
"Naga dulu adalah hewan paling indah di muka bumi, begitu juga dengan putri duyung yang merupakan makhluk paling cantik di bumi." Teman Jonathan menurunkan kedua bahu. "Hanya saja karena mereka terlalu angkuh dan sombong semua yang mereka miliki hilang, naga menjadi hewan yang paling ditakuti dan putri duyung berubah menjadi makhluk jelek."
"Jangan-jangan- cerita mengenai naga yang dipotong lengan dan kakinya hingga berubah menjadi ular dan putri duyung yang dibuat buruk rupa menjadi ikan duyung benar adanya?"
Teman Jonathan mengangguk. "Itu karena mereka bekerja sama dengan jin dan iblis untuk menghancurkan dunia buatan Tuhan dan juga berusaha melenyapkan manusia yang dianggap melebihi mereka."
Andrea menahan napas sesaat.
"Itu baru naga dan putri duyung. Ingat tentang langit, bumi dan air?"
Andrea mengangguk keras. "Yang kita tempati sekarang."
"Langit perwakilan dari naga sementara air perwakilan dari putri duyung untuk makhluk abadi yang indah. Bisa kamu tebak untuk bumi siapa yang mewakilinya?" teman Jonathan bertanya dengan serius.
Andrea menggeleng pelan, dia benar-benar penasaran.
"Bidadari, bidadari merupakan perwakilan dari bumi."
"Tapi bidadari wujudnya kan seperti manusia," kata Andrea.
"Itu penggabungan dari langit dan air, makhluk yang bisa terbang, cantik, indah, dan tidak pernah menentang Tuhan, mereka adalah bidadari."
"Tapi kenapa bidadari ada sementara yang lainnya tidak ada?"
"Seperti yang aku bilang, diantara ketiganya yang tidak pernah menentang hukum Tuhan hanyalah bidadari." Teman Jonathan bersandar di kursi. "Itu sebabnya kenapa ada yang membenci bidadari, kemungkinan mereka keturunan dari naga atau putri duyung itu. Yang perlu digaris bawahi disini, jin ataupun iblis tidak hanya memiliki wujud manusia rupawan tapi juga wujud hewan atau penggabungan dari dua itu, wujud asli jin seperti manusia karena mereka menikah dengan berbagai hewan dan makhluk yang ditentang Tuhan makanya mereka bisa memiliki banyak wujud."
"Bagaimana dengan Seroja?"
Teman Jonathan mengangkat kedua tangannya. "itu belakangan aku ceritakan-"
"Lalu?"
"Lalu karena mereka iri dengan bidadari, mereka menyerangnya. Hanya saja mereka tidak bisa melukai, menyentuh bahkan mendekati bidadari. Rencana dirubah, mereka mulai menyerang manusia yang menggantikan sosok naga dan duyung dan juga memiliki kepintaran seperti bidadari." Teman Jonathan menghentikan cerita sebentar lalu melanjutkannya. "Hal ini menjadi pertentangan dan amarah Tuhan hingga akhirnya Tuhan membuat perjanjian dengan para jin."
"Aku tahu! Yang tentang jin ataupun iblis boleh menggoda manusia dan melukai mereka yang melanggar perintah Tuhan seperti menduakan Tuhan dan menyembah jin untuk kepentingan dirinya." Andrea menjentilkan jarinya.
__ADS_1
"Tepat!" teman Jonathan ikut menjentikkan jarinya. "Tidak hanya sampai disitu, lama-lama mereka tidak puas sehingga akhirnya mereka membuat praktik menculik janin manusia yang tidak bisa dilindungi baik oleh manusia maupun bidadari atau jin baik."
Andrea jadi teringat dengan tingkah laku bapak kandungnya.
"Beberapa diantara mereka mencoba makan janin itu, sisanya bisa ditebak- ada yang memakan janin dan ada juga yang menjadikan budak seperti kaum kami." Teman Jonathan menunjukan kedua telapak tangannya di Andrea. "Para bidadari dan malaikat menjadi simpati hingga akhirnya mereka membuat keputusan membantu para janin yang dijadikan budak menjadi malaikat pencabut nyawa, bisa dilihat telapak tangan kami kan? Ini bukti dosa kami selama menjadi budak jin."
Andrea melihat telapak tangan teman Jonathan berwarna merah. "Pasti menyakitkan."
