KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
TIGA PULUH LIMA


__ADS_3

Yang selalu ada dalam ingatan Seruni adalah Andrea selalu duduk meringkuk di pojok kamar, menangis dalam diam. Setelah puas dengan itu semua, Andrea keluar dengan semangat dan energi baru, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tidak mau memperlihatkan ke orang lain tentang kesedihannya.


Yang selalu diucapkan Andrea berulang kali adalah


"Kenapa aku dilahirkan?"


"Kenapa papa membuang aku?" dan


"Kenapa papa mengatakan hal jahat seperti itu."


Seruni ingin menghibur dan menasehati. "Manusia dilahirkan dengan masa lalu beragam, kebetulan saja kamu terlahir sebagai anak dari pria berhati buruk. Suatu hari nanti kamu bisa jalan dan menegakan kepalamu tanpa menoleh ke belakang."


Dan setiap kalimat itu muncul di kepala Seruni, dia teringat dengan perilaku papa Andrea yang menukar keselamatan dengan nyawa anaknya sendiri, hal yang sangat miris. Mungkin membuang anak jauh manusiawi daripada menukar nyawa anaknya sendiri dengan kesenangan dan keselamatan pribadi.


"Runi, Seruni." Panggil teman Jonathan sambil menjentikkan jarinya. "Seruni!"


Seruni tersadar dari lamunannya. "Apa?"


"Malah melamun, jangan-jangan kamu tidak dengar kata-kataku tadi ya."


Seruni mengangkat dagunya dengan angkuh. "Apa yang kamu inginkan?"


Teman Jonathan menghela napas panjanng. "Dengar, sebaiknya kita ke rumah Aya dan kamu meminta ijin ke orang tuanya, sudah seharian Aya menghilang, mereka pasti khawatir."


Seruni memutar otak. "Bagaimana kalau aku merubah ingatan orang tuanya? Itu jauh lebih mudah daripada menampilkan wujud manusiaku."


"Terserah kamu. Nah, sekarang silahkan." Teman Jonathan menyingkir sedikit dan mempersilahkan Seruni jalan menuju rumah orang tua Aya yang sederhana.


Sudah tidak ada orang sebanyak dulu lagi, hanya ada sedikit orang di rumah om Re yang dekat dengan rumah orang tua Aya.


Seruni diam-diam menilai rumah yang ditempati Aya. Bagian depan berhubungan langsung dengan pemandangan sawah yang digarap orang tua Aya lalu sebelah kanannya terdapat aliran sungai buatan yang mungil dengan jembatan menuju ke sawah sementara sebelah kiri dan belakangnya merupakan pemukiman warga dengan jarak yang tidak begitu jauh. Seruni sangat menyukai pemandangan asri seperti ini.


"Yang mana orang tuanya?" tanya Seruni pada teman Jonathan di belakangnya.


"Nanti aku tunjukan, yang terpenting masuk dulu. Mumpung mereka sedang istirahat dari kerjaannya."


Seruni mendengus keras. "Hapal sekali kamu."


Teman Jonathan tidak menjawab, dia mengikuti Seruni masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Apakah itu orang tua nona Aya?" tunjuk Seruni.


Teman Jonathan mengikuti arah yang ditunjuk Seruni. Ya, benar. Itu ibu Aya, memakai jilbab panjang dan duduk sambil menelepon. Teman Jonathan menebak kalau ibu Aya sedang panik mencari anaknya yang belum pulang.


"Aya belum keluar dari lubang itu?"


Seruni dan teman Jonathan menoleh. Om Re sudah berdiri di belakang mereka.


"Aya belum keluar dari lubang itu?" om Re mengulang kembali pertanyaannya.


"Kenapa anda disini?" tanya teman Jonathan.


"Aku khawatir Ningsih tidak datang ke rumahku dari semalam ternyata Aya memang belum pulang, semua panik mencarinya." Cerita om Re. Ningsih adalah nama ibu kandung Aya.


"Ini sih tidak bisa hanya mengubah ingatan orang tuanya." Seruni menghela napas berat.


"Kamu mau apa?" tanya teman Jonathan.


Seruni keluar dari rumah Aya memastikan tidak ada yang melihatnya lalu mengubah dirinya menjadi manusia.


Om Re dan teman Jonathan saling melirik.


Seruni mengetuk pintu rumah keluarga Aya. "Permisi!"


