KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
SEMBILAN


__ADS_3

Andrea jalan mondar-mandir di kamar tamu. Mamanya yang sedang menonton TV di ruang keluarga sampai geleng-geleng kepala. "Andrea, kamu gak belajar?"


"Sudah kok ma."


"Terus kok belum tidur? kan sudah hampir jam sepuluh malam."


"Ma. Chihuahua nya kok belum diambil?"


"Kan mama sudah bilang mau dikembalikan minggu depan. Owner-nya sedang keluar kota, lagian kok mendadak dikembalikan? katanya lama pinjem, ya udah sekalian aja dititipin." Jawab mama Andrea sambil mengganti channel TV. "Kamu mendingan tidur saja sekarang daripada besok susah bangun."


Andrea mengacak rambutnya dan naik ke kamarnya. Begitu masuk, Andrea sudah disambut Chihuahua mungil, Andrea berjongkok dan menggendongnya. "Maaf ya, owner kamu masih lama liburannya."


Chihuahua itu menjawab dengan menggoyangkan ekor.


Andrea melamun sambil memeluk Chihuahua. "Gimana caranya manggil mas Jo?"


Sementara itu, Jonathan berdiri di sudut ruangan rumah dengan jubah bertudung hitam, kepala menunduk, matanya mengawasi seorang pria tua yang dikerumuni kelima anak perempuannya dengan menangis.


"Papa sudah membuat surat wasiat untuk kalian semua."


"Papa, jangan bicara banyak. Istirahat saja." Isak seorang wanita yang duduk di samping pria tua itu.


Pria tua itu mengusap air mata di pipi wanita itu. "Clara, kamu sudah besar sekarang nak, sudah memiliki 2 anak. Jangan menangis."


"Clara sayang papa, jangan ninggalin Clara." Clara menangis di dada papanya.


Jonathan menghela napas. Pemandangan inilah yang dia sukai, dimana seorang ayah berkumpul bersama anak dan cucunya sampai akhir hayat.


"Papa sayang kalian semua." Pria tua itu mulai tersengal.


Jonathan melihat kaki pria tua itu sudah tidak ada jiwanya. Jonathan bergerak maju dan memulai pekerjaannya.


 


Andrea menatap langit, hujan turun dengan derasnya. "Apakah mas Jo sedang melakukan tugasnya?"


"Aku penasaran kenapa si Jo itu ingin menjadi manusia." Tukas Aya sambil membalik halaman komik Andrea. "Kamu sudah tanya?"


"Sudah. Katanya dia ingin kembali menjadi manusia."


"Bukannya sudah enak menjadi malaikat?"


Andrea mengangkat kedua bahunya. "Mungkin dia sudah jenuh."


Aya mengangkat kepalanya. "Kalau aku menjadi malaikat pencabut nyawa. Aku tidak akan kembali menjadi manusia, bukan karena aku bosan hidup menjadi anak petani lho ya tapi karena memang aku sebagai manusia saja sudah eneg sama sesama manusia."


Andrea memiringkan kepalanya. "Tapi kamu akan sedih kalau seumur hidup tidak mengenal siapa orang tuamu."


Aya menghela napas. "Mungkin di sudut hati aku akan menangis sedih ataupun kecewa tapi itu bisa diobati seiring waktu, semakin kita dewasa semakin perasaan kita luas, gak munafik ya, kita dewasa yang dipikirkan hanya mengejar harta, tanpa harta kita tidak bisa membiayai kehidupan kita dan keluarga kita. Bener gak?"


Andrea tidak menampik penjelasan Aya, kita dewasa pun pasti akan mengejar ambisi dan orang tua menjadi terlupakan. Seperti dirinya yang sekarang, perlahan sudah mulai melupakan perasaan cintanya kepada papa. "Kamu benar."


"Ngomong-ngomong Andrea, sebenarnya dari kemarin aku ingin tanya tapi takutnya salah."


"Apa?"


"Yang di jari manis kiri kamu itu kok kayak ada bayangan melingkar?"


Andrea melihat jari manis kirinya, nama lengkap Jonathan masih melingkar di sepanjang jari manisnya. "Bukannya waktu itu kamu bilang tidak ada apa-apa?"


"Waktu itu aku mau bilang sih tapi karena gak yakin makanya bilang gak ada apa-apa."


Andrea mengangkat tangan kirinya ke udara dan menyadari sesuatu. Tulisan nama Jonathan sedikit mengecil. "Aku baru menyadarinya, kenapa mengecil?"


"Karena syarat kedua sudah berhasil makanya sedikit mengecil." Jonathan meniup telinga Andrea dari belakang.


Andrea terkejut dan hampir terpeleset. Aya yang melihat itu buru-buru berdiri menarik tangan Andrea. Akibatnya kening Andrea terantuk kursi kayu yang diduduki Aya.


