KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
EMPAT PULUH DUA


__ADS_3

"Jadi benar, keris itu sudah kembali ke pemiliknya?" tanya teman Jonathan tidak percaya. "Percuma saja kami berdua mutar-mutar tidak jelas."


"Dari hasil berputar itu kita juga mendapat info penting." Sahut Seruni.


"Jadi apa keputusan kalian?" tanya Aya ke Jonathan, temannya dan Seruni bergantian. "Aku memang manusia biasa, aku tidak bisa memutuskan apapun tapi setidaknya aku bisa melakukan sesuatu."


"Tidak perlu." Jonathan duduk di tepi tempat tidur Andrea. "Kami tidak bisa terus-terusan melindungi kamu."


Aya mengangkat ujung selendang yang dililit dan diikat di perutnya. "Tapi Seroja memberikan aku selendang ini, katanya ini bisa melindungi aku."


Teman Jonathan menyipitkan kedua matanya. "Kalau aku perhatikan seksama, selendang itu terlihat seperti selendang bidadari."


Seruni berdehem. "Ini bukan waktunya membahas hal lain."


Perhatian teman Jonathan teralihkan. "Kamu benar."


Diam-diam Jonathan menatap curiga Seruni.


"Aku tidak mau pergi, aku mau menolong Andrea." Aya menatap tajam teman Jonathan. "Kamu pasti mengerti perasaan aku bukan?"


"Uhmmm." Teman Jonathan menjadi salah tingkah ketika tiba-tiba menjadi pusat perhatian. "Yah-"


"Taka pa kalau memang nona Aya bersikeras, saya akan melindungi nona Andrea," ujar Seruni.


"Tapi-" Teman Jonathan tidak setuju dengan pendapat Seruni.


"Yang punya masalah itu kalian, bukan kami. Lagipula saya berjanji melindungi nona Aya." Potong Seruni, "selain itu sangat berbahaya jika membiarkan nona Aya tanpa pengawasan kita."


Jonathan menaikan salah satu alisnya.


Seruni menatap Jonathan. "Kemungkinan musuh kalian, tahu mengenai nona Aya."


Teman Jonathan mengumpat pelan.


"Seolah-olah kita sudah tidak punya tepat sembunyi lagi," kata Aya.


"Satu-satunya cara paling aman memang membawa nona Aya bersama kita." Tatapan Seruni beralih ke Aya. "Jadi, kita akan mendatangi raja itu langsung atau ke tempat pemilik keris itu?"


"Sekarang kita tidak ada hubungannya dengan raja itu, paling baik memang mendatangi pemilik keris."


"Dengan kata lain, kita belum siap menghadapi raja itu?" tanya Aya.


"Tentu saja. Mana mungkin kita tiba-tiba mendatangi rajanya tanpa persiapan apapun." Sahut teman Jonathan.


"Bagus. Kalau gitu kita berangkat sekarang," kata Seruni


"Sekarang?" tanya teman Jonathan.


"Tentu, kita tidak bisa membuang-buang waktu." Seruni mengangguk serius.


"Kamu yakin akan kuat, setelah masa penyembuhan?" tanya teman Jonathan ke Jonathan.

__ADS_1


Jonathan mengangguk mantap. "Aku sudah cukup istirahat."


Aya menarik tangan Seruni dan berbisik di telinganya. "Bagaimana dengan Andrea? dia baik-baik saja?"


Seruni tersenyum lembut untuk menenangkan Aya. "Baik-baik saja, beliau bersama Yang Mulia."


Aya menghela napas lega.


"Anda tahu nona muda bersama Yang Mulia, kenapa anda menanyakan hal itu?" tanya Seruni penasaran.


Aya menggigit bibir bawahnya. "Maaf, kalau kesannya aku tidak percaya. Aku hanya ingin memastikan."


Seruni hendak bertanya, tapi perhatiannya teralih ke teman Jonathan yang bertanya ke Jonathan.


"Kamu tahu dimana ayah kandung Andrea?" tanya teman Jonathan.


Jonathan mengangguk pelan.


"Mereka tidak ada di rumahnya!" sahut Seruni.


Jonathan dan temannya menoleh ke Seruni.


"Dia dan keluarganya sedang berkemah, Yang Mulia dan nona muda saat ini ada disana." Kata Seruni dengan nada tenang. "Saling berpegangan tangan, aku akan membawa kalian semua ke sana."


Jonathan dan temannya saling menatap ragu lalu berpegangan tangan, tangan kanan Seruni memegang tangan Aya sementara tangan kirinya menarik tangan Jonathan.


Aya menggandeng tangan teman Jonathan tanpa ragu.


Seruni memejamkan matanya dan tak berapa lama mereka berempat berpindah tempat.


