KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
SPECIAL KAZE III


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, setelah menyelesaikan semua urusannya dan berbekal bantuan malaikat berkumis. Kaze berdiri di depan batu nisan dirinya sendiri, batu nisan tidak berisi yang dibuat oleh ibunya untuk mengenang dirinya. Ironis sekali, ia dimakamkan di makam kosong di Inggris bukan Indonesia. Batu nisan kosong yang tidak bernama dan hanya bertuliskan tanggal kematiannya.


Ia melihat ibunya yang sudah tua berjongkok dan meletakan bunga di depan makam mungil, "maaf ya nak. Ibu tidak bisa memakamkanmu di Indonesia, ibu sudah tidak bisa kembali ke Negara itu meskipun ibu orang sana. Ibu lebih memilih tinggal disini bersama kedua kakakmu."


Kaze tersenyum. Jadi wanita cantik ini ibu kandungnya? Ah, andaikan saja aku bisa memeluknya.


"Kamu bisa memeluknya."


Kaze menoleh ke belakang, seorang bidadari cantik berambut merah dan bermata abu-abu duduk di atas salah satu nisan belakangnya. "Kamu bisa menemuinya, tapi jangan katakan siapa dirimu."


"Kenapa..."


"Anggap saja ini hadiah dari Tuhan atas kerja kerasmu selama ini."


"Tapi kenapa ada bidadari disini?"


"Kalau disini mereka menyebut kami... malaikat bukan bidadari, penampilanku juga berbeda bukan dinegaramu hmmm... panggil saja aku Angel."


"Anda bisa bahasa saya?"


"Sudah ada yang mengatur, tidak perlu mempermasalahkannya. Kamu ingin memeluk wanita cantik itu?"


Kaze menoleh, ia melihat guratan di wajah ibunya yang lelah dan sedih.


"Satu hari saja aku akan membantu kamu untuk menemui ibu dan kakak-kakak kamu."


"Aku bisa menemui mereka dengan kekuatanku sendiri tapi rasanya berat untuk bertemu dengan mereka."


"Kenapa?"


"Kalau aku bertemu mereka... rasanya jadi tidak ingin berpisah."


Angel tersenyum penuh arti. "Kalau begitu temui mereka dengan kekuatanmu, tapi jangan beritahu siapa sebenarnya diri kamu."


Kaze menggeleng sedih, "aku tidak sanggup."


"Kamu akan menyesalinya seumur hidup. Lebih baik bertemu satu kali daripada tidak bertemu sama sekali." Angel menepuk pundak Kaze lalu menghilang.


Kaze celingukan. "Ah, hei!"


Ibu Kaze menoleh dan melihat Kaze berdiri disampingnya kebingungan mencari sesuatu. "Ada yang bisa saya bantu?"


Kaze menoleh, ia terkejut.


Ibu kaze tersenyum. "Maaf, saya tidak bisa bahasa Inggris jadi..."


Kaze menjadi salah tingkah. "Sa... saya juga tidak bisa bahasa Inggris, saya tadi sedang bersama teman disini tapi entah kenapa dia menghilang."


Ibu Kaze mengangguk mengerti. "Oh, jadi anda tersesat."


Kaze terdiam lalu tersenyum. Mungkin ini cara dia bertemu dengan keluarga kandungnya. "Iya, maafkan saya."


Ibu Kaze menepuk tangan Kaze. "Kenapa meminta maaf? Meskipun saya tidak bisa bahasa Inggris, saya hapal dengan jalan di Inggris... saya bantu anda tapi saya mau membersihkan makam anak saya dulu."


Kaze melihat makam dirinya. "Kalau begitu saya yang akan membantu anda, ini sebagai ucapan terima kasih saya."


Ibu Kaze tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Entah kenapa saya merasakan suatu kehangatan dengan anda..." Ibu Kaze mengusap pipinya, "maaf saya jadi sentimental begini."


Kaze celingukan mencari alat pembersih. "Saya bersihkan dulu ya."


Ibu Kaze menunjuk rumah penjaga makam, "anda bisa pinjam ke penjaga makam disana, anda bisa bahasa Inggris sedikit bukan?"


"Kalau dasarnya saya mengerti, saya kesana dulu."


"Terima kasih.


Kaze pergi ke rumah mungil yang ditunjuk ibu Kaze, tidak berapa lama ia kembali membawa beberapa alat untuk membersihkan nisan dan rumput. "Maaf menunggu lama."


Ibu Kaze mengangguk, "tidak apa."


Kaze membuka kursi lipat, "silahkan duduk disini sambil menunggu saya membersihkan nisan."


