
...Nama yang tidak bernama...
Anak-anak yang diculik sejak di dalam rahim tidak memiliki nama dan hanya disebut janin, anak-anak yang diculik sejak janin dijadikan budak special berbeda dengan anak-anak atau manusia lainnya yang diambil rohnya setelah dilahirkan, mereka hanya menjadi budak biasa atau bidak pertempuran perebutan wilayah jin.
Anak-anak yang diculik sejak janin tidak tahu harus melakukan apa, yang mereka ingat harus menuruti perintah raja atau tuan mereka. Di dalam hati kecil mereka tahu apa yang mereka lakukan salah, tapi... mereka tidak bisa berbuat apapun terutama memberontak, yang bisa mereka lakukan hanyalah melarikan diri.
Berbeda dengan Jonathan yang dijadikan tuyul, Kaze diletakan di dalam jimat untuk manusia yang menginginkan perlindungan dari jin. Kaze melihat dari dalam jimat apa yang dilakukan manusia serakah tapi ia juga melihat bagaimana cinta kasih seorang ayah atau ibu kepada anaknya hingga rela memberikan jimat dari seorang dukun kepada anaknya meskipun mereka sadar itu salah.
Kaze memandang iri tuannya, sang anak yang diberikan jimat. Sang anak sendiri tidak tahu kalau dirinya berada di dalam jimat. Setelah apa yang dituju anaknya selesai, jimat itu dibuang begitu saja. Kaze duduk termenung tidak tahu apa yang harus ia lakukan, ia terlalu malas untuk kembali ke sang dukun. Sebelum bawahan para dukun itu mencarinya, ia harus mencari cara pergi atau berlindung ke suatu tempat, tapi kemana?
Saat itulah Kaze bertemu dengan Jonathan yang sedang menangis. "Kenapa ada tuyul di sekitar sini? Inikan area pondok pesantren. Bisa bahaya."
Kaze cepat-cepat mendekati Jonathan, "kamu tuyul? Kenapa kamu ada disini?" tanyanya.
Jonathan mengusap kedua pipinya sambil terisak, "aku tidak mau kembali ke sana, disana menakutkan. Aku tidak mau mencuri, sakiiit."
"Kenapa sakit?"
"Kalau ada orang membaca doa, kepalaku sakit dan badanku panas seperti dibakar. Aku tidak mau."
Kaze menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Terus kamu mau kemana? Percumakan melarikan diri, pasti tuanmu menyuruh bawahan untuk mengejar kamu."
Jonathan menggeleng keras. "Aku tidak mau kembaliiii." Rengeknya.
"Kalau begitu kamu bisa sembunyi di pemandian bidadari."
"Bidadari?" tanya Jonathan tidak mengerti.
"Kamu tidak tahu?" Kaze berkacak pinggang, "anak-anak manusia sering membacanya, kalau ada pemandian atau air terjun bidadari disana. Siapa tahu kamu bisa sembunyi disana."
"Kamu tahu tempatnya?"
Kaze menggeleng, "coba kamu cari tahu sendiri saja."
"Kamu tidak ikut?"
"Aku tidak bisa ikut. Tuanku terlalu kuat, lagian aku pasti akan kembali."
Jonathan merenung sejenak lalu mengangguk pelan. "Kalau begitu aku cari tahu tempat kesana supaya mereka tidak mencariku."
Kaze memiringkan kepalanya tidak mengerti, "kenapa kamu tidak mau kembali? Kitakan tidak punya tempat tujuan."
Jonathan menunduk. "Aku tidak mau sakit."
"Memang tugas kitakan memberi mimpi pada manusia tamak, aku suka melihat mata mereka yang ketakutan saat tuanku meminta tumbal." Kaze terkekeh.
"Itukan jahat."
"Manusia sendiri juga jahatkan, mereka melakukan berbagai cara supaya bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan."
Jonathan bergerak mundur, "aku mau cari tempat kesana."
"Kamu masih tetap pengen kesana?"
Jonathan mengangguk malu. "Aku tidak mau sakit lagi."
Kaze menatap kesal Jonathan, "ya sudah pergi sana! Padahal aku kira kita bisa menjadi teman."
Jonathan melirik Kaze, "terima kasih informasinya."
