
"Sebenarnya, kita mau kemana?" Andrea melihat sekeliling hutan yang mulai menggelap tiap berjalan maju. Dia jadi teringat jalan menuju Khayangan.
"Suatu tempat." Seroja yang melayang di samping Andrea hanya bisa menjawab singkat.
Andrea pun tidak meneruskan pertanyaannya, ia memilih percaya dan mengikuti pelindungnya. Andrea mengerutkan dahinya ketika kegelapan mulai memudar dan digantikan cahaya bulan hutan, ia merasa yakin telah berpindah tempat.
"Seroja?" Andrea melihat Seroja menaikan tangannya untuk menerbangkan sesuatu.
"Saya beritahu keberadaan kita yang lain, tidak baik berpencar seperti ini. Meskipun tujuan kita satu," ucap Seroja.
Andrea menggigit bibir bawahnya, ia melangkah maju dan melihat di bawahnya banyak sekumpulan orang sedang berkemah. "Apa kita akan istirahat disini?" tanyanya.
"Tidak ada waktu untuk istirahat." Seroja mengubah wujudnya menjadi manusia biasa. Memakai celana jeans sobek dan kaus berlengan panjang berwarna putih bertulis "KEEP" yang ditutup dengan cardigan merah muda.
"Kamu seperti mahasiswa akhir tahun yang butuh pekerjaan." Cengir Andrea, tidak menyangka bisa melihat sosok manusia Seroja. "Kalau hidup di dunia nyata, pasti jadi model atau artis cantik di sela status mahasiswa."
"Terima kasih atas pujiannya." Seroja tersenyum lembut.
"Aku memuji kamu."
"Saya tahu."
"Kamu sudah memberi tahu yang lain?" tanya Andrea yang berusaha mencairkan rasa canggung yang muncul tiba-tiba.
"Sudah."
Andrea yang balik badan memunggungi pemandangan di bawah, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. "Sekarang apa yang harus kita la-"
"YANDA!!!"
Andrea terdiam. Dia sepertinya mengenal suara itu.
"YANDA!!! TUNGGU!!"
Andrea balik badan dan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Seluruh keluarga berkumpul bahagia dan hangat, seolah melupakan keberadaannya sebagai seorang anak.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Seroja yang cemas dengan reaksi Andrea.
Andrea menatap Seroja yang melayang di sampingnya dengan sengit. "Kenapa kamu membawaku kesini?!"
"Karena ini pilihan kita-"
"Ap-"
"Jika kita tidak bisa menghancurkan keris itu, kenapa tidak kita hancurkan saja pemiliknya?" tanya Seroja sambil menatap angkuh orang-orang yang berisik di bawah, dia tidak akan pernah memaafkan perselingkuhan. "Terlalu lama mencari keris yang tidak ada petunjuknya sama sekali."
"Tapi bagaimana caranya? membunuhnya? aku tidak mau!" geleng Andrea. Dia tidak segila itu sampai mau membunuh orang, yang benar saja! mereka memangnya siapa?
"Kita tidak akan melakukan hal barbar itu-"
"Lalu, lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Andrea tidak mengerti.
Seroja memaksa Andrea supaya menatap dirinya. "Dengarkan penjelasan saya."
__ADS_1
Andrea diam mendengarkan penjelasan Seroja, dia bersiap mendengar berita buruk.
"Dahulu kala, saya adalah seorang bidadari."
Kedua mata Andrea membesar. "Bidadari?"
"Saya dan Seruni turun ke bumi ingin mencari dua hal. Yang pertama adalah mencari pelaku penghancuran beberapa tempat rekreasi para bidadari dan yang kedua- mencari malaikat tak bernama." Seroja menatap lurus pemandangan keluarga bahagia ayah kandung Andrea.
"Malaikat tak bernama itu ditugaskan menyelidiki semua keanehan ini dan sampai sekarang pun kami tidak tahu keberadaannya."
"Seroja."
"Tidak, sebenarnya bukan tidak tahu keberadaannya. Tapi kami tidak berani mendekat."
"Kenapa?"
"Karena dia melakukan sumpah."
"Sumpah?"
"Dia tidak akan kembali sampai menemukan siapa pelakunya terutama yang membunuh ibu kandungnya."
"Jadi, dia tahu siapa namanya? Dia punya tunangan? melakukan ritual?"
Seroja menggeleng. "Dia tahu siapa dirinya, sebelum ditugaskan turun. Jarang sekali malaikat tak bernama bisa mendapat informasi mengenai keluarganya, masalah dia mendapat informasi panjang ceritanya-"
Seroja berhenti sejenak dan menatap Andrea.
