KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
DUA PULUH TUJUH


__ADS_3

Sakit-


Sangat sakit-


Badan serasa remuk-


Andrea merasakan darah mengalir tapi entah dimana, tubuhnya merasakan sesuatu. Dia melihat tangan yang melingkar di tubuhnya.


Tangan-


Mata Andrea menelusuri tangan lalu menuju wajah.


Mas Jo? kenapa? ah, iya!


Andrea memejamkan mata, merasakan air mata mengalir bercampur dengan darah. Saat melompat, Jonathan berusaha menangkap lalu memeluknya. Ya tuhan, kenapa bisa berakhir seperti ini?


Ayah kandung Andrea yang membuang raga bahkan jiwa Andrea hidup bahagia bersama perempuan selingkuhannya bahkan memliki anak dan kekayaan tapi kenapa- kenapa Andrea yang hanya menginginkan hidup bahagia menjadi designer bersama Jonathan harus merelakan seluruhnya.


Ya Tuhan, kenapa hidup ini tidak adil?


Sayup-sayup terdengar suara di kepalanya, muncul bayangan Jonathan tersenyum. "Seandainya saja ayah kandung kamu tidak melakukan hal seperti itu mungkin saja kita berdua tidak akan pernah bertemu dan bergandengan tangan seperti sekarang ini."


Ah, iya. Itulah yang dikatakan Jonathan ketika dirinya hendak membunuh ayah kandung, Andrea memang tidak boleh menyalahkan Tuhan- sebagai gantinya, mau kan Tuhan mendengar?


"Andrea ingin bisa bersama mas Jo lagi." Bisik Andrea lalu kesadarannya menghilang.


 


Mata Andrea terbuka perlahan, mengerjap. Kepalanya sangat pusing, "Hmmm-"


"Sudah bangun?" Seroja tersenyum di depan Andrea.


"Anda-" Andrea memegang keningnya sementara Seroja menahan Andrea yang berusaha bangun. "Siapa?" tanyanya


"Saya pelindung kamu selama ini, Andrea." Jawab Seroja sambil memperhatikan kondisi Andrea dengan cemas.


"Pelindung?" tanya Andrea yang masih linglung.


Seroja mengangguk lalu menghela napas. "Saya ingin meminta maaf."


"Maaf?" tanya Andrea tidak mengerti.


"Ya, karena saya pergi. Nyawa kamu jadi terancam seperti itu, seandainya saja kejadiannya tidak sebesar ini, saya tidak akan mengijinkan malaikat itu bersama kamu, Andrea." Sesal Seroja. Si malaikat itu bena-benar melanggar janji!


Andrea melihat sekeliling ruangan yang terlihat seperti zaman kerajaan Jawa seperti yang di tv. "Ini dimana?" tanyanya dengan panik


"Kamu aman di tempat saya." Seroja berusaha menenangkan Andrea.


"Aya? Jonathan?" Andrea bangkit.

__ADS_1


"Aya sudah saya kembalikan ke rumahnya sementara malaikat itu hilang entah kemana." Seroja merasa kasihan ke Andrea, bahkan saat dia terkapar seperti ini masih mengingat sahabat baiknya, Seroja juga merasa kesal karena Andrea masih mengingat malaikat konyol itu.


"Hilang? tapi waktu itu dia-" Andrea menjadi cemas.


"Mungkin dia sudah menghilang, mengingat kamu masih hidup," kata Seroja.


Bibir Andrea bergetar. "Kenapa-"


"Temannya juga panik mencari lalu menyerah, sepertinya dia memang sudah menghilang." Seroja menggeleng sedih.


Andrea menggoyang-goyang tubuh Seroja dengan kasar. "Aku sama sekali tidak mengerti yang dikatakan teman mas Jo, yang aku ingat salah satu dari kami harus mati lalu kenapa aku masih hidup? apa mas Jo sudah me- me-"


Seroja menenangkan Andrea. "Saya tidak tahu bagaimana keadaan si Jonathan itu tapi kalau kamu memang masih hidup sekarang kemungkinan besar dia memang sudah mati."


Andrea menggeleng panik sambil menutup wajah dengan kedua tangan. "Tapi- tapi aku loncat dari jurang- seharusnya aku yang sudah-"


Seroja menghela napas. "Saya pernah mendengar ceritanya sejak lama, tapi tidak menyangka kalau itu benar adanya."


Andrea membuka kedua tangannya. "Cerita?"


"ini hanya dongeng yang kami dengar." Seroja menatap lembut Andrea, "kalau kamu mau mendengarnya, maukah kamu istirahat dan menenangkan diri sampai sembuh?"


Andrea mengangguk cepat. "Aku janji."


