
Seruni keluar dari kamar dan berseru. "saya akan memeriksa beberapa tempat dan menutupnya, anda jangan keluar kamar!"
"Tidak!" Andrea bangun dari tempat tidur. "Aku bosan di kamar terus, aku mau bantu kamu!"
Seruni berpikir sejenak lalu mendekati Andrea. "Kemari kan tangan kanan anda."
Andrea mengulurkan tangan kanannya ke Seruni.
Seruni mengeluarkan kuas dan menulis aksara jawa di sepanjang lengannya.
"Ini akan melindungi anda dari penculikan dan pembunuhan makhluk jahat lainnya." Seruni menjelaskan sambil menulis. "Dan juga petunjuk arah istana ini, tulisan ini juga membuat anda tidak bisa keluar dari istana ini selama saya tidak ada."
Setelah Seruni selesai menulis, Andrea mengangkat tangannya. "Apakah ini jimat tulisan?"
"Bukan, ini berbeda dari jimat." Kuas di tangan Seruni menghilang. "Anda tidak boleh keluar dari istana ini, beberapa pengawal berada diluar untuk melindungi anda."
"Istana?" Andrea mengintip keluar kamar yang dibuka Seruni. "Aku pikir kamar di istana ada lorongnya tapi- ini ada meja di luar kamar?"
"Ini masih di dalam kamar anda." Seruni membuka pintu lagi.
Andrea mengintip di belakang Seruni, dia terkesima melihat lorong besar serba emas. "Wuaaaahhh kalau manusia sudah kaya nih." Andrea mengikuti Seruni.
"Jangan berpikir untuk mengambilnya, ketika emas ini dibawa ke dunia luar maka emas kembali ke tempat kami."
Andrea menggeleng panik. "Mengambilnya saja tidak terpikirkan olehku, apalagi mencurinya dari tempat ini. Ngeri!"
Seruni tersenyum. "Kalau begitu saya bisa minta tolong? tutup semua jendela dan pintu di sekitar sini bersama salah satu pesuruh saya."
Andrea melihat seorang anak perempuan kecil memakai kebaya sederhana membungkuk pada Andrea. Kapan anak ini sudah disini?
"Namanya Seruya, dia adik angkat tuan putri. Dia juga yang akan membantu anda menutup semua pintu dan jendela," kata Seruni. "Para pengawal berjaga diluar, mereka tidak diijinkan masuk ke dalam istana. Jika ada yang bersikeras masuk dengan berbagai macam alasan, jangan diizinkan. Istana ini sedang kosong, seluruh dayang keluar untuk menjaga tuan putri."
Andrea mengangguk, mendengarkan instruksi Seruni.
"Jika ingin sesuatu anda bisa meminta tolong pada Seruya."
Andrea melirik anak kecil yang tersenyum ke dirinya. "Senang bertemu dengan putri kecil seperti anda."
Seruya menunduk malu.
Aya memukul kepalanya sendiri mengingat kebodohannya, teman Jonathan memang bilang bertemu di luar tapi tempatnya dimana dia tidak tahu. "Oiiii, kamu dimana?!" teriak Aya di tengah sawah, jalan tikus menuju keluar melewati sawah yang digarap orang sekampung termasuk bapaknya.
"Oiii, aku tidak tahu kita mau bertemu dimana! jawab dong!" seru Aya. Untung saja semua tetangganya pada melayat di rumah om Re jadi tidak ada orang di sawah.
Aya menghentikan langkahnya ketika merasakan bulu kuduk di belakangnya berdiri. Dia bisa merasakan ada seseorang berdiri di belakangnya, ini bukan teman Jonathan maupun Seroja tapi-
Aya mendengar suara berat dan jahat di belakangnya. "Jadi kamu teman anak perempuan itu."
Anak perempuan? Andreakah?. Kedua kaki Aya gemetar.
"Kamu akan menggantikan anak perempuan itu," ancamnya.
Aya memejamkan kedua mata dan teringat dengan pesan Jonathan. "Kalau kamu bertemu atau mendengar suara makhluk jahat, paksakan dirimu untuk lari. Jangan takut pada mereka, hindari mereka karena kamu bukan lawannya."
Aya berdoa sambil menghembuskan napas dan memaksakan kedua kakinya bergerak, dan benar- dia bisa lari meskipun ketakutan.
"Jangan lari!"
"Jangan lari!"
"Jangan lari!"
Aya merinding ketakutan mendengar banyak suara di belakangnya. Sebenarnya ada berapa yang mengejarnya?
__ADS_1
Aya mencoba mengingat kembali apa yang dikatakan Jonathan. "Ayo Aya! Ingat kembali apa yang dikatakan Jonathan!"
