KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
TIGA PULUH DELAPAN


__ADS_3

Seruni dan teman Jonathan berdiri di depan kamar Andrea, menurut perkataan mereka. Ada makhluk asing yang sempat masuk ke dalam kamar Andrea, mereka tidak berani mendekat karena hawa kekuatan makhluk itu lebih tinggi dari mereka.


Teman Jonathan membuka pintu kamar Andrea perlahan supaya tidak terdengar mama dan adik Andrea.


Seruni masuk ke dalam kamar dan melihat sekeliling, tidak ada perubahan. Hanya beberapa baju kotor yang sepertinya sudah diambil mama Andrea.


"Menurut kamu, apakah ini makhluk yang sama?" tanya teman Jonathan sambil menutup pintu dengan pelan.


"Entahlah," jawab Seruni. "Yang menjadi pertanyaan aku, bagaimana bisa mereka masuk ke dalam sini."


Teman Jonathan mengangkat kedua bahunya.


"Yang Mulia sudah melakukan perlindungan di sekeliling rumah, terutama kamar nona Andrea. Seandainya mereka bisa masuk pun, harus dengan cara paksa dan itu pasti ketahuan kita semua." Seruni menggigit kuku jempolnya.


"Tapi- aku dan Jonathan bisa keluar masuk tempat ini dengan mudah, mungkin pelindungnya sudah mulai berkurang."


"TIDAK!" seru Seruni. "Aku sudah memeriksa juga tempat ini saat awal datang."


"Bagaimana dengan Andre? banyak jin yang masuk ke dalam tubuhnya kenapa masih bisa masuk ke dalam tempat ini?"


"Itu karena dari awal mereka sudah bersama tuan Andre, kami tidak bisa mengeluarkannya dengan paksa."


Teman Jonathan mengacak rambutnya dengan frustasi. "Aku benar-benar tidak mengerti prinsip kerja kalian dalam melindungi majikannya. Kalau memang ingin total melindungi, seharusnya yang nempel di Andre juga tidak boleh masuk ke rumah."


Seruni menatap tajam teman Jonathan. "Kalau tidak mengerti, sebaiknya jangan mencari tahu dan ikut campur. Kita fokus mencari keris."


Teman Jonathan memutar kedua bola matanya.


Seruni berjongkok di bawah meja belajar. "Apa sebenarnya yang mereka cari disini?"


"Tidak ada tanda-tanda mereka membongkar tempat ini."


"Kalau memang tidak ada yang berantakan, kemungkinan ada barang yang hilang." Seruni menyentuh bagian bawah meja belajar Andrea. "Atau ada sesuatu yang diletakan di sekitar sini. Coba bantu aku, jangan berdiri disana!"


Teman Jonathan menghela napas dan ikut membantu mencari apapun yang aneh di sekitar kamar. Ia berjongkok di samping tempat tidur dan menyelipkan salah satu tangannya di bawah kasur, satunya lagi mengangkat kasur.


Tangannya diam sementara kekuatan di sekitar tangannya meraba di bawah kasur. "Disini tidak ada."


"Disini juga." Seruni berpindah tempat ke lemari baju Andrea di samping jendela kamar Andrea. "Pasti ada sesuatu, yang membuat mereka kesini, mereka tahu nona ada di tempat kami jadi tidak mungkin mereka tidak kesini tanpa sebab dan pergi begitu saja."


"Bagaimana dengan ibu Andrea?"


Tangan Seruni berhenti, menoleh ke teman Jonathan yang memunggunginya. "Nyonya?"


"Kamu dengar tidak perkataan ibu Aya mengenai papa Andrea yang mencarinya?"


"Bukankah itu wajar?"


"Tidak wajar!" teman Jonathan meletakan kembali kasur dan duduk menghadap Seruni. "Papa Andrea sudah tidak peduli dengan hidup anaknya, aku sempat membaca sms yang dikirim orang itu ke handphone Andrea, selain itu- orang yang sudah lama hidup terpisah tidak mungkin tahu siapa teman dan nomer handphone anaknya."


