
...percayalah dengan bunga ini...
...hingga saat ini aku terus bingung dan bingung...
...kita petik saja semuanya...
...lalu kita sirami...
...walau suatu saat nanti akan meneteskan air mata...
...(Floria–Tomohisa Sako)...
Jonathan sudah lama bekerja menjadi malaikat pencabut nyawa atau ada yang menyebut dirinya malaikat kematian. Terserah manusia menyebut kaumnya seperti apa, yang terpenting sosok inilah yang melindunginya dari makhluk gaib yang jahat, makhluk gaib yang mencuri dirinya saat masih di dalam rahim ibu. Jahat dan mengerikan, tidak ada yang bisa menghentikannya di zaman itu.
Suatu hari Jonathan mengeluh ke sahabat baiknya. "Rasanya aku ingin kembali menjadi manusia."
Teman Jonathan menyemburkan minumannya, "kamu sudah gila? Kalaupun kamu menemukan keluargamu, mereka sudah meninggal ratusan tahun lalu."
Jonathan memandang kosong jalanan dari atas jembatan penyebrangan, malam disini terlihat sangat indah terutama dari lampu-lampu mobil. "Aku hanya ingin tahu siapa diriku, aku juga ingin memiliki nama."
"Kamu baper amat jadinya." Teman Jonathan menepuk-nepuk pundak Jonathan, "lebih baik kita nikmati pekerjaan sekarang, bisa keliling dunia dan melakukan apapun yang kita sukai. Kalau menjadi manusia kita membutuhkan alat tukar berupa uang."
Jonathan menoleh, "kita juga dibayar emaskan?"
"Kalau itu supaya kita bisa berbaur dengan manusia untuk investigasi, biar bagaimanapun kita tetap manusia dalam wujud berbeda."
"Tapi aku melihat mereka kelihatan bahagia bersama keluarga dan orang yang dicintai."
"Hanya beberapa tahun saja, setelah itu nyawanya dicabut." Teman Jonathan mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak setuju kalau kamu menjadi manusia."
"Kamu hanya tidak ingin kerja sendirikan?"
"Bukan!" Kata teman Jonathan dengan tegas, "karena aku tidak mau mencabut nyawamu."
Jonathan tertawa, "baper!"
Teman Jonathan ikut tertawa.
Dari percakapan kecil inilah Jonathan jadi bimbang untuk menjadi manusia kembali, ah... seandainya saja dirinya tidak diculik dan menjadi budak iblis mungkin saja ia sudah berkumpul dengan keluarganya atau menikmati masa tua bersama keluarga atau juga sudah mati tanpa meninggalkan penyesalan apapun.
Suatu hari Jonathan duduk menunduk di depan pemandian bidadari sambil memutar bunga matahari di tangannya.
"Kamu malaikat pencabut nyawakan?" sapa seorang bidadari.
Jonathan mengangkat kepalanya, ternyata bidadari yang pernah menolongnya.
"Sekarang kamu tumbuh besar ya." Bidadari itu mengacak rambut Jonathan.
Jonathan tertawa. "Terima kasih atas bantuannya waktu itu."
Bidadari itu menghela napas, "setiap kesini selalu saja mengucapkan terima kasih, padahal itu hanya bantuan kecil."
"Tapi itu berpengaruh dalam kehidupanku."
"Lalu, apa yang membuatmu gundah?" bidadari itu duduk di samping Jonathan.
Jonathan terdiam, ia merasa sungkan membicarakannya.
"Bicara saja, siapa tahu... aku bisa nolong kamu."
Jonathan menghembuskan napas lewat mulut, "aku ingin kembali menjadi manusia."
Bidadari itu terkejut. "Kenapa kamu ingin menjadi manusia?"
Jonathan kembali memutar bunga mataharinya. "Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu."
Bidadari itu memegang tangan Jonathan yang memutar bunga matahari. "Lihat mataku dan bicara langsung di hadapanku."
Perlahan Jonathan menatap mata bidadari cantik di hadapannya.
Bidadari itu tersenyum, "kamu tahu... kalau diibaratkan dengan alam. Manusia seperti bunga, mudah rapuh. Kamu masih menginginkan hal itu? manusia sendiri saja tidak ingin rapuh kenapa kamu ingin menjadi bunga yang rapuh?"
Jonathan memalingkan wajah dan menatap bunga matahari ditangannya, "bunga itu memiliki berbagai jenis dan arti bukan? Meskipun bunga rapuh, bunga memiliki arti keindahan di dunia, sama dengan manusia... dengan adanya manusia mungkin pekerjaan malaikat pencabut nyawa tidak akan pernah ada."
Bidadari itu tertawa. "Kamu benar. Tapi... apa kamu siap diinjak, diterpa dan dicabut?"
Jonathan berkata sambil melamun, "aku sudah melihat berbagai kejahatan di dunia ini, entah itu kejahatan yang dilakukan makhluk gaib maupun manusia. Dan darisitulah aku belajar kalau manusia itu lebih kejam dari makhluk gaib yang jahat sekalipun."