'Kalian tidak dikejar? baguslah! Kalau dikejar buatlah lingkaran di bawah kaki kalian lalu- pikirkan wajah aku atau temanku.'
"Masa hanya itu?" Aya teriak kesal, kakinya sudah tidak kuat lari. "Ayo Aya! Ingat lag-"
Aya mengingatnya, ia berhenti dan putar badan. Salah satu kakinya membuat lingkaran di atas tanah. Aya melirik makhluk berupa bayangan besar sudah semakin dekat, tangannya gemetar menulis sesuatu di telapak tangannya lalu mengarahkannya ke bayangan itu.
Muncul sinar terang ditangannya, makhluk itu terhisap di telapak tangannya. Aya berusaha menahan tangannya tetap diposisi.
Setelah tidak merasakan cahaya dan angin besar, Aya membuka matanya dan melihat telapak tangannya. Padahal tadi ia menggambar lingkaran dengan tangan kosong, sekarang lingkaran itu berwarna hitam.
PLOK PLOK PLOK
Aya mengangkat kepalanya. "Kamu-"
Teman Jonathan sudah berdiri di hadapannya sambil bertepuk tangan. "Kamu tadi diikuti makhluk gaib jahat makanya aku menyuruhmu keluar ternyata makhluk itu membuat garis supaya aku tidak bisa mendekatimu. Darimana kamu belajar itu?"
"Jonathan."
Teman Jonathan menepuk kepala Aya. "Bagus kalau kamu mengingatnya, yuk jalan!"
Aya menyentuh kepalanya yang ditepuk teman Jonathan, ia balik badan dan mengikuti Jonathan yang sudah menjauh. "Kenapa kita tidak teleport saja ke tempat yang dituju?"
Teman Jonathan menggeleng. "Aku tidak tahu tempatnya lagipula berbahaya kalau langsung transportasi begitu saja, kita tidak tahu apa yang terjadi."
"Jadi gempa itu memang bukan bencana alam?" tanya Aya penasaran.
Teman Jonathan menghentikan langkahnya, Aya yang tidak siap jadi tertabrak punggung teman Jonathan dan mengaduh kesakitan.
"Ya ampun, punggung malaikat pencabut nyawa apa memang sekeras ini?" Aya mengusap keningnya.
"Jiwa atau roh yang sudah dicabut tidak akan bisa merasakan apapun di dunia ini, mau banjir, gempa, kebakaran ataupun kejatuhan sesuatu... mereka tidak akan bisa merasakannya sementara jiwa milik kakek Re itu bisa merasakan gempa kecil di kakinya."
Aya menelan saliva.
"Tapi bagaimana dengan para makhluk gaib yang menginginkan persembahan, sesajen ataupun mencium wangi-wangian?"
"Itu syarat supaya bisa menunjukan diri di hadapan manusia." Teman Jonathan balik badan dan menatap Aya. "Dan juga syarat untuk menguasai sesuatu, pada dasarnya manusia tidak ada bedanya dengan makhluk gaib dan dunianya pun juga sama hanya berbeda dimensi."
Aya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku jadi tidak mengerti."
"Otak kamu kapasitasnya sesuai dengan hidung makanya aku tidak heran kalau kamu tidak mengerti." Ejek teman Jonathan.
"Jahat sekali kamu!" Aya menghentakkan kakinya. "Kalau dunia kalian, dunia aku, dunia roh dan dunia gaib aku sangat mengerti tapi aku tidak mengerti tentang dimensinya. Bukankah kita tinggal di tempat yang sama yaitu bumi!"
"Sederhananya, kita semua tinggal di bumi hanya berbeda fungsi dan tempat saja!"
"Nah, kan! aku jadi tidak mengerti!" Aya menunjuk teman Jonathan. "Penjelasan kamu bertele-tele!"
Teman Jonathan balik badan dan kembali melanjutkan jalannya. "Sudahlah. Percuma bicara dengan manusia seperti kamu!"
"Memangnya kamu sendiri bukan manusia." Gumam Aya.
Teman Jonathan menoleh ke belakang. "sekali lagi kamu bicara, aku tinggalin!"
Aya menarik jubah hitam teman Jonathan. "Aku kan hanya penasaran."
Teman Jonathan menghela napas. "Suatu hari nanti kamu tahu sendiri."
"Ngomong-ngomong kamu tahu tempat gempanya?" Aya menoleh ke kanan dan kiri.
Teman Jonathan menyipitkan matanya ke depan. "Sebentar lagi kita sampai."
Aya mengikuti teman Jonathan sambil memegang jubahnya tanpa banyak bicara.
__ADS_1
"Seroja!" seru teman Jonathan sambil melambaikan tangannya.
Aya mengintip dari punggung teman Jonathan. "Kenapa Seroja disini? jangan-jangan ini tempatnya? tapi inikan di pinggir sawah!"