"Darimana kamu tahu?"


"Jonathan sempat menceritakannya padaku."


Seruni menghela napas. "Kamu benar, papa nona memang sudah tidak peduli dengan hidup nona. Tapi kita juga tidak bisa terlalu lama disini, kita harus menyelamatkan nona Aya juga."

__ADS_1


"Petunjuk yang kita dapatkan mentok disini, mau tidak mau kita memang harus memeriksa kamar Andrea." Jonathan berdiri dan menepuk-nepuk celananya. "Biar bagaimana pun aku tipe yang tidak bisa bersabar."


Seruni mundur selangkah.


Teman Jonathan mengangkat tangan kanannya ke udara dan memejamkan mata, tongkat panjang dengan ujung celurit panjang muncul di tangannya.


Seruni takjub melihatnya, sudah lama ia tidak melihat tongkat malaikat pencabut nyawa. "Apa yang ingin-"


"Setidaknya dengan ini aku bisa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi." Teman Jonathan mengayunkan ujung tongkatnya ke udara membentuk lingkaran.


Seruni mendekati teman Jonathan dan mendongak ke atas, ia melihat pemandangan kamar Andrea di dalam lingkaran itu.


Seolah bisa membaca pikiran Seruni, teman Jonathan menjelaskan. "Kita bisa melihat ini beberapa jam lalu sebelum kita datang kesini."


"Tapi kita tidak tahu kapan mereka datang bukan? Kita tidak bertanya detail ke para makhluk itu."


"Jangan meremehkan kekuatan kami." Teman Jonathan menghentakkan tongkatnya sekali ke udara.


"Bisa nggak, kalau ngeliat gini nggak perlu sampai menatap ke atas gini?" protes Seruni.


"Sengaja." Cengir teman Jonathan tanpa menoleh.


Seruni melirik sekilas teman Jonathan dengan ketus, ia kembali menatap ke atas langit kamar Andrea yang dibuat lingkaran dengan film di dalamnya.


Aya menutup rapat-rapat kedua matanya di punggung Jonathan, tidak mau melihat darah di hadapannya. Menonton versi film aja ogah, apalagi nonton live.


Meski Aya menutup rapat kedua matanya, dia memasang telinga dengan tajam. Entah kenapa tidak mendengar apapun, dengan nekat membuka kedua matanya dan tetap memegang baju belakang Jonathan dengan erat.


"Udah selesai? monsternya sudah diusir?" tanya Aya, suaranya bergema di dalam gua.


Jonathan menggeleng pelan. "Untungnya kita sudah berpindah tempat."


Jo jalan menghampiri tuannya dan menaiki badannya hingga duduk di pundak tuannya. "Untungnya tidak ada pertumpahan darah, sekarang apa lagi yang harus saya lakukan tuan?"


"Tidak ada. Kamu boleh kembali."


Jo mengangguk hormat.


Aya mengamati perilaku mereka berdua dengan cermat dari belakang, tak lama tubuh Jo lunglai jatuh. Dengan sigap Jonathan menangkapnya sebelum Aya yang berusaha membantu dari belakang.


Jonathan terlihat tersenyum sekilas menatap boneka di tangannya lalu balik badan menghadap dirinya. "Jadi, bagaimana kamu bisa kesini?"


"Aku sendiripun tidak tahu dan tidak menyangka bisa bertemu denganmu-" Aya mengerutkan keningnya dan melihat Jo yang sudah tidak bergerak di tangan kanan Jonathan. "Kemana dia?"


"Sudah aku kembalikan ke tempat seharusnya." Jawab Jonathan. "Kamu tidak mungkin bisa mencapai kesini sendirian, pasti ada yang membantu bukan? Tempat ini bukan tempat biasa untuk dimasuki manusia."


