KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
EMPAT PULUH SEMBILAN


__ADS_3

"Manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang didapatnya, maka dari itu manusia selalu mencari dan mencari kepuasan batin dan kesalahan orang lain." Cerita salah satu bidadari senior yang duduk di hadapan para bidadari kecil yang berjumlah 8 orang.


"Kesalahan?"


"Pada zaman dulu manusia diciptakan untuk melindungi bumi, tidak ada yang setuju karena takut manusia akan merusak bumi dan sekarang perlahan tapi pasti... manusia akan merusak bumi."


"Aku benci manusia!"


"Tapi kita tidak boleh membenci manusia!"


"Katanya kalau manusia mati, kita harus melayani mereka."


"Manusia yang semasa hidupnya berkelakuan baik, pasti akan kita layani dengan baik. Tapi... jika ada manusia berkelakuan buruk, dia akan tinggal di neraka bersama para jin." Sahut bidadari senior disambut dua bidadari dewasa lainnya.


"Tapi, manusia itukan jahaattt, aku pernah melihat manusia menghancurkan hutan apalagi membunuh hewan penjaga hutan, itukan dilarang." Kata salah satu bidadari kecil. "Tidak adil, kala mereka merasa bersalah lalu masuk surga dan kita menghormati mereka. Para manusia itukan dilempar dari surga karena melakukan kesalahan," sambungnya.


Bidadari senior lainnya menghela napas dan menjelaskan. "Memang benar seperti itu, tapi manusia adalah makhluk paling sempurna diantara makhluk lainnya. Mereka memiliki sifat yang unik dan berbeda dari ciptaan Tuhan, hanya saja satu hal yang harus kalian ketahui-"


___


"Dunia tidak akan menarik kalau tidak ada kejahatan, manusia selalu belajar dari kejahatan orang lain." Gumam Andrea sambil memenggal kepala salah satu jin, dia tahu si raja akan mendengar perkataannya. "Makanya aku tidak takut padamu lagi, karena berkatmu- aku bisa bertemu dengan kekasih hatiku meski pertemuan kami akan berakhir sebentar lagi."


Raja jin menatap Andrea dengan geram. "BUNUH ANAK ITU! AKU INGIN KALIAN MEMBUNUHNYA!" tunjuknya.


Andrea tidak takut, ia tidak gentar menghadapi ratusan bahkan ribuan makhluk yang menatap dirinya. Jonathan menggapai Andrea dan berusaha menariknya mundur.


"Mundur," kata Jonathan sambil berusaha menahan sakit.


"Dimana keris itu?" tanya Andrea.


"Di kantongku." Jawab Jonathan.


Andrea merogoh kantong Jonathan dan mengambilnya.


"Kamu mau apa?" tanya Jonathan dengan napas terengah-engah.


Andrea menatap dalam mata Jonathan lalu mencium bibirnya dengan nekat.


Jonathan terkejut dengan tindakan Andrea.


Andrea melepas ciumannya, bibir mereka hanya berjarak 1 cm. "Jangan mati."


Jonathan tidak menjawab, ia mencium Andrea.


Dari kejauhan, Aya melihat kemesraan mereka berdua. "Boleh aku geplak gak kepala Andrea?"


"Silahkan." Sahut J yang ikut cemburu juga. "Ngomong-ngomong kamu sudah selesai?"


Aya mengangguk. "Sudah. Tinggal dari Andreanya saja."


"SEROJA!" Panggil J.


Seroja menoleh.

__ADS_1


"Buat kubah perlindungan buat Jonathan!" perintah J.


"Apa? saya melindungi-"


"Tidak usah banyak bertanya! Kamu ingin Andrea selamatkan?!" potong J.


Seroja menghela napas dengan kasar lalu membuat kubah perlindungan untuk Jonathan dari tempatnya berdiri.


Andrea dan Jonathan tidak tahu yang terjadi, mereka berdua saling menatap seolah merindukan satu sama lain.


"Jangan berbuat nekat." Kata Jonathan sambil memegang kedua tangan Andrea.


Andrea melirik pedang yang menembus di badan Jonathan. "Kalau aku tidak berbuat nekat, kamu tidak akan selamat. Lebih baik kita tidak mengenal di masa depan daripada harus melihat kamu kehilangan masa depan yang dirindukan."


Jonathan menatap Andrea penuh cinta. "Kamu memang bunga kecilku."


Andrea berusaha menahan air matanya supaya tidak mengalir lalu tersenyum. "Aku akan kembali."


Mau tidak mau Jonathan harus melepas Andrea, ia mengangguk kecil. "Hati-hati."


Andrea bangkit berdiri dan lari keluar kubah, tujuannya adalah membunuh si raja. Yang menyebabkan ini semua terjadi.


"SEKARANG!" perintah J.


Aya memegang badan J dengan erat lalu membaca sesuatu dan melempar boneka itu kea rah teman Jonathan. "TEMAN JONATHAN! TANGKAP!"


Teman Jonathan yang posisinya akan dilewati Andrea sontak menoleh meski bingung dengan teriakan Aya, ia menerima boneka doraemon yang dilempar Aya lalu menatap heran.


Seruni yang melihat teman Jonathan yang hendak diserang sontak mengarahkan panahnya ke makhluk di belakang sementara Seroja membuat perlindungan untuk teman Jonathan.


Seroja mengangguk dengan anggun. "Lebih baik beristirahat, memaksakan diri untuk menghabisi mereka tidak ada habisnya, yang ada mereka bertambah banyak."


