
Pada jaman dahulu kala lahirlah seorang bayi perempuan yang sangat cantik dan diramal kelak akan menjadi ratu yang cantik, pintar dan membawa kesejahteraan untuk negeri itu.
Raja dan Ratu sangat bangga dan bahagia mendengar kabar itu tatkala mereka menunggu anak selama 30 tahun lebih, lain halnya dengan selir raja yang melahirkan seorang pangeran mahkota buta, dia mencari cara supaya putranya lah yang naik tahta meskipun dengan cara kotor.
Selir itu datang ke dukun terkenal di kala itu dan meminta tolong untuk membunuh putri raja dengan syarat memberikan janin yang di kandung, si selir langsung menyetujuinya karena dari awal janin yang ia kandung akan dibunuh. Karena janin itu diramal bermata hijau, mata yang sama dengan musuh negeri itu, musuh yang bertekad mengambil alih kerajaan.
Lalu dukun itu berkata 'aku akan membunuh putri saat akan menerima mahkota raja, mahkota akan dihias racun oleh makhluk gaibku.'
Selir itu tidak terima, ingin sang dukun membunuh putri itu secepatnya tapi si dukun tetap menolak, tidak ingin raja mengetahui keberadaannya karena Raja terkenal memiliki kekuatan gaib yang sangat kuat untuk melindungi negerinya. Si selir tidak mau menerima alasan apapun, maka ia memenggal kepala dukun itu di hadapan rakyat dengan tuduhan membunuh janin yang dikandung.
Lalu tahun berganti, sang putri tumbuh menjadi anak perempuan yang cantik dan baik hati, putri itu bahkan tidak tega membunuh semut sekalipun. Suatu malam sang putri bertemu dengan seorang anak laki-laki yang usianya tidak jauh dari dirinya. Anak itu duduk menangis di bawah pohon depan kamarnya, sang putri membuka jendela kamar dan berteriak. "Kamu siapa?"
Anak itu mengangkat kepalanya sambil berkata "orang tuaku tidak ada, aku mencari orang tuaku."
"Kamu tersesat?" tanya putri.
Anak itu menggeleng sedih. "Aku tidak tahu siapa orang tuaku, yang aku tahu- aku tinggal di tempat jahat."
"Tempat jahat?"
Anak itu mengangguk. "Aku tidak boleh bermain dan istirahat, aku disuruh kerja setiap hari. Makanya aku lari tapi aku tidak tahu dimana aku berada, lalu saat aku bertemu dengan orang-orang mereka menanyakan dimana orang tuaku."
Sang putri ikut sedih mendengar kisah anak itu, tiba-tiba putri mendapat ide. "Bagaimana kalau besok kamu ikut bersamaku ke pemandian bidadari?"
"Pemandian bidadari?"
"Besok aku akan menemani ibunda Ratu, ibunda selir dan kakanda kesana, kamu ikut aku saja, siapa tahu bidadari di sana mau membantu."
"Benarkah? aku bisa bertemu orang tuaku?" tanya anak kecil itu dengan antusias.
"Aku tidak tahu tapi dicoba saja." Putri mengangguk senang. "Kemarilah, kamu istirahat di dalam saja bersamaku."
"Tidak, aku sudah terbiasa tidur di bawah pohon. Besok aku ikut dengan kamu tapi kamu jangan bilang siapa-siapa ya kalau aku ikut."
"Kenapa? nanti ibunda ratu bisa marah kalau tidak ijin."
"Aku mohon jangan bilang ya, aku tidak mau mereka marah dan mengusir ku."
Putri itu menyetujuinya lalu menutup jendela kamar dan tidur lelap menunggu hari esok. Paginya, putri terbangun dan cepat-cepat membuka jendela kamar tapi anak itu sudah tidak ada di sana lagi, si putri kecewa dan tetap memegang janji tidak mengatakannya kepada siapapun termasuk pengasuh yang ia sayangi.
Sesampainya, sang putri merasa bosan. Dia duduk merenung di atas batu lalu ia melihat anak kecil itu menghampiri dirinya dan tersenyum. Si putri melihat penampilan lusuh anak itu yang hanya memakai ****** ***** kotor dan mengira penyebab anak itu tidak mau diketahui karena penampilan lusuhnya.
"Terima kasih sudah mengajakku kesini."
"Kamu sudah bertemu dengan orang tua kamu?"
Anak laki-laki itu menggeleng. "Aku ingin berada disini, tempat ini aman untukku dari kejaran orang jahat."
__ADS_1
"Kamu tidak ikut ke istana bersamaku?"
"Tidak. Tapi aku akan membayar hutang budiku padamu."
"Tidak usah." Putri itu menggeleng. "Aku senang melihat rakyatku bahagia, semoga kamu bisa bertemu dengan orang tuamu."
Anak itu mengangguk senang dan pergi jauh meninggalkan putri itu. Sang putri tidak dapat melupakan pertemuan dengan teman kecilnya sampai ia berusia 15 tahun dan jatuh sakit. Berbagai cara dikerahkan tapi nihil.
Raja dan ratu sedih sementara sang selir bersorak gembira, dengan ini anaknyalah yang akan naik tahta.
Tak lama muncul kabar ada tabib yang dapat menyembuhkan penyakit putri. Ratu menemani putrinya menemui tabib itu tapi naas, kereta bersama pengawalnya jatuh ke jurang diserang perampok. Kesedihan raja semakin besar, ia kehilangan anak dan istri yang dicintainya.
Sementara sang selir tertawa bahagia mendengar kabar duka itu karen perampokan rombongan ratu memang sudah ia rencanakan.