"Haduuuhhh." Erang Andrea sambil menggosok keningnya pelan. "Kejam amat sih gak nolongin malah ngliat."


Aya menepuk punggung Andrea keras. "Heh! Ini udah aku tolongin!"


"Haduh-" Andrea sekarang mengusap punggungnya. "Bukan kamu! Tapi si Jo-jo sialan." Tunjuk Andrea.


Mulut Aya membentuk O tanpa suara.


Jonathan menatap Andrea tanpa dosa. "Aku tidak mau sakit. Jatuh itu menyakitkan."


Andrea membuat gerakan akan memukul. "Jadi cowok itu yang romantis kek."


"Contohnya?" Tanya Jonathan.

__ADS_1


"Contohnya-" Andrea melirik Aya yang kebingungan. "Contoh cowok romantis itu apa?"


Aya menatap langit-langit teras depan. "Um, banyak sih gak bisa disebutin satu-satu juga tapi mendingan nonton drama korea saja biar referensinya banyak."


Tangan kiri Jonathan dilipat ke belakang, sementara tangan kanannya membuat gerakan meminta.


Andrea bingung. "Apa?"


"Aku tidak punya drama korea, bisa dipinjamkan ke aku?" Pinta Jonathan.


Andrea menunjuk Aya. "Aya punya banyak, lagian kamu mau nonton dimana?"


"Aku punya laptop." Jawab Jonathan.


"Ap- apa???" Andrea tidak percaya malaikat pencabut nyawa memiliki laptop yang notabene milik manusia. "Darimana mas jo dapat itu? itukan barang manusia."


Jonathan menatap Andrea. "Kamu menghina aku?"


Andrea memutar bola matanya dan menarik masuk Aya ke dalam rumah. "Terserahlah!"


"Tunggu! Drama koreanya gimana?" Tanya Jonathan yang dijawab dengan bantingan pintu ditutup tepat di depan wajahnya. "Sensitif sekali."


 --------


"Kenapa tadi marah?" tanya Jonathan setelah Aya pamit pulang dan meminjam beberapa komik Andrea.


Andrea memutar kursi putarnya ke arah Jonathan yang berdiri di depan pintu tertutup kamar Andrea. "Masih gak tahu kenapa aku marah? katanya malaikat!"


Jonathan menghela napas. "Meskipun aku malaikat, bukan berarti aku bisa membaca pikiran orang semudah itu."


"Jadi mas gak bisa baca pikiran?" tanya Andrea penasaran.


"Aku hanya bisa membaca masa lalu dan masa depan manusia dalam kondisi tertentu."


"Terus, terus masa depan aku gimana? kelihatan gak?" tanya Andrea.


Jonathan menggeleng. "Aku tidak bisa membaca pikiran kamu dari dulu. Aku selalu penasaran kenapa, tapi akhirnya aku mengerti." Jonathan menatap pelindung Andrea di pojok ruang yang tersenyum ke dirinya.


Andrea menatap tempat yang ditatap Jonathan. "Ouw."


"Jadi, kenapa kamu marah?"


Andrea terkejut, tiba-tiba muncul laptop di depan meja belajar.


"Itu laptop milik aku, biasanya aku gunakan untuk mencari informasi, kalau mau kamu pakai, pakailah."


Andrea merasa tersindir. "Aku memang sedikit marah dan iri tapi bukan berarti aku minta-minta!"


"Aku tidak merasa kamu minta aku."


Andrea kesal dengan poker face Jonathan. "Lalu untuk apa laptop ini?"


"Aku pikir ini akan berguna untuk kamu."


"Kalau mama lihat bagaimana?"


"Mama kamu-" Jonathan berpikir sejenak, "Bilang saja kalau aku yang ngasih."


Andrea menepuk kening. "Gimana aku bisa bilang kalau itu dari mas! mas saja gak bisa dilihat mata manusia biasa apalagi- ah, percuma bicara sama malaikat yang tidak mengerti konsep hubungan manusia."


Jonathan menaikan sebelah alis. "Apa hubungannya laptop dengan konsep hubungan manusia?"


"Ya- gimana ya-" Andrea menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Dimana-mana seorang ibu pasti akan khawatir kalau anaknya tiba-tiba saja diberikan barang terutama barang mahal dari orang asing."


"Kenapa? apa karena manusia tidak dibolehkan terikat dengan benda?"


Andrea menggeleng. "Bukan, itu sangat tidak pantas apalagi lawan jenis yang memberikannya."


Jonathan semakin bingung. "Hubungan manusia itu terlalu rumit."


"Aku tahu itu!"


"Pakai saja laptopnya, kamu jauh lebih membutuhkannya untuk ujian kenaikan kelas mu tahun depan."


"Terus mas?"


"Aku semakin sibuk akhir-akhir ini." Jonathan melihat jam tangannya. "Sebentar lagi aku harus berangkat, aku akan pulang sebelum tengah malam."


