KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
DUA PULUH LIMA


__ADS_3

"Bapak kamu punya tenaga spiritual yang tidak main-main, jadi saya tidak bisa menebaknya."


Andrea mengacak rambutnya dengan kesal. Ia merasa dipermainkan sekarang.


"Emosi kamu mulai tinggi, melihat dan mendengar ayah kandung kamu. Kenapa kamu tidak memanfaatkan situasi ini dengan membunuhnya?"


"Mem- apa?"


"Saya yakin kamu mendengarnya."


Andrea mundur selangkah. "Untuk apa aku harus membunuh dia?"


"Karena tidak hanya kamu saja yang sebal dengan pria itu. Saya juga."


"Kenapa-"


"Karena dia membawa pasukan mengerikan, saya sangat membencinya. Disini sangat sesak."


Andrea paham pasukan yang dimaksud nenek itu. Dulu pernah ada yang cerita kalau bapaknya memiliki peliharaan yang banyak dan kuat, itu berarti menegaskan bahwa bapaknya memiliki kekuatan spiritual yang tinggi.


"Tapi ada salah satu peliharaannya yang tidak pernah saya lihat akhir-akhir ini."


"Apa itu?" tanya Andrea penasaran, berusaha menepis rasa takutnya.


"Genderuwo!"


Kedua mata Andrea melebar.


"Orang itu punya dua dan baru-baru ini saya hanya melihat satu, kamu tahu sesuatu?" tanya nenek itu.


Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan keris itu?


"Oh ya. Kalau tidak salah kamu pernah datang kesini bersama tunangan kamu itu untuk mengambil sesuatu."


"Aku tidak tahu, mas Jo yang tahu." Andrea menjawab cepat, dia tidak mau ditanya lebih jauh lagi.


Nenek itu mengangkat salah satu alisnya. "Sepertinya memang ada yang kamu sembunyikan."


Andrea mengabaikan perkataan nenek itu, duduk di depan pintu kamar yang sempat ia tempati dulu, ia melihat wajah bahagia bapak kandungnya bersama selingkuhan dan anak-anaknya.


Terbesit rasa iri di benak Andrea, seandainya saja dia bersama dengan bapaknya tanpa adanya keterlibatan dunia hitam, mungkin dirinya akan bisa tersenyum seperti itu dan tidak akan berada disini.


"Bagaimana? sudah memutuskan?"


Andrea mengangkat kepalanya. Melihat nenek itu berdiri di belakangnya sedang menatap ke arah dirinya.


"Kamu tidak mungkin selamanya berada disini bukan?"


Andrea mengernyit. Bagaimana caranya menyampaikan hal itu ke jin ini? Biar bagaimanapun dirinya juga tidak bisa mempercayai ucapan jin begitu saja.


"Kamu belum memutuskan?"


Andrea berdiri dan balik badan menghadap nenek itu dengan sikap menantang. "Aku memang membenci orang itu, tapi aku juga ada niat untuk membalas apa yang sudah dilakukannya."


Nenek itu mengeram marah. Mengetuk-ngetuk tongkatnya ke lantai dengan marah. "Kamu sudah membuang-buang waktu saya!"


Andrea megertakkan giginya. Berusaha memberanikan diri melawan jin di hadapannya meskipun tidak memiliki kekuatan apapun.

__ADS_1


"Kamu ingin melawan saya?" nenek itu menertawakan Andrea. "Jangan menjadi manusia yang bodoh, saya tahu bagaimana perasaan kamu selama ini, sekarangpun kamu ingin membunuh ayah kandung kamu bukan?"


Andrea tidak bisa mengelak.


"Buat apa kamu membiarkan orang itu hidup? Dia sudah menukar nyawa kamu dengan mudahnya untuk menyelamatkan nyawanya bukan?"


Andrea menutup telinganya dengan kedua tangan.


"Dia bahkan terus-terusan mengabaikan kehidupan kamu, Andrea. Untuk apa kamu membiarkan orang itu hidup?"


Andrea merasakan hawa jahat mulai merasuk tubuhnya. "Tidak."


"Tidak ada ruginya kamu menghilangkan nyawa orang yang melakukan hal sama terhadap dirimu, kamu memang sangat beruntung bisa diselamatkan tunangan kamu."


Kedua mata Andrea yang terpejam sontak membuka. Karena perkataan nenek itu, jadi teringat dengan mas Jo. Tanpa terasa air matanya menetes, hidupnya memang sudah lama menggelap tapi justru malaikat pencabut nyawa tak bernama itulah yang menyelamatkan hidupnya dari kegelapan.


Nenek itu terkejut melihat Andrea yang tiba-tiba menangis.


Dengan tubuh gemetar, Andrea tersenyum sambil menatap nenek itu. "Aku memang membenci bapak tapi aku juga tidak akan bertemu mas Jo jika tidak ada beliau."


Nenek itu terdiam.


"Jadi, aku tidak akan pernah bisa mengabulkan keinginan kamu."


Nenek itu menghentakkan tongkatnya sekali ke tanah lalu mengangkat tangan kanannya. "Kamu memang tidak berguna!"


Andrea memejamkan kedua matanya. Entah kenapa ia merasakan tekanan udara di sekelilingnya. Saat tekanan itu sudah mulai berkurang, ia membuka kedua matanya perlahan.


"Sudah bangun?"


Andrea merasa deja vu.


