KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
EMPAT PULUH TIGA


__ADS_3

Seroja menurunkan tangan. Memberikan kesempatan Andrea untuk bicara ke ayah kandungnya.


"Apa benar, saat Andrea masih di dalam kandungan- bapak membuat pertukaran nyawa Andrea dengan bapak?"


Mahmud terkejut dengan pertanyaan Andrea. Ia tidak menyangka Andrea mengetahui hal ini.


"Jadi benar?" tebak Andrea saat melihat diamnya bapak. "Jadi itu semua benar? Lalu untuk apa bapak baik padaku?"


"Itu sudah lama. Toh kau masih hidup."


Bahkan orang ini tidak mengelak?


"Saya menerima kau di Bali karena hidup kau miskin bersama ibu kau."


Itu karena bapak meninggalkan kami bertiga sehingga hidup dari belas kasihan keluarga demi perempuan lain, bahkan menjual rumah untuk kehidupan baru bersama perempuan lain tanpa sepengetahuan kami.


"Saya sudah bilang dari awal, saya tidak akan menolong orang yang tidak bersama saya."


Kenyataannya bapak menghamili perempuan lain.


"Tapi apa? Kau malah membalas kami dengan air tuba."


Ini sudah sering ia dengar.


"Kau tidak becus kerja, kau tidak bisa apapun, sudah untung saya membayar kau banyak."


Andrea tersenyum sedih, air matanya kembali menetes. Tidak tahukah bapak? Aku bekerja keras, melupakan semuanya, dihina, dimaki, dilecehkan. Tidak sepatah katapun aku mengadu dan mengeluh.


Andrea merasakan ada yang menutupi kedua matanya. Siapa?


"Jangan menangisi orang yang sudah menyakiti kamu, meskipun itu ayah kandung kamu sendiri."


Andrea tidak percaya dengan pendengarannya. Mas Jo?


"Kamu!" hardik Jonathan.


Teman Jonathan yang sudah bisa dilihat mata manusia, berdiri di belakang Jonathan dnegan penampilan seperti manusia.


"Kamu sudah bilang kan kalau Andrea bukan anak kamu lagi." Jonathan menatap tajam Mahmud. "Aku akan menerimanya, dia bukan anak kamu lagi."


"Jonathan!" tegur teman Jonathan.


"Kamu tidak tahu masa lalu Andrea, jadi diamlah." Hardik Jonathan.


"Tapi dalam peraturan-"


"Aku tahu!" Jonathan memotong perkataan temannya. "Tapi aku kesal dari perbuatan dia beberapa tahun lalu dan sekarang, tanpa tahu malu mengatakan hal itu."


Teman Jonathan terdiam.


"Kamu siapa?" tanya Mahmud.


"Aku? untuk apa kamu ingin tahu?" Jonathan balas bertanya.


"Anak-anak, ayo masuk ke dalam tenda." Ina menarik kedua anak kembarnya dan mengajak kedua anak lainnya masuk ke dalam tenda.


Seruni menghalangi Ina. "Mau kemana kamu?"


Ina menatap Seruni.


"Biar semua orang tahu betapa bejatnya kalian, biar ke empat anak ini tahu bagaimana murahannya kamu," ucap Seruni.


"Kau-" Ina tidak terima dengan perkataan Seruni.


"Kenapa marah? kalau kamu merasa terhormat, tentu saja tidak menikah dengan pria beristri. Oh, aku salah- kamu hamil di luar nikah bersama pria beristri bukan? dan dengan bangganya menambah anak." Ejek Seruni yang mengeluarkan segala uneg-unegnya.


"Apa kau tidak punya malu? membuka aib di depan orang banyak?!" seru Ina ke Andrea.


"Tidak, justru harusnya kamu yang malu- bukan Andrea. Dasar pelacur!" teriak Seruni.


Teman Jonathan bergidik ngeri melihat amarah Seruni.


Mata Ina melihat sekeliling kemah. Saat ini mereka menjadi tontonan pengunjung kemah. "Kalian benar-benar tidak punya malu, tidak bisa menghargai orang lain."


