
Andrea menggigit bibir bawah, dia melirik mama yang sedang menyendok nasi. "Ma, mama pernah dengar cerita kalau Andrea tunangan malaikat pencabut nyawa?"
Mama mengerutkan kening. "Darimana kamu dengar itu? kalau benar kamu tunangannya, orang itu pasti muncul sekarang."
Andrea menaikan salah satu alisnya. Orang yang dimaksud mama sudah muncul tuh, malah berdiri di belakang kursi mama sambil memandang kagum foto anak kecil di tembok. "Waktu Andrea masih kecil sih ma, terus mamakan pernah cerita kalau Andrea hampir diculik seorang laki-laki, mama sampai marah-marah."
"Wajar mama marah, karena orang itu mengaku dirinya pencabut nyawa sambil bawa anak orang. Ibu dimana sih yang tidak khawatir anak gadisnya diculik orang gila?" mama menyendok makanannya dengan kesal.
Jonathan menoleh ke mama.
Mama menatap curiga Andrea, "Jangan-jangan kamu percaya sama cerita tidak masuk akal?"
"Yang mana?" tanya Andrea bingung.
"Yang mengaku malaikat pencabut nyawa, papa kamu saja sampai terdiam karena shock menghadapi orang gila, kamu taukan sifat seperti apa papa kamu."
Jonathan hampir tertawa mendengarnya, begitu juga dengan Andrea. Itu sih shock nya karena hal lain.
"Terus, mama ingat papa bawa apa pas pulang gatal-gatal?" tanya Andrea.
"Kenapa tiba-tiba kamu tanya itu?"
Andrea berdehem, "Andrea hanya penasaran saja, padahal paginya kerja malamnya malah bela-belain mencari barang-barang seperti itu. Barang apa sih ma?"
"Seingat mama semacam gelas dan nampan, katanya itu dari jaman Majapahit." Kata mama Andrea sambil berusaha mengingat.
"Bukan keris ma?" tanya Andrea untuk memastikan.
"Ada keris, tapi bukan pas pulang gatal-gatal itu."
Andrea melirik Jonathan yang sedang kebingungan. Lalu keris yang mereka bawa itu apa? Jonathan juga sudah memastikan melihat kerisnya waktu itu.
"Mama bawa gelas sama nampannya?" tanya Andrea lagi.
"Ada di lemari bawah tangga. Paling pojok."
"Boleh Andrea melihatnya?" tanya Andrea.
"Untuk apa?" tanya mama Andrea, "Kamu gak gabutkan?"
"Andrea ada tugas sekolah ma, kebetulan harus menggambar gelas dan nampan jaman dulu, untung saja mama cerita."
Mama Andrea menghela napas berat. "Percuma saja, barang itu tidak terlalu berharga, kamu bisa cari di internet kan?"
Andrea menggeleng. "Kalau ada di rumah kenapa nggak?"
"Mama sangsi itu beneran punya jaman Majapahit atau nggak. Palsu kelihatanya, papa kamu kan sukanya instan-instan gitu buat kaya."
"Nanti Andrea cek."
__ADS_1
"Ya lihat saja, tapi jangan ngeluh tangan gatal ya. Sudah lama tidak mama bersihkan lemarinya."
Andrea mengangguk antusias sementara Jonathan mengarahkan telapak tangannya ke lemari bawah tangga yang dimaksud mama Andrea.
"Sekolah kamu gimana?"
"Nggak ada yang istimewa Cuma ada dua murid baru dari sekolah terkenal."
"Murid baru, kelas tiga SMA?"
Andrea mengangguk pelan, matanya sesekali memperhatikan Jonathan. Salahnya sih, duduk di kursi yang dekat lemari bawah tangga. "Iya, ma."
"Tumben. Sekolah kamu kan terkenal tengilnya."
"Makanya kan wajar, Andrea dengar mereka dikeluarkan dari sekolah karena bermasalah."
"Pantas." Mama kembali makan.
Jonathan menggeleng, Andrea menghela napas kecewa. Tidak ada petunjuk lain.
Mata mama Andrea menyipit curiga melihat helaan napas Andrea, "Kamu kenapa nak?"
Andrea gelagapan. "Nggak, Cuma sedikit stress buat menghadapi ujian nasional."