Kedua mata Andrea mengerjap, melihat sekelilingnya. Kali ini ia berada di tempat yang berbeda. "Ini dimana?"


"Entahlah."


Andrea menoleh ke kanan. Aya duduk di sampingnya dengan badan terikat penuh tali. "Kamu kenapa?"


"Kamu sendiri kenapa?" Aya balik bertanya.


Andrea mengernyit. Ia melihat ke tubuhnya. Sekarang ia juga diikat seperti Aya. "Kenapa-"


"Aku sendiri bingung, tiba-tiba kita berdua diikat disini." Aya menunjuk depan dengan dagunya. "Aku awalnya takut melihat mereka semua, tapi lama-lama terbiasa juga mengingat teman kita jauh lebih menyeramkan dari mereka."


Andrea mengikuti arah pandang Aya. Di depan mereka dengan jarak yang cukup jauh, ada beberapa kelompok jin dengan wujud aneh sedang mengelilingi api besar. Api itu melayang di udara dan tidak berasap seperti api pada umumnya.


"Perasaan aku tadi di Bali deh."


"Bali?" tanya Aya.


"Iya. Tadi aku itu ketemu nenek penjaga kamar yang aku tempati dulu di Bali. Tapi kenapa sekarang aku ada disini?"


"Tapi- dari tadi kamu ada disini kok sama aku, kamu juga tidurnya lama banget. Entah kita dibius atau dibuat pingsan." Aya menatap kesal kelompok jin. "Rasanya aku ingin membubarkan kelompok itu, aaa- waktu tidurku jadi terbuang percuma," erangnya.


"Oh, lihat! Salah satu manusia itu jiwanya sudah kembali!"


Andrea dan Aya menoleh ke salah satu jin yang berteriak nyaring sambil menunjuk mereka berdua. Jin berwujud aneh. Entah bagaimana Andrea harus mendeskripsikannya, kepala berbentuk hewan sementara badannya berwujud manusia perempuan.

__ADS_1


Beberapa kawanan berwujud sama anehnya menghampiri mereka berdua.


"Benar. Jiwanya sudah kembali, untunglah kita jadi bisa mempersembahkan jiwa anak ini ke raja. Raja pasti senang."


"Benar."


"Benar."


"Hahahaha."


"Hihihihihi."


Andrea dan Aya jadi mulai merinding dikelilingi makhluk-makhluk aneh ini. Biar mau memaksakan diri untuk kuat, tetap saja mereka merinding melihat makhluk yang tidak pernah dilihat.


"Ndreaa.," rengek Aya. "Aku benci mereka."


"Sama," dengus Andrea. Selain para makhluk itu memiliki wujud aneh, mereka juga memiliki bau yang busuk. Andrea lebih tidak kuat dengan bau busuk yang mulai semerbak di sekitarnya. "Busuk sekali, ah!"


Salah satu makhluk berkepala tengkorak dan berbadan manusia biasa menjambak rambut Andrea dengan kasar. "Kamu bicara apa, manusia?! Busuk?!"


"Hoi, bau busuk bagi manusia tapi harum bagi kita," kata salah satu kawanan di antara grup yang disambut tawa para kawanannya.


Andrea menutup salah satu matanya, ia berusaha menahan sakit.


"Jangan pernah sakiti temanku!" teriak Aya.


"Hooo, ada lagi manusia berkerudung teriak seperti itu," ejek salah satu kawanan. "Bagaimana kalau kita melepas kerudung kebanggaan para manusia?"


Aya berteriak keras ketika makhluk itu hendak melepas kerudungnya.


"Jangan sentuh teman kuuu!" teriak Andrea yang tidak berdaya. Ia memaksakan dirinya menjadi tameng Aya dalam kondisi tetap terikat.


"Memangnya kenapa kalau kami menyentuh teman kamu?"


"Kamu tidak bisa berbuat apa-apa!"


"Kamu akan menjadi persembahan raja kami."


Andrea merasa pusing dan mual, selain karena bau yang menyengat, mereka bicara bersamaan sehingga ia hanya bisa menangkap 2-3 kalimat dari makhluk itu. Yang pasti ia bisa mendengar kalau makhluk itu akan menjadikan mereka berdua persembahan.


"Ndreaaa.." Aya sudah mulai ketakutan dengan sikap para makhluk itu yang semakin beringas.


"Jangan takut, Ay," bisik Andrea. Matanya masih menatap lurus para makhluk gaib yang mengelilingi mereka.


Makhluk berkepala tengkorak yang masih menjambak rambut Andrea tiba-tiba mengendus sesuatu. "Rasanya ada bau yang berbeda."


"Tentu saja beda, mereka manusia," sahut salah satu kawanannya.


"Bukan!" makhluk berkepala tengkorak itu menjambak rambut Andrea ke atas dengan kasar lalu mengendusnya. "Hmmmm.."


"Kenapa?" tanya salah satu teman makhluk itu yang berdiri di belakang.


Makhluk berkepala tengkorak itu membungkuk dan menatap Andrea lekat-lekat. "Bergembiralah kalian, kita akan mendapatkan hadiah dari raja."


"Hadiah?"


"Manusia ini- adalah tunangan malaikat tak bernama," seringan makhluk berkepala tengkorak itu. Andrea yakin, makhluk itu menyeringai tadi!

__ADS_1


Gawat!


__ADS_2