KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
SPECIAL KAZE VII


__ADS_3

Kaze mengepalkan kedua tangannya. Kaze sendiri merasa bodoh karena terpedaya dengan mudah oleh iblis.


"Sudah jam 12, aku menagih janjimu padaku."


"Aku tidak pernah membuat janji!" seru Kaze.


Laura, Aura dan Ratna menoleh kaget.


"Janji tetaplah janji. Aku sudah memberikan apa yang kamu inginkan terutama membuat kamu menjadi manusia." Angel memiringkan kepalanya, "apakah malaikat memang pembangkang seperti dirimu?"


"Aku tidak minta menjadi manusia!" Kaze mulai emosi, ia sudah tidak peduli dengan tatapan aneh Aura, Laura dan Ratna. "Yang aku inginkan mengetahui keluargaku! Kamu sudah meni..." Kaze menunduk, ia merasakan sesuatu di kedua kakinya.


"Janji tetaplah janji." Angel menjentikan jarinya.


Kedua kaki Kaze dililit ular berwarna hitam, Kaze berusaha menggerakan kedua kakinya. "Kamu... menjebakku!"


"Aku tidak menjebakmu, aku sudah memberikan apa yang kamu inginkan. Kehangatan keluarga, menjadi manusia dan makan malam bersama keluarga." Angel tertawa, "meskipun keluarga lain."


"Angin, kamu tidak apa-apa?" Aura menyentuh lengan atas Kaze.


Kaze tidak mampu menjawab, kedua kakinya kesakitan. Wajahnya berubah pucat.


"Angin!" Ratna khawatir melihat perubahan sikap Kaze.


Kaze jatuh terduduk, ular hitam itu sudah melilit di pinggangnya. Kedua tangannya berusaha melepas lilitan ular.


"Percuma saja kamu tidak bisa melepas lilitan peliharaan kesayanganku... ah, tadinya aku bingung akan memberikan hadiah apa ke raja kami ternyata aku bisa juga menangkap seekor malaikat, gimana ya rasanya memakan jantung dan menghisap darah malaikat setengah manusia?" air liur Angel menetes.


Kesadaran Kaze mulai menipis.


Laura menepuk pipi Kaze, "Angin, Angin."


Aura lari ke garasi untuk memanggil suaminya, ia membuka pintu belakang dan merasakan hembusan angin melewati dirinya, Aura menoleh ke belakang. Seekor kucing berwarna hitam pekat mendesis di depan pintu kulkas.


"Kucing hitam?" Aura mengernyit.


"Aura! Jangan melamun! Panggil suami kamu!" seru Ratna.


Aura mengangguk lalu pergi keluar.


"Angin!" Laura menepuk pipi Kaze yang sudah pingsan.


"Angin!"


-Past-


"Angin." Tunjuk Laura kecil pada ibunya, "angin."


"Iya, laura merasakan angin ya?" Ratna mengibaskan pakaian untuk dijemur. "jangan keluar halaman ya sayang, rumputnya belum dicabut."


"Ibu tidak ke kantorr?" Aura duduk di samping Laura sambil membawa jeruk. "Laura mau?"


Laura mengangguk. "Tolong."


"Iya, iya... kakak kupaskan." Aura mengupas jeruk.


"Ibu libur sayang."


"Terus bapak?"


Ratna menghela napas. "Bapak kamu masih sibuk sayang."


Aura memberikan jeruk ke Laura, "sebentar lagi Aura smp, ibu tidak keberatan dengan biayanya?"


"Memangnya kenapa nak?" Ratna mengernyit.


"Aura pengen masuk SMP favorit tapi sepertinya bapak tidak setuju."


Ratna menghela napas. "Nanti kita bicarakan ke bapak ya."


Samar-samar terdengar suara mobil masuk garasi.


"Itu pasti bapak!" Aura lari keluar.


"Jangan lari-lari, nanti jatuh!" seru Ratna.


Aura menghentikan langkahnya lalu berjinjit pelan supaya tidak menimbulkan suara. Hari ini ia harus menjadi anak baik menuruti perkataan ibunya.


Aura tersenyum senang melihat bapaknya masuk ke dalam rumah, "bapak!" serunya sambil memeluk punggung bapaknya.