"Kalau kamu ingin dihargai, berkaca kepada dirimu sendiri." Balas Seruni.

__ADS_1


Ina diam melirik kesal Seruni. Semakin dia mengatakan sesuatu, semakin pedas balasan Seruni.


"Saat ini ada yang menghunuskan pedang di belakang kamu, sekarang kita melakukan pertukaran saja." Jonathan menatap muak Mahmud.


" Pertukaran?" tanya Mahmud tidak mengerti.


"Aku menginginkan peliharaan kamu." Kata Jonathan.


"Peliharaan?"


"Jangan berpura-pura bodoh! Kamu pasti memilikinya," kata Jonathan.


"Saya tidak tahu apa yang kau katakan."


Sudut bibir Jonathan terangkat sedikit.


"KETEMUUU!!!" Aya berlari ke Jonathan melewati Ina dengan kasar sambil mengangkat benda panjang berbungkus kain di tangan kanannya. "Inikan yang kalian cari?"


Teman Jonathan maju dan mengambil keris di tangan Aya, ia membuka bungkusan kain berwarna putih dan tersenyum. "Benar. Ini yang kita cari."


"Untuk apa kalian menginginkan itu?" tanya Mahmud.


"Tentu saja menghancurkannya." Jonathan tersenyum penuh kemenangan.


Mahmud terkejut dengan perkataan Jonathan. "Ap-"


"Seroja. Ini sudah masuk ranah pribadi, apa kamu bisa membuat pelindung di sekitar sini, menghapus ingatan orang-orang yang melihat serta membuat ilusi?" tanya Jonathan ke Seroja.


Seroja mengerutkan kening. "Kamu tidak bisa memerintah saya."


"Demi Andrea." Kata Jonathan.


Seroja menatap Andrea yang matanya ditutup Jonathan. Ia menghela napas, menghilangkan pedang dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi untuk melaksanakan permintaan Jonathan.


"Dengan ini pihak luar tidak tahu kebusukan kalian, berterima kasihlah." Senyum Seruni.


Seruni. Panggil Andrea di dalam hati.


Seruni, Seroja, Jonathan dan temannya mendengar panggilan Andrea.


Tolong, bisakah kamu membuat ke empat anak itu tidur? Mereka berempat tidak tahu apapun. Kata Andrea di dalam hati.


Seruni melirik Seroja yang sedang konsentrasi tapi tetap mendengar permintaan Andrea.


Seruni memejamkan mata sekilas. "Baiklah."


Teman Jonathan menarik mundur Aya.


Aya hendak menolak.


"Seruni akan menidurkan ke empat anak lainnya, jadi jangan berdiri disana." Bisik teman Jonathan.


Aya pasrah ditarik teman Jonathan dan menatap Seruni yang memejamkan matanya. Tak lama ke empat anak itu, jatuh tertidur di tanah.


Ina yang memegang kedua anak kembarnya di kedua sisi berusaha keras menarik mereka, "Anak-anak, Nda!" teriaknya panik.


Kedua pegawai yang kebingungan sontak memegang anak-anak yang besar.


"Jangan mendekat!" Seruni membuka matanya. "Mereka berempat aku buat tidur. Sesuai harapan kalian, anak-anak tidak boleh tahu kebusukan kalian berdua."


"Sebenarnya kalian mau apa sih?!" teriak Ina sambil berjongkok memegang kedua anaknya.


"Kami ingin membebaskan Andrea." Jawab Jonathan. "Berbeda dengan kalian yang sudah menghancurkan masa depan seorang anak."


Teman Jonathan menunjukan keris yang sudah dibuka kainnya di tangan. "Sekaligus menghancurkannya, sesuai perkataan Jonathan."


"Kalian tidak akan bisa menghancurkannya." Tantang Mahmud.


"Tentu saja, karena keris ini berpemilik," kata teman Jonathan. "Yang bisa menghancurkannya hanya pemilik."