"Kamu belajar kata itu darimana? Jangan membuatku merinding! Pergi sana!"
Jonathan berlari menjauh.
"Padahal aku Cuma bercanda, ya sudahlah biarlah." Kaze mengangkat kedua bahunya.
"HAYO!!! Mau coba kabur ya?!"
__ADS_1
Kaze menjerit kesakitan, ia diangkat oleh suruhan dukun, tuannya.
"Ampun! Saya hanya ingin jalan-jalan!"
"Halah! Bohong kamu!"
"Sakit! Ampun!" jerit Kaze.
___
Janin yang diculik tidak bernama, begitu juga dengan Kaze yang tidak tahu siapa dirinya, latar belakang dirinya dan terutama siapa orang tuanya. Kaza duduk sambil memeluk kedua lututnya, dan disinilah dia sekarang... Lagi! Berulang terus, masuk ke dalam jimat untuk mengawasi klien tuannya.
Sebenarnya Kaze merasa bosan melihat pemandangan yang sama dan menyedihkan berulang-ulang, tapi apa yang ia bisa lakukan?
"Papa!!!!!'
Kaze berdiri, "lho?"
"Papa! Jangan tinggalkan Rio pa!"
Kaze keluar dari jimat dan melihat pemandangan yang tidak seharusnya. "Kenapa orang itu mati sekarang? Gawat! Rohnya harus menjadi budak ra..." Kaze terdiam ketakutan, ia melihat seorang berjubah hitam berdiri di kaki tempat tidur majikan barunya. "Ma... malaikat pencabut nyawa, kenapa ada disini?"
Orang berjubah itu menatap dirinya dan menyeringai, kedua kaki Kaze gemetar ketakutan, baru kali ini ia bertemu langsung dengan malaikat pencabut nyawa. "A....a..."
"PAPA!!!" Rio mengguncang badan papanya yang sudah tidak bernyawa.
"Rio, papa sudah meninggal." Mama Rio memeluk anaknya, "jangan menangis nak, masih ada mama disini."
"Rio maunya sama papa!" geleng Rio.
Kaze mendengar percakapan itu, ia memberanikan dirinya. "Kamu... berani sekali mencabut nyawa papanya, diakan masih kecil."
"Lalu kalau saya tidak mencabutnya, tuan dan raja kamu akan mengambil rohnya untuk menjadi budak bukan?" jawab malaikat pencabut nyawa.
"I... itu... urusan mereka, saya hanya pesuruhnya." Jawab Kaze dengan takut.
Kaze melihat telapak tangan malaikat itu dari jauh, tapi ia tidak bisa membacanya. "A... aku tidak bisa membacanya, kamu pasti bohongkan? Karena aku tidak bisa membaca makanya kamu berbohong!!"
Malaikat itu menghela napas, "memangnya kamu ditugaskan apa oleh tuanmu?"
"Menjaga anaknya dan jika sudah selesai, memberikan tumbal tapi... orang itu belum memberikan tumbal pada kami!" Kaze cepat-cepat menutup mulutnya dengan kedua tangan, ia merasa salah karena sudah membocorkan rahasia penting pada malaikat.
Malaikat itu menyeringai kembali dan mengangkat kedua tangannya, tubuh Kaze tertarik mendekati malaikat. "Itu jika kamu membocorkan semuanya ke tuanmukan?"
Kaze menggeleng lemah, ia tidak mau menjawab. Ia menutup kedua matanya ketika malaikat itu mengangkat tangan.
Tiba-tiba Kaze merasakan usapan dikepalanya, perlahan ia membuka salah satu matanya. Malaikat itu sedang mengusap kepalanya.
"Aku tidak menyangka kita bisa bertemu kembali."
Kaze mendongak, ia sekarang sudah berada di pelukan malaikat itu. Ia bisa melihat kedua mata hijau sang malaikat dari balik tudungnya. "Aku tidak pernah bertemu dengan malaikat."
"Kita memang tidak saling mengenal tapi kamu pernah menolongku dulu, berkat kamu aku bisa kabur dari kejaran raja di tempatku."
Kaze mencoba mengingat, yang ia ingat hanya satu tuyul yang sedang menangis mencoba kabur dari rajanya. "Aku tidak ingat, yang aku ingat hanya tuyul saja. Itupun aku hanya iseng."