Aya mengangguk setuju. "Melihat kejadian tadi, aku setuju."


Jonathan memiringkan kepalanya menunggu jawaban dari Aya.


Aya mendongak menatap Jonathan. "Aku memakai selendang yang diberikan Seroja, ini melindungi aku dari tempat tadi." Ia menunjuk pintu masuk goa.


Jonathan masih menatap tidak percaya Aya.


"Kamu tidak percaya?" tanya Aya.

__ADS_1


"Maaf, sudah lama aku diincar- jadi-"


Aya melihat Jonathan dari bawah ke atas. "Melihat keadaanmu sekarang, aku tidak bisa marah."


"Terima kasih." Jonathan tersenyum tulus.


Aya teringat dengan tujuan semulanya. "Ngomong-ngomong kenapa kamu ada disini? Dan kenapa-"


Jonathan mengangkat tangannya untuk menghentikan pertanyaan Aya yang bertubi-tubi. "Aku tidak bisa menjawab banyak, yang pasti aku masih hidup dan aku sembunyi untuk memulihkan diri. Mengenai bagaimana caranya, sebaiknya itu nanti. Bagaimana keadaan Andrea?"


"Bersama Seroja sampai sekarang." Jawab Aya.


Jonathan terlihat lega mendengar kabar itu. "Aku tidak bisa melindungi Andrea saat itu, maafkan aku."


"Dia sangat kecewa mendengar semua itu, seharusnya aku marah melihat perilaku kamu ke sahabat aku... tapi melihat kamu yang sekarang... aku rasa itu sudah setimpal."


Jonathan menunduk dan menarik napas dalam-dalam. "Maaf."


"Tapi, meskipun dia kecewa, dia tetap memilih kamu."


Jonathan mengangkat kepalanya, menatap Aya.


"Dulu kami berdua akan menertawakan hal ini, sekarang kami tidak bisa tertawa lagi. Cinta itu buta dan menyakitkan." Geleng Aya, "sekarang kamu pasti punya rencana bukan?"


Jonathan mengangguk pelan. "Ya, aku harus mencari dan memastikan sesuatu."


"Apakah keris?"


Jonathan terkejut dengan pertanyaan Aya.


"Jadi benar ya keris itu menghilang?"


Jonathan tidak menjawab.


"Aku ingin membantu."


"Tidak! Ini terlalu berbahaya untuk manusia!" tegas Jonathan.


"Aku tidak bisa tinggal diam jika terjadi sesuatu pada temanku."


"Apa yang terjadi pada Andrea? Kamu tadi bilang baik-baik saja bersama Seroja bukan?" Jonathan mengguncang keras badan Aya.


"Duh, yang aku maksud- kalau kamu dinyatakan mati, bagaimana dengan Andrea yang masih hidup?"


Jonathan melepas Aya.


"Raja iblis itu tidak mungkin berhenti begitu saja hanya karena ritual, dari awal dia memang bersikeras mengambil nyawa Andrea." Aya memeluk dirinya sendiri, ia pun merinding mengingat saat di tempat gelap menghadapi para gerombolan jin yang tidak karuan bentuknya.


"Kamu benar, maafkan aku." Jonathan mengusap wajahnya dengan frustasi. "Ya Tuhan."


"Jadi, kita mau kemana?" Aya berjongkok mengambil boneka penguin yang dijatuhkan Jonathan di tanah. "Kalau diperhatikan dengan cermat, sepertinya aku pernah melihat boneka ini, apa karena memang pasaran ya?"


"Boneka itu aku ambil di kamar Andrea."


"Kapan?"

__ADS_1


"Saat aku dikejar, aku sadar harus istirahat untuk memulihkan semua luka dan membutuhkan pengawal jadi aku ambil ini di kamar Andrea."


KRIIIIIIIIINNNNNNGGGGGGG


__ADS_2