Seroja mengangguk senang. "Bagus!"


Andrea bersandar di ujung tempat tidur dan memperhatikan cerita Seroja.


 


"BODOH!" teriak raja jin dari singgasananya dan melempar anak buah dengan gelas minuman di bawah tangga. "Bagaimana kalian bisa kehilangan manusia dan malaikat busuk itu?"


Pemimpin anak buah yang berlutut sambil menangkupkan tangan di depan kepala yang menunduk, angkat bicara. "Ampun, kami tidak tahu kalau manusia itu tiba-tiba loncat daru jurang lalu- ada bidadari muncul dan menyelamatkan manusia itu."


Raja jin menjadi tertarik. "Bidadari?"


"Ya, dia sangat cantik dan saat memunculkan diri wajahnya tidak pucat sama sekali."


"Tidak pucat? bukannya dia hanya jin penjaga?" raja jin semakin tertarik.


"Saya tidak tahu, tapi kecantikannya seperti para bidadari. Saya pernah mengintip bidadari yang turun dari langit, jadi saya tahu."


"Hmm- harusnya kalian juga bawa bidadari itu supaya bisa menjadi calon permaisuri ke 1259-ku."


"Ampun, beberapa anak buah kita sudah mengejar lokasi mereka. Jadi tinggal menunggu waktu saja."


"Aku tidak ingin berlama-lama, aku ingin memiliki bidadari dan manusia itu. Manusia akan ku jadikan budak sementara yang bidadari ku jadikan istri HAHAHAHAHA!" si raja tertawa nyaring dan puas. Membayangkan kedua trophy bisa dia dapat dan pamerkan ke seluruh penjuru dunia jin.


"Tuhan menyuruh kita tunduk ke manusia? mimpi! manusialah yang haru tunduk ke kita! mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan kita!"

__ADS_1


"Tuan ku benar."


"Hahahahaha- kalian semua harus berhasil, jika tidak berhasil- aku akan membunuh dan memburu kalian semua."


"Ampun, kami akan memastikan semua berjalan lancar."


"HARUS!"


 


Teman Jonathan kebingungan mencari temannya dari satu tempat ke tempat lain, beberapa malaikat pencabut nyawa membantu pencarian Jonathan tapi nihil!


"Inilah yang membuat ku tidak ingin melakukan ritual itu, bukannya mimpi berhasil yang ada malah buntung!"


Teman Jonathan hampir emosi mendengar kalimat itu tapi juga tidak bisa menyalahkannya. Kebanyakan malaikat pencabut nyawa adalah korban kekejaman manusia sehingga mereka terlalu takut menjadi manusia.


"Baru kali ini aku mendengar dan melihat malaikat yang ingin kembali menjadi manusia. Apakah dia sudah jatuh cinta dengan manusia itu, sampai rela memberikan jantungnya?"


Jonathan menggeleng pelan. "Aku tidak tahu."


Ketiga malaikat pencabut nyawa mengitari Jonathan yang bersandar di pinggir jembatan, memperhatikan lalu lalang kendaraan manusia.


"Jika saja kita bukan korban kekejaman manusia, apakah kita juga salah satu yang ada di dalam kendaraan itu?"


"Aku malah tidak bisa membayangkan menjadi manusia."


"Aku juga."


"Aku juga, aku terlalu malas melihat kebusukan manusia tapi malah mengingat Tuhan saat nyawa akan dicabut."


Teman Jonathan menghela napas frustasi. "Dimana lagi kita harus mencari anak itu?"


"Coba kamu pikirkan tempat tongkrongan dia, kamukan dekat sama dia."


"Aku sudah mengitari semua tempat. Tidak ada!" teman Jonathan mengacak rambut. "Apakah dia disembunyikan Tuhan?"


"Yang benar saja! Tuhan tidak akan mau ikut campur jika berurusan dengan jin dan sebangsanya."


Teman Jonathan mengangguk paham.


"Bagaimana dengan pasangan manusianya?"


"Ada, tapi di istana pelindungnya. Anak itu akan dikembalikan setelah situasi aman."


"Situasi tidak akan pernah aman, jika kalian masih melakukan ritual itu. Tapi karena sudah terlanjur, mau tidak mau harus diteruskan. Aku akan mencari di tempat lain." Kata malaikat pencabut nyawa itu lalu menghilang setelah menepuk bahu teman Jonathan.


Dua lainnya melakukan hal sama, mereka tidak ingin membuang waktu.


"Aku akan mengabari kalian jika sudah bertemu dengannya," angguk teman Jonathan lalu menghela napas panjang ketika teman-temannya sudah menghilang.

__ADS_1


Dimana kamu, teman?


__ADS_2