KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
AKHIR III


__ADS_3

3 bulan kemudian. Bali.


Andrea dan Jonathan akan melangsungkan pernikahan di Malang tapi sebelumnya Andrea dan keluarga bertemu dengan kakak Jonathan dan istrinya di Bali. Karena kesibukan mereka jadinya Andrea Andre dan mama berkunjung sekaligus liburan, orang tua Jonathan sudah meninggal karena kecelakaan pesawat, kakeknya pindah ke Inggris bersama paman dan bibi Jonathan di luar dugaan keluarga Jonathan sangat ramah dan baik.


Setelah mengunjungi keluargany, Jonathan membawa Andrea dan Andre mendatangi sebuah rumah sederhana. "ini dimana?"


Jonathan menghela napas. "Kamu tahukan kakakku seorang dokter, dia menitipkan obatnya padaku untuk pasien."


Andrea menutup hidung, bau busuk menyeruak di sekeliling rumah.


"Kamu di dalam mobil saja kalau tidak tahan, aku Cuma sebentar kok lagian Andre juga pilih di dalam mobil." Jonathan menunjuk Andre dengan dagunya.


Andre ikutan turun. "Bau apa ini?"


"Ada masalah dengan fisiknya hingga membusuk, kalian berdua beneran mau ikut masuk?" tanya Jonathan sambil mengetuk pagar.


Andre menutup hidungnya dengan masker, lalu memberikannya ke Andrea. "Gak papa kok, sekalian regangin badan. Ya Allah, pakai masker pun tetap baunya menusuk."


Andrea hampir mual. Untung saja tadi pagi dirinya tidak sarapan.


Seorang perempuan berjilbab membukakan pagar dan mempersilahkan mereka bertiga masuk, Andrea menunduk untuk melindungi hidungnya. Begitu juga Andre, mereka berdua jalan beriringan saling memegang baju.


"Maaf ya, agak berantakan."


"Nggak papa. Ini obat dari kakak saya." Jonathan memberikan obat pada perempuan itu.


"Terima kasih ya, kebetulan obatnya juga habis. Mau menjenguk suami saya?" tanya perempuan itu.


"Tidak, terima kasih. Kasihan calon istri saya agak sakit dari tadi pagi." Tolak Jonathan.


"Oh, sudah punya calon istri." Perempuan itu sok mengakrabkan diri, Andrea tahu karena sering bertemu pelanggan seperti ini.


Andrea mengangkat kepalanya dan mengernyit.


"Maaf ya bau, saya sibuk... pas pulang sudah bau gini, mungkin ada tikus mati disini." Ujar perempuan itu.


Sayup-sayup terdengar tawa di telinganya, Andrea mencari sumber suara itu dan ia menemukan malaikat yang ia kenal sedang duduk di tangga yang belum di cat, malaikat itu membungkuk sambil memegang perutnya, ia tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa..."


Malaikat itu mengangkat jari telunjuknya di depan bibir. "Aku sengaja memperlihatkan diriku, jangan berkata sepatah katapun kalau tidak mau disangka orang gila!"


Andrea mengangguk pelan.


"Bau busuk ini berasal dari papamu, Andrea. Bertahun-tahun dia menyembunyikan kebusukannya hingga Yang Maha Kuasa membuatnya mengeluarkan segala kebusukan itu." Malaikat itu menunjuk jam dinding, "Sebentar lagi aku harus mencabut nyawanya, kamu ingin melihat bagaimana sakitnya papa kamu saat nyawanya dicabut?"


Andrea melirik Andre yang mual.


"Andrea, bukannya aku sok mengguruimu... tapi ingat, manusia tidak boleh dendam meskipun itu pada papa yang sudah menyakiti kamu. Ingat, rezeki kamu sekarang melimpah karena keikhlasan kamu menyerahkan semua barang yang sudah diambil papa kamu ke Atas, jangan sampai dendam menutup semuanya. Ini ujian terakhir kamu."


"Ujian terakhir? Maksudnya syarat ke-7?" seru Andrea.


Jonathan menoleh. "Ndrea, kamu kenapa sayang?"


Andrea menggeleng, ia terduduk lemas di lantai. Bagaimana mengikhlaskan orang yang sudah menyakiti dirinya? Untuk sebuah barang, memang Andrea bisa ikhlas karena itu akan kembali ke Tuhan tapi bagaimana dengan perlakuannya selama ini? "Ndre."


Wajah Andre menegang menatap kamar di depannya. "Apakah bau busuk ini berasal dari papa?"


Andrea terkejut. "Ndre."


"Dilihat dari sikap mbak, dan wajah perempuan murahan di depan Andre... " Andre melepas maskernya, perempuan itu terkejut. "Andre bisa menebak itu berasal dari papa."


"Papa? Kalian masih punya papa? Kenapa kamu tidak cerita?" Jonathan berjongkok disamping Andrea.


