KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
SPECIAL KAZE VIII


__ADS_3

"Siapa nama om?"


Pria berjubah itu mengangkat kedua bahunya, "kaum kami tidak bernama. Tapi... tidak enak juga mendengar kalian memanggil saya om, om... panggil saya Henry saja."


"Henry." Ulang Laura dan Aura.


"Seperti nama pangeran ya kak." Laura tersenyum senang, "jangan-jangan pangeran."


Henry tertawa sambil merentangkan kedua tangannya, "yah... banyak yang mengatakan saya seperti pangeran."


"Tidak ada pangeran gendut dan baby face." Ujar Aura dengan nada ketus.


Henry menghela napas. "Kamu ini kritis sekali."


"Namaku Aura, dan ini adikku.. Laura." Aura mendorong maju adiknya.


"Ok, Aura dan Laura. Jadi kalian bisa melihat om?" Henry menunjuk dirinya sendiri.


Aura dan Laura mengangguk.


"Kalian juga bisa melihat apa yang menyerang saya?"


Aura dan Laura mengangguk lagi.


"Bisa kalian beritahu apa yang menyerang saya?"


Aura dan Laura saling melirik.


"Om tidak tahu?" tanya Aura dan Laura bersamaan.


"Kalau saya tahu, tidak mungkin saya bertanya pada anak kecil seperti kalian."


"Kelelawar." Jawab Aura dan Laura bersamaan.


"Kelelawar ya..." Henry mengelus dagunya, "kelelawar... untuk apa ya menyerang saya?"


"Enak."


"Eh?"


"Laura pernah dengar kalau jantung sesuatu itu enak dimakan terus darahnya enak diminum." Laura bicara pada Aura.


"Kamu dengar dimana?" tanya Aura.


"Kemarin di toko emas." Jawab Laura dengan polos. "Padahalkan kita dilarang minum darah."


Henry mengacak rambutnya, "aaahhh... manusia memang buat kesal."


Aura dan Laura menatap Henry kembali.


"Aku jadi tidak bisa mencabut nyawa bapak kalian, sepertinya bapak kalian terlibat dengan hal jahat."


Aura dan Laura saling melirik.


Henry berjongkok di depan Aura dan Laura, "kalian tidak sedih bapak kalian mau meninggal?"


Aura dan Laura mengangguk bersamaan.


"Lebih baik dia mati daripada menyakiti ibu kami." Kata Aura.


"Kalian berdua memang anak yang mengerikan." Henry jadi merinding mendengar jawaban anak kecil di depannya.


"Ibu kami jauh lebih berharga daripada bapak, bapak selalu membentak dan memukul ibu." Kata Laura.


"Tapi sayangnya aku gagal melaksanakan tugas." Henry menunjukan telapak tangan kanannya, "Lihat. Namanya sudah dicoret."


"Bapak punya peliharaan di gudang atas." Aura menunjuk ke atas.


"Peliharaan?"


"Setiap malam jumat selalu memberikan rokok, Laura sering melihatnya..."


Henry menghela napas. "Itu sudah menjelaskan kenapa kalian berdua bisa melihat saya."


Aura dan Laura menggeleng.


"Sebelumnya aku dan adikku tidak pernah melihat hal-hal aneh, kami hanya bisa merasakan keberadaan mereka saja, nah baru kemarin kami bisa melihat om dan mendengar bisikan." Kata Aura.

__ADS_1


"Kalau Laura sudah dari kemarin, sejak bapak membawa tongkat berbentuk ular." Kata Laura.


"Memangnya bapak bawa tongkat gitu? Kakak tidak pernah lihat." Aura bicara ke Laura.


Laura mengangguk kecil lalu balik badan. "Tongkatnya di belakang lemari baju." Laura menunjuk lemari di samping pintu kamar.


Henry berdiri dan mengambil tongkat yang disembunyikan di belakang lemari baju. Ia mengangkat tongkat dengan ujung atasnya berbentuk kepala ular sementara bawahnya berbentuk ekor ular, ular itu berwarna hitam corak putih. "Tongkat ini ya?"


"Iya, tongkat itu om." Tunjuk Aura.