"Anda memang pria yang sopan, pasti ibu anda sangat bangga memiliki anda." Ibu Kaze duduk.


Kaze tersenyum dan melakukan pekerjaannya, karena pengalaman melihat pekerjaan banyak manusia ia sedikit mengerti cara memakai semuanya. "Terima kasih."


"Sedang liburan di Inggris?"


"Saya sedang mencari ibu kandung saya."


"Ibu kandungnya kemana? Oh ya... saya jadi lupa, siapa nama anda? Saya Ratna."


Ratna. Nama yang indah di telinga Kaze... ia berusaha memutar otak mencari nama bagus untuk dirinya, samar-samar ia merasakan angin dingin berhembus. "Angin."


"Eh?"


"Nama saya Angin."


Ratna tersenyum, "nama yang bagus."


Kaze tersenyum lalu melanjutkan pekerjaannya kembali, saat melihat nisan tidak bernama muncul segelitik pertanyaan untuk Ratna. "Kenapa tidak ada nama? Bukannya ini anak anda?"


"Panggil saja saya tante, itu lebih enak didengar." Ratna memandang melamun nisan anaknya, "nisan itu tidak memiliki nama karena memang belum saya berikan nama."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Karena anak itu menghilang di usia 8 bulan, mungkin terdengar aneh di telinga orang asing, secara medis itu disebut hamil anggur tapi saya yakin sekali itu bukan, saya sudah melakukan USG dan semuanya, ada janinnya tapi entah kenapa tiba-tiba menghilang begitu saja."


Air mata Kaze mengalir, ia memunggungi ibu kandungnya. Aku ada disini ibu.


Ratna menghela napas sedih, "saya tidak menyangka bisa kehilangan anak dengan cara seperti itu."


Kaze mengusap air matanya, "mungkin Allah belum mengizinkan."


"Mungkin juga." Ratna tersenyum sedih, "saya sudah menunggu anak ini, karena dia satu-satunya putra saya. Jika saja dia masih ada mungkin sudah punya anak ya dan anaknya mirip dengan nak Angin."


"Kenapa mirip sekali dengan saya?"


"Karena wajah nak Angin mirip sekali dengan wajah ayah saya, tampan dan gagah. Mungkin ini penilaian ngawur saya."


Kaze tersenyum miris. Dalam hatinya ia ingin meneriakan kalau dirinya anak Ratna tapi tidak mungkin Ratna percaya begitu saja.


"Nak Angin kerjanya apa?"


"Saya mencabut nyawa manusia." Kaze kelepasan bicara.


"Mencabut... nak Angin algojo?" tangan Ratna diletakan ke dadanya, "pembunuh bayaran?"


Kaze salah tingkah, "bukan, bukan! Saya bukan seperti itu, saya... apa ya," Kaze menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "hmmm... saya itu seperti menimbang mana yang baik dan buruk lalu bersamaan dengan itu mencabut nyawa?"


Ratna tertawa geli, "maksudnya hakim?"


"Hakim?"


"Iya, hakimkan yang menentukan mana yang baik dan buruk, nah kalau salah bisa saja dia dihukum mati. Tunggu... tunggu, nak Anginkan kelihatan masih muda sekali, biasanya hakim itu untuk yang tua, tua jangan-jangan pengacara? Atau bisa saja jaksa?" tebak Ratna.


Kaze tertawa, "bisa juga ya hahahaha... hmm... yang mana ya?"


"Lho, malah tebak-tebakan."


Kaze dan Ratna tertawa berdua di tengah hembusan angin dingin London.


__


Ratna masuk ke dalam rumah bersama dengan Kaze sambil membawa tas berisi belanjaan, mereka berdua memutuskan belanja bulanan sebelum menemani Kaze keluar.


"Terima kasih ya nak Angin sudah membantu saya." Kata Ratna sambil meletakan tas tangannya di dapur bersama dengan Kaze yang meletakan tas belanja.


"Sama-sama, baru kali ini juga saya belanja bahan makanan."


"Oh ya?"


"I..."


"Ibu sudah pulang?" seorang perempuan cantik datang mengenakan long dress sambil memasang anting-anting, "lho?'


"Laura." Laura menjabat tangan Kaze, "nama yang unik, orang Indonesia?"


Kaze mengangguk. "Ya."


"Ah, bagaimana tentang Indonesia? Sudah sepuluh tahun lebih kami tidak pergi darisana." Laura mengeluarkan sayuran dari tas, "ibu duduk saja, biar Laura yang mengurus ini."


Ratna duduk di kursi minibar. "Kalau kamu manjakan ibu terus, bisa-bisa ibu bosan."