"Belajar yang rajin, biar lulus dan mendapat beasiswa. Kalau papamu memang tidak mau membiayai, ya sudah kita cari cara supaya kamu kuliah."
Andrea mengangguk sambil menyuap suapan terakhir.
"Bukan?"
Jonathan menggeleng kecewa. "Memang benar ada gelas dan nampan tapi itu palsu."
"Palsu?"
"Papa kamu ditipu sepertinya." Jonathan menghela napas panjang. Dimana-mana memang masih ada teman menipu teman.
Andrea menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur, "Sekarang bagaimana? kita harus menghancurkan kerisnya kan?"
"Aku tidak akan menghancurkan nya sampai tahu apa yang sebenarnya terjadi." Tekad Jonathan yang masih penasaran, siapa tahu keris ini berguna di masa depan untuk melawan si raja iblis.
Sampai sekarang Jonathan masih benci mengingat suara tawa raja iblis yang bahagia menerima tumbal bayi belum lahir, menjadi budak penurut dan tidak bisa kemana-mana.
"Memang nya malaikat pencabut nyawa tidak bisa melihat masa lalu?" tanya Andrea penasaran. Di film banyak sekali kisah malaikat yang bisa melihat masa lalu dan masa depan, nah ini- apakah malaikat abal-abal?
"Bisa. Tapi kasus ini berbeda, sepertinya ada yang melindungi."
"Terus apa yang harus kita lakukan sekarang? diam saja?" tanya Andrea yang masih belum paham. "Tidak bisakah kita menyelesaikan semua secepatnya?"
Jonathan menatap rumit Andrea. "Kenapa kamu jadi tidak sabaran?"
__ADS_1
"Karena aku, mama dan adikku harus secepatnya angkat kaki dari sini. Kamu sendiri sudah dengar kan?"
Jonathan merenung. "Bagaimana-"
TOK TOK TOK
"Andrea, kamu bicara sama siapa?" tanya mama Andrea sambil mengetuk pintu kamar Andrea yang terbuka.
"Ah. Andrea ada drama di sekolah, jadi sedikit latihan hahahaha." Andrea cepat-cepat berdiri mendekati mamanya. "Ada apa ma?"
"Mama Cuma taruh baju-baju adikmu di kamarnya, sekalian lihat kamu. Gak tahunya bicara sendiri." Mama Andrea tertawa.
"Iya ma." Andrea pura-pura tertawa sambil melirik cemas Jonathan yang menguap bosan.
"Ya udah, mama turun ke bawah ya. Kamu jangan malam-malam tidurnya." Saran mama Andrea.
"Iya ma," Andrea mencium pipi mama lalu menutup pintu setelah memastikan mamanya sudah turun ke bawah. Andrea menghela napas lega.
"Lain kali kamar ditutup." Jonathan menutup mulutnya, berusaha menahan tawa.
"Cerewet!"
Jonathan berdiri. "Kita ke syarat selanjutnya."
"Sekarang?"
"Kita terburu-buru. Ini bukan masalah mendekati ulang tahun kamu. Ini lebih ke masalah keris yang sekarang kita pegang."
Andrea menutup pintu kamar dan menguncinya. "Ayo!"
Jonathan mengingatkan Andrea. "Jika terjadi sesuatu, cepat lari. Jangan menungguku jika tidak diperintah, ikuti aba-aba ku secepatnya. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu."
Andrea mengangguk.
Jonathan menghela napas berat, melihat keberanian di wajah Andrea tapi ketakutan di matanya. Berusaha menyembunyikan rasa takut dan tidak nyaman.
Jonathan sangat bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan telah memberikan kesempatan untuk bertemu dengannya.
Jonathan mencium kening Andrea.
Andrea terkejut.
Jonathan menyeringai. "Hadiah sudah menjadi anak pintar."
Andrea menatap tidak mengerti Jonathan, dia hanya mengangguk dan sudah dianggap pintar? apakah guru di sekolah juga berpikiran sama?
"Jangan menatapku seperti itu." Jonathan tertawa geli.
Andrea memutar bola matanya dan menggenggam tangan tunangannya. "Ayo berangkat, aku ngantuk banget kalau sudah larut malam. Bisa-bisa aku tidak konsen nanti."
__ADS_1
Jonathan mengangguk setuju, tidak tega melihat wajah lelah Andrea. "Ya."
Jonathan segera teleport bersama Andrea.