Henry meneliti tongkat yang dipegangnya. "Ini hanya tongkat biasa, tidak ada yang aneh... isinya pun tidak ada."


"Laura pernah lihat ibu tanya sama bapak tongkat darimana, katanya itu tongkat milik nabi." Laura berkata dengan polos.


Henry dan Aura tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa tertawa?" tanya Laura tidak mengerti.


"Laura... itu berarti bapak dibohongi orang lagi, mana ada tongkat nabi dipegang sama manusia biasa seperti kita." Aura tertawa sambil memegang perutnya.


Henry tertawa sambil memukul-mukul tempat tidur, "hahahahaha... manusia macam apa sih bapak kalian itu!"


Kedua mata Aura berkaca-kaca.


Henry dan Aura menghentikan tertawanya.


Henry berdehem, "yah... anggap saja ini tongkat nabi."


Aura memeluk Laura, "maaf ya... cep cep cep..."


"Sepertinya ini bukan takdir bapak kalian meninggal." Henry mengembalikan tongkat ular itu.


"Maksudnya hari ini bapak tidak meninggal?" tanya Aura.


Henry berjongkok, "kalau kalian bisa melihat aku berarti kalian sedang dilindungi."


Aura memiringkan kepalanya tidak mengerti.


"Jadi, hanya satu yang tidak terlindungi saat ini." Henry mengangkat satu jari telunjuknya. "Adik kalian."


"Aura tidak paham." Geleng Aura.


"Yang itu berarti salah satu dari kami yang akan menjadi tumbal?" tanya Aura.


"Wah, kamu tahu juga." Henry bertepuk tangan.


"Aku sering membacanya di majalah mistery punya adik ibu." Aura mengangkat dagunya dengan bangga.


"Hahahaha... keluarga kalian memang menarik. Itu juga yang bisa menjelaskan kenapa kalian memiliki pelindung." Tawa Henry. "Normalnya anak-anak memiliki penglihatan gaib karena salah satu orang tua kandung mereka memiliki kekuatan, perjanjian ataupun keturunan. Tapi kasus kalian berbeda, bapak kandung kalian tidak memiliki kekuatan apapun dari nenek moyangnya, yang ada dia memiliki perjanjian terhadap makhluk jahat."


"Kenapa Henry tahu? Kami saja tidak tahu." Aura menaikan adiknya naik ke tempat tidur. "Kami duduk di atas ya Henry, kami selalu dilarang duduk di bawah."


Henry mengangguk senang. Ternyata masih ada anak yang sopan.


"Terus?"


Henry menurunkan kedua bahunya. "Memangnya ini cerita sebelum tidur?"


"Kan om yang cerita duluan." Aura dan Laura duduk sambil memeluk boneka mereka.


Henry mulai cerita. "Kenapa saya tahu, karena tidak mungkin orang yang secara turun temurun memiliki spiritual yang otomatis memiliki pelindung melindungi nyawa majikan mereka di luar takdir Tuhan."


"Jadi... kalau namanya sudah muncul di telapak tangan om, itu berarti sudah takdir Tuhan?" tanya Aura.


"Takdir itu apa kak?" tanya Laura tidak mengerti.


"Sssssttt... nanti Laura tahu sendiri kok, dengerin dulu cerita Henry."


Henry menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "kok malah jadi cerita sih."


"Lanjut om, lanjut." Laura tertawa geli.


"Iya... kalau sudah di telapak tangan kanan saya, itu berarti saya berkewajiban mencabut nyawa target saya yang berarti bapak kalian, hanya saja saya gagal karena nyawanya dilindungi yang itu berarti seperti yang saya bilang di awal, akan nada tumbalnya yang bisa jadi itu keluarga dekat yang membuat perjanjian."


Aura merenung. "Jadi bisa Aura, Laura dan ibu?"


"Kalian bertiga sepertinya tidak bisa. Ingat mengenai pelindung yang saya ceritakan?"

__ADS_1


Aura dan Laura mengangguk.


"Pelindung dengan sukarela melindungi tuan mereka, mereka tidak meminta tumbal atau apapun sebagai ganti perlindungan."


Aura dan Laura saling melirik.


