KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
DUA PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Om Re, Seruni, dan teman Jonathan berdiri saling memunggungi, mereka bertiga mengawasi sekitarnya yang entah kenapa udaranya mulai berubah.


"Makin lama terasa lembab udaranya." Keluh om Re.


"Manusia biasa tidak akan bisa menghadapi udara ini." Seruni mengendus udara, "saya khawatir dengan nona Aya."


Teman Jonathan memajukan tongkatnya ke depan. "Hati-hati, jangan sampai lengah!"


"GYAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!"


"AYA!" seru om Re. Tangannya ditahan oleh teman Jonathan.


"Jangan keluar formasi, tetap saling memunggungi, kita tidak tahu siapa yang akan menyerang kita dan darimana!" Seru teman Jonathan.


"Ta... tapi Aya..." Om Re menatap melas lubang di samping kakinya. "Aya..."


"Nona Aya pasti baik-baik saja." Seruni mengangkat kedua tangannya. "Sementara kita harus melindungi diri sendiri dan jalan masuk lubang ini."


"Kamu gila?! Bagaimana jika di dalam lubang itu muncul monster?" teriak teman Jonathan.


"Kamu yang lebih gila! Nona Aya ada di dalam, kalau mereka masuk ke dalam lubang itu bisa membahayakan jiwa nona!" balas Seruni.


Teman Jonathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Argh!!" terpaksa ia harus menyetujui keputusan Seruni.


Sementara di tempat Aya yang sudah menelusuri gua dengan obor gaibnya. "Hallo!" seru Aya di dalam gua. "Apa ada orang disini?!"


Yang terdengar hanya seruannya yang bergema. "Apa aku kembali saja ya?" gumamnya lalu melihat kegelapan di dalamnya. "Tapi aku benar-benar penasaran ini kemana."


Aya menghela napas lalu melanjutkan perjalanannya dengan nekat.


KRRRRIIIIIINGGGGG....


Teman Jonathan mengangkat handphone bersamaan dengan mengusir hewan-hewan gaib yang berusaha menyerang mereka sementara om Re hanya berdiri di belakang teman Jonathan. "HALLO?!" Bentaknya.


"Aaah... sudah kuduga kamu yang membawa handphone Andrea."


"AYA?!" Teman Jonathan melempar handphone ke om Re. "Perbesar suaranya supaya kami bisa mendengar."


Om Re me-loud speaker handphone Andrea.


"Kalian berdua sedang pesta ya? Aiiiih... enak ya kalian, pesta disaat aku menelusuri lorong gelap begini."


"BERISIK!" bentak teman Jonathan dan Seruni.


"Nona Aya, tolong segera kembali! Kami tidak bisa menjamin keselamatan anda!" perintah Seruni.


"Mhm? Kamu siapa?"


"Tidak penting siapa, cepatlah keluar Aya... kami semua diserang di depan lubang yang kamu masuki." Om Re mendekatkan handphone ke mulutnya.


"Om Re? bagaimana... apa? Diserang?"


"Nanti ceritanya Aya, cepat kembali nak." Khawatir om Re.


Tidak ada jawaban.


"Aya?" panggil om Re.


"Bisakah kalian menahannya sedikit lagi?"


"Eh?"


"Tolong kalian tahan... aku ingin jalan masuk lebih dalam lagi, aku benar-benar penasaran kenapa bisa ada lubang di tempat ini?"


Seruni dan teman Jonathan saling melirik setelah itu menghembuskan napas.


"Baiklah! Kami akan menahannya... tapi dengan syarat kami hanya bisa melindung nona dari depan." Kata Seruni.


"Ya, tolong ya," tutup Aya.


"Ah, hei..." om Re menggoyang-goyang handphone. "Kalian, bukannya membawa cucu saya ke atas malah ikut bertarung seperti ini."

__ADS_1


"Tenanglah, saya akan melakukan yang terbaik untuk menjaga tempat ini." Seruni mengangkat tombak besarnya, "saya tangan kanan dari ratu penguasa tanah Jawa. Seruni!"


"Banyak bicara!" teman Jonathan lari maju dan memotong para hewan gaib dengan sekali tebasan memakai celurit panjangnya.