Di ambang kematian, sang ratu yang memeluk erat putrinya menangis keras. Ia melihat seseorang memakai jubah berwarna hitam dan panjang berjongkok disampingnya.
"Kau akan menolong kami?" tanya ratu terbata-bata.
"Ya. Aku akan menolongmu meninggalkan dunia ini."
Sang ratu mengerti maksud orang itu. "Sebelum aku meninggalkan dunia ini bisakah aku meminta tolong?"
"Apa itu?"
"Selamatkan dan sembuhkan putriku." Mohon ratu.
Ratu menarik jubah orang itu. "Kumohon, aku tidak mau suamiku bersedih. Kami saling mencintai, kami baru dikaruniai anak. Suamiku menangis karena tidak berdaya dengan aturan istana untuk memiliki pewaris dan memiliki anak dengan perempuan lain paksaan istana. Aku mohon, anak ini cinta kami berdua."
Mendengar permintaan pilu sang ratu, orang itu mengabulkan permohonan ratu. Dia terpaksa memberikan jantungnya ke putri supaya bertahan hidup dari melawan kematian.
"Tahukah kamu bahwa anakmu tidak mati? Yang mati adalah pelindungnya, suamimu melindungi putrinya melalui pelindung, kalian menjadi begini karena ulah manusia bukan kecelakaan."
Ratu mengangguk pelan. "Aku tahu."
"Putrimu tidak memiliki pelindung lagi, aku sudah memberikan jantungku pada putrimu sebagai perlindungan dan putrimu sudah kembali sehat. Sekarang putrimu sudah aku tandai sebagai milikku sebagai gantinya aku bisa mencabut nyawa putrimu sesuai kehendak ku."
Ratu tersenyum dan mengucapkan terima kasih, setelahnya orang itu mencabut nyawa ratu dan membawa putri ke suatu tempat untuk merawatnya.
Saat putri terbangun ia melihat seorang pemuda duduk tidak jauh dari tempat tidurnya yang terbuat dari kayu. "Siapa anda?"
"Saya penyelamat anda."
"Ibunda, bibi dan lainnya?"
"Mereka sudah meninggal, jatuh ke jurang yang dalam. Mereka tidak bisa diselamatkan, hanya anda yang bisa saya selamatkan."
Sang putri menangis.
__ADS_1
"Hapus air mata anda, akan sia-sia anda menangisi orang yang sudah pergi." Pria itu sudah duduk disampingnya dan menghapus air mata putri. "Tidak pantas seorang putri raja menangis di depan rakyat biasa seperti saya."
Sang putri terkesima dengan wajah tampan pemuda itu. "Siapa anda?"
"Sudah saya bilang saya-"
"Nama." Potong putri dengan tidak sabar. "Siapa nama anda?"
Raut wajah pemuda itu berubah menjadi murung. "Saya tidak memiliki nama, saya terlahir tidak bernama."
Putri menjadi iba lalu mendapat ide, "kalau begitu nama anda sekarang Jaka."
"Jaka?"
"Iya. Dulu ayahanda akan memberi nama itu pada anak di perut selir, kalau perempuan bernama Wulan dan kalau laki-laki bernama Jaka."
Entah kenapa hati pemuda itu menjadi senang, lalu ia memberikan sebuah cincin berwarna merah darah pada putri. "Cincin ini sebagai penanda jika anda dalam bahaya, saya akan datang secepatnya untuk menolong anda."
Putri itu memasang cincinnya di jari manis kiri dan mengaguminya. "Indah sekali."
"Cincin itu keseluruhannya terbuat dari batu ruby."
"Saya akan menyimpannya dengan baik. Terima kasih."
Pemuda itu tersenyum. "Jika kondisi anda sudah membaik. Saya akan membawa anda ke istana untuk bertemu raja, tapi ingat jangan mengatakan pada siapapun tentang saya dan bagaimana anda selamat, katakan saja bahwa anda sudah berada di kereta pedagang yang sedang singgah."
"Kalau ayahanda bertanya pedagang yang mana?"
"Tidak akan ada yang bertanya lebih jauh. Percayalah."
Putri mengangguk setuju. Setelah merasa lebih baik, keesokan harinya ia dibawa ke istana. Putri dan pemuda itu berpisah di depan gerbang istana. Mengetahui putri kesayangannya kembali Raja bersuka cita dan menangis bahagia.
"Bagaimana putri ayahanda bisa kembali? Berhari-hari ayahanda mengerahkan orang-orang untuk mencari putri, kabar terakhir kereta dan pasukan diserang perampok." Raja memeluk putrinya, setelah sang putri dibawa ke dalam istana menemui ayahandanya.
"Ananda bisa sembuh berkat kemurahan hati Tuhan, ananda sendiri tidak mengerti kenapa bisa selamat. Yang ananda tahu, ananda sudah berada di depan rumah salah satu rakyat."
"Bagaimana kesehatan ananda? sudah bisa bernapas biasa?"
"Iya ayahanda, ananda sudah tidak sesak napas lagi."
"Lalu ibunda?"
Wajah putri berubah murung. "Kata orang-orang, ibunda sudah meninggal bersama bibi."
Raja menghela napas sedih. "Ya sudah, yang penting putri ayahanda selamat. Ayahanda akan membuat pesta untuk rakyat sebagai rasa syukur putri ayahanda selamat."
Sang selir yang juga berada di sana berusaha menahan amarahnya karena gagal membunuh putri. Tak lama pesta selama tujuh hari tujuh malam digelar di istana dan beberapa desa atas kembalinya putri kesayangan raja.
__ADS_1