
Di Rumah Andrea.
Seruni berusaha mencari peralatan atau perlengkapan milik saudara sepupu Andrea, Seruni menyentuhkannya ke berbagai tempat dan barang dengan indra keenamnya. Dia bisa melihat masa lalu benda tersebut.
Saat Seruni menyentuh laci lemari atas yang terpasang di dinding kamar mama Andrea, dia melihat masa lalu kakak sepupu Andrea yang meletakan beberapa dokumen disana. Seruni yang sudah memastikan tidak ada orang di dalam rumah, segera membuka laci itu dengan selendangnya, dokumen-dokumen melayang keluar dari dalam laci dan turun di atas tempat tidur.
Seruni membuka dokumen itu satu persatu. "Rapot, dokumen rumah dan- hm?" Seruni membacanya dengan teliti. "Bukankah ini foto ayah kandung Andrea ya? lalu ini si dukun, disampingnya adik kandung ayah Andrea, lalu teman dekat ayah Andrea dan- ini siapa?"
Seruni berusaha mengingat-ingat, memang selama ini yang bersama dengan Andrea adalah Seroja tapi Seroja kadang kala menugaskan dirinya mengawasi ayah kandung Andrea, tidak heran kalau dirinya mengenal orang-orang terdekat ayah Andrea. "Aku baru tahu ada orang ini, jangan-jangan pertemuannya sebelum Andrea lahir." Seruni membolak balik foto itu.
Untuk mempersingkat waktu, Seruni memutuskan mengambil foto itu dan menyimpannya di balik baju. Lalu dia kembali konsentrasi mencari jejak kedua kakak sepupu Andrea dan ketemu, menemukan satu buku rapot milik kakak tertua atau cucu pertama keluarga Andrea dari pihak ibu.
"Lucunya." Seruni tertawa saat membuka buku rapot itu.
"Ngapain tertawa?" tanya teman Jonathan yang menatap ngeri Seruni.
Seruni menoleh. Ah, teman Jonathan. "Sudah kerjanya?"
"Hanya mencabut nyawa satu orang saja kok." Teman Jonathan mengangkat kedua bahunya dengan santai. "Kamu sendiri ngapain tertawa sendiri begitu? Aku jadi tidak bisa membedakan antara pelindung dan jin."
Seruni mengangkat dagunya dengan angkuh. "Bukan urusan kamu!"
Teman Jonathan menatap buku yang dipegang Seruni. "Apakah itu milik kakak sepupu Andrea?"
"Ya." Seruni memeluk erat rapot kakak sepupu Andrea.
"Terus yang satunya?" tanya teman Jonathan penasaran.
"Kita harus mencarinya di atas." Seruni menjentikkan jarinya, semua dokumen kembali ke tempatnya masing-masing. "Barangnya ada di atas."
"Mengintip masa lalu, huh?" dengus teman Jonathan dengan tatapan kesal. Dia sendiri paling kesal jika ada yang mengintip masa lalunya.
Setelah laci menutup sendiri, Seruni menoleh heran. "Bukannya kalian juga bisa?"
"Hanya saat tertentu, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan." Jonathan tidak ingin menceritakan alasan sebenarnyam
Seruni menghela napas kecewa. "Pantas saja, kamu tidak tahu apa-apa disana."
"Heh? Apa? Apa?" tanya teman Jonathan penasaran.
Seruni menaiki tangga disusul teman Jonathan. "Tidak."
"Pelit." Cibir teman Jonathan. "Ngomong-ngomong ada dimana letaknya?"
"Dulu saat saya disini menggantikan Yang Mulia- kakak sepupu kedua meninggalkan sebuah plakat disini." Seruni masuk ke kamar kecil samping kamar Andrea dan berjongkok di depan lemari yang dulunya digunakan untuk tempat Tv, Seruni mengambil sebuah kotak beludru berwarna biru dan mengeluarkannya. "Ketemu."
__ADS_1
Karena kamar hanya bisa dimasuki satu orang yang sudah terisi dengan dua lemari, teman Jonathan berjongkok di depan pintu, samping Seruni. "Apa itu?"
Seruni membuka kotak dan tersenyum puas. "Plakat penghargaan universitas."
"Ah." Angguk teman Jonathan. "Anak pintar."
Seruni memberikan kotak beludru itu ke teman Jonathan. "Untuk mempersingkat waktu kita bagi dua tugas. Saya ke kakak sepupu tertua dan kamu sisanya."
Teman Jonathan menerima kotak itu. "Jahatnya."