Om Re memasukan handphone ke dalam saku dan menutup kedua matanya sambil duduk. Ia terlalu tua untuk melihat pemandangan sadis, tidak lama suara raungan, jeritan, adu pedang dan kekuatan samar-samar menghilang, om Re membuka kedua matanya perlahan.


"Dasar makhluk rendahan." Seruni menyarungkan kembali pedang bertahta berliannya sementara teman Jonathan berjongkok menghilangkan bukti dengan tangan kirinya. "Apa yang kau lakukan malaikat tidak berguna?"


"Aku harus mengirim mereka semua ke neraka." Sahut teman Jonathan.


"Neraka?"


"Mereka tidak diijinkan kembali tinggal disini karena menyerang malaikat pencabut nyawa."


Seruni mengangguk sambil menyeringai, "pintar juga."


"Ada hal yang membuat aku penasaran." Teman Jonathan melanjutkan pekerjaannya, "kenapa makhluk seperti kalian melindungi Andrea?."


"Memangnya mereka makhluk apa?" tanya om Re tidak mengerti.


Teman Jonathan menoleh ke belakang, "kamu dulunya bidadari bukan? Berarti Seroja juga dulu bidadari."


"EH?"


Seruni terdiam, ia menyipitkan matanya ke teman Jonathan.


"Benar bukan?" teman Jonathan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Seruni mengayunkan tangannya, dalam sekejap gelimpangan makhluk gaib menghilang.


"Hei!" teman Jonathan berseru marah.


"Aku mengirimnya ke neraka, itu jauh lebih mudah daripada kamu melakukannya satu-satu." Seruni berkacak pinggang.


Teman Jonathan balik badan, "jadi benar ya? Kamu itu bidadari."


Seruni mengalihkan pandangan, "tidak akan kujawab."


Seruni memejamkan matanya sebentar, "kalau itu bisa saya lakukan... sudah saya lakukan dari awal."


Om Re berdiri, "kenapa..."


"Karena kami memilih melepaskan status bidadari kami." Jawab Seruni dengan tidak sabar. "Yang dilakukan bidadari hanyalah duduk menunggu dan menolong siapapun yang membutuhkan kami bahkan meskipun tempat kekuasaan kami hancur, kami tidak dapat berbuat apapun."


"Maksudnya manusia?" tanya om Re.


"Bukan. Usia manusia tidak lama, ini jauh lebih parah."


Seruni jatuh terduduk. "Dahulu sekali kalian para manusia berperang merebutkan wilayah dengan menggunakan makhluk gaib bahkan makhluk tidak berotakpun kalian gunakan, hal ini membuat kerusakan besar di wilayah kami."


"Ah, aku tahu sekarang... jaman nenek moyang kami dulu wajar tidak memiliki pengetahuan tentang teknologi sehingga mereka mengandalkan makhluk gaib, berbeda dengan jaman sekarang perang menggunakan nuklir yang bisa menghancurkan semuanya." Om Re mengatakannya dengan bangga.


"Benar... begitu kami turun dari tempat kami, kami melihat pemandangan yang mengerikan semuanya hancur karena ulah makhluk gaib... para manusia mengatakan itu ulah bencana alam padahal sesungguhnya itu ulah para makhluk gaib!" Seruni berteriak dengan marah, "seharusnya kami membenci manusia... tapi kami sadar tidak semua manusia jahat sehingga kami tidak dapat melakukan apapun selain menunggu dan menunggu."


Om Re dan teman Jonathan diam mendengarkan cerita Seruni.


"Lalu ada seorang ratu manusia yang diam-diam mendatangi tempat kami untuk mandi, dan alangkah terkejutnya beliau melihat kondisi tempat kami dan bisa melihat kami."


"Manusia melihat bidadari? Bagaimana bisa?" tanya teman Jonathan.


"Perjanjian!" kedua mata Seruni berkilat marah, "yang hanya bisa melihat kami hanyalah malaikat, malaikat pencabut nyawa dan makhluk gaib tingkat rendah. Ratu itu sejak lahir secara turun temurun diberikan anugerah penglihatan seperti yang dikatakan para manusia tapi sesungguhnya kedua mata ratu manusia itu ditempeli jin tingkat rendah."


Seruni berhenti sejenak untuk menarik napas.


"Lalu setelah ratu itu tahu hal yang sebenarnya, ia membunuh raja supaya kondisi Negara dan tempat kami kembali kondusif dengan bantuan kami."