"Oh, jadi kamu berencana iseng?" malaikat itu tersenyum menenangkan, Kaze terbius dengan kedua mata malaikat itu.
"Mata malaikat memangnya berwarna hijau ya?"
Malaikat itu tertawa geli. "Yah salah satunya juga ada yang berwarna hijau, jadi... nama kamu siapa?"
Kaze menggeleng sedih. "Aku tidak bernama."
"Tidak bernama? Berarti kamu bukan anak makhluk gaib? Kamu... salah satu janin yang diculik?"
Kaze mengangguk mantap, "kata orang-orang seperti itu, aku salah satu janin yang dijadikan tumbal makanya tuan dukun bisa menjadikan aku sebagai bawahannya, anda malaikat Izrail?"
__ADS_1
Malaikat itu menggelang, "sayangnya bukan, dengan senang hati aku ingin menggantikan tugas beliau tapi itu tidak mungkin. Aku juga dulu salah satu janin tidak bernama."
"Tumbal juga?" tanya Kaze tidak mengerti.
Malaikat itu menggeleng lagi, "Aku tidak tahu, banyak sekali janin diculik di tempatku, salah satunya ada yang dibuat makan."
Kaze bergidik ngeri mendengarnya, "pasti sakit." Ucapnya polos.
"Jadi kamu masih ikut tuan dukunmu?"
"Tunggu! Kamu ini siapa? Malaikat tapi sok kenal aku!"
Malaikat itu menghela napas. "Aku tuyul yang kamu isengi dengan cerita pemandian bidadari."
Kaze membelalakan kedua matanya, "tuyul menjadi malaikat pencabut nyawa? Bagaimana bisa?"
"Panjang ceritanya. Ayo kita pergi."
"Kemana?"
"Tempat jauh, sebentar lagi tuan dukunmu hendak kesini. Ia sudah mendengar kematian majikan barumu."
"Waduh, gawat! Aku bisa dihukum tuan dukun!" Kaze gemetar ketakutan.
"Ayo ikut aku, kalau tidak mau dihukum. Aku akan melindungimu." Malaikat itu berdiri dan memegang salah satu tangan Kaze.
Sekejap mata mereka sudah berpindah tempat.
"Ini dimana?" Kaze memandang takjub air terjun di depannya. Baru kali ini ia melihat air terjun secara langsung, biasanya ia melihat dari jimat atau buku sekolah anak-anak. "Waaahhh..." meskipun langit sudah sore, pemandangan air terjun tetap menyejukan dimatanya.
"Inilah tempat pemandian para bidadari itu."
Kaze menoleh, "beneran ada? Bukan legenda?"
"Iya."
"Uwaaahhh..." Kaze merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, "sejuknya, baru kali ini aku merasakan udara sesegar ini."
Malaikat itu tersenyum dan membuka tudungnya. "Sayangnya hari ini bukan jadwal para bidadari turun untuk mandi, minggu depan mereka baru turun. Kamu mau menemui mereka?"
"Untuk apa?"
"Untuk membebaskanmu."
"Dari?"
"Kamu tidak ingin bebas menjadi diri kamu? Kamu tidak kesakitan saat menjadi budak mereka?"
Kaze menggeleng. "Aku sudah terbiasa dengan perilaku mereka, terutama manusia. Aku memang sakit kalau mereka membaca mantera aneh tapi aku sudah terbiasa kok."
"Itulah yang aku takutkan, sakit karena terbiasa... lama-lama perasaan manusiamu akan menghilang dan digantikan dengan perasaan iblis."
Kaze menoleh, "akukan bukan manusia, jadi tidak masalah."
"Janin yang hilang, saat berusia tujuh bulan... janin diberi roh. Nah kamu tahu kenapa mereka menyebut janin hilang bukan roh janin yang menghilang?"
Kaze menggeleng.
"Karena mereka tidak hanya menculik roh tapi juga raga janin, itu berarti janin yang diculik dan dijadikan budak adalah manusia."
"Aku manusia?" tanya Kaze tidak percaya.
"Kamu manusia, sama dengan aku."
"Jadi... malaikat juga manusia?"
"Itu berbeda."
__ADS_1