"Pelindung melindungi tuannya ketika tuannya sudah lahir sementara kalian berdua dan ibu kalian memiliki pelindung yang berarti hanya satu anak saja yang tidak terlindungi."


"Adik bayi!" Seru Aura dan Laura bersamaan.


"Benar, adik di perut ibu kalian."


"Bagaimana caranya melindungi adik kami?" tanya Aura panic.


"Maaf, kalau itu saya tidak bisa." Geleng Henry.


"Tapi... tapi..." mata Laura mulai berkaca-kaca.


Henry tidak tega melihat kepanikan kedua anak kecil di depannya, ia merasa bodoh karena sudah menceritakan semuanya. "Maaf, tapi... ada satu cara untuk menyelamatkan adik kalian berdua."


"Apa itu Henry?" tanya Laura.


" Menjadikan adik kalian malaikat seperti saya." Jawab Henry mantap.


"Memangnya bisa?"


Henry mengangguk. "Saya akan mengawasi adik kalian dengan dua syarat... syarat pertama berikan kekuatan mata kalian padaku yang berarti pelindung kalian."


"Kenapa meminta pelindung kami?" tanya Laura.


"Karena dengan adanya pelindung kalian berdua... mereka bisa mengawasi adik kalian dengan mudah, kalau saya... tidak bisa keluar masuk tempat jahat itu."


Aura dan Laura mengangguk mantap.


"Syarat kedua. Jangan beritahu hal ini kepada siapapun, jika kalian melanggar... maka nyawa adik kalian tidak akan selamat."


Aura dan Laura menelan ludah mereka.


"Janji?" Henry mengangkat kedua jari kelingkingnya.


Aura dan Laura menautkan jari kelilingking mereka di kedua sisi jari kelingking Henry.


"Selama itu bisa melindungi adik kami." Aura menatap tajam Henry.


Henry tertawa. "Tidak masalah."


"Ada satu hal yang ingin aku beritahukan kalian sebagai peringatan." Henry melepas tautannya. "Bapak kalian itu otaknya tidak beres, dia gila perempuan dan kekuasaan... tidak ada cara mengobati atau melawannya, satu-satunya cara adalah menghindarinya. Jika janin ibu kalian menghilang maka bapak kalian akan mencari gara-gara dengan ibu kalian."


Laura memeluk Aura. Aura tahu Laura terlalu kecil untuk mendengar fakta ini di usianya yang 10 tahun dan hebatnya Laura bersikap tegar mendengar penjelasan tidak masuk akal dari orang asing di hadapan mereka. "Lalu?"


Henry menghela napas. "Lalu sebisa mungkin tinggalkan pulau ini, kalau bisa tinggalkan Negara ini."


"Tunggu! Kenapa kami harus meninggalkan Negara ini? Seharusnya orang itu yang pergi." Seru Aura.


"Saya belum selesai. Dengar, bapak kalian memiliki peliharaan yang tidak saya ketahui, jumlahnya berapapun juga saya tidak tahu... nah, peliharaan ini jika tidak puas akan menyerang salah satu dari kalian bertiga... kamu, adik kamu atau ibu kamu. Satu-satunya cara meninggalkan pulau ini kecuali... jika mereka memiliki teman di pulau lain... kalian tidak akan selamat, alangkah lebih baik meninggalkan Negara ini... Negara yang tidak berbatasan langsung dengan Indonesia."


"Seperti Malaysia dan Singapore?" tanya Aura.


Henry mengangguk. "Pergilah ke benua Amerika, Eropa atau Afrika."


"Lalu adik kami?" tanya Laura.


"Saya yang akan menjaga adik kalian." Henry menepuk kepala Laura. "Saya pasti akan menjaga adik kalian."


Aura melihat sikap Henry yang terlampau baik. "Kenapa Henry mau menolong kami?"


"Karena..." Henry menghela napas, "karena saya hanya ingin membantu kalian."


Aura dan Laura saling melirik.


Henry berdiri, Laura menarik jubah Henry. "Laura boleh tanya?"


"Apa itu?" tanya Henry.


"Adik Laura itu laki-laki atau perempuan?" tanya Laura.


Henry melirik Aura sekilas lalu tersenyum. "Adik kalian itu..."

__ADS_1


-End-


__ADS_2