"Membunuh raja? Suaminya sendiri?" tanya om Re tidak percaya.


"Ya, ayah sekaligus suaminya."


"Eh? Menjijikan sekali!" seru om Re.

__ADS_1


"Tidak menjijikan, jaman dulu itu hal yang lumrah terutama para raja yang beranggapan diri mereka Tuhan, sama dengan firaun yang menganggap dirinya seorang dewa." Teman Jonathan menjelaskannya ke om Re. "Singkatnya itu untuk mempertahankan darah murni mereka."


"Benar, sejak itu pernikahan keluarga kerajaan menjadi bebas... mereka bahkan boleh menikah dengan rakyat meskipun berstatus pangeran atau putri. Mereka tidak ingin mengulang sejarah menTuhankan darah murni mereka. Tapi bukan itu intinya." Seruni menggeleng. "Ratu manusia itu tidak hanya melindungi rakyatnya tetapi juga melindungi tempat kami, itu sebabnya banyak cerita mengenai pemandian bidadari."


"Jadi pemandian bidadari tidak hanya di satu tempat?" tanya om Re.


"Benar." Seruni menatap tajam om Re.


"Orang ini sudah mati, kesinipun berupa roh jadi kamu tenang saja, aku akan memastikan dia tidak akan cerita ke dalam mimpi keluarganya." Tunjuk teman Jonathan dengan dagunya.


"Ratu tidak hanya menyelamatkan tempat pemandian kami tapi juga menyelamatkan hutan dan lainnya yang menjadi area kami sehingga pemimpin kami berhutang budi pada ratu dan berjanji mengenai perlindungan terhadap keturunannya meskipun kerajaan itu sekarang sudah tidak ada." Cerita Seruni.


"Jadi itu bisa menjelaskan mengenai ratu di tingkatan bidadari, itu sebabnya juga kalian marah disamakan dengan raja makhluk gaib meskipun raja itu tingkatannya tinggi dalam jin. Kenapa kalian mengakui diri kalian jin?" tanya teman Jonathan.


"Mereka yang memutuskan tinggal disini tidak boleh menyebut diri mereka bidadari karena itu kami memutuskan menjadi jin di tingkatan tertentu." Jawab Seruni dengan lugas, "para jin yang mengetahui siapa kami tidak pernah bisa menyentuh kami bahkan tidak mau membahas sejarah kami makanya identitas kami tetap terlindungi."


"Lalu bagaimana jika Andrea meninggal? Bukankah tidak ada keturunan perempuan pertama lagi?" tanya teman Jonathan.


"Andrea itu siapa?" gumam om Re. "Sepertinya pernah dengar."


"Teman Aya." Jawab teman Jonathan.


Seruni menggeleng pelan, "sebelumnya juga pernah terjadi hal ini, yang perlu digaris bawahi ini keturunan perempuan pertama bukan? Dulu mama Andrea bukan keturunan pertama, beliau malah keturunan ketiga karena keturunan pertama meninggal saat bayi sementara keturunan kedua tidak bisa memberikan keturunan perempuan maka itu jatuh ke Andrea yang berasal dari generasi keturunan ketiga."


"Yang mereka inginkan bukan hanya darah lagi tapi juga kekuasaan, kekuatan dan kedudukan para bidadari. Dan kalaupun Andrea meninggal itu berarti mereka bisa menculik sepupunya yang tidak terlindungi. Mereka sudah putus asa sehingga menginginkan kematian nona Andrea secepatnya meskipun mereka tidak mendapatkan roh Andrea jelas ini bisa memberi keuntungan untuk mereka." Kata teman Jonathan dengan nada kesal. "Sial, kenapa aku bisa terlibat hal ini sih!"


"Kau tahu, kalau waktu itu kau berhasil membunuh nona Andrea... saya sudah berniat menyerang kamu! Malaikat setengah manusia seperti kamu sangat mudah dibunuh oleh kami para bidadari yang menolong kalian!" Kata Seruni dengan mata amarah,


Teman Jonathan mengalihkan pandangan. Ia baru ingat kalau sebelumnya ia juga berusaha membunuh Andrea demi Jonathan. "Kenapa Jonathan malah memilih perempuan menyusahkan." Gumamnya.


