
Tidak jauh dari gedung pernikahan. Seroja duduk minum teh bersama Hero, Ogy dan seorang malaikat pencabut nyawa di atas genteng.
"Jadi ini maksudnya kembali menjadi manusia. Yang dulunya tidak pernah dilahirkan ibu menjadi dilahirkan sang ibu." Seroja meminum tehnya dengan anggun sambil membelai Hero yang mendengkur.
"Baru kali ini ada kejadian seperti ini." Malaikat itu memeluk kedua lututnya.
"Memang tidak pernah sebelumnya?"
"Ada yang nekat tapi gagal, berhasilpun..." Malaikat itu mengangkat kedua bahunya,
"Kamu tidak ingin mencoba menjadi manusia?"
Malaikat itu menggeleng. "Tidak, aku kapok... menolong saja sudah susah apalagi kalau melakukan ritualnya, ngeri. Mungkin lebih baik seperti ini."
Seroja mendengus. "Laki-laki pengecut!"
"Ap..."
"Kelihatannya Tuhan tidak adil bagi manusia tapi Tuhan sebenarnya adil tanpa kita sadari, Tuhan menjatuhkan kita disaat sakit tapi Ia membangkitkan kita ribuan kali tanpa sakit." Seroja melirik malaikat di sampingnya, "seandainya aku menjadi kalian, aku akan melakukan hal yang sama... meskipun yah, resikonya banyak."
"Aku tidak mau mengambil resiko seperti itu." Gumam malaikat itu.
"Kalau begitu jangan menatap iri mereka berdua."
"Aku tidak menatap iri mereka!" seru malaikat itu sambil berdiri.
"Tidak usah berbohong, saya tahu!" Hardik Seroja.
Malaikat itu bergidik ngeri lalu kembali duduk. Memang susah melawan makhluk yang sudah hidup ribuan tahun lamanya.
Seroja berdiri. "Saya mau pergi."
"kemana? Baru saja aku duduk."
Seroja tersenyum misteri sambil menatap gedung mewah dari jauh. "Saya harus bersiap-siap pindah pemilik."
"Hah? Maksudnya?" malaikat itu kebingungan, ia bolak balik menoleh ke Seroja lalu gedung mewah.
"Suatu hari nanti kami bertiga akan bertemu dengan kamu lagi dengan suasana yang berbeda. Dah." Seroja jalan menghilang diikuti Hero dan Oggy.
Malaikat itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maksudnya apa sih? Auw!" tangan kanannya serasa terbakar, ia melihat tangan kanannya yang sudah memerah di sekujur tulisan. "Mahmud? Inikan... ayah kandungnya Andrea, nggak, nggak... pasti nama yang sama, mendingan aku kesana deh daripada penasaran, eh, tapi inikan memang tugas aku."
__ADS_1
Malaikat itu membersihkan cangkir teh dan cemilan di atap lalu ketempat target selanjutnya. Ia sekarang berdiri di pojok ruangan, ia melihat seorang pria tua menangis kesakitan karena tidak bisa menggerakan kedua kakinya bahkan berbalik saja tidak bisa.
"Ah, ternyata memang orang yang sama. Haaa..." Malaikat itu menghela napas. "Seandainya saja Jonathan dan Andrea melihat hal ini mereka akan menjerit bahagia tapi sekarang mereka berdua sudah tidak mempedulikan pria tua ini bahkan..." Malaikat itu mengangkat tangan kanannya yang sudah mulai memerah.
"Sakiiiiiit..." Keluh papa Andrea sambil menangis.
Malaikat itu menggeleng. "Seandainya saja kamu tidak menelantarkan istri dan anak-anak kamu, tidak membiarkan mereka berdua kelaparan dan parahnya tidak menukar nyawa anak kamu dengan jin lain demi keselamatan diri, mungkin lain ceritanya."
"Kuberi waktu kamu waktu 90 hari. Pintu tobatmu akan tetap tertutup kalau kamu tidak meminta maaf pada orang-orang yang telah kau sakiti, selama 90 hari... aku akan mengamati kamu, kalau kamu tidak meminta maaf pada mereka... Jangan salahkan aku kalau mencabut nyawa kamu itu sangat menyakitkan." Bisik malaikat itu di telinga papa Andrea.
Kasusnya sekarang memang berbeda, ada manusia yang nyawanya langsung dicabut tanpa menunggu waktu tapi ada juga manusia yang harus menderita dahulu sebelum nyawanya dicabut. Kebanyakan dosanya berat.
"Nah, Andrea. Sekarang apa yang akan kamu lakukan?" Malaikat itu berkacak pinggang.
___
Andrea duduk di depan meja makan sambil sibuk menggambar sketsa gaun rancangan selanjutnya sementara Andre sibuk dengan pekerjaan di laptopnya, mama berdehem untuk mencari perhatian kedua anaknya.