"Mau menyelamatkan nona Aya secepat mungkin tidak?"
"Iya, ya."
Seruni merenung sebentar lalu bertanya ke teman Jonathan. "Apakah kamu tahu mengenai keluarga ayah kandung nona Andrea?"
"Tidak, kenapa?" geleng teman Jonathan.
"Tidak." Seruni menutup pintu lemari dan berdiri.
"Tapi Jonathan tahu, kalau waktunya senggang dia ke rumah ayah kandung Andrea."
"Percuma. Yang bersangkutan juga sudah tidak ada."
"Kamu yakin Jonathan sudah tidak ada?"
Teman Jonathan terdiam dan menatap kosong tempat menghilangnya Seruni. Teman Jonathan menatap kotak beludru di tangan dan dalam sekejap sudah berada di rumah milik kakak sepupu kedua Andrea.
Teman Jonathan memperhatikan isi rumah di sekelilingnya. Sederhana dan tidak begitu luas tapi nyaman ditempati.
"Mas, kamu sudah pulang?"
"Iya. Kerjaan cepat selesai, bagaimana perut kamu?"
Teman Jonathan jalan ke arah suara. Ruang tamu, melihat seorang pria berusia 20an sedang duduk di kursi tamu bersama istrinya. Teman Jonathan menebak kalau pria itu kakak sepupu Andrea.
"Sudah tidak mules lagi, tadi juga sudah kontrol katanya tidak apa-apa Cuma harus memperhatikan asupan gizi saja."
"Alhamdulillah." Rasya mengelus perut istrinya yang sedikit membesar.
Teman Jonathan menebak, usia kehamilannya masih sekitar satu atau dua bulan.
"Sudah tanya dokter, anaknya laki-laki atau perempuan?"
"Ah mas, itukan surprise. Apapun jenis kelaminnya kita mesti bersyukur." Sang istri mengusap sayang perutnya. "Oh ya, sudah makan mas?"
__ADS_1
"Sudah tadi sama teman kantor, sebelum pulang kesini."
Teman Jonathan menghela napas kecewa. Jadi belum tahu ya apa jenis kelaminnya?
"Oh ya, tadi ada telepon katanya dari mamanya Andrea." Tiba-tiba sang istri teringat sesuatu.
"Mamanya Andrea? Tante? Tumben."
"Iya, Cuma tanya kok teleponnya mama tidak bisa dihubungi."
"Oh, mama kan kerja."
"Iya. Aku juga sudah bilang begitu tapi dari suaranya kelihatan panik, terus juga tanya tahu nggak dimana Andrea."
Teman Jonathan mengerutkan kening. Kalau tidak salah Seroja bilang, Aya menyampaikan ke mama Andrea kalau Andrea tidak pulang- terus kenapa telepon? hanya untuk memastikan? tapi ngapain juga telepon keluarganya?
"Kapan teleponnya?"
"Barusan."
Barusan?
"Tante sekarang ada dimana?"
"Katanya ada di rumah di Malang."
"Mungkin Andrea main ke rumah temannya, terus lupa telepon tante."
"Semoga aja ya mas, dari suaranya panik gitu."
Aneh. Teman Jonathan menghapus rasa penasarannya dan menghampiri istri kakak sepupu Andrea, dia menyentuh perutnya yang ditutupi daster.
Teman Jonathan menutup kedua matanya dan merasakan gerakan sang janin di dalam perut.
Teman Jonathan membuka matanya dan menghela napas lega. Anak laki-laki.
"Kalau tidak salah, mas Wira rencana jual rumah di Malang." Rasya mulai cerita.
"Terus tante dan anak-anaknya bagaimana?"
Rasya mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, kasihan juga ya tante ditinggal suami gitu- terus membesarkan Andrea dan Andre sendirian. Yah, Allah pasti buat rencana yang terbaik untuk mereka."
"Amin."
Teman Jonathan ikut mengamini dan kembali ke tempat perjanjian.
__ADS_1
Jika anak itu terlahir perempuan, maka mau tidak mau Seroja harus berpindah tuan sementara Andrea sendiri masih butuh perlindungan dari Seroja.
Teman Jonathan memikirkan kemungkinan terburuknya. Kalau tidak salah, Jonathan pernah cerita kalau ayah kandung Andrea memiliki peliharaan mister gende yang berarti pasti jiwa Andrea pernah tersentuh sedikit. Jika Seroja pergi, kemungkinan besar mister gende akan masuk.