Seruni bisa mendengar gumaman pelan teman Jonathan, "kamu sadar tidak sih apa yang kamu gumamkan? Syarat menjadi tunangan malaikat pencabut nyawa adalah roh yang gagal diambil oleh para jin untuk tumbal, dan Andrealah yang bisa."


"Jangan lupa kalau yang menyelamatkan Andrea itu teman aku, bukan ratu kamu!" Balas teman Jonathan dengan sengit, "itu juga bisa menjadi syarat pengantin kaum kami."


Seruni mengalihkan pandangan dengan cemberut. Apa yang dikatakan teman Jonathan memang benar, saat itu ratu mereka sedang keluar menemui seseorang sementara dirinya yang disuruh menggantikan belum tiba karena harus mengurus Seroja dan ibunya.


Teman Jonathan mengacak rambutnya, sekarang ia tidak bisa lari begitu saja dari masalah ini karena ia sendiripun berhutang budi dengan para bidadari seperti mereka. Lari dari masalah sama saja mencari mati dengan malaikat pencabut nyawa lainnya.


"Sekarang kamu sudah tahukan penyebab kami terikat dengan keluarga nona Andrea?" tanya Seruni dengan sengit.


"Tapi hutang budi itukan sudah lama, kalian bisa melepas semua perjanjian itukan?" tanya om Re.


Seruni menatap marah om Re. "Kalian para manusialah yang tidak memiliki sopan santun dan rasa hormat, seiring waktu berlalu semua janji itu kalian hilangkan dengan mudah... meskipun generasi awalnya sudah tidak ada, kami tidak bisa lepas begitu saja karena janji yang sudah kami pegang teguh. Kami bukan manusia yang suka ingkar janji."


Kepala teman Jonathan menunduk, "itu bisa menjelaskan kenapa raja dan antek-anteknya bersikeras mengejar Andrea meskipun Jonathan sudah meninggal."


Seruni menyipitkan matanya, "iya juga ya, ritual itu gagal jadi seharusnya mereka tidak bisa mengejar nona Andrea kembali kecuali mereka tahu fakta mengenai darah keturunan nona Andrea."


"Memangnya mereka tidak akan bersikeras mengejar para tunangan meskipun kaum kami memilih mengorbankan dirinya atau ritual itu gagal?"


"Tentu saja. Jantung yang ada di diri para tunangan itu jantung malaikat pencabut nyawa, bukan jantung miliknya jadi otomatis mereka yang mengejar tidak akan bisa menyentuh para tunangan karena hak mutlak para malaikat pencabut nyawa setengah manusia. Kan kamu tahu sendiri dulu selama nona Andrea memiliki dua jantung tidak ada yang pernah mengejarnya sekeras ini." Ujar Seruni. "Seandainya waktu itu ada saya ataupun Yang Mulia kami tidak akan mengijnkan makhluk seperti kalian menodai keturunan penyelamat kami."


Teman Jonathan melengos.


"Ngomong-ngomong, tidak ada telepon lagi dari nona Aya?" tanya Seruni pada om Re.


Om Re mengeluarkan handphone Andrea dari saku celananya, "aku baru ingat, kenapa roh sepertiku bisa menyentuh benda ini." Om Re mengembalikan handphone Andrea ke teman Jonathan.


"Ruang udara disini sangat kacau dan bercampur makanya bisa melakukan hal itu." Seruni merangkak ke samping lubang, "kita tidak bisa terlalu lama menunggu disini dan menahan para makhluk gaib itu, hari ini kebetulan saja kita menang selain itu roh seperti kamu tidak boleh lama-lama disini kalau tidak ingin hancur."


"Aku tidak akan pergi dari sini! Aku ingin memastikan Aya keluar dengan selamat dan baik-baik saja." Kata om Re.


"Tapi kalau kamu disini, kami tidak bisa konsentrasi melindungi lubang ini, kalau ingin nona Aya keluar dengan selamat sebaiknya kamu tidak berada disini." Kata Seruni.


"Apa yang dikatakan Seruni benar." Teman Jonathan berdiri, "anda tidak bisa tetap disini, ini sangat membahayakan roh anda, kemungkinan terburuk anda akan menjadi budak para jin."


Om Re bergidik ngeri, "tapi janji ya kalian menyelamatkan Aya."


Teman jonathan dan Seruni mengangguk bersamaan.


____________

__ADS_1


__ADS_2