
Andrea masuk ke dalam kelas dengan hati kesal, Aya yang duduk di bangku belakang Andrea, no 2 dari depan. menoleh ke belakang. "Lecek banget tampangnya."
"Gimana nggak lecek coba, aku semalaman tenggelam di air terus pas bangun sudah di dalam kamar, si mas Jo juga gitu. menghilang nggak tahu kemana, aku kan jadi penasaran kelanjutannya, kita juga diburu waktu!"
Kalau saja Aya bukan sahabat baik Andrea bisa saja dirinya mengira Andrea bukan perempuan baik-baik, bayangkan semalam tenggelam di air terus sudah di kamar dan pihak laki-lakinya nggak ada. "Kamu jangan bicara sekeras itu, nanti orang salah paham."
Andrea meletakan tas ranselnya di bawah bangku. "Biarin." Jawab Andrea dengan nada cuek.
"Jadi kemarin kalian kemana?"
"Ke air terjun Coban Rondo."
"Pulang sekolah langsung ke sana?"
Andrea memutar badannya ke belakang, "Enggak. Malam hari kita ke sana."
"Hah? Nggak bahaya tuh? Eh, tapikan kamu sama si malaikat itukan." Aya menggaruk kepalanya yang berjilbab dengan perasaan aneh, "Kadang aku kayak orang gila bicara ginian sama kamu."
"Hahahaha kalau anak lain mah malah menganggap kita ngehalu." Tawa Andrea.
"Bukan halu lagi, tapi gila. Masa orang gila masuk kelas IPA."
"Kira-kira ada nggak ya temannya mas Jo kamu? sama-sama malaikat pencabut nyawa kayak di drama korea gitu, hero nya punya temen, gak papa deh aku temennya heroine." Ucap Aya sambil melamun.
Andrea pasang tampang aneh. "Serius kamu berpikiran seperti itu?"
"Serius. Habisnya denger cerita kamu kok kesannya rame gitu daripada aku flat terus-" Menyadari masuk zona bahaya, Aya buru-buru menambahkan." Tapi bukannya aku tidak bersyukur dengan kehidupanku sekarang."
Andrea teringat dengan suara pria berjubah semalam. Mungkin itu temannya mas Jo tapi-
"Aku tidak memaksa kamu memperkenalkan teman si malaikat ini, anggap saja hanya pembicaraan sekilas."
"Tapi mungkin lebih asyik dan rame juga kalau kamu dan dia ikutan."
"Dia?"
"Yah- temannya mas Jo. Mungkin?"
"Jadi ada?"
Andrea hendak menjawab. "A-"
"Rajin sekali kalian datang sepagi ini. Kalau Aya, kami tidak heran tapi Andrea? tumben." Wakil ketua kelas, Nisa. Masuk ke dalam kelas bersama Rara.
"Berdua teruuuss-" Sindir Aya.
Nisa duduk di bangku samping Andrea dan Rara di belakangnya. "Iyakan namanya soulmate mesti gitu, ngomong-ngomong udah kerjakan pr belum?"
"Memangnya ada pr?" tanya Andrea ke Aya.
"Kita sih sudah selesai cuma yang belum menyelesaikan tugas minggu lalu di kelas dibuat pr," jawab Aya.
"Yah- jadi kalian berdua sudah ngumpulin tugasnya kemarin? kenapa nggak contekin kami?" tanya Rara melas.
"Kasihan deh," ejek Aya.
"Kenapa kalian belum selesai? padahal tugasnya gampang kok dari pak Awan." Andrea menopang dagu di atas meja Aya. "Ngapain aja sih kalian?"
"Yah kami berdua kan sibuk punya pacar." Jawab Rara sambil cekikikan.
"Bukan alasan! Huuu-" Aya menurunkan jempolnya.
"Hahahaha" Aya, Andrea, Nisa dan Rara tertawa bersamaan.
"Tapi tenang saja, hari ini pak Awan nggak masuk lagi kok karena sakit jadi mungkin ngerjain tugas doang," ujar Aya.
Rara dan Nisa menghela napas lega.
"Eh, ngomong-ngomong kalian sudah dengar berita pagi ini belum? heboh banget tadi di kampungku." Rara mulai cerita.
__ADS_1
"Berita apa?" tanya Nisa yang ikut memutar badan ke belakang.