Andrea dan Andre mengangkat kepalanya, mereka saling melirik lalu memusatkan perhatiannya ke mama.
"Kenapa ma? Keselek?" tanya Andre ngaco.
"Ndre!" Tukas Andrea.
Andre dan Andrea menghela napas, mereka masih diam mendengarkan perkataan mamanya.
"Meskipun kita sempat kesulitan menjalani hidup kita... tapi mama bersyukur kita bertiga masih bisa berkumpul dan bertahan sampai sekarang. Nah, mama ingin bertanya sesuatu ke Andrea." Mama menatap serius Andrea, "emas itu... kamu tahukan itu punya siapa?"
Andrea terkejut. Delapan tahun lamanya dan mama baru membahas hal ini sekarang? Andrea kira mamanya sudah melupakan hal itu. Ia meletakan pensil dan memutar otak. "Itu..."
"Mama mohon Andrea, jujur sama mama dan adik kamu. Kami berdua tidak akan marah... tapi mama yakin kalau itu bukan emas curiankan."
Andrea menggeleng cepat. "Bukan, itu bukan emas curian tapi... Itu... peninggalan."
"Peninggalan? Dari siapa? Bukan papakan?" tuntut Andre.
Andrea menggeleng. "Orang gila itu mana mungkin kasih seperti itu, itu dari pujaan hati Andrea." Memang sudah waktunya membuka semuanya. "Andrea gak tahu kalian berdua mau percaya atau nggak tapi ini memang nyata."
Setelah itu Andrea mengatakan segalanya. Dari awal pertemuan sampai akhir, minus Jonathan mendatangi kamarnya. Hampir 30 menit Andrea cerita semuanya mama Andrea mengangkat tangan.
"Mama percaya, tapi sisanya untuk kamu simpan sendiri." Mama berkata bijak.
__ADS_1
Andre melongo kagum, "serius ada hal seperti itu?"
"Itu sudah lama. Dan dia menghilang lalu tiba-tiba ia muncul dengan fisik dan nama yang sama." Andrea menunduk sedih. "Maafkan Andrea karena sudah menutupinya ma."
Mama memegang kedua tangan Andrea di atas meja. "Itu bukan salah kamu nak, mama sendiri yang meminta maaf karena papa kamu seperti itu... sekarang kita sudah hidup jauh lebih baik, kita lupakan masa lalu meskipun itu sulit."
"Andre tidak akan lupa bagaimana dia menghina Andre demi kehamilan perempuan itu ma, Andre tidak suka mulut dia dan selingkuhannya menghina mama." Tukas Andre.
"Andrea juga ma."
Mama menghela napas. "Lalu apa yang akan kalian berdua lakukan? Balas dendam?"
"Andre ingin memenjarakannya meski sudah terlambat." Jawab Andre.
"Andrea tidak mau bertemu dengannya meskipun ia sekarat, ini bukan dendam ma... tapi kami berdua tidak mau mengungkit hal yang menyakitkan, itu sakit ma. Mama gak ingat apa kata papa pada Andrea dan Andre? Bagaimana dia menghina kami?" Andrea menggenggam kedua tangan mama. "Kenapa mama tiba-tiba bahas dia?"
Mama menghela napas, berat mengatakannya. Mendapat telepon tadi pagi merupakan beban berat baginya. Entah ia harus menangis atau bahagia mendengarnya. "Papa kalian sekarat." Ujar mama pelan.
"Apa?" tanya Andre dan Andrea bersamaan.
"Papa kalian berdua sekarat." Mama menghela napas lagi, "kalian tidak ingin bertemu?"
Andre dan Andrea saling menatap lalu mereka berdua menggeleng.
"Maaf ma, kami akan memaafkan papa dari sini tapi kami tidak ingin bertemu papa." Kata Andrea mendapat anggukan dari Andre.
"Kalian benar-benar tidak ingin bertemu papa kalian?" tanya mama untuk menyakinkan.
Andrea dan Andre mengangguk.
"Ya udah, mama nanti bicara sama keluarganya." Mama berdiri, "kalian makan dulu, mama masih ada kerjaan."
"Ya ma." Jawab Andrea dan Andre bersamaan.
"Seandainya saja papa dulu sekarat, aku akan tertawa di depannya lalu mengingatkan semua dosanya hingga dosanya menjadi berat." Andrea menyingkirkan buku sketsa dan mengambil piring di depannya.
"Sama, tapi kita tidak boleh dendamkan."
"Aku tahu makanya aku tidak pernah bisa benar-benar marah padanya, sudah cukup dia menghina bahkan memaki kita, sudah cukup dia menyakiti kita."
"Mungkin ini lebih baik buat kita."
__ADS_1
Andrea mengangguk sedih.
___