"Karena..."


"Mbak!" Bentak Andre.

__ADS_1


Andrea terdiam, ia menutup mulutnya.


"Andre! Jangan bentak kakak kamu!" Seru Jonathan.


Andrea menggeleng, ia memegang lengan Jonathan. "Andre benar... tidak seharusnya kita bicara hal ini di depan papa."


Malaikat itu bersiul. "Keputusan yang bijak."


Andre membuka lebar pintu yang tertutup dan jalan menjauh, sayup-sayup mereka mendengar suara rintihan kesakitan di dalam kamar.


Andrea tidak tega mendengar hal itu. Rintihan itu sangat menyakitkan di hatinya, bukan di telinganya.


Perempuan selingkuhan itu hendak menutup pintu dengan amarah tapi Jonathan menahan tangannya. "Saya tidak tahu apa yang terjadi, bukan hal yang bijak menutup pintu disaat anak-anaknya hendak bicara."


"Terima kasih kak." Andre menghela napas.


Jonathan mengangguk.


Andre duduk bersimpuh di depan pintu, begitu juga dengan Andrea. Mereka berdua berusaha menahan bau yang menyengat itu.


"Pa." Andrea menitikan matanya, "sudah berapa tahun kami tidak memanggilmu papa?"


Andre menarik napas.


"Dulu Andrea selalu menyalahkan papa karena papa membuang kami dan memilih selingkuhan papa, papa bahkan tidak mau bertemu dengan kami, menyalahkan kami bahkan mengirim pesan yang menyakitkan kami. Yang ada dipikiran kami saat kecil... apa salah kami?" Andrea menggenggam tangan adiknya. "Papa selalu bicara di depan orang bahwa kami nakal, kami tidak bisa dididik dan kami... kami tidak ada sangkut pautnya dengan papa lagi."


Andre menunduk dan menangis.


"Pa, kenapa papa seperti itu? kenapa papa lebih memilih membesarkan kami dengan hinaan dan makian daripada kasih sayang?" Andrea ikut menunduk sedih, ia berusaha menahan emosinya. "Kenapa papa tidak pernah memikirkan kami? Perasaan kami?"


"Pa. Apa yang dikatakan mbak Andrea benar, kenapa papa memilih hidup seperti itu, bahkan papa menukar nyawa mbak dengan kenikmatan papa. Tahu apa yang Andre pikir saat mbak cerita? Kebencian Andre semakin bertambah." Ujar Andre.


"Ndre." Andrea menepuk genggamannya.


"Tapi, jika tidak seperti itu mungkin... mbak Andrea tidak akan ke Paris, tidak akan bertemu kak Jo dan Andre tidak akan menjadi sekarang ini." Andre tersenyum ke Andrea, "pa, sangat menyaitkan memang kami mengikhlaskan papa disaat kami belum membalas semua yang papa lakukan tapi... kami tidak akan membalasnya."


"Kalau papa mau pergi, kami ikhlas pa." Timpal Andrea.


"Andrea." Malaikat itu berdehem.


Andrea mengangkat kepalanya, malaikat itu sudah berdiri di belakangnya dan menunduk menatap dirinya. "Sebentar lagi sudah waktunya, pergilah. Kamu tidak ingin mendengar jeritan bukan?"


"Jangan sakiti papa." Mohon Andrea.


Malaikat itu menghela napas. "Tergantung seberapa besar dosanya, dia tidak hanya berdosa pada anak-anak dan istrinya yang jauh lebih besar. Pergilah bersama... hmmm... Jonathan?"


Andrea menatap sendu calon suaminya. "Namanya tetap Jonathan."


Malaikat itu tertawa geli. "Semoga bahagia, dan ini hadiah pernikahan dariku untuk kamu dan Jonathan. Terlihat mengerikan ya."


Andrea menggeleng, ia berdiri dan berhadapan dengan malaikat itu. "Terima kasih, ini hadiah yang tidak akan pernah aku lupakan."


Malaikat itu mengusap air matanya. "Tidak perlu kata perpisahan, akan ku pastikan kalau aku yang akan mencabut nyawamu. Tenang, kalau itu kamu... akan kuberi diskon tidak menyakitkan."


Andrea sontak tertawa.


"Sayang, ada yang lucu?" tanya Jonathan yang memandang ngeri sekeliling.


""Ah, nggak. Cuma ingat sesuatu saja."


Jonathan menatap kamar di belakang Andrea, "jadi benar papa kamu disitu?"


"Iya." Angguk Andrea.


"Boleh aku bertemu?" tanya Jonathan.


"Eh." Andrea terkejut dengan permintaan Jonathan.

__ADS_1


"Biar bagaimanapun itu papa kamu," Jonathan merangkul bahu Andrea dan Andre yang sudah berdiri. "Kita doa sama-sama di sini lalu kalian berdua masuk ke dalam mobil, biar aku yang bertemu calon mertuaku."


