KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
TIGA PULUH


__ADS_3

Sementara di dalam gua, Aya masih menelusuri lorong gelap dan tidak berujung di depan matanya dengan obor gaib. Dia mengetat eratkan selendang yang diberikan Seroja ke tubuh dan tangannya untuk melindungi hawa dingin dan lembab gua ini.


Tidak ada suara apapun kecuali gema kakinya, semakin ke dalam Aya tidak berani bersuara. Samar-samar mendengar sesuatu di depan, suara ribut. Aya berlari ke depan dan ia melihat pemandangan mencengangkan.


"Jonathan!" serunya sambil menghampiri Jonathan yang bersandar di dinding gua.


Jonathan mengangkat kepalanya perlahan. "Aya?"


"Kamu- kamu masih hidup?" tanya Aya tidak percaya.


Kedua tangan Jonathan yang terkulai lemas di sisi tubuhnya digerakkan pelan. "Aku tidak tahu-"


Aya berjongkok di depan Jonathan. "kamu baik-baik saja kan?"


Jonathan mengangguk pelan.


"Apa yang terjadi? kenapa Seroja mengatakan kamu menghilang?" tanya Aya.


Jonathan memejamkan matanya, mengambil napas. "Aku tidak tahu, tiba-tiba saja aku ada di dalam hutan lalu melarikan diri."


"Hutan? jadi lubang ini ulah kamu?"


"Lubang? aku sembunyi disini dari sebuah gua di dalam hutan, tidak ada lubang sama sekali."


Aya terbelalak ngeri. "Ada lubang di jalan raya, kata Seroja dan temanmu, lubang ini bisa mencelakakan manusia yang lewat."


Jonathan menahan perih di dadanya.


Aya melihat darah bercucuran dari dada Jonathan. "Ayo kita keluar!"


Jonathan menggeleng lemah. "Kaum kami tidak akan mati karena kehabisan darah, ini akan segera sembuh. Aku tidak bisa keluar dengan kondisi sekarang."


"Justru kasihan dengan teman kamu dan lainnya karena menjaga dari depan, banyak makhluk gaib menyerang pintu masuk." Ujar Aya dengan panik sambil menekan dada Jonathan. "Apakah ini letak jantung?"


Jonathan mengangguk lemah.


"Siapa, siapa yang melakukan ini? Ini bukan luka jatuh dari jurang kan?"


Jonathan menggeram perih saat Aya hendak menyentuh lukanya.


"Jantungku-"


"Jantungmu kenapa?"


"Tidak, pergilah."


"Aku tidak akan pergi sebelum kamu pergi."


Jonathan hendak bicara.


"Dengar, Andrea dan temanmu dalam bahaya sekarang. Dan sekarang tempat yang kamu maksud bukanlah gua di dalam hutan melainkan gua di dalam lubang."


"Lubang?" kesadaran Jonathan mulai menipis.


Aya hendak melepas selendang yang diberikan Seroja tapi ditahan Jonathan.


"Jangan dilepas! manusia tidak akan tahan dengan udara disini." Geleng Jonathan dengan lemah.


"Adakah yang bisa aku lakukan? Mereka yang bisa menolong mu dengan cepat tidak bisa masuk ke dalam lubang sini."

__ADS_1


"Tentu saja, siapapun tidak akan bisa masuk ke dalam gua ini karena aku menahannya."


"Sudah aku bil-"


"Jika benar apa yang kau katakan gua yang aku masuki sudah berpindah tempat, berarti tempat ini berpindah tempat lagi-"


"Apa maksudmu?"


"Berapa lama kamu memasuki gua ini?"


Aya mengeluarkan handphonenya dan melihat jam, terkejut. "Sudah hampir dua jam aku menelusuri gua?"


Jonathan mengangguk. "Padahal gua ini tidak begitu dalam, sepuluh menit saja kamu sudah menemukan aku."


"Ap- apakah lubang di atas akan tertutup?"


Jonathan menggeleng. "Lubang itu dibuat iblis untuk mendapatkan jiwa manusia yang meninggal di dalam lubang tidak terlihat."


"Berarti sia-sia saja aku kembali?" tanya Aya dengan panik.


Jonathan mengangguk pelan. "Gua ini berpindah tempat dan aku berikan pelindung, tidak ku sangka bisa melindungi sampai ke lubang buatan iblis."


Aya duduk bersandar di samping Jonathan. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Diam dan menunggu aku pulih."


Aya memeluk kedua lututnya. "Berapa lama?"


"Satu tahun."


Aya menoleh dengan terkejut. "Aku tidak bisa menghilang selama satu tahun lagipula sebentar lagi aku ujian nasional bersama Andrea."


Batu berwarna hitam itu mulai bergerak dan menjawab halo, Aya melirik ke sampingnya- Jonathan sudah tertidur pulas.


