihat."


Andrea, Aya dan Jonathan menoleh ke arah yang ditunjuk teman Jonathan. Di depan terdapat bukit yang sudah bukan pemandangan hutan lagi melainkan sebuah istana yang besar dan luas di bawahnya. Andrea jalan mendekat dan melihat pemandangan di bawahnya.


"Kita harus jalan ke bawah?" tanya Andrea.


"Menuruni bukit tidak akan membuat lelah. Terutama di dunia seperti ini." Jawab teman Jonathan.


Andrea menatah Jonathan, menuntut penjelasan.


"Apa yang dikatakan dia memang benar... buktinya kalian berdua jalan sejauh itu tidak lelah bukan?"


Andrea dan Aya saling bertatapan. Memang benar apa yang dua pria itu katakan.

__ADS_1


"Siapa kalian?"


Andrea, Aya, Jonathan dan temannya balik badan. Mereka berempat melihat seorang wanita cantik memakai kemben dengan rambut terurai sepinggang menatap mereka dengan curiga. "Malaikat pencabut nyawa dan manusia?"


Jonathan maju selangkah untuk melindungi Andrea. "Dia tunangan saya."


"Tuna... ah! Aku pernah mendengar ada yang melakukan ritual... tidak kusangka sampai nekat kemari." Tawa wanita cantik itu.


"Bukannya memang bagian ritual bertemu dengan bidadari?" tanya Aya penasaran, kepalanya menunduk ditutup tudung.


"Yah tapi sebagian besar tidak selamat sebelum bertemu dengan bidadari penolongnya." Sahut wanita cantik itu.


Aya dan Andrea menelan ludah.


______________


Seroja mengernyit melihat air kolam.


"Ada sesuatu yang anda lihat Yang Mulia?" tanya Seruni sambil membawa nampan berisi gelas the ke Seroja.


"Andrea ada di khayangan."


Seruni terbelalak kaget. "Tapi bagaimana caranya?"


"Tipu muslihat. Mereka membawa manusia."


"Manusia?"


"Bagaimana mereka membawa manusia? Dalam ritual, nona Andrea tidak bisa dikatakan sebagai manusia bukan?" tanya Seruni.


"Teman Jonathan yang membawanya, sepertinya para malaikat labil itu tidak tahu kalau membawa manusia membawa keuntungan bagi mereka." Seroja mengambil teh di nampan. "Saya harus bersiap ke sana untuk kemungkinan terburuk."


"Seharusnya dari tadi anda menjaga nona Andrea. Para malaikat itu benar-benar tidak bisa dipercaya."


"Simpan amarah kamu nanti, yang terpenting kita harus bersiap-siap, siapkan ruangan juga." Seroja meminum habis tehnya dalam sekali tegukan, mengembalikan gelas ke nampan dan berdiri.


"Anda akan menyusul mereka?" tanya Seruni.


"Tentu saja."


"Tapi-"


"Saya tidak bisa membiarkan Andrea berada di situasi yang membahayakan." Potong Seroja.


Seruni terdiam dan hanya melihat punggung majikannya yang berjalan menjauh. "Semoga anda berhasil." Bisik nya dalam hati.


______


Andrea dan Aya duduk di meja melingkar sambil memperhatikan wanita cantik yang sedang menyuguhi camilan ke mereka berdua.


"Malaikat tidak membutuhkan makanan disini, tapi kalian berdua pasti sangat membutuhkannya," ujar wanita cantik itu sambil mendorong kedua piring kecil di dean Andrea dan Aya.

__ADS_1


"Sebelum datang kami sudah makan sih-" Aya mengelus perutnya, dan baru sadar kalau dirinya keroncongan.


"Sebaiknya kamu buka jubah hitam itu, mengganggu sekali," tegur wanita cantik itu. "Tidak akan ada yang bisa menyentuh manusia disini."


Aya membuka tudung jubah dengan ragu. "Benarkah?"


"Khayangan memang tidak terlalu suka dengan manusia tapi juga tidak bisa menyentuh mereka," jawab wanita cantik itu.


"Jadi apakah anda memang seorang bidadari?" tanya Jonathan tiba-tiba.


"Menurut kalian bagaimana?" wanita cantik itu tersenyum dan balik bertanya ke Jonathan. "Aku tahu tujuan kalian kesini tapi tidak ku sangka kalian nekat membawa manusia kesini."


"Ketidak sengaja-an." Jonathan melirik temannya yang cengengesan di depan jendela. "Apakah anda tahu keberadaan bidadari yang menolong saya?"


Kedua mata wanita cantik itu mengerjap. "Bagaimana saya tahu kalau kamu tidak memberitahu namanya."


"Ciri-cirinya?" tanya Andrea ke Jonathan.


Jonathan menggeleng. "Itu sudah lama, tidak ingat."


Andrea dan Aya mendecak.


"Aku kira datang dan beres, lagipula nekat sekali kesini tanpa siapa tahu bidadari-nya." Keluh Aya dengan suara pelan.


"Kalian berdua sebaiknya segera keluar bantu penjaga gerbang untuk meneliti hewan gaib kami," usir wanita cantik itu ke Jonathan dan temannya.


Jonathan menarik temannya keluar dari rumah yang terbuat dari kayu keseluruhannya. "Ayo!"


Teman Jonathan hanya bisa pasrah ditarik begitu saja.


Wanita cantik itu mengikuti Jonathan dan temannya dari belakang lalu memastikan mereka sudah jalan menjauh lalu menutup pintu dengan pelan. "Nah, nona-nona. Pasti banyak pertanyaan di benak kalian."


Aya melepas jubahnya. "Banyak pertanyaan tapi kami bingung mulai dari mana."


"Yang pasti aku tidak bisa menjawab terkait ritual atau sebaiknya kita membicarakan masalah perempuan di dunia? sudah lama aku tidak main ke dunia manusia." Wanita cantik itu duduk di hadapan Andrea dan Aya.


Aya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sangat bijak jika calon suami kamu yang mengatakan semuanya." Wanita cantik itu bertopang dagu dengan kedua tangannya di meja. "Kamu tidak takut, Andrea?"


Andrea menatap wanita cantik itu dengan tatapan 'bagaimana anda tahu nama saya?'


"Semua bidadari sudah mendengar nama kamu dan Jonathan, malaikat yang sekarang sudah bernama."


"Aku- aku mau tanya- apakah ada malaikat lainnya yang juga seperti Jonathan? setengah manusia?" tanya Aya dengan penasaran.


Wanita cantik itu menatap Aya sambil tersenyum. "Memangnya kenapa? iri dengan teman kamu?"


Aya menggeleng. "Tidak, terima kasih. Meskipun memang ada keinginan seperti itu tapi tidak-"


"Selagi menunggu tunangan dan temannya datang, sebaiknya kalian makan kue itu sambil berbincang sedikit mengenai dunia manusia."

__ADS_1


__ADS_2