Seroja mengangkat dagunya dengan anggun. "Lama."
"Maaf, maaf. Aku menjemput nona di belakangku." Teman Jonathan menarik Aya maju ke depan.
"Kenapa kamu melibatkan manusia?"
"Karena dia manusia, kita tidak bisa menyentuh ke sana bukan?" teman Jonathan tersenyum licik. "Nah Aya, silahkan ke sana." Teman Jonathan menunjuk bagian tengah jalan yang berlubang.
Aya bisa melihat itu. "Itu beneran atau-"
"Hanya yang bisa memiliki penglihatan gaib bisa melihatnya," kata Seroja. "Kamu juga merasakan gempa?"
Aya mengangguk kecil. "Om Re juga."
Seroja melirik teman Jonathan menuntut jawaban.
"Roh yang aku cabut tadi pagi." Jawab teman Jonathan sambil meremas kedua pundak Aya. "Kamu bisa ke bagian berlubang itu? meskipun hanya kita yang bisa melihatnya, jika manusia biasa lewat, mereka akan celaka."
Aya mendekati lubang itu dengan hati-hati. "Aku tidak bisa lihat isi lubangnya, apa dalam ya?"
"Jangan terlalu dekat dengan lubang itu Aya." Seroja memperingatkan Aya.
Aya terbelalak dan berjalan mundur, mulutnya menganga lebar. Melihat reaksi Aya, teman Jonathan mendekati Aya. "Ada apa?"
"Aya, kamu melihat apa?" tanya Seroja.
Aya menggeleng ketakutan. "Aku nggak yakin tapi sekilas aku melihat mata berwarna hijau, seperti mata Jonathan."
Seroja mengerutkan kening. Andrea masih hidup sementara dirinya sudah memastikan kalau Andrea hanya memiliki satu jantung.
"Seandainya aku bisa mendekat untuk memastikan." Teman Jonathan mengerutkan kening. "Apa yang harus kita lakukan?"
"Aku tidak bisa menutup lubang itu, mendekat saja tidak bisa." Seroja mendekati teman Jonathan. "
Aya menelan saliva. "Berikan aku kekuatanmu, Seroja." Aya menarik tangan Seroja. "Aku penasaran, aku akan memeriksanya."
"Tapi kamu tidak bisa melihat dalamnya bukan? kita saja tidak yakin isinya apa- kalau terjadi sesuatu dengan kamu bagaimana?" teman Jonathan menolak usulan Aya. "Biar bagaimanapun manusia biasa tidak akan tahan dengan hal seperti ini."
"Aku bisa!" Aya menyakinkan mereka berdua. "Ini pasti ada hubungannya dengan jin itu, bukan?"
Seroja menatap tajam teman Jonathan yang cengir. "Kamu kasih tahu?"
"Kalau tidak begitu, dia tidak akan kesini," balas teman Jonathan. "Kamu yakin bisa memeriksanya ke sana?" tanyanya.
Aya mengangguk yakin. "Aku ingin berguna untuk sahabat baik aku."
Teman Jonathan menghela napas. "Baik kalau kamu memaksa."
"Aku tidak setuju!" Seroja mendorong teman Jonathan. "Kamu sadar tidak sih kalau melibatkan manusia itu dilarang? Kalau dia mati di sana bisa tambah kacau keseimbangan dunia."
"Memangnya kematian ku bisa membuat kacau keseimbangan dunia?" tanya Aya tidak mengerti.
Teman Jonathan mendecak kesal. "Maksudnya kalau mati kamu tidak wajar dan tidak sesuai dengan suratan Tuhan, berarti jiwa kamu diambil oleh jin jahat dan- itu menandakan keseimbangan dunia sedang goyah."
Aya menggaruk kepalanya tidak mengerti, penjelasan malaikat satu ini benar-benar tidak dimengerti.
"Jin jahat membutuhkan roh manusia, jika kamu mati di sana itu berarti roh kamu diambil jin itu, dijadikan budak. Keseimbangannya akan menjadi kacau, terutama kamu sahabat baik Andrea, jika Andrea tahu terjadi sesuatu sama kamu, ia akan melakukan segala cara dengan memanfaatkan saya." Seroja menjelaskan panjang lebar pada Aya. "Sementara saya tidak bisa mengabaikan perintah tuan saya."
"Panjang, tapi aku mengerti." Angguk Aya. "Aku akan berhati-hati, lagipula kita tidak bisa mendiamkan lubang ini lama-lama, manusia yang kena ini bisa celaka, ujung-ujungnya kalian berdua yang kena masalah."
Teman Jonathan dan Seroja saling melirik, mereka berpikir sejenak lalu mengangguk. "Baiklah," kata mereka bersamaan.
__ADS_1