Laura tertawa, "ibu sudah kerja dari dulu, sekarang waktunya istirahat. Biar Laura dan kakak yang bekerja buat ibu."


"Saya juga bantu." Kaze membantu Laura mengeluarkan barang-barang.


"Kalau begitu aku yang masukin ini semua ke kulkas ya." Laura meletakan tas belanja dan memasukan sayur yang sudah dikeluarkan ke dalam kulkas. "Ngomong-ngomong Angin liburan di Inggris?"


"Tidak. Saya sedang mencari ibu kandung saya."


"Ibu kandungnya kemana?" tanya Ratna.


"Saya sendiri tidak tahu, terakhir yang saya dengar beliau berada di Inggris bersama dengan saudara-saudara saya." Cerita Kaze.


"Memangnya selama ini nak Angin dimana sampai bisa terpisah? Ah, maafkan tante kalau terlalu ikut campur."


Kaze menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, saya senang berbagi cerita mengingat saya tidak punya banyak kenangan dengan keluarga saya."


Laura menjadi tertarik dengan cerita Kaze, "siapa tahu kami bisa membantu kamu."


"Terima kasih." Kaze mulai mengubah cerita masa lalunya, "jadi... saya dulu diculik oleh seseorang yang disuruh ayah kandung saya demi kedudukan bagus bersama perempuan selingkuhannya, ia bahkan meninggalkan ibu kandung dan saudara-saudara saya dan informasi terakhir yang saya dengar... ibu kandung dan saudara-saudara saya meninggalkan Indonesia dan menetap di Inggris."


Suasana menjadi hening begitu mendengar cerita Kaze.


"A..." Laura mengerjapkan matanya, "well... hahahaha... sepertinya kami tidak terlalu mengenal sejarah hidup orang lain."


Ratna memainkan leontin kalungnya, "lalu setelah sampai disini apakah nak Angin sudah menemukan keluarga?"


Kaze menghela napas. "Sudah, makanya saya datang ke pemakaman."


"Ada yang meninggal?" tanya Laura.


Yang meninggal itu aku. Kaze mengangguk pelan, "bukan keluarga saya tapi orang yang saya sendiri tidak menyangka sudah meninggal."


Ratna menggenggam kedua tangan Kaze. "Yang tabah ya, saya bisa merasakan kehilangan seseorang yang sangat berarti, suatu hari Tuhan akan mengganti semuanya."


Kaze menepuk tangan Ratna, "terima kasih tante."


Laura berjongkok di depan kulkas sambil menata sayur, "bagaimana dengan ayah kandungmu? Kamu sudah melihatnya?"

__ADS_1


Raut wajah Kaze berubah muram. "Sudah, dia hidup bahagia bersama dengan istri mudanya sekarang."


Laura tertawa sinis. "Bahagia huh?"


"Yah... anggap saja begitu, bahagia dengan caranya sendiri. Yang pasti kita berusaha maju untuk masa depan kita sendiri."Kaze mengatakannya dengan bijak.


Laura tersenyum, "kamu benar."


"Ngomong-ngomong sudah semua nih." Kaze melihat hasil pekerjaannya.


Ratna dengan sigap melipat tas belanja dan memasukannya ke laci dapur. "Nak Angin ada acara malam ini?"


"Ah, tidak." Geleng Kaze.


"Mau ikut makan malam dengan kami?" Laura mengambil daging dan ayam di atas meja, "hari ini ulang tahun ibu. Semakin ramai semakin asyik, lagipula kamukan tamu ibu saya. Tidak sopan tidak menyuguhi tamu kehormatan ibu."


"Laura." Ratna mengingatkan Laura.


"Sepuluh tahun lebih baru kali ini ibu membawa tamu masuk ke dalam rumah, Laura yakin Angin orangnya baik kan Angin warga Negara Indonesia." Laura kembali berjongkok.


"Orang baik itu bukan dilihat warga negaranya, kan suami kamu warga Negara Inggris juga baik." Ujar Ratna.


"Yah bu, kan Laura Cuma mengumpamakan saja." Laura merengut.


"Iya, tapi jangan bicara seperti itu di depan orang lain, mereka bisa menjadi salah paham."


Kaze takjub melihat dan mendengar percakapan Laura dan Ratna. Beginikah namanya keluarga?


"Tuh bu, Angin sampe bengong ngedengernya." Laura menunjuk Kaze dengan dagunya.


Kaze tersadar dari lamunan, "maaf... baru kali ini saya melihat kehangatan keluarga jadi saya merasa takjub."


Laura dan Ratna saling melirik.


