
Dengan sombong, Mahmud menantang Jonathan. "Saya menolak menghancurkan itu!"
"Meskipun pertaruhannya adalah nyawa putri kandungmu?" tanya Jonathan.
Mahmud melirik sekilas Andrea lalu menatap kembali Jonathan. "Memangnya kenapa? Dia hanya sampah!"
Andrea menutup kedua matanya, menahan supaya air mata tidak mengalir keluar.
Sudut bibir Jonathan sedikit terangkat. "Manusia memang tidak pernah ada puasnya."
Teman Jonathan menghela napas. "Atau kita paksa orang ini menghancurkannya?"
Aya menggeleng khawatir. "Bagaimana kalau beresiko? Kalau dipaksa, imbasnya kena Andrea bagaimana?"
"Kalau begitu kita bisa meminta pertanggung jawaban kepada ayah kandungnya kan? Dia yang memulai, dia juga yang harus mengakhirinya." Sahut teman Jonathan.
Aya menoleh ke Jonathan.
Jonathan menggeleng sedih. "Tidak ada hal lain untuk ditawar, memang sudah begitu peraturannya. Yang awalnya ingin kaya mendadak, sekarang menjadi begini."
Andrea menundukkan kepala dengan sedih. "Aku tidak menyangka nya-"
Mahmud mendengus kasar. "Kau anak gagal, saya sudah gagal mendidik kau. Kau yang harusnya menjalani hidup kau, jangan libatkan saya dengan istri dan anak-anak saya."
Teman Jonathan mendorong mundur Aya lalu hendak maju tapi ditahan Jonathan. "Rasanya aku ingin memukul dia." Desisnya.
Seroja dan Seruni setuju dengan perkataan teman jonathan, sayangnya sudah menjadi hukum alam kalau makhluk seperti Jo dan temannya tidak bisa menyentuh apalagi menyakiti manusia.
"Sekarang bagaimana? Kita hanya berdiri saja disini?" tanya Aya.
Seruni mendorong Ina hingga jatuh ke belakang dan berteriak kesakitan.
"APA YANG KAMU LAKUKAN?!" teriak Ina.
"Kamu ingat tidak kucing kecil yang kamu lempar dari pagar tinggi? kamu ingat tidak bagaimana kamu memperlakukan majikan kami? kamu menindih dadanya dan menyuruh dia bersumpah di atas al quran?" tanya Seruni sambil berdiri di atas Ina lalu menindih dadanya dengan lutut. "Aku akan melakukan hal yang sama kepada pelakor seperti kamu."
'Ibu!" kedua pegawai hanya berteriak dan tidak melakukan apa-apa, mereka berdua terlalu takut dan kalut untuk menolong.
Ina meronta kesakitan dan kesulitan bernapas.
"Sakit kan? kamu sakit kan?" tanya Seruni dengan nada mengejek.
Aya memegang dadanya dan meringis. "Pasti sakit banget." Gumamnya.
Seroja maju dan menendang lutut belakang Mahmud hingga jatuh berlutut ke depan.
"ARGH!"
Jonathan melepas pelukannya dari Andrea lalu berjongkok di depan Mahmud. "Jika seorang anak menjadi sampah bagi ayahnya itu berarti sang ayah lebih dari sampah. Jika terjadi sesuatu pada Andrea... akulah orang pertama yang akan mencabut nyawamu, aku malaikat pencabut nyawa, tidak akan segan mencabut nyawamu dengan rasa sakit yang luar biasa." Ancamnya.
Mahmud menatap marah Jonathan.
"Sekarang, keluarkan isinya atau aku yang mengeluarkannya sendiri?" Jonathan mengarahkan keris itu di hadapan Mahmud.
Mahmud memalingkan wajahnya. "Saya tidak salah apapun, saya melakukan itu demi melindungi istri dan anak-anak saya tapi kenyataannya ibu dia malah kabur dan bawa anak-anak."
Andrea yang tidak terima dengan perkataan bapaknya, berteriak histeris. "KAMU SENDIRI YANG BILANG TIDAK MAU DITEMANI DI BALI, KAMU SENDIRI YANG TIDAK MAMPU MEMBIAYAI KEHIDUPAN KAMI SEHINGGA MAMA TERPAKSA PINDAH KE MALANG!!! MASIH BERANI BERKILAH KAMU!"