"Keris itu memang punya saya, saya tidak akan menyangkal tapi untuk apa saya menghancurkannya tanpa sebab?" tanya Mahmud yang pura-pura tidak mengerti.


"Tentu saja karena keris ini berisi," jawab Seruni. "Kami hanya ingin menghancurkan isinya, bukan bendanya."


"Isi apa?" tanya Ina.

__ADS_1


"Jangan pura-pura bodoh, aku tahu kalau kamu juga mengikuti ritual itu," kata Seruni ke Ina.


"Heh! jangan menuduh tanpa bukti!" hardik Ina.


"Kami semua disini bukan manusia, selain anak kamu tentunya," kata teman Jonathan. "Jadi kalian berdua tidak bisa membohongi kami."


"Bukan manusia?" tanya Mahmud yang tersenyum tidak percaya.


"Hancurkan ini!" pinta Jonathan. "Ah, aku lupa. Kalau ini dihancurkan, pasti akan ada timbal balik ke kalian berdua."


Andrea menurunkan tangan Jonathan. "Timbal balik?" tanyanya tidak mengerti.


"Tentu saja Andrea, siapapun yang bermain dengan makhluk gaib akan mendapat timbal balik." Tegas Jonathan.


Andrea menggigit bibir bawahnya dan menatap bapak serta istri mudanya gantian, "Apa yang sebenarnya kalian dapatkan dari ini semua?"


"Dia tidak akan menjawab, bagi dia- semua yang dilakukan itu benar." Sahut Jonathan.


Mahmud dan Ina tidak menjawab.


____________________


"Ma." Andre melihat mamanya memijat kepala di kamar. "Mama pusing?"


Mama tersenyum melihat Andre. "Tidak sayang. Kenapa?"


"Kakak kapan pulang?"


"Sebentar lagi kakakmu akan menghadapi ujian nasional jadi harus belajar ekstra. Kenapa tanya begitu? Kangen?"


Andre duduk di tepi tempat tidur mamanya. "Rumah ini jadi dijual?"


Mama mengangguk pelan. "Sudah diiklankan."


"Padahal ada banyak kenangan di rumah ini."


"Doakan saja ya ama punya banyak rejeki untuk kita semua." Mama mengusap pipi Andre.


"Bapak nggak tahu inikan?"


"Tidak. Dia tidak boleh tahu!"


"Tentu saja, dia pasti tertawa melihat kesulitan kita." Andre rebahan di pangkuan mamanya. "Andre tidak mau kakak dan mama sakit lagi gara-gara papa."


"Jangan begitu, biar bagaimanapun dia papa kamu." Mama membelai sayang rambut ikal Andre, tipe rambut yang sama dengan dirinya.


Andre diam sesaat.


"Ma."


"Mhm?"


"Andre tanpa sengaja baca tulisan kakak."


"Tulisan?" mama mengangkat salah satu alisnya.


"Iya. Tulisan tentang papa."


"Emang bilang tulis apa?"


"Katanya benci sama papa, terus juga bilang kalau papa sudah menghancurkan hidupnya."


Mama semakin khawatir karena perkataan Andre. "Kamu yakin Ndre?"


"Yakin ma, sebenarnya mau Andre ambil buat nunjukin ke mama tapi sudah nggak ada sama kakak." Andre yang rebahan menatap mamanya. "Maksudnya kakak apa ya? Apa pas di Bali terjadi sesuatu?"


"Tapi kakak kamu tidak pernah cerita ke mama."


"Ya nggak pernahlah ma, kalau cerita nggak bakalan nulis begitu di kertas."


Mama mencium kepala Andre. "Udah, tidur aja disini- nggak usah mikirin itu, biar nanti mama tanya ke kakak."


Andre mengangguk lalu mengubah posisi tempat tidur di samping Mama.


Mama menyelimuti Andre dan mencium kepalanya. Setelah Andre cerita hal itu, entah kenapa perasaannya berubah tidak enak.

__ADS_1


Andrea.


__ADS_2