KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
EMPAT PULUH


__ADS_3

FLASHBACK


Jonathan membuka matanya perlahan, ia melihat cahaya matahari berusaha menyelinap ke matanya yang berusaha beradaptasi.


Dimana ini? surga? neraka?


Jonathan berusaha mengingat saat dirinya nekat terjun ke jurang untuk menemani Andrea, ia sadar tidak bisa melindungi Andrea dengan kekuatannya saat ini. Tapi-


Jonathan melihat sisi kanannya, kepala Andrea. Ia mengangkat telapak tangan kananya perlahan, darah mengalir deras.


"Jangan bangun dulu."


Jonathan memicingkan matanya, otaknya berusaha berpikir.


"Sudah aku bilang, jangan bangun dulu."


Jonathan melihat seorang pria duduk di sampingnya sambil mengangkat tangan di atas tubuhnya dan Andrea. "Siapa-"


Pria itu tersenyum. "Tenang, aku bukan malaikat ataupun penunggu neraka."


Jonathan semakin tidak mengerti perkataan pria itu. Meskipun dirinya seorang pria, ia mengakui betapa tampan pria itu, kalau bukan malaikat atau iblis lalu siapa? manusia? tidak mungkin manusia ada disini. Di kedalaman jurang.


"Tidak usah berpikir banyak, nanti kepalamu semakin sakit."


"Aku tidak mengerti, seharusnya aku sudah mati."


"Tidak akan, kamu tidak akan mati. Karena kita sudah bertemu, maka saya pastikan kamu tidak akan mati."


"Siapa sebenarnya anda?"


Pria itu kembali tersenyum. "Apakah seorang malaikat seperti dirimu sekarang mementingkan sebuah identitas?"


Jonathan menggeleng pelan. "Aku tidak bermaksud begitu."


"Aku hanya menghentikan pendarahan mu, kekuatanku tidak cukup untuk menyembuhkan kalian berdua. Maafkan aku."


"Aku sendiri tidak tahu bagaimana rasanya terluka parah seperti ini."


"Jarang memang ada yang terluka parah seperti ini. Malaikat tidak bernama tidak bisa disentuh makhluk apapun kecuali saat dia lengah."


Jonathan menoleh ke pria itu. "Anda-"


"Tunangan kamu, sudah berhenti pendarahannya." Pria itu menarik tangannya.


Dengan sigap, Jonathan memeluk erat Andrea.


"Tenang saja, aku tidak mengambil dua jantung tunangan kamu-"


"Siapa sebenarnya kamu?!" Jonathan benar-benar harus berhadapan dengan makhluk di hadapannya ini.


Pria itu menunjuk dada Jonathan. "Keris kamu yang disini mana?"


Jonathan meraba dadanya yang masih berbalut jas. Kosong! Hilang!


"Jangan menatapku seperti itu." Pria itu tertawa keras saat Jonathan menatap curiga dirinya.


"Tidak mungkin hilang begitu saja."


"Bisa hilang kok."


Jonathan menaikan salah satu alisnya.

__ADS_1


"Seberapapun kamu melindunginya, keris itu bisa menghilang alias bebas!"


Jonathan mengerutkan kening. "Saku jas dan kekuatanku tidak bisa-"


"Saat ini kamu hanya punya ¼ kekuatan malaikat pencabut nyawa, saat kamu jatuh dan terluka, otomatis pelindung kamu pecah dan keris itu bisa bebas pergi."


Jonathan mengutuk kebodohannya, apa yang dikatakan pria misterius ini benar. Ia benar-benar tidak bisa berpikir karena memikirkan keselamatan Andrea.


Pria itu tertawa. "Cinta itu memang buta ya," sindirnya.


Jonathan tidak bisa membalas perkataan orang itu. "Kenapa kamu menolongku?"


"Apakah perlu alasan?"


Jonathan tidak menjawab, ia menatap langit dan tingginya bebatuan jurang. Tidak terlihat atasnya.


Pria itu menghela napas. "Aku menolong kamu tidak gratis."


Jonathan tertawa sinis. "Sudah kuduga."


"Kamu dan tunangan kamu tidak boleh mati, itu juga menjadi salah satu alasan menyelamatkan kamu."


"Aku tidak mengerti." Bahkan Jonathan pun tidak mengerti bisa bicara panjang lebar tanpa merasakan sakit meskipun tubuhnya penuh darah, orang ini memang menghentikan pendarahan tapi tidak menyembuhkan, bagaimana bisa-


Pria itu mendekatkan wajahnya di depan wajah Jonathan. "Namaku, Jaka. Dan aku dulunya malaikat pencabut nyawa juga."


Jonathan terkejut dengan pernyataan orang itu. "Itu-"


"Kamu pasti pernah mendengar kisah lama aku bukan? bahkan aku yang memelopori semua itu. Akulah yang bersikeras membuat para bidadari mendukung ritual dan akulah yang mencari cara agar kita bisa kembali menjadi manusia, meski itu sulit."


"Reinkarnasi?"


