KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
TIGA PULUH EMPAT


__ADS_3

Aya bersenandung pelan sambil mengelilingi dalam gua, tidak berani melangkah keluar meskipun ada Jonathan bersamanya. Aya baru menyadari gua ini gua biasa seperti pada umumnya hanya saja kalau kita perhatikan dengan seksama, gua ini berkelip-kelip.


Aya menyentuh dinding gua yang kasar dan terbuat dari batu. "Seperti permata."


"Memang permata."


Aya menoleh. Ia melihat sebuah boneka penguin duduk di atas perut Jonathan. "Siapa?"


"Aku boneka yang dibuat Jonathan sebut saja Jo. Aku dibuat untuk menjadi alarm tuanku."


Aya berjongkok dari kejauhan, ia tidak berani mendekati boneka itu supaya tidak membangunkan Jonathan. "Alarm? dari tadi aku tidak melihat kamu."


"Memang. Aku sembunyi di dalam jubah tuanku, kalau tuanku sudah tidur lelap baru aku muncul." Penguin itu berdiri dan menghampiri Aya. "Ada yang ingin kamu tanyakan?"


"Tidak ada." Aya menaikan alisnya. Jadi tadi Jonathan terlihat nyenyak tapi sebenarnya-


"Lalu untuk apa kamu disini?"


"Kamu tadi tidak mendengar percakapanku dengan tuan kamu?"


Jo memiringkan kepalanya yang mungil. "Saat tuanku sadar maka aku akan tidur, biasanya manusia datang meminta aneh-aneh."


"Contohnya?"


"Kekayaan."


Aya tertawa. "Untuk apa meminta kekayaan pada malaikat pencabut nyawa?"


Jo menaikan bahunya. "Entahlah, itukan pemikiran kalian para manusia."


"Jadi, benar ini permata?"


"Bukan."


"Lho?"


Jo mengangkat kepalanya. "Kalau kamu berpikir permata maka tempat ini menjadi permata meskipun permukaannya kasar saat menyentuhnya."


"Karena itu tidak bisa diambil ya?"


"Ilusi optic, meniru apa yang diinginkan manusia."


Aya menghela napas, hati kecilnya memang ingin melihat bentuk permata. "Boleh aku tahu, kenapa tuan kamu terluka parah?"


Jo melirik tuannya yang tertidur pulas lalu menatap kembali Aya. "Kamu temannya kan? kenapa tidak bertanya?"


"Karena dia tidak menjawab."


"Kalau begitu aku tidak bisa menjawab."


"Kok gitu?"


"Ada hal yang bisa aku jawab dan tidak, semuanya tergantung tuanku." Jo menatap obor Seroja yang tergeletak di tanah dan selendang yang dililitkan di pinggang Aya. "Apakah itu obor dan selendang milik pelindung?"


"Kamu tahu?" Aya mengangkat ujung selendangnya. "Ini untuk melindungiku, efektif karena udara lembab."


"Lembab?"


"Iya. Aku masuk dari lubang di atas lalu setelah itu melihat gua yang aku masuki ini jauh banget sampai bisa menemukan Jonathan."


"Jangan-jangan ulah dia lagi."


"Dia?"


"Dia berusaha menyerang tuanku, tuanku berusaha keras sembunyi dari kejaran mereka."


"Kenapa?"


"Keris."


"Keris?"


"Kamu tidak tahu?" Jo mulai tidak mempercayai Aya. "Kamu beneran temannya?"


"Aku teman tunangannya."

__ADS_1


"Tunangan?"


"Ah, sudahlah." Aya menundukkan kepalanya. "Rasanya aku ingin segera keluar dari sini, aku benar-benar tidak percaya terjebak di tempat ini."


"Bersabarlah dan tunggu beberapa jam lagi supaya tuanku bisa kembali ke kondisinya."


"Bagaimana aku bisa bersabar kalau hanya duduk dan menunggu?"


"Aku sarankan kamu juga ikut istirahat."


"Aku tidak bisa istirahat di tempat seperti ini." Aya merentangkan keduanya lebar-lebar. "Lembab dan- seandainya saja aku tidak memakai selendang ini mungkin saja aku bisa mati tidak tahan."


"Sudah berapa lama bersama tuanku?"


Aya mengambil handphonenya di saku dan melihat waktu. "Lho? waktunya kok tidak berjalan?"


Aya menggoyang-goyang kasar handphonenya dan masih saja tidak mau jalan. "Apa rusak ya? tapi yang lain baik-baik saja."


"Itu berarti kamu sudah lebih dari dua belas jam disini."


"Hah? selama itu?"


"Ya, apakah kamu tidak merasa lapar atau panggilan alam?"


Aya baru menyadarinya. Dia makan hanya tadi pagi, lalu menjelang siang menemukan lubang bersama teman Jonathan lalu-


Kalau perhitungannya tidak salah malah sekarang sudah berubah hari. Berarti sudah sehari menghilang? Gawat!


"Tempat ini memang dibuat seperti itu, biasanya ini dijadikan tempat persembunyian para malaikat tak bernama yang melakukan investigasi."


"Investigasi?"


"Jin, iblis dan makhluk jahat lainnya suka menggoda manusia supaya jatuh ke neraka serta menginginkan jantung dan darah malaikat tak bernama." Jo duduk di depan Aya. "Untuk menarik perhatian malaikat tak bernama mereka menggunakan perantara manusia."


"Kenapa?"


"Hanya keinginan bodoh dan tidak pernah terjadi, mereka hanya ingin kembali menempati surga meskipun itu tidak akan pernah terwujud, mungkin karena sudah bosan akhirnya muncul dongeng mengenai kekuatan dan hidup abadi."