"Kalau merah ini ulah Seroja." Teman Jonathan mendecak dengan kesal. "Coba lihat baik-baik tulisan di jari kanan dan kiri ku."
Andrea membaca nama-nama itu dan tiba-tiba muncul pertanyaan di benaknya. "Kenapa para janin itu menjadi malaikat pencabut nyawa? kenapa bukan malaikat lainnya?"
"Karena kami masih memiliki raga manusia." Teman Jonathan menunjuk dada, tepat di jantungnya. "Jantung kami masih berwujud manusia, jika jantung kami diberikan manusia maka yang ada jantung dalam bentuk roh, tapi jika jantung kami hilang atau mati maka-"
"Kalian akan menghilang selamanya."
Teman Jonathan tersenyum sedih. "Sekarang kamu mengerti kan kenapa aku menentang Jonathan memberikan hidupnya padamu. Manusia mati masih bisa memiliki roh sementara kami yang sudah berupa roh, akan hilang selamanya."
"Lalu dongeng itu?"
Teman Jonathan menaikan kedua bahu. "Aku pernah mendengar tapi tidak pernah melihatnya secara langsung. Mungkin itu kisah ribuan tahun lalu, tapi yang pasti cerita pengorbanan malaikat pencabut nyawa ke seorang manusia perempuan memang benar adanya."
"Andrea, jika ini memang pilihan sahabat baik aku maka aku tidak bisa marah padamu meskipun aku sangat marah padamu."
Andrea tersenyum sedih, "senang memiliki sahabat baik sepertimu."
"Kamu sendiri punya Ayakan?"
Andrea terdiam, "aku tidak ingin melibatkan Aya lagipula ini bukan urusannya."
Teman Jonathan berdiri, "kalau begitu aku permisi... dari awal aku ingin berpamitan dan ternyata malah cerita tentang dongeng."
"Tangan kamu merah gitu tidak apa?"
Teman Jonathan meringis, mengingat keisengan Seroja. "Salep yang diberikan Seroja memang ampuh untuk beberapa jam, entah jam selanjutnya... aku harus menahannya kalau tidak, tidak akan sembuh secara alami."
__ADS_1
"Hei."
Teman Jonathan menoleh.
"Terima kasih."
Teman Jonathan mengangguk lalu menghilang dari hadapan Andrea.
-------
Aya menutup telepon setelah meminta izin untuk Andrea menginap di rumahnya ke mama Andrea, dia menghela napas.
Sekarang bagaimana keadaan Andrea ya? Setelah kejadian itu ia dan Andrea dibawa ke tempat Seroja, tidak ada kabar sampai sekarang.
Aya mondar mandir di dalam kamar, apa yang terjadi di jurang itu memang tidak bisa dipercaya, bahkan teman Jonathan menolongnya ke tempat Seroja. "Andrea, semoga kamu baik-baik saja." Doanya.
"Aya, ngapain kamu mondar-mandir di dalam kamar?" tanya kakak Aya yang membuka pintu tanpa mengetuk.
"Enggak, Cuma iseng." Aya mencari alasan dengan cepat.
"Iseng malah mondar-mandir, iseng itu bantuin ibu. Gak kasihan apa sama ibu mondar-mandir ke rumah om Re."
Om Re itu tetangga sebelah yang sudah tua, tidak memiliki keluarga. Ibu Aya lah yang merawat om Re.
"Lho? om Re kenapa?" tanya Aya penasaran.
"Kamu belum tahu?" kakak Aya balik tanya. "Om Re baru saja meninggal tadi pagi."
"Astagfirullah!" Aya memegang dada.
"Udah ke sana bantu ibu, mbak sama lainnya mau belanja buat tahlilan."
Aya menggigit jarinya. Kalau tidak salah malaikat pencabut nyawa, selalu mengawasi targetnya selama 40 hari- itu berarti kemungkinan malaikat itu ada di sana, dan Aya bisa mencari tahu kondisi selanjutnya.
"Heh!" kakak Aya menyenggol Aya. "Malah ngelamun! kesambet baru tahu rasa!"
__ADS_1
Aya tersadar dari lamunannya lalu berlari ke rumah tetangganya.
Kakak Aya menggelengkan kepala di kamar. "Anak itu makan apa sih sampai segitunya?"