"Tidak ada yang tahu tentang hal itu, junior. Yang tahu kehidupan setelah meninggal hanya malaikat dan Tuhan, bukan bidadari maupun malaikat tak bernama seperti kita." Jaka memiringkan kepalanya. "Kita harus meninggalkan tempat ini secepatnya."


"Dari kejauhan aku mendengar seseorang datang akan menyelamatkan tunangan kamu, aku tebak dia adalah pelindung."


Seroja?


"Lihatlah di sisi kanan kamu!" perintah Jaka.


Jonathan menuruti perintah Jaka, ia melihat seorang pria berdiri dari kejauhan. Jonathan memicingkan matanya untuk yakin. "Itu-" ia melihat pria tua berbadan kurus dengan rambut uban putih dan wajah bengis.


"Ya, dia adalah dukun yang mengambil jiwa kamu."


"Kenapa dia disini? bukankah dia sudah mati?"


"Apa kamu lupa dasar perjanjian kekuatan dengan pertukaran jiwa?"


Jonathan tahu itu, tapi ia tidak menyangka akan hal itu. Masih segar di dalam ingatannya bagaimana dukun itu berusaha menyakitinya hanya karena tidak patuh.


"Dia sudah menemukan kamu, dia ingin menangkap kamu."


"Bukan Andrea?"


"Sepertinya dia ada dendam pribadi denganmu, kalau tidak- dia pasti membawa yang lain ke sini untuk menangkap dan mengambil jantung tunangan kamu."


"Aku tidak bisa membiarkan Andrea disini begitu saja."


"Kita akan pergi, begitu pelindung tunangan kamu sudah dekat. Dukun itu perlu waktu banyak untuk mendekat kesini."


"Aku-"

__ADS_1


"Dengar, kita tidak punya banyak waktu lagi." Pria itu menggertakkan giginya. "Kamu mau selamat dan menyelamatkan semuanya atau mati konyol disini dengan banyak orang terseret masalah kamu?"


Jonathan melirik atas kepala Andrea. "Baiklah." Jawabnya setelah menimbang sesaat.


"Sebentar lagi dia mendekat. Aku hitung mundur, kamu harus bersiap- lima- empat- tiga-" Jaka memejamkan matanya sambil berhitung dan memegang tangan Jonathan. "Dua-"


Jonathan memejamkan matanya.


Jaka membuka mata dan tersenyum. "Satu!"


Jonathan membuka matanya setelah merasakan sesak napas sekilas, begini kah rasanya teleport untuk manusia biasa apalagi yang lemah seperti dirinya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Jaka sambil membantu Jonathan duduk.


Jonathan bernapas tersengal-sengal, ia baru merasakan efeknya sekarang.


"Tarik napas perlahan lalu hembuskan." Kata Jaka sambil membuat gerakan supaya tidak dicontoh.


"Di... mana?"


"Apa?" Jaka mendekatkan telinganya.


"I... ni... di... ma... na?"


"Oh, kita hanya kabur berjarak beberapa puluh kilometer saja dari tempat semula, aku tidak bisa pergi jauh mengingat betapa tuanya diriku."


Jonathan menatap sinis Jaka.


"Kamu punya wadah tidak?"


Jonathan menaikan salah satu alisnya.


"Aku tidak bisa keluar lama kalau tidak ada wadah."


Jonathan masih menatap Jaka.


"Seperti boneka supaya aku bisa bergerak bebas, masalahnya aku tidak bisa bergerak bebas kalau keluar dari hutan. Akan ku ceritakan nanti sebabnya, yang terpenting carikan aku wadah baru aku bisa membantu kamu."


Jonathan masih tidak percaya dengan perkataan Jaka tapi mau tidak mau ia harus berterima kasih karena telah ditolong. "An... dre...a..."


"Apa?"


"Ka... ma...r.." Jonathan memegang tangan Jaka, berharap orang ini bisa membaca pikirannya.


"Aku tidak bisa membaca pikiran kamu, tapi aku bisa melihat kamar dengan beberapa boneka, apakah itu kamar tunangan kamu?"


Jonathan mengangguk kecil.


"Tidak apa jika aku meminjam dan mengotorinya?"


Jonathan menghela napas. Andrea pernah marah karena dirinya tidak sengaja duduk di atas bantal doraemon kesayangan Andrea.


"Dilihat dari raut wajahmu sepertinya terlarang ya?" Jaka tersenyum kecil. "Tapi kamu tidak punya pilihan bukan? Kalau kita mencuri, akan ada yang mencatat dan menghukum kita langsung."


Orang ini benar-benar tahu peraturan malaikat tak bernama. Batin Jonathan.


"Baiklah, kamu ke kamar Andrea." Jaka menepuk pelan pundak Jonathan.


Jonathan menaikan alisnya.


"Aku tidak bisa masuk ke sana, ada pelindung. Yang bisa masuk ke sana hanya tunangannya dan beberapa makhluk tidak penting." Jaka memegang tangan Jonathan, "aku beri waktu 10 menit untuk mengambil boneka, setelah itu aku menarik kamu kesini. Kita tidak punya banyak waktu karena lukamu sudah cukup dalam."

__ADS_1


Jonathan mengangguk kecil. Dia sudah tidak punya ide lagi.


FLASHBACK END               


__ADS_2