Seruni mengangguk setuju. Para jin ini tidak punya ilmu membelah diri, tapi jumlah mereka memang sudah banyak dari awal. Setiap ada yang mati atau tumbang pasti akan digantikan yang lainnya. Para jin ini tidak bisa menyerang sekaligus, mereka terlalu bodoh untuk menyerang secara membabi buta. Jadi Seruni menebak, ini pasti tak tik si raja itu. Hanya saja...


Teman Jonathan yang bingung dengan boneka doraemon, menoleh ke arah Aya. "AYA KENAPA KA-" Teman Jonathan terdiam, ia mengikuti arah pandang Aya yang terperangah seperti orang bego.


"BODOH! Jangan nekat seperti orang kesetanan begitu!" Tukas Jaka yang sudah berwujud malaikat pencabut nyawa. Pakaiannya pun sama seperti Jonathan dan temannya.


Jaka sibuk menghalau para musuhnya dengan dua pedang.


"Kenapa-"


"Raja itu tidak akan bisa bergerak kemana-mana, dia sudah terlalu lama menjadi anak buah bapak kamu dan gagal, energinya menipis. Dia butuh pemulihan dua ratus tahun lagi, ini kesempatan kamu untuk membunuhnya."


"KURANG AJAR!" geram si raja. "KAMU MASIH HIDUP RUPANYA!"


Jaka nyengir. "Aku dari awal memang masih hidup, kalian saja yang terlalu bodoh menyadarinya."


Andrea maju mendekati Jaka.


Jaka menoleh ke belakang. "Aku akan melindungi kamu dari belakang, majulah."


Andrea mengangguk lalu lari melewati Jaka dan berusaha menghalau makhluk-makhluk yang menghalanginya.

__ADS_1


Teman Jonathan melempar boneka doraemon ke Seruni.


Seruni menangkapnya dan kebingungan.


"Jaga itu, jangan sampai boneka kesayangan majikan kalian rusak." Perintahnya lalu membantu Jaka.


Seruni menoleh ke Seroja yang masih menatap Jaka. "Yang mulia?"


"Jaka, itu jaka." Tanpa terasa air mata Seroja menetes, tangisan bahagia. "Itu Jaka, J itu Jaka?"


Seruni menoleh ke arah Jaka yang sudah tertutup dengan para jin rendahan. "Benarkah?"


"LINDUNGI AKU!" teriak Raja jin itu dengan marah sekaligus panik.


Andrea yang sudah berhasil menaiki tangga, tidak gentar dengan deretan makhluk yang berdiri di depan raja, menghadang dirinya. Taklukan rasa takut demi melindungi Andrea!


"Andrea! Semangat!" sorak Aya.


"Lama-lama aku cium dia." Jengkel Jaka.


"Langkahi dulu mayatku." Sahut teman Jonathan.


Jaka menoleh ke teman Jonathan dengan heran.


Seruni membantu Andrea dengan menembakan panah dari dalam kubah pelindung sementara Seroja yang sudah kembali tidak sedih lagi melindungi Andrea, Jaka dan teman Jonathan dari kejauhan dengan mengangkat kedua tangannya ke kiri-kanan.


Andre dengan cepat berhasil melumpuhkan para pasukan itu dengan bantuan doa, dan Andrea juga yakin Tuhan membantunya. "Hallo raja."


Raja yang tidak bisa bergerak dari singgasananya melotot marah. "Kamu-"


"Tanpa J beritahu pun aku sudah tahu kalau kamu tidak bisa bergerak dari sana, ada satu hal lagi yang tidak orang lain ketahui." Andrea tersenyum dingin. "Mbak di rumah tidak sengaja mematahkan salah satu keris yang isinya kamu kan?"


Raja terkejut.


"Sewaktu itu bapak marah besar yang sebenarnya mama tidak salah, akhirnya mama bilang akan meracun minuman bapak, bapak seharian tidak berani minum dan hari itu adalah hari dimana harusnya dia memberikanmu kopi tapi sayangnya karena bapak tidak menyentuh minum, dia lupa memberikanmu minum." Andrea mengambil jeda lalu meneruskan kembali. "Akhirnya karena mama ingat, mama menyuruh mbak di rumah memberikanmu sesajen kopi tapi sayang sekali karena kecerobohan mbak, kerisnya patah."


Si raja berusaha menyembunyikan keterkejutannya.


"Mbak di rumah tidak tahu kalau itu ada isinya, dia juga tidak berani melapor. Dia hanya mendiamkan saja keris itu disana, kamu marah dan mengganggu mbak selama beberapa hari. Seroja yang menyadari itu langsung marah dan memberikanmu keris pengganti di tempat sesaji kamu." Lanjut Andrea.


Seroja mengangguk. "Pantas saja saya merasa mengenal suara itu, ternyata kamu makhluk waktu itu. Tidak saya sangka, selama ini sang raja pernah hidup berdampingan dengan kita."


Andrea menusuk jantung raja dengan keris. "Keris ini adalah benda dari sebab akibat. Kamu yang menggunakannya sebagai perantara untuk membunuhku dan keris ini pulalah yang membunuhmu."


Raja menggeram marah hingga menggema di seluruh ruangan.


Andrea mundur sambil menuruni tangga dengan hati-hati dibantu Jaka. "KELUAR DARI SINI!" teriak Jaka.


Andrea menyaksikan kematian si raja, ia tidak ingin melewatkan momen ini.


Teman Jonathan bergegas membawa Jonathan, dibantu Aya.


"AYO ANDREA!" teriak Jaka.

__ADS_1


Andrea menoleh sekilas lalu mengangguk.


__ADS_2