__ADS_1
"Nah, itu tahu."
"Tapi entah kenapa aku tetap merasa ingin menjadi manusia."
Bidadari itu menghela napas, "ingin bantuan?"
"Bantuan?"
"Aku pernah mendengar ritual ini tapi aku tidak tahu apakah ini bisa."
"Maksudnya?"
"Ritual menjadi manusia."
"A... ada yang seperti itu? menjadi manusia?"
"Aku tidak tahu kebenarannya, kamu mau coba?"
"Tentu saja." Jonathan mengangguk cepat.
Bidadari itu tersenyum miris dan menyentuh pipi Jonathan, "tapi ada resikonya, jiwa kamu bisa menghilang. Kamu sudah siap dengan itu?"
"Jiwaku?"
"Ya."
Jonathan memalingkan wajahnya, "akan kucoba."
"Kalau kamu menyerah, katakana saja padaku... aku siap membantu."
Jonathan tersenyum dan mengangguk.
___
Setelah diberi tahu syarat menjadi manusia oleh bidadari penolongnya, hati Jonathan kembali bimbang. Syarat itu tidak mudah tapi juga tidak sulit, jika tidak ada persetujuan dari pasangannya... dirinya akan mati perlahan dan menyakitkan. Tidak adil bagi malaikat pencabut nyawa seperti dirinya.
"Seandainya aku menemukan bunga matahari kecil itu." Lamun Jonathan yang duduk di belakang kursi mobil yang dikemudikan Mahmud, targetnya. Sesekali Jonathan bersedekap dan bertanya-tanya. Biasanya orang yang akan meninggal diberi waktu, tapi ini... hari ini juga. Dosanya memang banyak kalaupun disebutkan satu-satu tidak akan muat di buku mungil kesayangannya.
"Lhat aja deh." Gumam Jonathan pada dirinya sendiri. Jonathan melihat keluar jendela mobil, sekarang mereka sudah berada di suatu tanah kosong, Mahmud bertemu dengan temannya disana.
Jonathan turun dari mobil dan menghampiri mereka berdua.
"Ya, saya ikut mata batin saya. Jika kita mendapatkan keris itu maka yang akan kita dapat adalah kekayaan." Angguk temannya.
Jonathan tertawa. Kalau sebuah benda bisa memberikan kekaayaan secara instan... sudah dari dulu tidak ada pengangguran di Indonesia.
Mahmud menyalakan senter dan mengarahkannya ke bawah pohon besar yang ditunjuk temannya. "Pegang senternya, saya yang akan menggalinya."
Temannya mengambil senter itu dan menyenteri Mahmud yang akan menggali.
Jonathan duduk tidak jauh dari sana, melihat kebodohan dua manusia yang menginginkan kekayaan secara instan. "Ck, ck, ck kasihan anak istrinya. Kalau punya kepala keluarga seperti dia."
Mahmud merasakan sesuatu, ia membuang cangkulnya dan menggali dengan tangan supaya cepat.
"Ketemu?"
"Senterin!" Seru Mahmud tidak sabar.
Jonathan menggeleng tidak sabar, ia melihat jam tangan. "Sebentar lagi."
Mahmud mengeluarkan benda pipih besar dan beberapa benda berbentuk gelas. "Nampan? Gelas?"
"Ini peninggalan jaman kerajaan Majapahit. Coba gali lagi, berarti di dalamnya ada sesuatu." Ujar teman papa Andrea.
Mahmud bertambah semangat menggali sementara Jonathan tambah tertawa mendengar percakapan mereka berdua, beberapa menit kemudian papa Andrea dan temannya bersorak kegirangan. "Dapat!" seru papa Andrea sambil mengangkat sebuah keris kecil.
Jonathan menggeleng. "Selalu saja sebuah benda disalah gunakan sama manusia."
Mahmud mendadak menggaruk badan di seluruh tubuh begitu juga dengan temannya. "Kenapa ini?"
Jonathan mendekat. "Hmmm... kalau sudah kena nyamuk sudah deh... hihihihihi..."
SIAPA KALIAN!
Jonathan, Mahmud dan temannya mengangkat kepala mereka.
BERANI SEKALI KALIAN MENGGANGGU TEMPAT KAMI!
__ADS_1
Jonathan melihat jam tangan. "Ah, jadi ini maksudnya."
Tiba-tiba muncul bayangan hitam besar di depan pohon besar. "SIAPA KALIAN!" Hardiknya.
"Kami..." teman papa Andrea mendorong maju Mahmud. "Kami mencari sesuatu."
"Sesuatu?" bayangan hitam itu membungkuk dan melihat tangan papa Andrea, "mencari sesuatu ataumencari keris saya?!"
"Kami hanya... ingin mencari kekayaan." Jawab Mahmud terbata-bata.
Jonathan menutup kepalanya dengan jubah, ia tidak ingin dilihat jin bermasalah itu. Kedua tangannya dilipat ke belakang.
"Hahahahaha... jadi kamu yang menemukan milik saya. Kalau begitu sebagai gantinya saya akan mencabut nyawa kamu!"
