KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
SPECIAL THE LITTLE ANDREA WITH HER GRIM REAPER III


__ADS_3

Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Setiap hari Jonathan selalu datang melihat kondisi Andrea meskipun sibuk. Jonathan tahu, hari-hari Andrea berubah menjadi neraka, Andrea tumbuh menjadi anak cengeng... dia menyembunyikan rasa sakit dibuang papanya dengan menangis, dalam keadaan apapun dia menangis dan menangis. Andrea sebenarnya kuat, dia tidak masalah hinaan ataupun jahilan orang-orang, tapi dia selalu menggunakan kesempatan itu untuk menangis.


Dan kalimat yang selalu diulang-ulang selalu terdengar di tengah tangis kecilnya. "Kenapa aku dilahirkan? Apa salah Andrea sampai papa begitu? Kenapa papa tidak menolong Andrea?"


Jonathan sedih melihat kondisi itu, ia tidak tega mengatakan pada Andrea kalau sang ayah sudah membuang dirinya sejak belum dilahirkan, menukar nyawanya dengan nyawa putrinya.


Setiap tidurpun Andrea selalu membayangkan papa menjemputnya dan tinggal bersama di kerajaan kecil, tidak apa rumah mungil yang penting bisa hidup sekeluarga. Adik Andreapun juga sama, meskipun tidak pernah mengungkapkannya, dia selalu merindukan papanya.


Jonathan pernah memergoki Andrea mengurung diri di kamar ketika rumah kosong, mamanya pergi belanja sebentar keluar. Andrea duduk di lantai memeluk lututnya, kepalanya disandarkan di lutut. Handphone menyala tidak jauh dari Andrea. Jonathan membaca tanpa menyentuhnya.


"Kamu selalu meminta-minta saya... kamu memang pengemis!" Jonathan membaca pelan sms itu sambil menghela napas, tiba-tiba ia merasa jubahnya ditarik.


"Om mau pergi?" tanya Andrea tanpa mengubah posisinya sementara tangannya menarik jubah Jonathan.


"Kamu bisa melihat saya?"


"Sekarang bisa." Isak Andrea. "Jangan pergi."


Jonathan duduk di samping Andrea. "Siapa yang mengirim sms itu?"


"Papa. Aku minta uang sekolah, aku sudah SMP... kebutuhanku banyak." Isak Andrea. "Tapi malah dibalas seperti itu."


Jonathan menarik kepala Andrea ke bahunya. "Tenanglah, ada aku disini."


"Andrea pengen berhenti sekolah." Isak Andrea.


"Jangan bicara seperti itu, mama kamu nanti sedih."


"Aku tidak mau membuat sedih mama."


"Maaf, aku tidak bisa membantu kamu."


"Tak apa."


Jonathan memutar otak mencari ide, "bagaimana kalau kamu jualan? Dulukan kamu jualan krupuk sama adik kamu."


Andrea mengangkat kepalanya, matanya bengkak karena menangis. "Jualan apa om?"


"Apa aja."


Andrea merenung. "Nanti coba aku pikirin."


Jonathan menepuk pelan kepala Andrea. "Itu baru Andrea yang aku kenal."


"Hari ini ulang tahun aku, om tidak kasih sesuatu?"


"Kenapa kamu mintanya sama aku?"


"Karena hanya om saja yang bisa aku ajak bicara, boleh minta sesuatu?"


"Apa?"


"Bisa menghapus mata bengep ini?" Andrea menunjuk matanya.

__ADS_1


Jonathan tertawa, "hanya itu?"


Andrea mengangguk.


"Baiklah."


Setelah memberikan hadiah ke Andrea, Jonathan kerja, ia berdiri di depan pria tua melamun di kamarnya, Jonathan mengernyit. Ia jalan ke ruang tamu rumah itu. Alangkah terkejutnya dia melihat papa Andrea tertawa bersama selingkuhan dan anaknya yang masih kecil.


"Saya sekarang di Bali sudah sukses, uang juga dapat puluhan juta. Makanya jadi saya, PNS itu apaan... kerjanya nggak jelas, gajinya juga kecil." Mahmud tertawa di depan adiknya. "Contoh istri saya itu, lulusan Australia."