"Kamu ini aneh, entah kenapa... aku merasa kita seperti keluarga, mungkin karena kita sama-sama berasal dari Indonesia jadi serasa akrab gitu." Laura bicara di depan wajah Kaze, ia meneliti Kaze dari atas sampai bawah. "Mungkin kesannya tidak sopan kalau aku bicara seperti ini tapi... aku penasaran dengan satu hal, kamu kesini naik apa?"


"Ya?" tanya Kaze tidak mengerti.


"Cuacanya sedang tidak bersahabat dari London, kamu naik apa kesini? Pesawat atau kapal dari Perancis?"


Kaze menggigit bibir bawahnya, dia tidak tahu harus menjawab apa. "Mhmmm..."


"Jadi kamu naik apa?" tanya Laura. "Pesawat atau kapal?"


"Pesawat!" Jawab Kaze. Biasanya perjalanan jauh terutama antar Negara, para manusia naik pesawatkan?


"Oh." Laura mengangguk mengerti.


"Laura, kamu sudah pulang? Aku tadi telepon kamu tidak diangkat sama sekali." Seorang perempuan memakai sweater tebal bercorak dan celan jeans masuk dengan tas belanja. "Aku tadi belanja kalkun segar, dikasih diskon sama tokonya... lho? Ada tamu ya?"


"Kak Aura, kenalin nih temannya ibu. Ketemu di makam adik kita." Laura melambaikan tangannya dengan gembira.


Aura menatap Kaze dari atas sampai bawah lalu meletakan tas belanjanya. "Uhmmm... orang Indonesia?"


Kaze mengangguk lalu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. "Angin."


Aura menaikan alisnya dan tertawa geli. "Nama yang unik, aku suka. Aura, kakak Laura. Jadi apa yang menyebabkan ibu mendapat teman pria? Pacar?"


"Hush!" Ratna melotot ke Aura, "kamu sudah punya anak besar, jaga bicara."


"Aura asal tebak." Aura mengangkat kedua bahunya, "aku sudah dapat kalkun nih, segar dan diskon."


"Kamu dapat dari toko Mr. Smith?" Laura mengintip tas belanja Aura, "wuaahhh... besar-besar... ini bisa dibagi ke tetangga."


"Aku yang milih." Aura menunjuk dirinya dengan bangga, "jadi dia juga tamu makan malam kita?"


"Iya." Laura mengeluarkan kalkun, "oh ya... kamu nginap di hotel mana? Mau kita antarkan kesana juga? Mumpung suamiku meninggalkan mobilnya."


Kaze menggeleng cepat. "Tidak usah repot-repot, saya bisa sendiri."


"Tapi nak Anginkan tidak tahu jalan di London." Ratna mengingatkan Kaze, "tidak apa-apa nanti suami Aura yang mengantar, hari ini suamimu pulang cepatkan?"


Aura memeluk ibunya. "Ya, dia sudah janji pulang cepat demi ibu tercinta kami."


"Ibu juga tidak sabar bertemu dengan cucu-cucu dan kedua menantu kesayangan ibu." Ratna balas memeluk putrinya. "Hari ini kamu cantik sekali."


"Aku ke salon dulu sebelum belanja, nakal sedikit tidak apakan." Aura mengedipkan satu matanya ke Laura. "Ngomong-ngomong, kita mau bikin apa nih? Yang special hmmm..."


"Bagaimana kalau masakan Indonesia?" usul Kaze. Dari dulu dia ingin makan masakan ala Indonesia buatan ibunya.


Laura dan Aura saling melirik.


"Sebenarnya kami tidak terlalu bisa masakan Indonesia sih, tapi..." Aura melirik adiknya.


"Kamu bisa masak?" tanya Laura.


Kaze menggeleng pelan. "Sayangnya tidak."


"Bagaimana kalau begini, ibu dan Kaze yang masak masakan Indonesia sementara kalian berdua masak masakan khas Inggris seperti biasanya." Ratna menggulung lengan bajunya.


Laura menggeleng. "Tapi hari ini ulang tahun ibu, mendingan masakan Indonesia saja. Sudah lama juga kita tidak makan masakan Indonesia. Anak-anak juga bisa belajar merasakannya."


Aura mengangguk setuju. "Jadi, tidak adilkan kalau hanya satu orang saja yang belajar."


Ratna tertawa bahagia, setelah bertahun-tahun mereka berhasil melalui ujian yang sangat menyakitkan. Sekarang mereka bisa berkumpul dan tertawa seperti ini, sepuluh tahun lebih memiliki banyak kenangan di Negara ini.

__ADS_1


__ADS_2