"Tapi, ada hal besar yang selama ini disembunyikan."
Andrea menelan saliva.
Andrea terkejut. "Bukannya malaikat tak bernama itu tidak bisa disentuh?" lalu Andrea teringat sesuatu. "Apakah mereka melakukan ritual yang sama dengan aku dan mas Jo?"
"Awalnya kami semua menduga hal itu." Seroja menghela napas. "Tapi setelah 'dia' diturunkan, dugaan kami semua salah. Tidak ada ritual di kala itu, yang ada mereka dimanfaatkan."
"Dimanfaatkan?"
"Seperti yang saya bilang, jarang sekali malaikat tak bernama mendapatkan informasi mengenai keluarganya kecuali 'dia'"
"Dan mereka memanfaatkan itu sebagai kelemahan malaikat tak bernama?"
"Ya. Mereka semua diserang saat lengah."
"Tapi untuk apa?"
"Darah dan jantung."
"Tapi bukankah itu hanya mitos?"
"Memakan darah dan jantung malaikat tak bernama untuk berusia abadi memang mitos di kalangan makhluk gaib tapi jangan lupa, mereka pada dasarnya suka makan dua hal itu."
"Atau jangan-jangan hal itu sengaja disebar beberapa kalangan makhluk gaib tertentu supaya bisa menghadiahkannya kepada yang menyebarkan?" Andrea menggigit kuku tangannya. Cemas memikirkan nasib kekasihnya.
__ADS_1
"Apa?"
"Kamu ingatkan kalau aku dan Aya pernah ditangkap makhluk gaib?"
"Tentu saja, saya hampir marah ke kedua malaikat itu."
"Dugaan aku, yang menangkap kami makhluk gaib berstatus rendah karena mereka selalu mengulangi kalimat sama 'hadiah untuk raja' 'raja pasti senang'"
Seroja memiringkan kepalanya untuk mengingat sesuatu.
"Lalu apa hubungannya dengan sekarang?" tanya Andrea yang berusaha melupakan gugupnya.
"Saya menyuruh Seruni untuk menyelidiki semuanya, selama ini dia melapor hanya berdasar dugaan hingga beberapa saat lalu dia mengirim pesan kepada saya."
Andrea teringat dengan wajah tegang Seroja setelah membaca surat yang diberikan burung tapi ia tidak mengutarakan rasa penasarannya, ia hanya menunggu cerita dari Seroja.
"Dan Seruni menemukan beberapa fakta penting."
"Fakta?" tanya Andrea.
"Saya tidak bisa mengungkapkannya sekarang, tapi saya semakin yakin peliharaan ayah kandung anda berhubungan dengan masa lalu kami. Beratus-ratus tahun kami berusaha mencari, akhirnya kami bisa menemukannya." Yakin Seroja yang tidak ingin kehilangan kesempatan emasnya.
Andrea menggigit bibir bawahnya. "Apakah ayahku terlibat juga?"
"Ayah anda tipe manusia bodoh yang dibutakan hawa nafsu." Seroja menatap keluarga itu dari kejauhan. "Karena itulah kita disini."
"Untuk apa?"
"Menculik pemilik keris itu."
"Ap-"
"Tenang saja, anda tidak akan saya libatkan hal ini. Hanya perlu menunjukan keberadaan keris itu, hawanya pasti sangat terasa kalau pria itu baru-baru ini menyentuhnya."
"Tapi bagaimana kalau bapak tidak menyentuhnya sama sekali?"
"Maka anak buahnya lah yang harus menyentuhnya."
Andrea menelan saliva. "Apa yang harus aku lakukan?"
"Cukup melihat apa yang akan saya lakukan, dan ikuti semuanya. Anda juga harus tetap di jarak aman, saya tidak ingin terjadi sesuatu pada anda."
Andrea jadi cemas, dia tidak ingin pelindungnya berkorban. "Tidak bisakah aku membantu kamu?"
"Tidak ada yang bisa kamu lakukan." Geleng Seroja.
Andrea menjadi kecewa. Kecewa pada diri sendiri dan ketidak mampuannya, beban pelindung. "Maaf, aku jadi merepotkan kamu."
"Sudah berapa kali anda meminta maaf kepada saya?"
Andrea menggeleng pelan.
"Sudah menjadi tugas pelindung untuk melindungi tuannya, anda tidak perlu khawatir."
__ADS_1
Andrea ingin mengatakan sesuatu tapi ditahannya ketika Seroja mulai bersikap serius dan menatap lurus targetnya.