
Setelah ibu dan adik Andrea pulang. Aya, Andrea dan teman Jonathan cepat-cepat pergi lewat teleport.
Mungkin karena terburu-buru supaya tidak diketahui keluarga Andrea, perjalanan teleport tidak semulus saat bersama dengan Jonathan.
Andrea merasa mual begitu tiba. Meskipun singkat entah kenapa terasa lama.
"Kamu tidak papa?" tanya Aya yang menepuk-nepuk punggung Andrea.
Andrea menggeleng pasrah sambil berjongkok.
"Kamu dulu sama mas Jo, gimana?" tanya Aya penasaran.
"Mulus." Andrea menatap tajam teman Jonathan.
Teman Jonathan hanya nyengir.
Aya yang melihat sekelilingnya, mengerutkan dahi dengan heran. "Dimana kita?"
"Di dalam hutan yang tidak bisa aku sebut." Teman Jonathan menjawab dengan enteng.
Aya dan Andrea saling menatap.
"Se- serius-?" Aya yang sedari tadi berjongkok di samping Andrea seketika berdiri dan menarik jas teman Jonathan. "Kenapa malah bertemu di tempat seperti ini? Mau malam pula."
Samar-samar Andrea mendengar suara kerumunan orang tidak jauh dari tempat mereka. "Sssssttttt"
Aya dan teman Jonathan seketika terdiam.
Andrea mendekati arah suara sambil tiarap.
Aya dan teman Jonathan melakukan hal sama di belakang Andrea.
"Ndrea." Aya memanggil Andrea dengan suara pelan, penasaran dengan perilaku Andrea.
"Siapa yang ada disini saat hampir malam?" teman Jonathan merasa curiga.
Andrea menyibak rumput tinggi di depan dan mengubah posisinya menjadi jongkok, mengabaikan rasa gatal di tangannya. Dia melihat kerumunan orang-orang sedang tertawa. Siapa?
Tatapan Andrea beralih ke seorang yang lebih tua dengan suara keras sambil mengangkat botolnya, Andrea menyipitkan matanya untuk fokus apa yang ada di dalam botol itu.
"Sepertinya itu dukun." Celetuk teman Jonathan yang sudah berlutut di belakang Andrea.
"Apa- mana- mana-" Aya melihat kerumunan itu dengan penasaran.
Botol yang ditatap Andrea terlihat kosong, tapi lama kelamaan ia bisa melihat dengan jelas isi di dalamnya. Sesosok anak kecil memukul-mukul botol kaca dengan ketakutan.
"Andrea, ayo pergi dari sini." Ajak Aya. "Bisa bahaya jika mereka bisa melihat kita."
Andrea menggeleng kecil. "Sepertinya aku mengenal anak kecil itu."
"Anak kecil yang mana? di tengah hutan gini mana ada anak kecil main."
"Anak kecil di dalam botol itu." Tunjuk Andrea.
Aya menyipitkan kedua matanya. "Itukan jin yang ditangkap dukun, memangnya itu manusia?"
"Itu bukan jin juga bukan manusia." Andrea menarik napas pendek-pendek. "Entah kenapa aku merasa kasihan."
Aya kembali jongkok di samping Andrea. "Itukan jin."
"Tapi aku yakin itu bukan sekedar jin, Ay-"
"Terus apa?" tantang Aya.
__ADS_1
"Adik Andrea." Tukas teman Jonathan di belakang Aya dan Andrea yang sontak menutup mulut mereka berdua. "Jangan teriak!"
Aya dan Andrea melirik sekilas lalu mengangguk, setelah itu teman Jonathan melepas mereka. "Itu adik Andrea," ulang teman Jonathan.
"Kenapa adik Andrea bisa-"
"Kamu tahukan cerita mengenai gagalnya mereka mengambil nyawaku?" tanya Andrea tidak sabar. "Sebagai gantinya mereka mengambil adik yang dikandung ibuku."
Teman Jonathan menggeleng. "Bukan."
"Eh?" Andrea menoleh kebelakang.
"Jika adik kamu sudah menjadi tumbal pengganti maka kamu tidak akan dikejar seperti ini," kata teman Jonathan. "Iblis memang tidak puas jika hanya bisa mendapat satu, tapi aku yakin sekali kalau dia bukan adik kamu."
"Tapi kata mas Jo-"
"Dengar Andrea, ibu kamu murni keguguran- bukan diculik janinnya." Potong teman Jonathan. "Yang ada di botol itu hanyalah tubuh dari janin yang diisi anak jin."
"Memang bisa seperti itu?" tanya Aya tidak percaya.
"Kalau tidak percaya tanyakan saja ke mama kamu dan lihat ini-" teman Jonathan menunjukan sebuah buku catatan ke Andrea. "Janin keguguran tepat diusia 7.5 bulan dan yang mengambil janinnya- inisial mata hijau."
"Mata hijau?" tanya Aya.
Andrea mengerutkan kening. Mata hijau itu-
"Mata hijau itu Jonathan," jawab teman Jonathan.
Deg.
Andrea terkejut dengan penjelasan teman Jonathan. "Kenapa- mas Jo tidak pernah cerita? justru dia malah bilang kalau- setelah gagal mereka mengambil janin adikku."
"Yang dikatakan Jonathan tidak salah, mereka mengambil raga atau tubuh dari janin itu bukan roh." Kata teman Jonathan. "Mungkin Jonathan sengaja tidak menceritakan secara detail karena..."
Teman Jonathan terdiam lama, Aya menjadi tidak sabar. "Karena apa?"