"Dasar merepotkan." Aya menelepon teman Jonathan. "Halo."


"Aya!" terdengar teman Jonathan memanggil dirinya di seberang. "Kamu baik-baik saja?"


Aya mengecilkan suaranya supaya tidak mengganggu tidur Jonathan. "Ya aku baik-baik saja."


"Kamu sudah menemukan apa yang kamu cari di dalam? apakah ada yang aneh di sana?"


Aya berpikir, lebih baik ia tidak memberitahu siapapun kalau Jonathan masih hidup, kalau dia beritahu sekarang tidak hanya teman Jonathan seluruh iblis dan antek-antek raja itu akan mencari Jonathan. "Tidak ada apa-apa, hanya gua gelap biasa."


"Aku dengar kalau gua itu untuk mencari roh manusia."


"Aku tahu."


"Eh? tahu darimana?"


"Tidak penting tahu darimana, sekarang aku ingin mengatakan sesuatu padamu- dengarkan aku baik-baik."


--------


Andrea dan Seroja sudah tiba di bawah jurang tempat Andrea dan Jonathan meloncat dari atas, Andrea mendongak melihat ke atas, tidak ia sangka kalau tempat itu begitu tinggi.


"Aku baru sadar kalau melakukan sesuatu yang berbahaya." Gumam Andrea.


"Kamu hanya melakukan hal yang kamu inginkan."

__ADS_1


"Maafkan aku."


"Untuk apa Andrea?"


"Jika aku benar-benar meninggal, maka mereka bisa mendapatkan sepupuku yang tidak terlindungi."


"Tidak usah khawatir." Seroja tersenyum. "Jadi apakah anda sudah mengingat dimana?"


"Aku tidak tahu, terakhir yang membawa Jonathan."


Seroja menghela napas kecil. "Saya sendiri juga tidak merasakan apapun, kalaupun dibawa antek-antek itu- tidak mungkin sampai mengirim Seruya."


"Ada satu hal yang mengingatkanku- kalau saudara sepupuku yang laki-laki memiliki anak perempuan- apakah kau akan berpindah tempat?"


"Maksud anda?"


"Diantara keluarga mama, aku memiliki dua kakak sepupu laki-laki dan salah satunya sudah menikah-"


Seroja melotot ngeri. "Istrinya sedang mengandung?"


"Aku tidak tahu, jadi kamu akan berpindah tempat?"


"Bukan masalah istrinya, tapi apakah istrinya benar-benar manusia?"


"Me- mereka sudah menikah dua tahun sementara raja jin itu baru mengetahui hal itu baru-baru inikan?"


"Bukan hanya itu Andrea, jika istrinya mengandung anak perempuan maka saya tidak bisa melindungi kamu lagi!"


"Jadi benar kamu akan berpindah tempat?"


"Peraturan tetap peraturan Andrea."


"Ja- jadi apa yang harus kita lakukan?"


Seroja berpikir. "Karena tidak ada informasi mungkin kita bisa tenang sementara ini tapi tetap saja kita harus waspada, kalau tiba-tiba saja saya sudah harus melindungi bayi itu... saya sudah tidak bisa di samping kamu Andrea."


"Kalau begitu aku telepon mama dulu, siapa tahu mama diberitahu." Andrea merogoh saku celananya. "Lho? lho?"


"Handphone kamu dibawa teman Jonathan untuk diberikan ke Aya."


Andrea menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sekarang bagaimana nih?"


"Begini saja, kita fokus mencari keris setelah itu kita ke tempat kakak sepupu kamu."


"Kalau keris itu tidak ketemu bagaimana?"


Seroja memandang sekeliling tempat mereka berdiri. "Saya akan menyuruh Seruni ke tempat kakak sepupu kamu, ada barang miliknya yang kamu bawa?"


Andrea mengangguk. "Coba saja cari buku inisial W. Itu milik kakak sepupu aku, rumah yang kami tempati miliknya."


"Saya tahu- kalau begitu saya akan duduk di sekitar sana." Seroja menunjuk batu besar. "Kamu jangan pergi terlalu jauh."


"Baiklah." Angguk Andrea.


Setelah itu Seroja duduk di batu besar untuk berkomunikasi dengan Seruni sementara Andrea fokus mencari keris.


"Coba aku ingat, dulu aku menemukan kerisnya ditumpukkan dengan cara apa." Gumam Andrea sambil berusaha mengingat informasi yang diberikan Jonathan. "Coba aku ingat-ingat lagi-"


'Arahkan tanganmu ke tumpukan keris.' Perkataan Jonathan terngiang di kepalanya.

__ADS_1


Andrea mengangkat kedua tangannya ke berbagai arah pelan-pelan. "Semoga berhasil."


__ADS_2