
Kaze menggeleng pelan, ia tetap menunduk. "Tidak, saya hanya teringat sesuatu."
Laura berjongkok di samping kursi Kaze, "Ada yang ingin kamu sampaikan?"
Kaze ingin bercerita banyak hal, tapi apakah mereka semua bisa percaya? Dan... bagaimana kalau dirinya cerita? Bukankah malaikat itu sudah mengatakan tidak boleh ada yang tahu siapa dirinya di depan manusia.
"Tidak, saya hanya teringat mengenai keluarga saya... mungkin ini sudah takdir saya untuk sendiri."
"Manusia tidak ada yang bisa hidup sendiri, mereka membutuhkan manusia lain." Laura menggenggam tangan Kaze, "mendengar sebagian kecil kisah hidup kamu... entah kenapa kami teringat dengan masa lalu kami, mungkin inilah yang menyebabkan kami merasa dekat dengan kamu."
Kaze tersenyum kecil. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Tik tok tik tok tik tok."
Kaze menoleh, Angel duduk di atas lemari piring sambil menunjuk jam dinding lalu meletakan jari telunjuknya di depan mulut. Kaze memejamkan mata sekilas, Angel memberikan peringatan pada dirinya.
Ratna mengikuti pandangan Kaze. Tidak ada apa-apa.
"Dua jam lagi, manfaatkan sebaik-baiknya." Angel mengingatkan Kaze lalu menghilang.
"Nak Angin?" panggil Ratna.
Kaze melepas genggaman Laura lalu meminum susu cokelatnya sampai habis, "boleh saya tambah susu cokelatnya?"
Ratna tersenyum dan mengangguk.
"Biar aku yang buatkan." Laura mengambil cangkir Kaze lalu pergi ke dapur.
"Semangat anak muda." Thomas berhigh five dengan Jill.
___
Jonathan melihat nisan tidak bernama, hanya tertulis tahun kematiannya. Benar kata malaikat berkumis itu, usia sahabatnya sangat muda.
"Baru kali ini aku melihat pemuda tampan berdiri sendirian di depan nisan tidak bernama."
Jonathan mencari sumber suara itu, ia melihat seorang bidadari cantik berambut merah duduk di tempat yang sama seperti tadi pagi. "Bidadari?"
Bidadari itu tersenyum lembut, "malaikat satunya juga menyebut saya bidadari, sayangnya disini saya disebut malaikat, semua malaikat perempuan disini disebut nama Angel."
Jonathan tersenyum, "bahasa Inggris malaikat adalah Angel bukan? Tidak ada bedanya dengan kami."
Angel tertawa, "kamu pintar. Aku tebak usia kamu sudah ratusan tahun."
"Usia yang tidak bisa ditipu oleh iblis seperti kamu." Jonathan menatap tajam Angel, "apa yang kamu lakukan pada teman aku?"
"Jadi itu teman kamu?" Angel tersenyum sinis, "malaikat yang mudah ditipu."
Jonathan menyipitkan kedua matanya dengan curiga. "Apa yang sudah kamu lakukan?"
Angel tertawa lalu menghilang.
Jonathan berdecak. Sahabatnya benar-benar bodoh, mau-maunya terpedaya dengan iblis, kalau begini caranya ia harus bergegas mencari sahabatnya, tapi kemana? London sangat luas, kalau tebakannya benar... waktunya tinggal dua jam lagi.
Malaikat berkumis yang sedari tadi mencari sesuatu menghampiri Jonathan, "sudah ketemu nisannya?"
Jonathan menunjuk nisan tidak bernama di sampingnya.
Malaikat berkumis berjongkok dan melihat tanggal lahir di nisan. "Usianya tiga puluhan? Wow... ini sih masih anak-anak." Malaikat berkumis melihat kegelisahan Jonathan, "kamu kenapa?"
"Tahu dimana anak itu?" tanya Jonathan.
__ADS_1
Malaikat berkumis berdiri, "ada masalah?"
"Dia dijebak iblis."
Malaikat berkumis berdecak, "malaikat muda memang bisa mudah dijebak."
"Kita harus bertemu dia secepatnya."
Malaikat berkumis mengangguk, "ikut aku!"
___
Laura memberikan secangkir cokelat hangat ke Kaze. "Ini mengingatkanku, dulu ibu kami suka minum susu cokelat saat mengandung adik kami."
"Ah, iya... sampai kami protes karena susu milik kami cepat habis." Sahut Aura,
Ratna tersenyum lembut, "itu sudah lama."
Laura duduk kembali dan menggenggam tangan suaminya, "sayangnya adik kami menghilang di dalam kandungan, yang kami tahu hanya jenis kelaminnya saja."
"Apa jenis kelaminnya?" tanya Kaze pura-pura tertarik.
"Perempuan." Jawab Aura.
"Perempuan?" Kaze terkejut. "Bukan laki-laki?"
Laura melirik Ratna. "Waktu itu ibu bilang perempuankan?"
