
...jika dia belum bisa dimiliki...
...maka dia hanyalah hal yang tertunda...
...walau dalam hati ada rasa iri...
...karena inilah hal yang paling di benci...
...(Floria-Tomohisa Sako)...
Aya menangis terharu melihat pernikahan teman SMAnya, Nina. Setelah lulus SMA dia menikah dengan anak teman bapaknya yang sesama tukang becak, Aya dan Andrea mengernyit saat tahu siapa pasangannya padahal Nina selalu memimpikan dengan keras dan gamblang kalau ingin menikah dengan orang kaya demi membahagiakan orang tuanya. Andrea dan Aya sepakat tidak bertanya dan mengungkit masa lalu, mereka berdua sepakat diam dan ikut bahagia dengan pernikaha itu. Ketika berkumpul, mereka berdua selalu ditanya kapan menikah. Ah, pertanyaan yang menyebalkan... Aya menjawab dengan lugas sementara Andrea hanya tertawa dan tidak menjawab apa-apa, Aya tahu kalau Andrea masih mengingat malaikatnya itu. Aya sendiri selalu sebal jika mengingat teman Jonathan, malaikat iseng itu saat mengambil ciuman pertamanya padahal mereka belum menikah. Tertawakan saja dirinya yang kolot, untuk perempuan berhijab seperti dirinya, ciuman adalah hal yang sangat berharga untuk suaminya kelak.
Aya duduk di kamarnya sambil menyalakan TV. Untuk apa mengingat hal yang menyebalkan, lebih baik menonton TV, saat mengganti channel tanpa sengaja ia melihat tangan kanan, tepatnya jari manis di tangan kanan. Melingkar tattoo henna dengan tulisan 'Bad Angel', ia teringat percakapannya bersama Andrea kemarin.
"Kamu pakai henna?" Aya melihat tangan kiri Andrea di tattoo di atas meja.
Andrea mengangguk. "Kerenkan?"
Aya melihat tangan Andrea dengan iri, "aku boleh ikutan?"
"Tentu saja. Kamu mau di tattoo apa?" Andrea menyingkir sedikit, "mbak, teman saya mau di tattoo juga."
Pegawai nail art berdiri, "sebentar ya, saya panggilkan teman saya."
"Nggak usah! Saya bisa sendiri. Nggak papakan mbak?" tolak Aya.
"Nggak papa mbak, tahu caranyakan?" pegawai itu kembali duduk.
"Tahu dong." Aya mengambil bahan yang diberikan pegawai yang menangani Andrea.
Mata Andrea menyipit curiga, "ada angin apa pake henna?"
Aya mulai menggambar di jari manis kanannya. "Pengen aja."
Andrea mengintip pekerjaan Aya, "Cuma jari manis saja?"
Aya mengangguk dan mulai menulis kecil, "iya. Kan lucu."
"Kamu masih belum melupakan teman mas Jo?"
"Stop! Jangan buat aku mengingatnya lagi."
"Ya habis kalau nggak diingat, terus apa? Aku tahu! Kamu mau buat initial namakan meski nggak tahu nama aslinya."
Aya melirik Andrea sekilas, "sok tahu!"
"Tahulah!" Andrea tertawa, "kitakan sahabat dekat dari SMA."
Aya menghela napas, memang percuma menyembunyikan dari temannya. "Terus kamu sendiri gimana? Malah luntang lantung ngajak aku tattooan gini, padahal kita belum menikah!"
Andrea tertawa masam. "Nggak salahkan melakukan gini, aku pengen menghibur diri. Mumpung di mall ada ginian."
Maksud Andrea mall yang mereka datangi ini membuka salah satu counter nail art, Andrea ingin mencobanya.
"Sudah." Seru Aya senang, ia mengangkat tangan kanan ke udara dan memamerkannya ke Andrea. "Kerenkan."
"Bad Angel." Baca Andrea, "hahahaha... tuhkan bener."
"Sirik aja!" Cibir Aya lalu tersenyum melihat tangan kanannya, "kamu yang bayar ya."
"Eh, kok aku?"
"Ya, kan kamu yang ngajak aku kesini."
"Akukan Cuma tanya kamu lowong nggak, mau ikut nggak? malah kegirangan mau."
"Pokoknya... kamu yang bayar."
Andrea pura-pura keberatan. "Ha... susah memang punya teman perhitungan."
Aya puas melihat jari manis kanannya.
