KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
SPECIAL KAZE IV


__ADS_3

Jonathan berkeliling kantor mencari Kaze, sudah dua jam keliling ia tidak menemukannya. Padahal hari ini ia ingin menanyakan pendapat temannya itu.


"Hei."


Jonathan menoleh, malaikat berkumis itu melambaikan tangan ke dirinya. "Panggil saya?"


"Ya, kamu." Tunjuk malaikat berkumis itu.


"Ada apa?" Jonathan menghampirinya.


"Daritadi aku melihat kamu keliling nggak jelas, cari siapa? Temanmu?"


Jonathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Iya, anda tahu?"


"Dia di Inggris sekarang."


"Inggris?"


"Iya, mencari ibu kandung dan kedua kakaknya."


"Jadi, dia sudah tahu siapa keluarganya?" tanya Jonathan. "Usia dia bukan ratusan tahun seperti kita?"


Malaikat berkumis itu menghela napas, "enaknya ya kalau sudah mengetahui siapa keluarga kita, aku sendiri saja sampai sekarang tidak tahu siapa keluargaku."


Jonathan duduk di samping malaikat berkumis itu, "jangan-jangan dukun itu yang menculik dirinya saat masih berada di dalam janin?"


"Iya dan kebetulan pula anak itu yang mencabut nyawa si dukun. Ironis ya."


Jonathan merenung kelakuan aneh sahabatnya beberapa hari terakhir yang berubah menjadi pendiam. Tadinya Jonathan ingin bertanya lebih jauh tapi alangkah lebih baik jika sahabatnya sendiri yang bicara, Jonathan tidak ingin terlalu ikut campur masalah sahabatnya. "Lalu apakah anda membantu dia menemukan keluarganya?"


Malaikat berkumis mengangguk pelan, "dia dapat informasi dari si dukun mengenai ayah kandungnya, kalau tentang ibu kandungnya aku tidak tahu... dia hanya memberiku sebuah nama dan nama itu banyak digunakan oleh manusia."


"Kalau boleh tahu, siapa namanya?"


"Ratna. Itu saja, tidak ada nama belakang, tanggal lahir maupun kota tempat tinggalnya. Yang dia andalkan hanya Ratna yang sudah tidak di kota Malang lagi."


"Ratna." Gumam Jonathan, "lalu kenapa dia tiba-tiba di Inggris?"


"Dia tanya ke beberapa makhluk gaib mengenai nisan tidak bernama, yang ia ketahui dari si dukun kalau sahabatmu itu dibuatkan nisan oleh ibu kandungnya, letaknya dimana dia tidak tahu sampai akhirnya ada yang memberi informasi kalau ada nisan yang dibuat tanpa nama dan tanggal atau tahun lahir, hanya tahun ia meninggal dan tempatnya ada di Inggris."


"Tapi di Indonesiakan juga ada banyak."


"Mana ada di Indonesia, rata-rata itu nisan yang sudah rusak. Kamu sudah berapa lama hidup sih?"


Jonathan mengangkat lima jarinya.


"Lima puluh tahun? Pantas saja masih bau kencur seperti sahabatmu itu."


"Lima ratus tahun." Koreksi Jonathan.


"Apa? Kamu lebih tua dariku?" Malaikat berkumis menatap Jonathan tidak percaya, "kamu tidak menipu umurkan?"


"Situkan gudang informasi, kok masih tanya."


"Ya siapa tahu."


Jonathan menghela napas, "jadi dia di Inggris ya... padahal aku mau tanya sesuatu."


"Kamu mau tanya ke anak bau kencur? Sini tanyakan saja sama aku meski kita beda seratus tahun."

__ADS_1


Jonathan mengernyit. "Memang berapa usianya?"


"Empat ratus tahun."


Jonathan tertawa keras, "empat ratus tahun? Ya ampun."


"Tapi begini, gini aku gudang informasi."


"Mhmmm..." Jonathan menimbang-nimbang apakah akan bertanya ke juniornya ini, "pernah dengar tentang anak yang berubah menjadi malaikat lalu kembali menjadi manusia?"


Malaikat berkumis itu mengernyit, "kalau cerita yang dibuang dari surga sering dengar tapi berubah menjadi manusia? Siapa? Emang ada ya?"


Jonathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tidak ada ya?"


"Tidak tuh."


"Yakin?"


"Memangnya sudah berapa lama aku menjadi gudang informasi? Kamu juga tanyanya aneh-aneh saja, kamu dengar darimana cerita sesuatu yang berubah menjadi manusia? Atau jangan-jangan reinkarnasi?"


"Reinkarnasi?"


"Iya! Itu lho! Seperti hewan yang bereinkarnasi menjadi manusia."


"Memangnya ada?"


Malaikat berkumis itu celingukan dan menurunkan volume suaranya, "kalau aku cerita begini jangan sampai ada yang tahu ya."


Jonathan mengangguk.


"Jadi, aku sering dengar kalau manusia-manusia culas dan jahat pada hewan bereinkarnasi menjadi hewan yang dijahatinya setelah hewan itu mengadu kepada Yang di Atas."


"Itu sudah menjadi rahasia umumkan."


"Yang bereinkarnasi menjadi hewankan? Tadi sudah cerita."


"Bukan itu, manusia yang bereinkarnasi menjadi manusia. Jadi ada cerita mengenai manusia yang bereinkarnasi kembali ke dirinya di masa lalu."