Jonathan menghela napas, ia bersandar di tembok mendengarkan semua omong kosong itu.


"Ngapain kamu terima barang bekas?" tanya Mahmud pada seseorang. "Kalau saya menjadi kau, saya tidak akan membiarkan anak dan istri saya memakai baju bekas, bisa kena penyakit kau!"


Sungguh ironis sekali. Andrea dan adiknya memakai baju bekas.


Jonathan melirik pria tua yang keluar dari kamar dengan susah payah. "Hidup kamu sudah tidak lama lagi, aku beri kamu waktu sebelum menjemput ajal." Ujarnya sambil mengayunkan tongkat jalannya.


"Saya baru mendapat uang proyek, nanti saya belikan." Kata Mahmud.


Jonathan menatap muak pria itu. "Ya Allah, jika dia akan meninggal, jangan sampai saya yang mencabut nyawanya... saya tidak ingin mencabut nyawanya yang kesakitan." Doanya dengan pelan.


Lalu waktupun berjalan, Jonathan sudah tidak menampakan diri di depan Andrea. Begitupun Andrea, sudah mulai melupakan keberadaan Jonathan. Jonathan tahu seiring berjalannya waktu... pelindung Andrea tidak mengijinkan dirinya mendekat dan memberi tahu siapa dirinya di dalam mimpi. Jonathan tidak mempermasalahkan itu, sesekali Ia melihat keadaan Andrea dari jauh.


"Ingat, kamu sudah menandainya. Bahkan jantung kamu sudah diberikan ke anak itu, lebih baik percepat ritual kamu." Teman Jonathan mengingatkan.


"Kamu tahu apa yang aku lakukan?"


Teman Jonathan tertawa, "kamu tidak bisa berbohong atau menyembunyikan sesuatu di belakang kami. Aku akan membantu kamu sebisaku, jadi percepatlah ritual itu sebelum kamu menghilang."


Sayup-sayup ia mendengar bisikan Andrea di langit, Jonathan menajamkan telinganya.


"Allah, selama ini Andrea bersyukur bisa hidup normal, terima kasih." Andrea tersenyum ke langit. "Tapi, berikanlah senyuman dan kebahagiaanku untuk anak-anak di luar sana, aku tahu mahalnya mendapat senyuman dan kebahagiaan itu. Aku tidak apa-apa kok, lagipula itu jauh lebih berguna untuk orang lain daripada aku."


Mendengar doa itu, jantung Jonathan berdegup kencang. Apakah selama ini yang ia lakukan salah? Apa memang sebaiknya membiarkan anak itu meninggal dan hidup menjadi budak? Itu jauh lebih baik daripada mengetahui tidak dicintai oleh salah satu orang tuanya bukan?


Jonathan mengepalkan tangannya dengan sedih. "Apa yang harus aku lakukan Tuhan?" gumamnya.


"Tapi, aku ingin mengeluh, kenapa malaikat pencabut nyawa bisa menemuiku? Apakah benar nyawaku akan dicabut kalau bisa melihatnya?" keluh Andrea.


Jonathan tertawa geli. Rupanya Andrea sudah diberitahu pelindungnya.


"Pokoknya aku tidak mau bertemu dia lagi karena..." Wajah Andrea berubah murung, "karena aku tidak mau om itu melihat aku menangis lagi!" Andrea menunduk malu.


Jonathan memiringkan kepalanya. Kenapa ia tidak mau?


"Karena... karena..." Andrea bersuara pelan.


Jonathan berusaha menajamkan telinganya. Karena? Karena teringat dengan papanya?


Andrea menggigit bibir bawahnya. "Karena... ah... Allahkan tahu isi hati aku... pokokya jangan sampai om itu datang lagi! Nggak boleh!"


Jonathan menghela napas. Karena apa?. Jonathan menatap langit. Tidak adil! Serunya dalam hati.