"Pokoknya ya, kita jangan kalah sama Nina. Enak aja dia main nikah ninggalin kita berdua jomblo." Ujar Andrea dengan semangat menggebu-gebu.
"Kamu ini aneh ya, teman menikah itu didoakan bukannya saingan tattoo ginian." Aya menatap aneh temannya.
"Kamu yang aneh Ay. Kita ini lagi cari cara buat move on bukan buat nginget semuanya makanya gak mau kalah sama pengantin perempuan."
Aya tersenyum mengingat perkataan Andrea dua hari lalu yang tentu saja membuat kehebohan tadi pagi. Andrea dan Aya memang sengaja datang ke akad dan tidak datang ke resepsi pernikahan Nina. Ah, menyebalkan.
__ADS_1
Aya mematikan TV dan melempar remote ke samping tempat tidur. "Kenapa dunia ini butuh pernikahan sih, menyebalkan!"
Teman Jonathan tersenyum mendengar keluhan Aya, ia bersandar di pintu kamar Aya. Meskipun ia tahu Aya tidak akan pernah bisa melihatnya lagi, ia tetap saja berkunjung disini sampai temannya sesama malaikat pencabut nyawa heran dengan tingkah lakunya.
____
"Aya."
Aya menoleh, "ah... kamu..."
"Lho, kok lupa sama teman kerjanya sendiri? Aku Herman."
Aya tersenyum masam. "Oh."
"Mau pulang?" Herman celingukan melihat parkir kantor.
"Iya." Aya mengangguk.
"Naik apa? Aku anterin ya."
Aya menggeleng, "sudah ada teman yang jemput."
Tak lama mobil Andrea tiba di depan pintu gerbang gudang, Andrea membuka kaca dan menyapa satpam pabrik.
Pak Parno, satpam pabrik memanggil Aya. "Neng Aya! Sudah dijemput neng Andrea!"
Aya mengangguk, "duluan ya."
"Iya." Jawab Herman sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Percuma saja kamu target dia, temannya anak orang kaya gitu." Seru pak Parno setelah mobil Andrea pergi.
"Yang kayakan temannya pak, bukan si Aya."
"Siapa tahu Aya juga anak orang kaya, masa temannya bermobil dia enggak?" ujar pak Parno tidak mau kalah.
"Iya deh." Herman mengalah dan pergi ke parkiran.
Sementara di dalam mobil, Andrea menggoda Aya, "cieee... tadi pacarnya ya? Atau calon pacar?"
"Ngaco kamu!" Aya memakai sabuk pengaman.
"Itu masa lalu Andrea, nggak usah ungkit-ungkit lagi!" Seru Aya.
"Siap!" Andrea memberi hormat ala tentara sambil nyetir mobil. "Eh, tapi gimana ya rasanya dicium di bibir?"
"Andreaaaaaa!!!!" Teriak Aya.
"Udahlah nggak usah disembunyikan, kita udah dewasa. Memang haram sih nggak sama suami tapi gimana bisa haram ya, kan lawannya sama malaikat bukan sesama manusia." Andrea masih meneruskan menggoda Aya.
"Bicara lagi, aku turun nih!" ancam Aya.
"Turun mah turun aja tapi jangan di tengah jalan, kasihan nih mobil belum lunas angsurannya."
"Andreaaa!!! Aku serius niiih..."
"Hahahaha... iya iya, nggak bahas tentang ciuman pertama yang bikin klepek-klepek."
"Andreaaa!!!" Jerit Aya.
Andrea membuat gerakan mengunci di mulut.
"Ngomong-ngomong mau kemana kita?" tanya Aya penasaran melihat Andrea membelokan mobil ke jalan kecil. "Bukan ke mall lagikan?"
"Kalau ke mall jalannya nggak rusak gini keles."
"Siapa tahu kamu lewat jalan tikus."
Andrea tertawa, "nggaklah sayangku... aku mau beli koper. Katanya ada toko di pelosok gini yang jual koper murah."
"Astagfirullah, kamu sekarang anak orang kaya malah beli koper murahan."
"Ya biarin lagi, kan nggak ada larangan pake koper apa... toh juga Cuma buat naruh baju."
Aya melirik Andrea, "kamu jadi ke Perancis?"
Andrea mengangguk. "Iya, aku mau mengejar impianku."
"Nggak bisa di Indonesia ya? Kesepian nih nggak ada kamu." Rengek Aya.
__ADS_1
"Ikut yuk." Andrea menaik turunkan alisnya.