"Kembali ke masa lalu? Mengubah alam dong."


"Tidak, tidak. Hanya berubah sedikit, tidak terlalu banyak hanya saja untuk bereinkarnasi kembali ke masanya itu melalui proses yang menyakitkan dan pertaruhan yang besar."


"Seperti?"


Malaikat berkumis itu menunjuk jantung Jonathan.


"Jantung?"


Malaikat berkumis itu mengangguk pelan, "di dunia manusia inti dari kehidupan adalah otak, semua tubuh tidak berfungsi melainkan hanya otak yang berfungsi mereka masih dikatakan hidup tapi kita? Kita pernah mengalami mati sekali yang berarti otak kita sudah bersatu dengan roh kita tapi jantung? Jika kita kehilangan jantung sekali saja..."


Jonathan serius mendengarkan cerita.


"Jika kita kehilangan jantung, maka kita akan hilang tidak berbekas."


"Maksudnya tidak hanya raga tapi roh kita juga?" tanya Jonathan untuk memastikan.


Malaikat berkumis itu mengangguk. "Tepat!"


"Aku dari dulu penasaran kenapa jantung kita tetap manusia? Tidak mengikuti roh kita?"

__ADS_1


"Hah, itu sih gampang!" Malaikat berkumis itu menepuk dada Jonathan, "dengar ya... saat kita berupa janin kenapa yang disisakan jantung kita? Karena kita merupakan bahan makanan mereka."


"Bahan makanan?" Jonathan mulai mengerti. "Aku pernah dengar ada yang menghisap darah untuk kekuatan dan jantung janin atau anak-anak?"


"Makanya kenapa dulu sekali meskipun kita sudah berusia lima puluh tahun, penampilan kita masih anak-anak... karena mereka membutuhkan kita sebagai makanan atau tumbal cadangan untuk atasan yang teratas."


"Dan itu sebabnya kita merasakan sakit atau bisa mengeluarkan darah?"


"Tepat!"


"Mengenai perubahan masa lalu itu bagaimana?"


Malaikat berkumis itu mengangkat kedua bahunya, "kalau itu tidak ada yang tahu, tidak ada di catatan ataupun cerita dari para malaikat besar lainnya. Yang aku dengar itu hanya perubahan sedikit, sedikitnya bagaimana aku tidak tahu, hanya Tuhan yang tahu."


"Begitu ya."


"Pokoknya jangan sampai jantung kamu hilang, kita harus menjaga jantung kita! Wajib! Karena kalau jantung kita sudah tidak ada maka roh kita akan binasa."


"Tapi bagaimana cerita mengenai malaikat yang memberikan jantung kepada manusia?"


Malaikat berkumis itu menyipit curiga, "maksud kamu... pertolongan untuk manusia yang dijadikan target makhluk gaib atau namanya dihapus paksa dari kematian?"


"Memangnya kedua hal itu berbeda?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Aku hanya penasaran."


"Kamu ingin menjadi manusia lagi?" tebaknya.


Jonathan memejamkan matanya dan mengangguk sekilas.


"Sudah kuduga! Daritadi aku tidak yakin dan berusaha membelokan pertanyaanmu tapi kamu malah tetap bersikeras menanyakan hal itu."


"Apakah itu salah?"


"Bukan salah tapi tabu!" Malaikat berkumis itu melepas rangkulannya dan bersandar di tempat duduknya, "jangan ceritakan rencanamu ini kemana-mana. Tabu!"


Jonathan mengusap wajah dengan kedua tangannya, ia mengerang keras. "Makanya ini hal yang ingin aku tanyakan kepada temanku."


"Percuma, jangan tanya sekarang." Malaikat berkumis itu mengibaskan tangannya, "dia sekarang sedang bahagia bersama keluarganya."


"Eh? Dia sudah menemukan keluarganya?"


"Aku hanya menebak dan biasanya tebakanku selalu benar. Jadi, kamu tetap menjadi manusia?"


"Entahlah."


Malaikat berkumis itu menghela napas melihat kegelisahan tercetak jelas di wajah Jonathan, "kamu tahu sudah berapa malaikat yang memiliki nama, tidak memiliki nama dan masa bodoh dengan nama?"


Jonathan menggeleng.


"Jawabannya tidak ada yang memiliki nama dan tidak ada yang masa bodoh dengan nama mereka, biasanya mereka memutuskan membuat nama sesuka hati atau tetap tidak memiliki nama. Kasus seperti kamu banyak dialami kaum seperti kita terutama diusia rentan seperti ini."


"Menurut anda... apakah sahabat saya nanti akan memiliki nama?"


"Kebanyakan kasus janin yang diculik tidak pernah diberi nama oleh kedua orang tuanya, hanya janin yang keguguran saja yang memiliki nama jadi aku tidak tahu apalagi kasus sahabat baik kamu... diakan tumbal ayah kandungnya sendiri meskipun ayah kandungnya memberikan nama, apa dia mau pakai? Aku berani bertaruh tidak! Sementara ibunya? Merasa tidak memiliki kesempatan memberi nama pada bayinya, semua ibu pasti berpikiran seperti itu."


"Padahal nama itu sangat berharga untuk kita."

__ADS_1


"Berkumpul bersama keluarga itu jauh lebih berharga."


___


__ADS_2