"Aura, bapak capek." Bapak Aura melepas kasar pelukan Aura.

__ADS_1


Aura terdiam, ia melihat beberapa hari ini bapaknya mulai berubah. "Mau Aura buatkan teh?"


"Jangan ganggu bapak! Main sana!" Hardik bapak.


Aura lari ke dalam kamar.


Ratna yang mendengar keributan itu bergegas menuju ruang tamu. "Ada apa?"


"Aura mengganggu aku!" bapak masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam maupun melirik Ratna.


Ratna menghela napas melihat perubahan sikap suaminya. "Apa ini gara-gara usaha kamu yang mulai bangkrut?"


Bapak balik badan.


"Pi, seharusnya papi tidak boleh begini sama anak-anak, mereka tidak tahu masalah rumah tangga kita pi. Masalah bengkel sudahlah."


"KAMU SADAR TIDAK SIH SUDAH BERAPA BANYAK AKU RUGI?!" bentaknya.


Ratna berusaha menyabarkan diri, "tapi bukan seperti itu pi, jangan melibatkan anak-anak."


Suami Ratna melepas tas kerjanya. "Kamu sadar kalau kita sudah tidak punya uang? Kamu sadar anak di perut kamu itu menghabiskan banyak biaya?"


"Astagfirullah." Ratna mengelus dadanya, "papi, ini anak papi."


"Malam ini aku mau keluar!"


"Cari apa malam-malam keluar? Istirahatlah di rumah." Saran Ratna, suaminya pergi ke kamar dan mengabaikan sarannya.


"Ibu." Aura menghampiri Ratna.


Ratna berjongkok dan tersenyum, "Aura bisa ke kamar kakak?"


Aura mengangguk kecil dan lari kecil ke kamar kakaknya.


Ratna menghampiri suaminya di dalam kamar, ia melihat sang suami duduk menonton TV. "Pi... jangan membuat anak-anak takut."


"Kalau mereka tidak senakal itu, tidak mungkin aku marah!" jawab suaminya dengan kasar.


"Anak-anak nakal bagaimana? Mereka biasa saja sama aku."


"Bagi kamu mereka tidak nakal, tapi bagi orang lain mereka sangat nakal!"


"Kamu kalau tidak tahan dengan aku, keluar saja dari rumah ini!"


Ratna lemas mendengar perkataan suaminya, ia duduk di atas tempat tidur. "Pi, apa setiap mami bicara baik-baik, papi selalu berkata seperti itu?"


"Kalau kamu tidak tahan keluar dari rumah! Saya kepala keluarga rumah ini."


Ratna mengelus dadanya. Ya Tuhan. "kalau gitu, kita ganti topic. Tadi pagi mami cuci jas papi... kenapa ada bon pembelian gelang emas? Bukannya papi tidak punya uang?"


Suami Ratna menjadi salah tingkah. "Itu titipan teman."


"Titipan?" tanya Ratna tidak percaya.


"Oh iya, mami juga mau beli? Papi ada tempat yang jual cincin emas, mamikan Cuma puna cincin pernikahan saja."


Ratna mengernyit. Ia tidak percaya dengan perubahan mendadak sikap suaminya.


"Sebagai hadiah ulang tahun mami."


Ratna menghela napas dan mengangguk. "Minggu kita keluar bareng anak-anak sekalian."


Di hari Minggu, sesuai janji. Ratna sekeluarga pergi ke toko emas, Ratna memilih cincin emas yang diinginkan, suaminya menggeleng tidak setuju karena terlalu mahal. Akhirnya Ratna memilih cincin emas sederhana berbentuk kupu-kupu. Sang suami setuju karena cincin itu paling murah.


Aura yang menggendong Laura memandang sinis bapaknya. "Bisa beli cincin dua juta buat orang lain tapi tidak bisa belikan cincin berharga sama ke ibu." Gumamnya pelan.


Setelah membeli cincin, mereka pulang ke rumah. Aura melihat seseorang berjubah hitam mengikuti mereka dari mall sampai pulang ke rumah, samar-samar ia mendengar bisikan.


'Kasihan.'


'Sebentar lagi pria itu akan mati.'


'Baguslah, pria itukan suka menyakiti istri dan anak-anaknya.'