"Apakah benar ini rumah no maksud saya Aya?"


"Iya." Angguk kakak perempuan Aya. "Apakah ada sesuatu dengan adik saya? Dari semalam tidak pulang ke rumah."


Seruni tersenyum menyesal. "Mohon maafkan keterlambatan saya memberitahu anda, sebenarnya adik anda sedang bekerja di tempat kami sementara dan memang karena sibuk jadinya beberapa pegawai tidak bisa pulang."


"Benarkah?" kakak perempuan Aya mengerutkan kening, ia masih tidak percaya dengan penjelasan Seruni.


"Saya salah satu rekan kerja Aya. Kalau tidak ada halangan kemungkinan hari ini atau lusa sudah pulang ke rumah dan ini-" Seruni memberikan sebuah amplop coklat panjang ke kakak perempuan Aya. "Ini separuh dari gaji Aya, tadi dia menitipkannya ke saya sebagai permintaan maaf karena tidak sempat meminta ijin ke keluarganya."


Kakak perempuan Aya menerima dan membuka sedikit amplop itu, kedua matanya terbelalak begitu melihat jumlah yang banyak. "Maaf, adik saya kerja apa ya?" cemasnya. Gaji sebanyak ini tidak mungkin kerja biasa.


"Tidak perlu khawatir, bukan pekerjaan buruk. Aya membantu atasan saya mengatur acara di luar kota, kata Aya uang itu untuk ibunya."


"Te- terima kasih." Kakak perempuan Aya memegang erat amplop itu. "Maaf apakah saya bisa meminta no handphone anda yang bisa dihubungi? supaya kami tidak cemas mencari Aya."

__ADS_1


Seruni menggeleng. "Mohon maaf, saya tidak bisa memberikan no handphone."


Teman Jonathan yang berdiri di samping Seruni bicara. "Tanyakan pada kakaknya, apakah ibu Andrea sempat menelepon ibu Aya?"


Seruni mendecak pelan. "Saya mau tanya."


"Ya?"


"Apakah mama Andrea sempat menelepon kalian?"


"Andrea?"


"Teman dekat Aya." Ibu Aya keluar dari rumah dan menghampiri Seruni. "Tidak ada telepon dari mamanya hanya dari papanya."


Seruni dan teman Jonathan terkejut.


"Papanya khawatir karena Andrea tidak pulang-pulang makanya telepon saya." Ibu Aya mendesah sedih. "Jangan-jangan Andrea ikut kerja dengan anak saya? saya dengar Aya kerja di tempat mbaknya."


"Uhmmm ya begitulah." Seruni bingung.


"Kedua anak itu kok bisa ya tanpa ijin pergi, seharusnya kalau mereka jujur kita sebagai orang tuanya tidak akan marah. Saya benar-benar khawatir sampai para tetangga ikutan mencari." Ibu Aya mengelus dadanya. "Syukurlah kalau anak itu baik-baik saja."


"Mungkin anak ibu bahagia karena bisa mendapatkan uang untuk ibu." Jawab Seruni.


"Semua ibu akan bahagia kalau anaknya juga bahagia mbak, monggo masuk dulu-" Ibu Aya mempersilahkan masuk Seruni.


"Tidak apa bu, saya Cuma sebentar memberikan pesan dan titipan ke ibu." Tolak Seruni.


"Sudah mau pergi? naik apa kesini? Pasti susah ya masuknya, jalan rumah agak masuk sih." Kakak perempuan Aya keluar dari rumah dan celingukan.


"Tidak apa, sekalian olah raga. Nah sekarang saya permisi dulu ya." Pamit Seruni.


"Terima kasih ya mbak sudah mengabari kondisi anak saya yang nakal, suruh nyalakan handphonenya juga supaya saya bisa menghubunginya." Pesan ibu Aya.


"Baik bu, akan saya sampaikan." Seruni membungkuk pamit dan jalan menjauhi rumah.


"Benarkah Aya bekerja sekarang? di dalam lubang itu sedang bekerja?" tanya om Re tidak percaya.


"Sudahlah, anda pulang saja ke rumah anda, nanti juga Aya akan cerita semuanya." Teman Jonathan menepuk punggung om Re dengan lembut.

__ADS_1


"Berjanjilah kalian memulangkan Aya dengan selamat." Pinta om Re.


Seruni mengangguk. "Kami janji!"


__ADS_2