"Tapi bau kak." Kata Andre.


"Kakak tau, yuk doa bersama." Jonathan menunduk, begitu juga dengan Andre dan Andrea. Selesai berdoa Andre dan Andrea masuk ke dalam mobil sementara Jonathan berdiri di samping papa Andrea.


Papa Andrea menoleh dengan lemah ke Jonathan.


Jonathan menghela napas, ia mencium tangan papa Andrea dan berlutut di samping tempat tidur. "Nama saya Jonathan, saya akan menikahi putri anda."


Laki-laki tua itu menatap dirinya dengan sedih.


"Saya fotografer, pekerjaan yang tidak mewah tapi cukup membiayai kehidupan anak dan istri saya kelak. Maukah anda merestui saya?"


Laki-laki tua itu mengangguk pelan.


"Anda tahu, kakek buyut saya selalu cerita pada saya sebelum tidur. Beliau menunjukan foto anak kecil yang mirip dengan saya... kakek buyut selalu mengatakan, kemungkinan saya akan memperbaiki kesalahan kakek moyang saya yang meninggalkan perempuan yang ia cintai dengan kejam. Mungkin itu sebabnya kenapa tidak ada sejarah cerai di keluarga kami bahkan pengkhianatan, karena mereka dididik oleh kakek moyang kami untuk menghargai cinta." Jonathan meringis. "Apakah anda menyesal karena sudah membuang cinta?"


Laki-laki tua itu mengedip.


"Hm... sepertinya anda memiliki harga diri yang tinggi." Jonathan mengangguk mengerti lalu menghela napas. "Saya sangat mencintai putri anda, saya janji tidak akan meninggalkannya... saya tidak ingin dia memiliki perasaan yang sama ketika ia kecil dulu, saya tidak ingin menjadi anda. Tolong jangan salah paham dengan kalimat saya."


Laki-laki tua itu menatap Jonathan.


"Saya akan memastikan Andrea aman bersama saya. Terima kasih atas segala yang telah anda berikan pada Andrea, saya bersyukur bisa bertemu dengan Andrea." Jonathan berdri lalu berpamitan dengan perempuan itu. "Mungkin ini kali terakhir saya bertemu dengan papa Andrea, saya tidak perlu meminta restu pada andakan. Sampai jumpa."


Jonathan keluar dari rumah itu dan hendak masuk ke dalam mobil. Ia mengernyit, bau busuk itu sudah mulai berkurang.


"Kakak bicara apa?" tanya Andre saat Jonathan sudah masuk ke dalam mobil.


"Banyak. Intinya meminta restu." Jonathan menyalakan mobilnya.


"Memangnya bule tahu arti kata restu? Kak Jonathankan bule Amerika." Andre yang duduk di belakang memajukan badannya ke depan.


Jonathan tertawa. "Makanya banyak belajar, jadi nggak heran."


Andrea menatap sedih rumah sederhana itu, "sejak kapan papa menjadi pasien kakak mas Jo?"


"Nggak tahu, kata kakakku penyakitnya memang sulit disembuhkan." Jonathan menjalankan mobilnya.


"Sakit apa dia?" tanya Andrea.


"Komplikasi, tepatnya jangan tanya aku... tanya kakak aku." Jawab Jonathan. "kamu tadi bicara sama siapa?"


Andrea menghela napas. "Bukan sama siapapun." Setelah itu ia menyadari tentang syarat ketujuh. "Astaga! Kok bisa lupa sih." Pekiknya.


"Kenapa?" tanya Jonathan dan Andre bersamaan.


"Syarat! Tadi itu syarat ketujuh!" Seru Andrea.


"Lalu mbak dapat apa tentang syarat ketujuh?" tanya Andre.


"Makanya itu aku lupa tanya, astaga kok bisa lupa sih... mana itu kali terakhir kami bertemu." Andrea menepuk keningnya.


"Syarat apa sih? Jawa? Masih ada yang harus aku penuhi ya?" tanya Jonathan tidak mengerti.


Andrea dan Andre menghela napas bersama.


__


Seminggu kemudian Andrea dan Jonathan melangsungkan resepsi pernikahan mewah secara pribadi di gedung pribadi milik salah satu keluarga Jonathan, setelah itu mereka berdua bulan madu ke Lombok.


Jonathan duduk diam memandang langit malam, Andrea memeluknya dari belakang. "Diam aja dari tadi, suamiku ini."


"Hmmm... kamu tahu nggak aku serasa déjà vu saat pernikahan kita."


Jantung Andrea berdebar keras. "Déjà vu apa?"

__ADS_1


"Sepertinya aku pernah melihat kamu memakai baju pengantin tapi bajunya beda banget. Kenapa ya? Seolah-olah kita pernah bertemu dulu." Jonathan menatap intens Andrea.


"Mungkin mas mimpi makanya déjà vu."


__ADS_2