"Itu- air terjun Coban Rondo rusak, padahal semalam nggak ada angin, badai atau tanda-tanda banjir. Semuanya pada berspekulasi kalau itu ulah penunggu karena nggak dikasih sesajen." Rara mulai cerita. "Daun-daunnya banyak berguguran terus beberapa batu besar berpindah tempat, yang paling parah batu-batu kecil di dalam air pada di permukaan semua, nggak tahu siapa yang pindahin."
Aya melirik Andrea sekilas sementara Andrea pasang tampang poker face.
"Wiiih, jadi pengen lihat aku. Ke sana yuk," ajak Nisa ke Rara.
"Nggak ah, kan jauh dari sini Nis, duit aja udah menipis. Nggak mungkin minta nyokap lagi." Tolak Rara.
"Emang nggak ditutup apa tempat wisatanya?" tanya Aya.
"Enggak, malah banyak warga dan turis berdatangan karena ini, lumayan kan dapat penghasilan." Tawa Rara.
"Kan bahaya banget kalau gitu, siapa tahu mungkin ada gempa susulan." Andrea buka suara.
"Gempa?" tanya Rara dan Nisa bersamaan.
"Kalian tidak belajar di fisika ya? Gempa itukan karena adanya lempengan yang bergerak. Nah, memang kalau gempa kecil tidak bisa kita rasakan tapi gempa kecil bisa dirasakan oleh tanah, nah dari tanah yang bergetar itu mungkin daun-daun pada jatuh terus batu-batu berpindah tempat. Terus itukan hutan, siapa tahu ada binatang turun terus mainin batu." Andrea mengangkat bahunya, "Kalian sih tidak belajar ilmu pasti makanya semua dikaitkan dengan yang tidak pasti."
Rara dan Nisa saling melirik.
"Memang bisa sih, kalau ada hewan kayak gitu tapi aku pernah ke sana dan tidak ada yang namanya hewan," kata Nisa.
"Hewan liar itu takut sama manusia, jadi mereka keluar malam hari, kan ada di biologi mengenai hewan, tidak perlu belajar pun kita harusnya tahu itu." Tambah Aya.
"Iya deh, anak pintar," kata Rara dengan nada ketus.
Andrea kembali ke posisinya semula dan Aya menatap punggung Andrea. Dalam hati Aya bertanya-tanya. Apa yang dilakukan Andrea cs sampai membuat kacau tempat wisata itu?
"Andrea." Panggil Aya.
"Mhm?"
"Berhati-hatilah."
Andrea tersenyum sambil menunduk, "ya."
"Bukannya biologi?"
"Nggak tahu," sahut Rara, "mungkin pas pelajaran, kita sedang sms di pojokan waktu itu."
Nisa memiringkan kepalanya dengan heran. Mungkin saja ya.
Aya yang mendengar percakapan mereka berdua tertawa dalam hati lalu tanpa sadar melihat seseorang memakai jubah panjang berwarna hitam berdiri diam di samping Andrea yang sedang menunduk.
Teeeeetttttt. Bel tanda masuk berbunyi.
Aya memutuskan pura-pura tidak melihat
--------
"Tugas hari ini yang belum selesai jadi tugas rumah, lalu jangan lupa minggu depan di kumpulkan, pastikan kalian sudah mengerjakan semuanya karena besok pak Awan sudah keluar dari rumah sakit." Guru pengganti, pak Nasar. mengetuk black board.
Mendengar hal itu, para murid melenguh panjang.
"Yang sudah selesai segera kumpulkan ke depan, saya tunggu." Pak Nasar berdiri di depan bangku Andrea dan mengetuk bangkunya, "Kumpulkan disini." Setelah itu dia kembali duduk di tempatnya.
Aya berdiri dan meletakan bukunya di bangku Andrea, dia sengaja memutar karena di kanannya masih ada orang berjubah hitam, wajahnya tidak terlihat karena ditutupi tudung dan menunduk. "Kamu sudah selesai Ndrea?"
Andrea mengangguk. "Sudah."
Aya melirik sekilas lalu tanpa sengaja melihat mulut menyeringai orang berjubah itu, sontak Aya melempar buku tebal Andrea.
"Aya!" teriak Andrea kebingungan.
Satu kelas menoleh ke Andrea dan Aya.
"Ada apa?" Nasar jalan terburu-buru ke Andrea.
__ADS_1
Andrea memegang kedua tangan Aya dengan panik, "Aya kesakitan pak, tangannya kebas tadi."
Aya melotot ke Andrea.