"Jangan ngayal ya! Kamu kira biayanya gak mahal apa? Lha, bapak-ibuku petani gitu!"
"Ya siapa tau kamu juga ikut jadi kita bisa berbagi hidup disana."
"Ngayal!!!!" Seru Aya.
"Siapa tahu kita berdua bisa barengan kesana."
Aya tertawa ngakak, "hidup ini realita, butuh realita!"
Andrea berhenti tertawa, "ini juga salah satu janji aku ke Jonathan."
Aya berhenti tertawa mendengar kalimat Andrea, "Ndrea..."
"Kalau saja Jonathan tidak meninggalkan kami emas seperti itu, entah bagaimana nasib kami." Andrea menghentikan mobilnya di parkiran toko. "Ini juga salah satu cara untuk berterima kasih pada Jonathan."
"Yang kuat ya."
Andrea mengangguk, "eh, udah ah galaunya. Turun yuk! Keburu tutup tokonya."
Aya turun dari mobil bersama Andrea.
"Menikah?" Aya terbelalak kaget mendengar penjelasan ibu dan kakaknya. Baru pulang kerja dan menemani Andrea belanja sudah diberi misil oleh ibunya. Menikah? Ya ampun... itu daftar pilihan terakhir yang diinginkan Aya.
"Kamu sudah cukup umur, nduk. Masa seusia kamu belum menikah. Ibu malu ditanya terus sama tetangga." Ibu Aya menggenggam tangan Aya, "mau ya ibu jodohkan, atau kamu sudah ada pilihannya?"
Ada, tapi malaikat pencabut nyawa. Aya menggeleng pelan.
"Cepat kenalin pasangan kamu ke kami Ya, siapa tahu jodoh. Jangan lama-lama." Kakak Aya menepuk kepala Aya.
"Iya mbak." Aya menunduk, berusaha menahan air matanya. "Aya ke sawah dulu ya, bawa ransum buat bapak. Kasihan sudah nunggu lama."
"Iya, nduk." Angguk ibu Aya.
Aya keluar rumah sambil membawa ransum bapaknya. Dalam hati ia merasa sedih karena belum melupakan pria itu. "Kenapa galau gitu Ay, kan itu Cuma ciuman pertama bukan... bukan..." Aya memegang bibirnya, "ya tuhan..."
"Bibirnya bengkak?"
Aya hampir melempar ransum ketika melihat Seroja sudah berdiri di hadapannya. "Ya ampun, bilang permisi kek... Astagfirullah..."
"Kenapa bibir kamu?"
Aya menjatuhkan tangannya, "nggak papa, kenapa kesini? Eh, kok aku bisa lihat kamu ya?"
"Aku sengaja memperlihatkan diriku hanya di kamu jadi kalau bicara nadanya dikecilin, biar nggak disangka orang gila." Seroja melihat ibu-ibu petani melihat Aya bicara sendiri.
Aya menelan ludah, ia memasang headset di telinganya. "Ada apa?"
Seroja memberikan sebuah amplop berwarna biru, "surat dari Andrea."
Aya menerimanya, "terima kasih."
"Kamu masih ingat ciuman malaikat itu?"
Aya menunduk malu gelagapan, "nggak!"
"Kamu tidak bisa berbohong di hadapan saya." Seroja menyeringai, "percuma kamu mengingatnya... mau kamu dicium, ditidurin dia, tetap saja kalau bukan jodoh tidak bisa menikah."
Aya memejamkan matanya sekilas. Astagfirullah, nih pelindung memang mulutnya nyablak. "Kalau tidak ada kepentingan bisa pergi? Aku mau ke tempat bapak."
"Mau aku bantu bertemu dia?"
Aya mengangkat kepalanya.
"Akan kubuka mata batin kamu semalam saja, setelah jam dua belas malam kamu tidak bisa melihat malaikat itu lagi dan kamu harus cepat-cepat kembali ke rumah kamu."
"Seperti Cinderella saja diberikan waktu jam dua belas malam."
"Karena itu pergantian waktu dan hari, mau tidak?"
Aya berpikir sejenak lalu mengangguk. Percuma ragu, dia harus menegaskan hatinya supaya tidak bimbang."
"Besok aku ke tempat kamu lagi untuk memberi kabar." Seroja mengangguk puas.
"Seroja. Terima kasih."
Seroja tersenyum anggun, "tidak perlu terima kasih. Sudah menjadi tugas pelindung membantu teman tuannya."
__ADS_1
___