'Malaikat pencabut nyawa akan datang.'


'Dia akan datang.'


'Lihat, malaikat itu sudah berdiri di depan rumah.'


'Makanan datang.'

__ADS_1


Esoknya, Aura membuka gorden jendela kamar yang berhubungan dengan taman kecil depan rumah, karena pagarnya kecil, Aura bisa melihat seseorang memakai jubah hitam panjang berdiri di depan rumah sambil menunduk.


"Kakak lihat apa?" Laura jinjit di samping Aura.


Aura menggendong Laura, "lihat orang memakai jubah itu nggak?"


Laura mengangguk. "Laura sudah melihatnya dari kemarin di taman depan."


Aura menoleh, "kok nggak bilang kakak?"


"Laura sudah bilang mama, tapi kata mama tidak boleh bohong... terus jangan bilang ke kakak." Laura melirik takut Aura, "memangnya itu orang jahat ya kak?"


Aura menggeleng kecil, "kakak nggak tahu."


"Kakak nggak takut?'


Aura terdiam.


"Aura, Laura." Panggil Ratna, "bapak sakit, jangan berisik. Ayo, waktunya tidur siang."


Laura lari ke Ratna sementara Aura menyeret langkahnya mengikuti Ratna masuk ke dalam kamar. Di kamar Aura dan Laura melihat orang berjubah itu berdiri di samping tempat tidur bapak mereka.


Laura melepas pegangannya dan memeluk Aura, "kakak..."


Aura mengernyit, ia melihat jendela kamarnya terbuka lebar.


Orang berjubah itu mengangkat tangannya, dari belakang muncul sesuatu. Aura berteriak, "AWAS!"


Orang berjubah itu menoleh ke belakang dan dengan sigap melindungi dirinya dengan jubah hitamnya.


Ratna berdiri, "Aura! Kenapa teriak?"


"Ada cicak jatuh ma." Jawab Aura sambil menutupi mulut adiknya.


"Terus kenapa mulut Laura digituin?"


"Biar nggak teriak bangunin bapak."


Ratna mengelus perutnya yang membuncit, "kalian ini... jangan berisik ya."


Laura dan Aura mengangguk bersamaan.


Aura melihat orang berjubah itu sudah menghilang entah kemana, Aura menggandeng Laura menghampiri bapak mereka yang sedang tertidur pulas karena minum obat. "Bapak sakit bu?"


"Iya, kencing batu." Ratna mengangguk, "tidur di samping bapak ya."


Laura meremas tangan Aura dengan ketakutan.


Aura menghela napas, "kenapa tidak dibawa ke rumah sakit bu?"


"Bapak yang tidak mau." Jawab Ratna.


"Aura tidur di kamar sebelah aja ya, Aura nggak mau ganggu bapak." Aura menarik Laura keluar kamar.


"Kalian berdua berani tidur sendiri? Disini saja, kamarnyakan lebih luas." Kata Ratna.


"Nggak usah bu, kami tidur siang di kamar sebelah saja." Aura menutup pintu kamar.


"Jangan main ya, beneran tidur lho." Seru Ratna.


"Iya bu." Sahut Aura yang membuka pintu kamar sebelah. Ia terkejut orang berjubah itu duduk di atas tempat tidur sambil menunduk.


"Kakak." Laura berdiri di belakang Aura dengan ketakutan.


Aura menutup pintu, "kamu malaikat pencabut nyawa ya?"


Orang berjubah itu terkejut lalu membuka tudung jubahnya, "jadi benar kamu bisa melihat saya?"


Orang berjubah itu ternyata seorang pria dewasa, wajahnya sedikit gembul dan baby face. Aura tahu istilah itu dari anime yang selalu ditontonnya. "Mau apa om kesini?"


"Sebelum itu... kamu bisa melihat apa yang menyerang saya?"


"Bisa. Memangnya om tidak bisa?"


Pria berjubah itu menggeleng, "saya tidak bisa merasakannya... kalau tidak ada peringatan dari kamu, saya bisa mati."


Laura menatap lekat pria berjubah itu, "om nggak jahat?"


Pria berjubah itu tertawa, "pekerjaan saya memang jahat di mata manusia."


Laura menatap kakaknya tidak mengerti.

__ADS_1


__ADS_2