Aya memeluk erat Andrea dan berusaha menenangkannya. "Andrea, sudahlah."
Andrea menunjuk Mahmud dengan geram. "Aku tidak peduli dia menghina aku, tapi aku tidak sudi dia menghina mama- dialah yang membuang kami, kalau mama punya otak seperti dia- mama tidak akan menghidupi kami dengan kondisi pas-pasan."
"kami paham Andrea, sudahlah- Jo sudah tahu semuanya, apalagi Seruni dan Seroja terutama Allah." Aya mengelus kepala Andrea. "Kita disini untuk menyelesaikan semuanya dan membantu Jonathan, bukan untuk bertengkar."
Jonathan menghela napas. "Baik, kalau itu mau kamu."
Seroja memegang kedua pundak Mahmud dengan kuat hingga Mahmud tidak bisa meronta, semakin meronta semakin sakit pundaknya.
__ADS_1
Jonathan mengarahkan tangannya di depan dada Mahmud, tepat di jantungnya lalu meremasnya.
Mahmud berteriak kesakitan tapi tidak bisa meronta.
"YANG!" teriak Ina.
Seruni semakin menekan lututnya dan memegang kedua tangan si pelakor itu.
Aya yang tidak berani melihat, memejamkan matanya sambil memeluk Andrea sementara Andrea tidak ingin melewatkan hal ini sedetikpun.
"TUHAN AKAN MEMBALAS SEMUA PERLAKUAN KALIAN!" teriak Ina.
Seruni tertawa mengejek. "Untuk seorang perempuan yang sudah menghancurkan rumah tangga orang lain hingga membuat sang anak tidak bisa makan dan sekolah dengan benar, apakah masih bisa dibela Tuhan?"
Mahmud masih berteriak kesakitan.
Seroja menatap Jonathan. "Masih belum keluar?" tanyanya.
"Sepertinya dia takut untuk keluar, harusnya kalau terjadi sesuatu dengan pemiliknya, dia akan keluar." Jawab Jonathan.
"Jin memang begitu, selalu mencari aman sendiri." Sahut teman Jonathan. "Mau aku bantu?"
Jonathan menggeleng. "Lindungi Andrea dan Aya saja."
Teman Jonathan mundur selangkah dan berdiri berdampingan dengan Aya dan Andrea.
Andrea memikirkan sesuatu lalu teringat dengan kucingnya, Ogy.
"Ogy!" panggil Andrea. "Ogy!"
Meong.
Andrea berbalik, ia melihat kucing kesayangannya yang sudah meninggal berdiri di belakang dan menatap mereka.
Andrea menghampiri Ogy dan menggendongnya. "Aku minta tolong bisa?" tanyanya.
Andrea menyisingkan lengan bajunya dan mengarahkan pergelangan tangannya ke Ogy. "Cakar atau gigit ini hingga berdarah."
Ogy menatap tidak mengerti Andrea.
"Tolong, buat aku sampai mengeluarkan darah. Kalau kamu yang melakukannya, aku tidak akan merasa kesakitan dan aku bisa membuat alasan dari luka ini."
Ogy menghela napas lalu menancapkan cakarnya dan menggores tangan Andrea hingga terluka.
Andrea meringis kesakitan.
Aya berteriak kecil. "Kamu gila?" tanyanya.
"Ini jauh lebih baik." Andrea melihat darah yang mengucur deras di tangannya lalu menoleh ke Ogy. "Terima kasih, sekarang pergilah, selamatkan dirimu."
Ogy mengeong keras lalu menghilang perlahan.
Andrea lari menghampiri Jonathan dan mengarahkan darahnya ke keris.
Mahmud yang kesakitan, terperanjat melihat kenekatan putrinya.
"ANDREA! APA YANG KAMU LAKUKAN?!" teriak Seroja.
Jonathan menoleh ke Andrea yang sudah berlutut di sampingnya dan mengarahkan darahnya ke atas keris. Ia terkejut dengan kenekatan Andrea. "Andrea."
Tak lama muncul asap dari keris itu.
Teman Jonathan menarik tangan dan badan Andrea hingga mundur.