Ratna mengangguk pelan, "anak saya yang hilang perempuan bukan laki-laki."
Kaze semakin bingung dengan penjelasan Ratna, "jadi yang di nisan itu perempuan?"
Kaze menunduk. "Tapi masa lalu kalian..."
"Ya pasti ada orang yang memiliki masa lalu samakan? Ayah pemabuk, ayah penjudi, ayah masuk penjara." Ujar Thomas, "kenapa kamu kebingungan gitu?"
Kaze memijat keningnya. Apa dirinya sudah ditipu Angel?
"Nak Angin?" Ratna hendak menyentuh pundak Kaze.
Kaze menghalau tangan Ratna dengan kasar, menyadari kesalahannya ia menatap Ratna. "Ma... maaf..."
Laura berdiri, "mungkin kamu lelah, kamu bisa istirahat di ruang tamu atau mau kami antar pulang?"
Kaze berdiri. "Saya..."
DING DONG DING DONG DING DONG
"Bel pintu? Siapa malam-malam begini yang berkunjung?" Aura berdiri dan hendak pergi ke ruang tamu, suaminya menangkap tangan Aura.
"Ini bukan suara bel pintu. Ini suara jam."
"Jam? Bukannya sekarang masih jam setengah sebelas?" Laura melihat jam tangannya. "Eh, benar... kok bisa ya jam dua belas? Cepat banget."
Aurel melihat tantenya yang kebingungan. "Kalau jam dua belas, Aurel pasti ngantuk tante."
"Kamu tidak mengantuk?" tanya Aura pada anaknya.
Aurel menggeleng keras. "Tidak."
Laura melihat kedua bayi kembarnya asyik bermain dengan mainannya tidak jauh dari meja makan. "Para bayi juga tidak mengantuk, aneh... mungkin jam tanganku rusak."
__ADS_1
Thomas yang hendak melihat jam di handphonenya mendecak, "waduh... kenapa handphoneku tiba-tiba low batt?"
Jill yang juga melihat handphonenya juga mengangguk, Laura mengambil handphone suaminya. "Biar aku yang charge."
"Tolong ya." Pinta Jill.
Kaze terdiam melihat keanehan yang terlalu tiba-tiba.
"Tidak dibukakan nih?" tanya Aura pada Thomas.
"Kalau itu tetangga, mereka akan telepon rumah kita terlebih dahulu atau masuk ke dalam rumah. Tidak dikuncikan tadi?" tanya Thomas.
"Tidak kok."
Ratna berdiri dan mengambil piring kotor, "ibu bawa piring kotor ke dapur ya."
Kaze ikut berdiri, "saya ikut bantu."
Thomas mengusap bibirnya dengan tisu, "aku dan Jill cek jam di rumah. Kalau ada perlu, panggil kami saja."
Jill mengikuti Thomas keluar dari ruang makan. "Aku bantu Laura bawa kembar dulu ya."
Thomas mengangguk sekilas.
Aurel menguap lebar, "ngantuk."
"Aura bawa Aurel ke dalam kamar ya, setelah itu turun membantu." Aura menggendong Aurel sementara Laura membawa dua bayi kembarnya dengan bantuan Jill.
Kaze mengekori Ratna, ia terkejut melihat Angel berdiri di depan kulkas sambil menatap angkuh dirinya. "Jadi ini semua ulah kamu?"
Ratna menoleh, "nak Angin?"
Kaze meletakan piring kotor di mesin cuci piring, mengikuti Ratna. "maaf... saya bicara sendiri."
"Kamu berharap mereka keluarga kamu ya? Naïf sekali." Angel tertawa sinis. Hanya Kaze yang bisa mendengar dan melihat Angel.
Kaze berusaha menahan amarahnya.
"Nisan itu sangat terkenal di kalangan kami karena... nisan itu milik janin perempuan berusia 8 tahun yang menghilang secara tiba-tiba, kamu pikir nisan tidak bernama itu hanya satu? Konyol!"
Kaze memejamkan kedua matanya sekilas.
"Kau..."
DING DONG DING DONG DING DONG.
"Aku penasaran, memangnya jam besar di rumah kita suaranya mirip dengan bel pintu ya?" Aura masuk membawa piring kotor lainnya bersama Laura.
"Kata Thomas, ia memang sengaja menggantinya sebagai peringatan." Sahut Laura.
"Kalau suaranya seperti bel pintu, aku bisa susah membedakannya." Aura menghela napas.
"Anak-anak sudah di kamar?" tanya Ratna sambil menutup lemari cuci piring.
"Sudah!" Laura meletakan gelas kotor di bak cuci, "biar Laura saja yang melakukannya, ibu istirahat saja."
"Keluarga yang bahagiakan?" ejek Angel di telinga Kaze.
Kaze balik badan, ia melihat Angel terbang dengan sayap kelelawarnya. "Jadi... kamu benar-benar iblis." Desis Kaze.
Angel tertawa culas, "malaikat bodoh!"
__ADS_1