
"Bagaimana dengan janin yang digugurkan secara paksa? Bukankah sekarang banyak anak muda yang menggugurkan janinnya karena hubungan gelap?" Laura bertanya pada kakak iparnya yang seorang pengacara. "Janin itu tidak bersalahkan?"
"Kalau janin tidak bisa menjadi bukti kejahatan, biasanya hal itu diselesaikan secara kekeluargaan atau kebanyakan menutupinya sehingga penyelidik kesulitan menanganinya." Jawab Thomas, suami Aura. "Entah apa yang dipikirkan anak-anak muda jaman sekarang, *** menjadi kebutuhan wajib untuk mereka sekarang."
"Padahal itu dilarang dalam islam." Ratna menghela napas, "Angin mau tambah?"
Kaze menggeleng, "ini belum habis."
"Kalau sudah habis, tambah saja tidak apa-apa, masih banyak."
"Ini jadi mengingatkanku, kenapa kalian membuat makanan sebanyak ini? Sementara keluarga kita bukan keluarga besar." Tanya Jack, suami Laura. "kalian bersemangat sekali memamerkan masakan Negara kalian kepada kami."
"Oh, come on Jack... kita sudah lama tidak makan masakan Indonesia yang penuh dengan rempah-rempah sedap. Aku sendiri heran, ibu masih ingat masakan ini semua." Kata Laura sambil memeluk ibunya yang duduk di sampingnya.
"Ibu selalu ingat masakan kesukaan kalian berdua saat kecil, ini sebagian sudah diberikan tetanggakan?" tanya Ratna untuk memastikan.
"Kami sudah melakukannya sebelum makan, grandma." Jawab Aurel, anak Aura dan Thomas dengan bahasa Indonesia fasih seperti ayahnya.
Kaze bahagia sekali melihat keluarga kecil ibu kandung dan kedua kakaknya berkumpul penuh kehangatan merayakan ulang tahun. Dari dulu ia selalu mendambakan hal seperti ini meskipun minus ayah kandungnya.
"Dari tadi kamu diam saja Angin, apa ada yang kurang dengan masakan kita?" tanya Aura.
Kaze menggeleng pelan. "Maaf, saya jadi agak sentimental melihat kehangatan keluarga kalian, hal inilah yang selalu saya impikan."
"Kamu... sudah bertemu dengan keluargamukan? Dia tinggal dimana?" tanya Thomas, "siapa tahu kita bisa berkumpul lagi seperti ini, aku sendiri juga sama dengan kamu. Tinggal di Amerika sangat keras terutama memiliki ayah pemabuk, begitu aku memiliki keluarga di Inggris aku memutuskan pindah kesini dan menumpang di rumah mereka sampai aku merasa bisa memiliki rumah sendiri."
Aura menggenggam tangan Thomas dengan erat, "dan keluarga."
Thomas tersenyum ke Aura, "senang memiliki istri yang penuh cinta dan kedua anak lucu meski agak nakal tetap mereka lucu."
"Tentu saja, mereka hasil cinta kita." Jawab Aura. Kaze bisa merasakan bahagia diantara kedua pasangan itu, begitu juga dengan pasangan Laura dan Jill.
"Ayah dia pemabuk sementara ayahku masuk penjara, kita memang berasal dari keluarga tidak harmonis tapi sekarang kitalah yang harus menciptakan keharmonisan itu." kata Jill
"Aku senang kalimat itu diambil suamiku." Laura bersorak kegirangan sambil mencium pipi suaminya.
"See? Aku senang dengan kejutan kecil ini." Jill balas mencium pipi Laura. "Susah menangkap harimau seperti kamu."
"Apakah itu pujian?" tanya Laura.
"Tergantung dari penangkapanmu." Tawa Jill. "Jadi Angin, kamu bilang saudara dan ibumu ada di Inggris bagaimana dengan ayahmu?"
"Bahagia dengan caranya sendiri." Jawab Kaze cepat.
"Ayah kami juga bahagia dengan caranya sendiri." Jill tertawa, "tapi kalau kamu tidak mau menjawab tidak perlu dijawab, ini hanya pertanyaan iseng. Kami memang suka blak-blakan, maaf kalau kamu tersinggung dengan ucapan kami."
"Tidak, tidak... aku tidak tersinggung." Geleng Kaze, ia terdiam sebentar lalu menjawab. "Sebenarnya sekarang ayah kandungku menjadi pengumpul rongsokan bersama istri mudanya, makanya aku katakan bahagia dengan cara mereka sendiri karena ya... mereka berdua terus mengumpulkan barang-barang rongsokan bersama."
__ADS_1
Para orang dewasa terdiam, yang terdengar hanya dentingan sendok dari anak-anak.
"Oh, maaf... aku tidak bermaksud..." Jill membuka suara.
"Tidak, saya hanya ingin cerita saja." Kaze menunduk menatap makanannya.
Wajah Laura dan Aura berubah pucat pasi.
"Jadi, sekarang begitu ya." Laura menenggak jusnya.
"Andai saja dia tidak mengorbankanku dan tidak menyakiti keluargaku." Kaze tanpa sadar menyuarakan pikirannya dengan pelan, Aura yang duduk tidak jauh darinya bisa mendengarnya.
Jill berdiri dan mendetingkan gelas kosongnya. "Sebagai ucapan permintaan maafku karena membuat suasana tidak enak, aku ingin mengumumkan sesuatu."
Semua menoleh ke Jill.
"Aku diangkat menjadi direktur sekarang." Jill tertawa bahagia ke Laura.
"Really?" jerit Laura bahagia sambil berdiri memeluk suaminya, "how come?"
