
"Kamu sih penampakan gitu, makanya jadi repot. Sudah aku bilang jangan pakai jubah-jubah aneh begitu, malaikat sih malaikat tapi bukan begitu caranya jadi menakut-nakuti Ayakan."
"Hei, ini stylish ku tahu, model jadul dan tetap terkenal sampai sekarang di kalangan kami."
"Bodoh! Mau stylish kek, mau apa kek yang pasti jangan seperti itulah, jadinya menakuti Ayakan."
"Aku? menakuti? Dianya saja yang bodoh ketakutan. Dengar ya anak manusia, manusia itu tingkatannya lebih tinggi dari yang kalian takuti kecuali Tuhan."
Aya membuka matanya perlahan, ia terbangun karena suara berisik Andrea dan- dan- Aya mengerutkan kening. Dan siapa?
"Tuh lihat, teman kamu jadi terbangun." Jonathan menunjuk Aya dengan dagunya.
Andrea menghampiri tempat tidur temannya, "Aya. Kamu tidak apa-apa?"
Aya memiringkan kepalanya. "Kamu bicara dengan siapa?"
"A-" Andrea terdiam.
"Jadi benar kamu bisa melihatku ya?" orang bertudung hitam itu berdiri di belakang Andrea.
Aya bangkit dari tidurnya, "Siapa kamu?"
Orang berjubah itu membuka tudungnya dan menyeringai. "Aku teman tunangan anak ini, sesama malaikat pencabut nyawa."
Aya melotot ngeri dan panik. "Aku bisa melihat malaikat pencabut nyawa? Jangan-jangan sebentar lagi aku.-"
"Tidak, tidak. Kamu tidak akan mati, setidaknya tidak sekarang." Orang berjubah itu mengangkat telapak tangan kanan dan menunjukannya ke Aya. "Lihat, tidak ada namamu disini kan."
Aya membaca satu persatu nama di jari orang berjubah itu, tidak ada namanya. "Tidak ada sih tapi-"
"Bukan di jariku yang kamu baca tapi di telapak tangan ku, kalau manusia biasa ada garis tangan yang menandakan kehidupannya sementara kami para malaikat pencabut nyawa digantikan garis nama manusia yang akan kami cabut." Orang berjubah itu menunjuk telapak tangan kanannya. "Kalau yang jari itu nama-nama manusia yang sudah kami cabut dan sedang dalam pengawasan."
Aya dan Andrea sama-sama melihat telapak tangan kanannya. Jadi begitu ya cara kerjanya.
"Yah, manusia sih meski umurnya pendek tapi tetap saja memiliki garis tangan, diantara semua makhluk hanya manusialah yang memiliki garis tangan yang menandakan kehidupannya." Celoteh orang berjubah itu.
Aya menatap orang berjubah itu dengan cermat, terbius dengan mata cokelatnya. Baru kali ini melihat orang bermata cokelat selain memakai contact lens. Benarkan? malaikat pencabut nyawa tidak mungkin memakai contact lens bukan?
"Tapi bagaimana Aya bisa melihat kamu sih?" tanya Andrea heran.
"Namanya jodoh." Tawa orang berjubah itu yang kepalanya langsung digeplak Andrea.
"Anu- namamu- siapa?" tanya Aya dengan takut.
Orang berjubah itu tersenyum miris, "Sebenarnya kamu bisa memanggilku apa saja, kami para malaikat dilahirkan tidak bernama."
Aya menoleh ke Andrea dengan heran.
"Aku sudah pernah ceritakan mengenai malaikat tak bernama," ujar Andrea.
Aya mengangguk mengerti. "Jadi kamu teman si Jonathan itu?"
Orang berjubah itu memandang tajam Andrea, "Pantas dia tidak terlalu terkejut makanya kamu cerita, sampai mana kamu cerita padanya?"
"Everything." Jawab Andrea meniru suara anak-anak sambil mengedip-ngedip kan matanya.
"Kamu- kamu tahu gak kalau-"
__ADS_1
"Aya, kamu panggil saja dia teman Jonathan atau apalah- terserah kamu, tidak perlu pusing-pusing-" Andrea memotong ceramah teman jonathan.
"Teman Jonathan?" tanya Aya serius.
"Dengarkan dulu perkataan ku, kamu tidak bisa melibatkan teman kamu begitu saja, meski dekat tetap saja tidak boleh cerita, bagaimana kalau nyawa teman ka-" ucapan teman Jonathan terhenti ketika tanpa sengaja melihat tatapan serius Aya. "Apa? mau menantang ku?"
Aya menggeleng. "Aku bersyukur ternyata malaikat itu tidak menyeramkan."
Teman Jonathan menghela napas. "Kami memang disebut malaikat tapi kami bukan malaikat sungguhan-"
"Kok?" Aya memiringkan kepalanya.
"Aku tidak mau cerita panjang lebar ke manusia, toh juga kita tidak akan bertemu lagi, pertemuan sekarang hanya kebetulan saja karena i-"
"Dia itu sebenarnya manusia tapi bukan manusia, nanti akan ku ceritakan- sekarang bagaimana keadaanmu? aku antar pulang ya."
Aya melihat jam tangannya. "Sudah jam satu siang?"
"Bentar lagi pulang, guru-guru rapat, kamu mau kami antar pulang atau menginap di rumahku?" tanya Andrea penuh harap.
"Menginap?" tanya Aya tidak mengerti.
"Ja- jangan-jangan kamu mau membawa Aya juga?!" seru teman Jonathan.