"Jangan! Saya punya istri yang sedang mengandung dan harus dibiayai." Seru Mahmud.
Jonathan mendecak kesal. Ngapain juga nih orang kasih tahu mengenai keluarganya.
"Kalau begitu saya akan mengambil nyawa anak kamu!"
Jonathan sudah menduga hal ini akan terjadi.
"Silahkan! Silahkan!" Mahmud mengangguk cepat lalu bersujud. "Asalkan nyawa saya selamat, saya bisa membuat anak berapapun!"
Jonathan terhenyak. "Orang ini... menjual anaknya?"
"Tolong saya, saya hanya ingin meminjam kekuatan anda untuk memperbaiki kehidupan saya." Papa Andrea bersujud di depan bayangan hitam itu bersama temannya.
Kehidupan saya? Lalu bagaimana dengan keluarganya?
"Malam ini juga saya akan mencabut nyawa anak kamu! Berikan satu tetes darah supaya anak buah saya bisa melacak keberadaan anak kamu. Gores jarimu dengan keris itu dan teteskan di atas tanah tempat kamu menemukan keris itu."
Mahmud menuruti perintah jin itu.
Jonathan menggertakan giginya, dia sudah mulai muak dengan manusia di hadapannya. Jonathan mengangkat tangan kanannya dan benar saja, nama yang tertera sudah berganti menjadi nama tak dikenal yang hanya diberi nama 'janin'. Itu berarti dirinya harus berlomba menemukan janin itu, untung saja ia bisa sedikit menyelamatkan janin ini dari tangkapan jin jahat.
Jonathan mengetuk satu kali tongkatnya di atas tanah, ia sudah berpindah tempat di samping tempat tidur Andrea. Jonathan menghela napasnya melihat janin di perut itu akan kehilangan nyawa karena ayah kandungnya sendiri, Jonathan mengubah tongkatnya menjadi belati dan mencoret tulisan janin di tangan kanannya.
Jonathan berusaha menahan sakitnya, untuk mencoret nama itu dibutuhkan proses yang menyakitkan, rasanya panas dan perih. Jonathan harus cepat-cepat melakukannya sebelum anak buah jin itu menemukan Andrea.
Setelah mencoret nama janin, darah menetes di tangannya. Darah akan terus mengalir selama beberapa hari meskipun dirinya tidak akan mati kehabisan darah. Jonathan menyobek kain jubahnya dan membalut tangannya yang terluka.
"Sekarang namanya sudah hilang." Jonathan menggerakan jari kanannya meskipun masih perih, "sekarang selanjutnya."
Jonathan mengambil jantung di tubuhnya lalu meletakannya di dalam jantung Andrea di dalam rahim mamanya. "Aku tandai kamu sebagai tunanganku." Bisiknya pelan, "titip jantungku ya, sekarang tidak akan ada yang bisa mengganggumu." Selesai melindungi Andrea, Jonathan kembali ke tempat Mahmud.
Mahmud bersama temannya sudah menyelesaikan ritualnya sambil menggaruk badannya yang gatal.
"Sampun." Kata Mahmud.
BAGUS. SEKARANG PERGI DARI SINI, AKU TIDAK MAU MELIHAT KALIAN LAGI!
Mahmud bersama temannya lari terbirit-birit sambil membawa barang-barang buruan mereka. Setelah mereka berdua menjauh Jonathan mendekati jin itu.
"Barang itu bukan milik kamukan."
"Siapa kamu?"
"Kamu tidak bisa melihat saya, tapi saya bisa melihat kamu!" Jonathan berkata dengan muak.
"Hahahaha... kamu pasti malaikat tidak bersayap itukan."
Jonathan mengangkat salah satu alisnya. Manusia selalu mengaitkan malaikat memiliki sayap, istilah ini terkenal di kalangan dunia manusia maupun dunia gaib. Tapi ada satu istilah yang terkenal tapi memiliki makna berbeda. Jika di dunia manusia, malaikat tidak bersayap dikaitkan dengan manusia yang suka menolong tanpa mengenal pamrih sementara di dunia gaib, malaikat tidak bersayap untuk anak-anak manusia yang diculik dari janin atau bayi berumur kurang dari satu hari.
Jonathan tersenyum. "Tidak ada kaitannya dengan kamu."
"kalau begitu kamu juga tidak perlu ikut campur dengan saya, ini area kekuasaan saya. Bukan milik kamu!"
"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan."
"Jangan-jangan kamu melindungi anak buruan aku?!"
"Anak itu masih dalam bentuk janin, tidak sepantasnya kamu merampas hak hidupnya sementara kamu tidak ada sangkut pautnya dengan keris itu."
"Hahahahaha... apa kamu teringat dengan masa lalu kamu!?"
Jonathan menaikan kedua alisnya, percuma saja bicara dengan seekor lalat tidak berguna. Jonathan berjalan mundur dan meninggalkan jin yang masih tertawa.
__ADS_1
"Suatu hari aku akan memusnahkanmu." Janji Jonathan dalam hati.
___