__ADS_1


Hari berganti. Sejak itu, setiap malam diam-diam Andrea duduk di teras rumah atau berdiri di halaman menatap langit malam sementara Jonathan duduk di pagar setinggi dada orang dewasa atau di atap garasi.


Jonathan melihat Andrea duduk di teras sambil menulis sesuatu, Jonathan tidak bisa melihat apa isinya tapi ia melihat Andrea tertawa geli atau mengusap sudut air matanya.


"Andrea! Kamu sudah makan?" seru mama Andrea di dalam rumah.


"Belum ma!" Andrea meninggalkan buku tulisnya dan lari masuk ke dalam rumah.


Jonathan turun dari pagar dan mengintip buku, isinya tentang dialog putri dan pangeran. "Masih saja suka hal seperti ini." Tawa Jonathan. Lalu tanpa sengaja ia melihat dialog terakhir.


'Yuri : aku pernah bertemu dengan seorang laki-laki yang mengatakan dirinya ksatria aku, dia sebenarnya bukan seorang ksatria, dia itu seorang pembohong besar!'


'Yuki : Bagaimana kamu tahu dia pembohong?'


'Yuri : Karena sebenarnya dia pangeran aku, suatu hari nanti aku akan bertemu dengan dia meskipun nantinya akan menyedihkan tapi aku tetap menunggunya. Karena dia pangeran aku! Dia pangeran milikku!'


'Yuki : Kau bercanda, di dunia ini tidak ada pangeran! Kalaupun ada, dia maunya menikah dengan sesama bangsawan!'


'Yuri : Dia bukan pangeran berkuda putih di dongeng atau pangeran kaya, dia memakai jubah berwarna hitam dan suka duduk di atap rumah orang.'


'Yuki: Kamu gila? Itu berarti dia hanya maling!'


'Yuri : ..................................'


Jantung Jonathan berdegup keras membaca sebagian dialog yang ditulis Andrea. Perasaan aneh yang tidak ia ketahui melanda dirinya. "Pangeran." Ulangnya. Jonathan semakin penasaran dengan dialog selanjutnya.


"Bentar ma, Andrea ambil buku diluar!" Seru Andrea sambil lari ke teras rumah.


Jonathan cepat-cepat menjauh dan duduk kembali di tempatnya semula.


Andrea mengambil buku itu dan mendekapnya erat lalu masuk ke dalam rumah.


Hati Jonathan berguncang, ia semakin ingin melakukan ritual itu tapi...


"Eyang kakung meninggal?" tanya Andrea dengan wajah dingin.


"Iya, eyang kamu meninggal hari ini."


Jonathan mendengarnya dari luar. Ah iya, sebelum dirinya kesini... ia mencabut nyawa eyang kakung Andrea.


"Mama mau kesana?" tanya Andrea.


"Enggak. Kamu mau kesana?"


"Tidak. Andrea benci keluarga itu, mereka datang ke pernikahan papa padahal papa belum cerai sama mama! Mereka keluarga rusak, terkenal rusak di daerah itu! Andrea tidak mau mengenal keluarga itu!" Andrea berkata dengan tegas.


"Andrea..." Tegur mama Andrea.


"Keluarga mama sering cerita kok, Andrea malu punya papa seperti itu. Dia bukan papa Andrea!" Andrea meletakan sendoknya lalu lari ke dalam kamar. "Mending Andrea mati punya papa seperti itu, kalau sudah besar Andrea mau operasi plastic! Ganti wajah supaya tidak mirip laki-laki jelek itu!"


Jonathan menghela napas. Sebaiknya ia segera memulai ritual sebelum Andrea menambah kosa kata kasar lagi.


Dan itulah keputusan Jonathan hari ini, bersandar di depan gerbang sekolah dengan memakai jas dan topi gaya bangsawan barat serta memegang tongkat jalan khas bangsawan barat. Di sudut mata, Jonathan melihat Andrea menghentikan langkahnya dengan terkejut dan ketakutan.

__ADS_1


Ah, bunga mungilku... entah aku atau kamu yang beruntung tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan melepas bungaku. Jonathan tersenyum melirik sekilas Andrea yang menunduk ketakutan.            


__ADS_2