"Atasan memberitahuku tadi pagi, aku menggantikan atasanku yang lain. Sekarang aku menjadi direktur keuangan... dan sesuai janjiku pada ibu tercantik di dunia, ibu dari istriku yang cantik... aku akan membelikan satu set alat masak terbaru yang diinginkan ibu." Jill memandang penuh cinta ibu mertuanya, ia sangat menghargai ibu mertuanya karena tidak memiliki ibu sejak kecil, ibu kandungnya sudah membuang dirinya saat sang ayah dipenjara.
"Terima kasih sayang." Ratna berdiri dan memeluk menantunya, "senang memiliki anak yang memperhatikan keluhan ibunya."
"Ibu..." Laura tertawa lalu memeluk ibu dan suaminya. "Kitakan menunggu waktu yang tepat untuk mengganti semuanya di dapur."
Thomas tertawa geli melihat pemandangan itu, "sepertinya hadiah kami terasa kecil dari pasangan Jill dan Laura."
"Tapi rasanya kurang sopan tanpa memberikan sesuatu." Thomas berdiri lalu memberikan sebungkus kotak panjang dan pipih ke Ratna, "selamat ulang tahun." Thomas membungkuk untuk mencium pipi mertuanya.
"Boleh ibu buka?" tanya Ratna.
Thomas kembali duduk ke tempatnya, "itu milik ibu."
Ratna membuka kotaknya dan terkejut, "bukankah ini mahal?" Ratna mengangkat kalung berlian bermerk cartier, "astaga, berapa kalian membelinya?"
"Kami sudah merencanakan ini sejak lama, terakhir kali ibu menjual cincin pernikahan untuk biaya makan Laura dan Aura saat kecil jadi inilah penggantinya." Aura tersenyum sedih mengingat kenangan menyakitkan masa lalunya, "semoga ibu senang."
Ratna menghela napas dan tersenyum bahagia, "terima kasih kalian semua... ibu sangat bahagia."
Aurel berdiri dan dengan malu-malu ia memberikan sebuah kertas gambar ke Ratna. "Ini untuk grandma, Aurel membuatnya di sekolah. Selamat ulang tahun grandma."
Ratna menerimanya lalu memeluk cucu pertamanya yang sudah kelas 3 SD. "Terima kasih Aurel, grandma sangat menyukainya, grandma akan memajangnya di kamar grandma."
"Harus dipajang grandma! Kalau grandma kangen Aurel, lihat gambar Aurel saja." Aurel menunjuk gambar dirinya ke grandma. "Ini Aurel dan ini grandma sedang jalan-jalan ke taman."
"Terima kasih sayang, ini hadiah terindah yang grandma dapat." Ratna memeluk erat kertas gambar Aurel.
__ADS_1
Tangan kecil Aurel memeluk erat Ratna, "Arel sayaaaaaang grandma."
"Grandma juga sayang Aurel."
"Kapan-kapan buatin Aurel cookies waktu itu ya, temen-temen Aurel juga suka." Aurel mencium pipi Ratna.
"Aaahhh... kecil-kecil modus." Tawa Laura.
"Biar!" Aurel kembali ke tempat duduknya.
Thomas, Aura, Jill, Laura dan Ratna tertawa geli melihat tingkah menggemaskan Aurel, Kaze tersenyum kecil melihat kehangatan keluarga ini. Melihat kegelisahan Kaze, Ratna berdiri dan membuat sesuatu di dapur.
"Oh, ya... sudah jam berapa sekarang?" tanya Thomas tiba-tiba.
"Jam sepuluh malam, kenapa?" jawab Aura yang melihat jam tangannya, "ada kerjaan?"
Jam sepuluh malam?. Gumam Kaze dalam hati. Jam 12 malam dirinya sudah kembali menjadi malaikat pencabut nyawa.
"Sekretarisku seharusnya sudah menelepon aku sekarang, nanti kalau kamu dapat telepon dari dia kasih tau supaya meletakannya di laci meja seperti biasa." Kata Thomas.
"Kenapa tidak kamu telepon dia sendiri?" tanya Aura.
Thomas menyeringai jahil, "memangnya kamu tidak cemburu aku telepon perempuan malam-malam?"
"Buat apa cemburu? Sekretarismukan paruh baya."
Thomas tertawa keras.
"Uhmm..." Kaze berdehem, "setelah ini apakah ada acara?"
"Ya, kami akan bermain catur dan lainnya sambil nyemil. Anak-anak juga nonton tv kartun, mumpung besok libur... Angin harus kembali ya?" kata Laura.
Kaze menggigit bibir bawahnya, "nggak sih... Cuma, saya ada janji sama teman."
"Jam berapa? Biar Thomas yang mengantarmu." Tanya Aura.
Kaze menggeleng pelan, "tidak perlu, saya tidak ingin merepotkan kalian."
"Tidak repot kok... sekalian kami mau beli camilan yang kurang di luar." Sahut Thomas, "alamat hotelmu dimana? Atau kamu janji pada orang di suatu tempat?"
"Saya harus kembali ke tempat pemakaman." Kata Kaze.
"Tempat makam? Tapi ini sudah malam." Ratna kembali ke meja makan dan meletakan minuman cokelat hangat ke Kaze. "Dulu saya menyukai minuman ini untuk menambah tenaga dan pikiran."
Kaze melihat cangkir besar berwarna biru polos di hadapannya, "ini?"
"Susu cokelat." Ratna duduk di tempatnya kembali. "Minumlah, ini untuk menghangatkanmu... daritadi saya melihat nak Angin gelisah."
__ADS_1
Kaze menunduk, ia tidak dapat menahan air matanya.
Laura yang duduk di dekatnya berdiri dan menghampiri Kaze, "kamu kenapa?"