"Bukankah jin dan sebagainya hidup abadi?"


"Ah, aku tidak terlalu tertarik dengan kehidupan malaikat seperti mereka, sekarang aku penasaran dengan keris, keris apa? siapa tahu aku bisa membantu." Aya menunjuk dirinya sendiri dengan yakin, karena merasa sudah terlibat jauh, dia memutuskan membantu menyelesaikannya.


"Keris syarat pertunangan, keris itu menghilang saat tuanku lompat dari jurang."


"Seperti apa? bentuknya seperti apa?"


"Aku tidak tahu, hanya tuanku yang tahu."


"Apakah tunangannya maksudku Andrea tahu?"


"Tentu saja dia tahu, itu salah satu dari syarat tunangan."


"Kenapa-"


"Karena keris itulah yang menyebabkan ayah kandung Andrea, tunangan tuanku menukar kehidupannya dengan putrinya dengan kata lain menjual nyawa putrinya."


Aya memekik pelan. Dia tidak menyangka ada orang tua setega itu, keluarganya memang miskin dan berprofesi sebagai petani tapi tidak pernah ada keinginan menjual nyawa salah satu anggota keluarganya.


"Tuanku berusaha keras mencari keris itu juga, keris itu hilang dari dalam jubah."


"Jangan-jangan sudah diambil musuh?"


"Tidak mungkin. Kalau mereka sudah mengambilnya, mereka tidak akan mengejar seagresif ini."


Benar juga.


"Saat ini yang dipikirkan tuanku adalah mencari keris itu."


"Tapi bagaimana caranya? sementara keris itu menghilang begitu saja."


Jo tertawa. "Manusia memang tidak bisa berpikir luas."


"Biarin!"


"Tentu saja, tuanku harus kembali ke tempatnya semula, tempat dimana awal mula semuanya terjadi."

__ADS_1


KRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIING


____________________


"Lama!" teriak Seruni. "Hanya memeriksa isi perut seorang wanita hamil bisa selama ini?!"


"Hanya 15 menit."


"15 menit waktu yang sangat berharga!"


Teman Jonathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memang susah melawan seorang wanita.


"Pokoknya kita harus mencari teman Andrea setelah itu keris! Kita berlomba dengan musuh!"


"Iya, iya maaf. Oh ya, ada yang ingin aku pastikan-" teman Jonathan mengeluarkan handphone Andrea dari saku celananya. "Aku telepon Aya dulu."


"Iiiih!" Seruni melipat kedua tangan.


"Sabar. Hallo, Aya!" teman Jonathan me-loud speaker teleponnya.


"Ada apa?"


"Aku hanya ingin memastikan apakah kamu sudah menelepon mama Andrea yang tidak pulang semalaman dan hari ini?"


"Sudah kok. Kenapa?"


"Kamu bilang apa ke mama Andrea?"


"Seminggu ini menginap di rumah aku."


Tapi kenapa mama Andrea menelepon keponakannya?


"Ya sudah kalau begitu."


"Aneh."


"Biarin, sudah ah aku sibuk. Aku tutup!"


"Eh, tunggu dulu! Kamu lagi apa sekarang?"


"Mau nyari kamu!"


"Oh- so sweet- hahahaha ya ampun, gara-gara di dalam gua otakku jadi error, harus refresh otak nih." Keluh Aya di telepon. "Sekarang giliran aku tanya, tahu keris yang pernah jadi syarat pertunangan Andrea dan Jonathan tidak?"


Seruni dan teman Jonathan saling melirik. Tentu saja mereka berdua tahu, keris itu akan dicari mereka setelah menyelamatkan Aya.


"Memangnya kenapa kalau kami tahu?" tanya Seruni.


"Aku juga ingin mencarinya setelah keluar dari gua ini." Sahut Aya,


"Memangnya kamu bisa keluar dari gua itu?" tanya teman Jonathan.


"Uhm, uh, ya- begitulah- tapi jangan tanya bagaimana, yang penting aku harus menemukan keris itu."


"Bagaimana kamu tahu mengenai keris itu?" tanya teman Jonathan dengan curiga.


"Itu tidak penting, kamu tahu dimana keris itu dan bagaimana bentuknya?"


"Tentu saja aku tahu, setelah menemukanmu kami berencana mencari keris itu." Jawab teman Jonathan. "Seroja juga ikut mencari bersama Andrea."


"Prioritaskan! prioritaskan mencari itu! aku baik-baik saja disini bersama obor dan selendang yang diberikan Seroja. Kumohon, kalian mencari itu."


"Tapi-"


"Baiklah!" potong Seruni. "Tapi kalau anda merasa ada sesuatu segera hubungi kami!"


"Ya." Tutup Aya.


Teman Jonathan memasukan handphone Andrea ke dalam saku celananya kembali, "ada ide kita cari dimana?"


"Yang Mulia dan nona Andrea mencari di tempat jatuhnya teman kamu jadi kita... cukup mencarinya di tempat awal semuanya bermula."


Teman Jonathan menelan saliva dengan gugup, ini kali keduanya dia menghadapi iblis yang ingin memakan dirinya, pengalaman pertama sudah cukup mengerikan bagi dirinya. "Di- hutan?"


"Dulunya seperti hutan tapi sekarang sepertinya sudah bukan hutan karena pembangunan, kalau tidak salah digunakan sebagai lapangan dan yang kita butuhkan adalah pohon bringin tempat keris itu ditemukan." Seruni menoleh. "Aku tahu tempat itu karena Yang Mulia menyuruhku ke sana setelah nona Andrea memiliki dua jantung."

__ADS_1


"Baiklah, kita segera ke sana."


__ADS_2