"Bagaimana bisa kebas? Waduh, wajah kamu kenapa pucat?" tanya Nasar begitu melihat wajah pucat Aya.
"A-" Aya tidak mampu menjawab, napasnya memburu melihat orang berjubah hitam itu duduk kesakitan sambil memegang wajahnya.
"A- pasti sakit sekali ya. Iya sih, kemarin kan kamu bantu orang tua kamu macul setelah pulang sekolah hahahaha." Andrea mendudukkan Aya di bangkunya, "Tenang saja pak, saya yang akan mengawasi Aya. Kami tukar tempat saja."
Nasar mengangguk tidak percaya. "Kalau mau, kamu bisa pulang cepat."
Aya menggeleng. "Tidak, tidak! Saya tidak bisa tidak masuk pelajaran bu Dini setelah ini."
"Yah, Kimia memang susah sih ya," Andrea menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kamu yakin tidak apa Aya? aku anterin kamu pulang deh."
Aya menoleh ke belakang. "Gak deh, makasih!"
Dahi Andrea berkerut heran.
"Hanya dua anak saja yang selesai? dari dua puluh lima anak di kelas hanya dua anak yang sudah menyelesaikannya? Bahkan-" Nasar membaca satu persatu nama di sampul buku, "Bahkan tidak ada nama pengurus kelas disini?"
Ketua kelas yang duduk di bangku depan guru, nyengir tidak bersalah. "Maaf pak, habis soalnya sulit."
"Sulit darimana? ini soal muncul di ujian negara tahun kemarin lho!"
"Tapi kalau tidak diberitahu caranya sama saja bohong pak, rumusnya saja kami tidak tahu!" sahut Rara, "Dua minggu ini pak Awan tidak masuk."
"Tapi kedua teman kalian bisa menyelesaikannya." Pak Nasar melihat jawaban tugas Aya, "Aya dan Andrea."
"Yah kitakan nggak tahu jawabannya benar atau tidak." Ketua kelas menjawab dengan asal.
Pak Nasar menutup buku Aya, "setidaknya kedua teman kalian sudah berusaha menjawabnya. Sebagai info untuk kalian, kalau mau istirahat jangan keluar dari pagar sekolah, akhir-akhir ini ada sweeping dari pemerintah, kemarin salah satu anak ips terjaring razia sedang makan cilok di taman kota, saya jadinya yang harus ke sana."
"Yah, pak. Makan cilok doang," celetuk Rara.
"Masalahnya bukan di makan ciloknya tapi nama sekolah kita, nama sekolah sudah jelek, lalu kalian tambah jelek lagi? Sebagai murid masa kalian tidak ada inisiatif menjaga nama sekolah?" ujar pak Nasar.
Semua murid tertawa kecuali Aya dan Andrea.
"Pokoknya istirahat tidak boleh keluar sekolah, ada yang kedapatan keluar sekolah- saya hukum kalian! satpam sudah dipekerjakan mulai pagi ini jadi kalian tidak bisa main-main dengan saya!"
"Baik pak!" jawab para murid bersamaan.
Teeeeeetttttt...
"Ya udah, istirahat sana!" pak Nasar mengambil bukunya dan meninggalkan kelas.
Andrea yang melihat Aya masih tetap menunduk, berjongkok di sampingnya. "Aya, kamu tidak apa-apa?"
Aya menoleh. "Tidak apa-apa apanya? nyeremin tahu tadi!"
"Apanya yang nyeremin?" tanya Nisa yang duduk di samping Aya.
"Pokoknya nyeremin!" Kepala Aya bersandar di meja. "Nggak mau lihat lagi!"
"Hi- hi- hi- hi-"
Aya menutup telinganya dengan kedua tangan.
"Hu- hu- hu- hu-"
"Berisik!" teriak Aya.
"Aya, kamu kenapa?" tanya ketua kelas, "Kenapa teriak-teriak kesetanan gitu?"
"Habis aku digang-" Aya mengangkat kepalanya, "Kalian tadi tidak hihihi dan huhuhu?"
"Hihihi huhuhu? bahasa planet?" Rara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kamu habis jatuh kemarin di sawah?"
__ADS_1
Aya bergidik ngeri mendengar jawaban teman-temannya, Andrea menepuk bahunya. "Maksud kamu dia?"
Aya mengikuti arah tunjuk di belakang Andrea dan entah kenapa pandangannya menggelap dan mulai terdengar teriakan panik teman-teman memanggil namaya.