Andrea melirik dukun yang sedang merapal mantera kembali, dikelilingi anak buahnya. "Tapi tetap saja, aku harus mengambilnya meskipun di sana bukan adikku."
"Andrea, jangan bertindak nekat ya. Kita tidak bisa melakukan apa-apa, kita hanya manusia biasa." Aya mencubit tangan Andrea.
"Tapi para dukun itu pasti akan melakukan hal jahat ke anak kecil itu." Erang Andrea sambil menggosok tangan yang dicubit Aya. "Sakit banget Ay."
"Semua dukun pasti akan melakukan hal jahat, kalau baik ya namanya ustad." Teman Jonathan sekarang sudah jongkok mengapit Andrea. "Kalau kalian ingin melakukan sesuatu untuk anak itu, aku akan membantu."
Aya mengerutkan kening. "Serius?"
Teman Jonathan mengangguk tanpa menoleh, "Anak itu mengingatkanku saat masih kecil dan menjadi budak."
Aya dan Andrea saling melirik di belakang teman Jonathan.
"Ah, lihat. Mereka sudah bergerak meninggalkan hutan ini." Tunjuk teman Jonathan.
"Kita tidak bisa mendekati mereka," keluh Andrea. "Kalau terlalu dekat, kita bisa ketahuan."
"Kecuali kalau kalian berpenampilan dan berbau kaum kami." Teman Jonathan memberikan jubah berwarna hitam kepada Aya dan Andrea. "Pakailah selama kita membuntuti mereka."
"Tunggu, sejak kapan kamu membawa ini?" tanya Aya heran sambil memakai jubahnya.
"Ini punya Jonathan Kan?" Andrea mengendus mantel yang dipegangnya.
Aya dan teman Jonathan menoleh heran bersamaan. "Tahu darimana?"
Andrea tertawa geli. "Ya, tahulah."
__ADS_1
"Cieee-" Aya menowel Andrea di belakang teman Jonathan sementara teman Jonathan menatap tidak suka.
"Hubungan kalian sudah sejauh mana? jangan sampai seperti anak-anak remaja jaman sekarang, semuanya rela diberikan."
Andrea menepuk-nepuk perutnya lalu menepuk tanah. "Amit-amit jabang bayi, jangan sampai terjadi."
"Bilangnya amit-amit tapi tidur satu kama auw!" Aya mengusap jilbabnya. "Sakit Ndrea!"
"SIAPA DISANA?!"
Andrea dan Aya menutup kedua mulutnya.
"Gara-gara kalian terlalu berisik." Teman Jonathan merangkul Aya dan Andrea lalu memindahkan mereka di atas pohon.
Aya dan Andrea menutup mata dengan erat.
"Jangan bergerak, kita di atas pohon."
"Tahu! Aku bisa merasakan kakiku bergelantungan." Andrea memeluk erat tangan teman Jonathan. "Kenapa sih pindah di atas pohon!"
"Lebih baik di atas pohon!" Teman Jonathan melihat ke bawah, kedua pocong bawahan si dukun sudah berdiri di tempat mereka tadi. "Kalau kalian tidak mau berteriak sebaiknya jangan buka mata, di bawah kita ada popo."
"Popo?" tanya Andrea.
"Pocong, Ndrea!" Aya memeluk erat tangan satunya teman Jonathan. "Aku nggak mau buka mata! Aku nggak mau liat!"
"Aku juga nggak mau!" Andrea menggeleng ketakutan, wajahnya disembunyikan di tangan teman Jonathan.
"Jangan bergerak! duh!" teman Jonathan tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena diapit Andrea dan Aya.
"Siapa tadi? musuh kita?" tanya si dukun pada salah satu pocongnya.
Pocong itu menggeleng.
Seolah mengerti perkataan pocong itu, si dukun meninggalkan tempatnya bersama ke dua pocong kesayangannya. "Hmmm aneh, padahal aku seperti mendengar suara seseorang." Setelah mengatakan itu, sang dukun menjauh bersama antek-anteknya.
Andrea, Aya dan teman Jonathan menghela napas dengan lega.
"Bahkan dukun itu sudah dimanipulasi anak buahnya sendiri." Gumam teman Jonathan pelan.
"Maksud kamu?" tanya Aya tidak mengerti.
"Pocong itu bukan wujud sebenarnya, wujudnya jauh lebih buruk rupa," kata teman Jonathan, "Tapi si dukun itu sepertinya percaya saja dengan wujud palsu jin itu."
"Mungkin selama si jin mau jadi anak buahnya si dukun tidak mempermasalahkan wujudnya," kata Andrea.
Teman Jonathan menaikan kedua alisnya. "Bisa jadi."
"Mereka sudah pergi?' tanya Aya.
"Iya, kita jadi mengikutinya?" tanya teman Jonathan.
"Jonathan bagaimana?" tanya Andrea. "Dia pasti menunggu kita."
Teman Jonathan menghela napas. "Sebaiknya kita jemput Jonathan dulu baru ke tempat si dukun."
Aya dan Andrea membuka matanya perlahan.
"Antarkan kami dengan kekuatanmu." Pinta Aya.
"Enak saja." Teman Jonathan melepas kasar pelukan Aya di tangannya.
"Aku tidak bisa turun dari pohon, selain itu kakiku lemas gara-gara kedua anak buah si dukun." Rengek Aya.
__ADS_1
"Aku juga." Andrea memeluk erat tangan teman Jonathan.
Teman Jonathan menghela napas. "Baiklah, hanya kali ini saja."