"Syaratnya?"


"Masih bisa besok." Jonathan menghilang dari hadapan Andrea.

__ADS_1


"Ah!" Andrea menghela napas. "Charger laptopnya? Yah, terlambat deh."


 


"Pagi!" Sapa Andrea sambil masuk ke dalam kelas, dia heran melihat teman-teman perempuannya berdiri di pintu pembatas antara kelas IPA dan IPS, yang sudah dibuka sedikit.


Andrea duduk di bangkunya dan balik badan ke belakang. "Kenapa?" tanya Andrea menunjuk teman-teman dengan dagunya.


"Ada dua siswa baru, cowok. Katanya ganteng dan kaya makanya anak-anak ribut dari tadi ngeliatnya." Aya mengangkat kedua bahunya. "Sudah lihat mobil BMW hitam di halaman sekolah kan?"


Andrea mengangguk.


"Itu mobilnya."


"Oh!" Andrea melirik ke sepuluh temannya yang berdesakan mengintip siswa baru itu. "Kayak gak ada cowok lain aja!" bisik Andrea pada Aya.


Aya tertawa kecil. "Kamu kan ada malaikat yang katanya ganteng itu." Balasnya sambil bisik juga.


"Eh, lagian tumben ada siswa baru masuk." Setau Andrea jarang ada manusia, maksudnya siswa masuk ke sekolahnya karena terkenal sebagai sekolah bermasalah dan memiliki murid-murid bengal. Apalagi masuk sebagai murid kelas 3 SMA.


"Katanya mereka dikeluarkan dari sekolahnya, detailnya sih aku gak tau." Aya memajukan badannya. "Mereka berdua masuk kelas E, si Giant yang di kelas C menolak mereka berdua."


Sekolah ini SMP dan SMA nya satu gedung. Dan hebatnya memiliki kelas unik dari 2 SMA. Kelas Ipa adalah kelas unggulan tapi juga kelas satu-satunya di sekolah ini dengan murid berjumlah 20 orang. Sementara kelas IPS ada tiga kelas, berisikan 30 murid atau lebih. Kelas-kelas IPS disebut kelas C,D dan E. Sementara A untuk kelas IPA dan B untuk kelas bahasa karena dua kelas inilah yang paling menonjol prestasinya di banding kelas lainnya.


Sementara kelas E merupakan kelas paling bengal. Berbatasan tembok dan satu pintu dengan kelas IPA sementara kelas C dan kelas D tempat geng si Giant.


"Wajar saja sekolah ini menurut, bokap nya Giant kan juga salah satu donatur besar sekolah ini." Andrea mengangguk.


"Ada lagi yang paling heboh." Bisik Aya.


"Apa?"


"Ketua osis kita, si teman kelas kita itu ketahuan sekolah menghamili anak IPS. Itu lho yang diceritakan Nina tapi beda cewek."


"Eh, bukannya mau digugurkan?" Bisik Andrea.


"Itu satunya lagi, kacau nih kamu gak nyimak."


"Terus, terus?"


"Demi kredibilitas sekolah, ketua osis nya diganti dengan anak baru itu."


"Kok bisa? Diakan anak baru."


Aya menjentikkan jari tanpa suara dengan cepat. "Duit, duit Ndrea. Orang-orang kayak gitu maen nya duit."


"Kamu tahu darimana?"


"Si Ana tadi cerita dengerin para guru waktu gosip."


"Hebat sekali kalian, pagi-pagi sudah gossip dan mengintip cowok."


"Tapi kamu pasti aneh deh sama ketua osis baru kita."


"Kenapa?"


"Kayaknya ada yang beda gitu. Tapi aku gak tahu kenapa-"


Andrea balik badan dan mulai mengeluarkan kotak pensilnya. "Bodoh amat ah, yang penting aku kudu siap dengan syarat lanjutan."


"Belum mulai emangnya?"


"Belum," jawab Andrea.


"Kamu udah tanya si Jo itu tentang nama yang mengecil di jari kamu?"


Andrea menepuk keningnya. "Sudah cerita sih tapi aku lupa!"


"Lupa aja terus," cibir Aya.


"Namanya manusia ya pasti banyak khilaf nya."


"Jangan lupa nanti malam tanyain malaikat ganteng kamu itu, aku takut itu kenapa-kenapa, kamu tahukan maksud aku?"


"Iya-"


"Andrea, aku serius nih. Masalahnya ini malaikat pencabut nyawa, kamu gak boleh main-main dengan dia. Lengah sedikit kemungkinan kamu yang rugi." Tegas Aya. "Seandainya saja aku punya kekuatan untuk melindungi kamu."


Andrea menghela napas. "Iya, aku tahu! Terima kasih atas perhatiannya, tapi aku akan mencoba semuanya semampuku."


Aya mengamininya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2