Andrea meringis kesakitan saat teman Jonathan menggenggamnya dengan erat dan kasar.
Aya semakin panik. "Apa yang kamu lakukan?"
__ADS_1
"Tahan sebentar, ini untuk menekan lukamu." Teman Jonathan berusaha menyembuhkan luka Andrea.
Jonathan menarik tangannya dari jantung Mahmud dan memegang keris yang tergelatak di atas tanah dan sudah berlumuran darah Andrea.
Semakin lama asap semakin banyak muncul dari dalam keris hingga mengeluarkan penghuni di dalamnya. Genderuwo!
Aya memeluk ketakutan teman Jonathan.
"Darah- darah-" Genderuwo itu mengedarkan pandangannya ke segala arah dan berusaha mencari darah.
Teman Jonathan menarik tangannya dari tangan Andrea. Luka tadi sudah menghilang hanya menyisakan sedikit bekas guratan cakar biasa, seperti luka lama. "Jika genderuwo itu tahu ada darah disini, dia bisa menyerang kamu." Bisiknya di telinga Andrea.
Aya yang bisa mendengar itu, bergidik ngeri.
"DIMANA DARAHNYA?" teriak genderuwo itu.
"Hai , genderuwo." Teriak Jonathan.
Genderuwo yang tingginya sekitar 3 meter dengan badan penuh bulu lebat, taring panjang di ke empat sisi serta mata merah darah, menunduk dan menatap Jonathan. "Makan."
"Apa benar kamu peliharaan orang ini?" tunjuk Jonathan.
Genderuwo menatap curiga Jonathan. "Makhluk pencabut nyawa, makhluk bernama- santapan lezat."
Jonathan menghela napas panjang. "Aku tanya sekali lagi, apakah orang ini majikan kamu?"
"MAKAAAANNNN!" tangan besar genderuwo itu mengarah ke Jonathan.
Jonathan memotong tangan genderuwo itu dengan sekali ayunan di udara menggunakan tangan kosong, begitu juga dengan kedua kaki genderuwo itu hingga jatuh berlutut.
"SAKIIIIT!" Teriak genderuwo itu hingga jatuh berlutut dan menimbulkan dentuman keras di atas tanah.
Aya memegang erat baju teman Jonathan supaya tidak terjatuh sementara teman Jonathan memegang erat Andrea.
"Jangan main-main dengan kami, meskipun sekarang aku malaikat bernama, aku bisa menghancurkan kamu dalam sekali ayunan di udara. Sekarang, beritahu aku dimana raja kamu?" ancam Jonathan.
"Dia tidak akan menjawab." Sahut Seroja.
Semua orang menoleh ke Seroja.
"Lihat lidahnya, di dalam ada mantera. Jika dia memberitahukan sesuatu yang menyangkut rajanya, dia sendiri yang akan mati. Lagipula makhluk itu juga bodoh." Jelas Seroja.
Mahmud tertawa mengejek.
Seruni menatap curiga Ina. "Kamu juga melakukan ritual yang samakan?"
Ina menatap terkejut Seruni.
"Kamu melakukan ritual dengan genderuwo untuk mendatangkan kekayaan dan perlindungan, timbal baliknya ada di kalian berdua. Tidak hanya dengan Mahmud saja."
Ina terkejut
Seruni mengangguk puas. "Aku benar rupanya."
"Lakukan saja." Perintah Seroja.
Seruni melaksanakan perintah Seroja dan melakukan hal yang sama seperti Jonathan, memasukan tangannya ke dalam tubuh Ina tepat di jantung dan meremasnya.
Ina meronta kesakitan.
Jonathan kembali meremas jantung Mahmud bersamaan dengan Seruni.
Teman Jonathan berdiri di hadapan genderuwo dan menatapnya dengan garang. "Kali ini kamu tidak akan selamat."
Genderuwo itu memohon-mohon kepada teman Jonathan untuk hidup lalu berteriak kesakitan saat teman Jonathan menebasnya dengan tangan kosong di udara, seketika genderuwo itu menghilang bersamaan dengan jeritan kesakitannya.
Genderuwo itu terbelah menjadi dua.
__ADS_1
Ina dan Mahmud menjerit kesakitan bersamaan.