"Kita harus tahu kenapa Aya bisa melihat kamu, kita tidak bisa diam saja meninggalkannya, aku takut nanti terjadi sesuatu saat kita berdua tidak ada," kata Andrea dengan khawatir sambil mengambil tas Aya di bawah tempat tidur, "aku sudah mengambil tas kita di kelas dan meminta izin ke kepala sekolah."
"Benarkah aku boleh terlibat? Secepat itu?" tanya Aya tidak percaya.
"Mungkin malaikat sesungguhnya lewat dan mengabulkan perkataan mu." Andrea mengedipkan salah satu matanya.
Aya bergidik ngeri mengingat pernyataan main-mainnya itu dan sesekali melirik teman Jonathan. Ganteng sih tapi pekerjaannya itu mengerikan banget.
"Sudahlah. Ini bukan saatnya bersikap seperti itu, kamu nggak kasihan apa sama anak perempuan ketakutan gitu?" Andrea menatap tajam teman Jonathan sambil membantu Aya turun dari tempat tidur. "Aku lapor dulu ke guru jaga."
Aya menggenggam tangan Andrea, "Jangan tinggalkan aku!"
"Sebentar saja kok." Andrea melepas genggaman Aya dan meninggalkan ruang UKS.
Aya menatap takut teman Jonathan dengan gelisah.
Menyadari sedang diperhatikan Aya, teman Jonathan menoleh. "Kenapa? masih takut?"
"Kenapa tadi kamu menyeringai?"
"Yang mana?"
"Tadi Kan kamu berdiri di samping Andrea, menunduk terus menyeringai gitu."
"Oh ya? Aku nggak sadar, yang aku ingat cuma kejadian semalam."
"Yang di air terjun itu?"
"Andrea cerita lagi?"
Aya menggeleng. "Dia hanya bilang kalau semalam ke Coban Rondo dan kesal karena tidak tahu apa yang terjadi selama dia pingsan."
"Yah, kalaupun cerita palingan kalian bakal ketakutan." Teman Jonathan mengangkat bahunya.
__ADS_1
"Terus yang hihihi huhuhu tadi kamu?" Aya memutuskan mengalihkan topik pembicaraan.
"Iya, habisnya lucu sekali reaksi kamu. Ketakutan gitu." Tawa teman Jonathan.
"Aku benar-benar ketakutan tahu!"
"Iya maaf deh, namanya juga iseng. Tapi aku penasaran banget, kenapa tiba-tiba kamu bisa melihat aku ya? padahal manusia biasa tidak bisa melihat kami kecuali masa hidupnya akan habis sementara-" teman Jonathan melihat telapak tangan kanannya, "Tidak ada namamu disini."
"Mungkin saja namaku ada di telapak tangan malaikat lainnya."
"Tidak mungkin!"
Aya memiringkan kepalanya tidak mengerti.
"Contohnya begini, manusia yang bisa melihat malaikat pencabut nyawa A itu berarti namanya sudah tertera di telapak tangan kanan si A ini- tidak bisa bertukar tempat seperti itu kecuali ada perjanjian pertukaran diantara kami, selama ini tidak ada pertukaran kerja denganku."
"Aku tidak mengerti tapi kalian pasti sibuk banget ya seperti itu."
"Hanya mencabut dan mengawasi tidak akan membuat sibuk, kami bukan makhluk pengeluh seperti kalian apalagi mudah pingsan."
Aya mendengus kasar. "Iya, maaf!"
"Tak apa, untung saja kamu pingsan di depanku. Kalau di depan makhluk jahat, kamu bisa kerasukan."
"Amit-amit! jangan sampai terjadi." Aya mengetuk kepalanya dengan tangan.
Andrea membuka pintu UKS. "Aku sudah meminta ijin ke kepala sekolah, guru jaga sedang ada di kelas. Kita pulang sekarang ya."
"Jalan atau naik angkot?" tanya Aya.
"Kamu kuat jalan?" tanya Andrea sambil memakai jaketnya yang disampirkan ke kursi dekat tempat tidur UKS.
Aya mengangguk semangat sambil memakai tas ranselnya. "Aku kuat kok, tapi nanti minta tolong mama kamu telepon ibu aku ya, aku nggak mau mereka khawatir."
"Beres!" Andrea mengangkat jempolnya.
"Aku gimana?" tanya teman Jonathan.
"Pulang sana!" usir Andrea.
"Aku sudah berjanji pada temanku untuk menjagamu, aku tidak menyangka harus ada tambahannya, aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian." Teman Jonathan berkacak pinggang. "Kalau mau, aku yang mengantar kalian pulang."
"Teleport?" tanya Andrea.
"Terserah sebutan kalian apa."
Andrea dan Aya saling melirik.
"Tidak membuat mual seperti di novel kan?" tanya Aya.
"Tergantung dari pemikiran kalian, lagian Andrea sudah pernah teleport dengan tunangannya kan?" teman Jonathan mengangkat salah satu alisnya.
"Iya sih. Nggak pusing, tapi kalau kita tidak keluar dari pintu gerbang melewati satpam, semua pasti curiga." Angguk Andrea.
"Aku yang atur ingatannya." Teman jonathan mengangkat kedua tangannya. "Mana tangan kalian?"
Andrea dan Aya melirik sekilas lalu menyentuh tangan teman Jonathan.
__ADS_1
"Pejamkan kedua mata kalian dengan santai, jangan tegang."
Aya menuruti perintah teman Jonathan.