Andrea duduk memeluk kedua lutut sambil melihat aksi Seroja dari kejauhan di dalam hutan. Seroja melayang mendekati sekumpulan keluarga yang terlihat bahagia itu diantara pengunjung lainnya.


Andrea tersenyum, membayangkan disana bersama kedua orang tua lengkap dan adiknya. Tapi sayang, itu hal yang tidak akan pernah terjadi.


Tanpa terasa air mata Andrea mulai menetes.


Ingatan dirinya mengenai bapak hanya sampai usia 10 tahun. Tidak, kurang dari itu, karena bapak lebih banyak bekerja. Andrea kecil tidak pernah mempertanyakan itu, yang penting dia bisa bertemu dengan bapak di hari minggu, karena hari minggu biasanya mereka jalan-jalan atau belajar naik sepeda.


Andrea menggeleng keras.


Kenapa ia jadi teringat kenangan masa lalu? Padahal bapak sudah melakukan hal sekejam itu pada dirinya.


Tiba-tiba Andrea teringat saat-saat dirinya di Bali. Tidak ada wajah jahat dan menipu, yang ada wajah lembut seorang ayah yang sudah lama meninggalkan anaknya.


Andrea meletakan kepalanya diantara kedua lutut sambil menutup telinga dengan kedua tangan. "Hentikan!" serunya pelan. "Jangan membuat aku mengingatnya."


Memori itu kembali. Saat bapak tertawa, iseng, membuat makan malam untuk Andrea bahkan menyuapinya.


"Tolong, jangan buat aku menjadi penjahat." Bisiknya. "Bapaklah yang jahat, bapaklah yang sudah membuang kami, bapak juga menginginkan aku mati sejak bayi."


Tapi apa yang diucapkan berbeda dengan apa yang dipikirkan. Andrea berkata jahat mengenai ayah tapi pikirannya tiba-tiba mengingat kenangan manis.

__ADS_1


Andrea mengangkat kepalanya dengan mata sembab.


Tidak! ini salah!


Penculikan? ini gila!


Ini sama saja dengan apa yang dilakukan bapak!


Andrea berlari menuruni bukit kecil dan mendekati mereka. Seroja harus segera dihentikan!


Dengan sekuat tenaga Andrea berlari, berusaha menghindari orang-orang yang lewat dan memandanginya dengan heran.


Andrea tidak sadar kalau dirinya saat ini memakai pakaian kebaya berwarna merah muda dengan rok putih lebar bermotif sampai di bawah lutut, wajahnya yang dipoles cantik Seruni saat dirinya tidur, membuat beberapa pria bersiul saat Andrea lari melewati mereka, ditambah dengan tubuh Andrea yang seksi.


Andrea yang berlari, terkejut melihat tangan kanan Seroja muncul pedang panjang. Tidak!


Tidak ada seorang pun yang melihat sosok Seroja bahkan saat Seroja hendak menghunuskan pedangnya tepat di belakang ayah Andrea yang sedang duduk berjongkok di depan perapian bersama ke empat anak, istri muda dan kedua pegawainya.


"HENTIKAN!!!"


Sontak semua orang yang berada di sekitar, menoleh ke Andrea.


"Aku mohon, hentikan." Pinta Andrea sambil terisak.


Mahmud yang terkejut dengan kemunculan Andrea, berdiri.


"Jangan lakukan itu." Geleng Andrea ke Seroja.


Ina yang duduk di depan tenda menghadap perapian sontak berdiri dan mengerutkan kening ke Andrea. "Ngapain kau malam-malam kesini?"


Andrea mengabaikan pertanyaan Ina, matanya tetap menatap Seroja. "Aku tidak bisa, lebih baik kita lupakan saja."


"Saya tidak ingin kehilangan kamu Andrea." Seroja mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.


"Seroja." Panggil Andrea, "tapi aku juga tidak ingin kehilangan ayah kandungku."


Tangan Seroja berhenti, ia menatap Andrea. "Dia sudah jahat padamu."


"Aku tahu." Jawab Andrea.


Ina mendekati suaminya sementara ke empat anaknya menatap heran Andrea. "Heh! Ngapain kau kesini?!"


Tatapan Andrea beralih ke perempuan itu. "Memangnya kamu siapa?"


"Ditanya baik-baik malah-"


"Bisa bedakan antara bertanya baik-baik dengan berkata kasar?" tanya Andrea. "Orang bodoh pun tahu bagaimana kelakuan kamu."


"Kau-"


"Ngapain kau kesini? kau ngikutin kami?"

__ADS_1


Kali ini Mahmud, ayah Andrea yang bertanya.


Andrea memberanikan diri menatap ayah kandungnya, selama ini dia selalu takut menghadapi ayahnya. "Andrea ingin bertanya."


__ADS_2