
Andrea mengusap air mata, cerita itu sangat menyedihkan. Pengorbanan sang adik untuk kakaknya. "Lalu kenapa itu berubah menjadi tunangan? padahal cerita itu tentang pengorbanan adik."
Seroja menghela napas. "Itu hanya dongeng, banyak yang sudah dirubah jadi saya tidak tahu kebenarannya."
"Waktu itu kamu belum ada?" tanya Andrea sambil mengusap sudut matanya.
Seroja menggeleng. "Lebih tepatnya belum datang ke negeri itu. Saya sudah hidup ratusan tahun. Ketika mendatangi negeri itu, saya diceritakan dongeng itu, ceritanya pun sudah banyak yang berubah."
"Bagaimana dengan selir itu? Di dunia kamu pasti mengetahuinya kan."
"Sayangnya tidak ada yang tahu keberadaannya, banyak yang menduga kalau selir itu sudah dikirim ke tempat orang mati, biar bagaimanapun wanita itu memiliki banyak dosa, para penghuni neraka tidak mungkin melepaskannya begitu saja."
"Apakah mereka langsung dikirim ke surga atau neraka?" tanya Andrea dengan hati-hati.
"Saya tidak tahu, Andrea. Kami tidak pernah menyentuh dunia manusia yang sudah mati. "
Andrea menatap langit-langit penuh bintang, ia baru menyadari, meskipun berada di dalam ruangan seperti kamar, langit-langitnya tidak berupa atap atau ukiran tapi berupa langit malam penuh bintang.
"Langitnya indah." Tunjuk Andrea.
Seroja mendongak. "Sengaja saya buat untuk menenangkan hatimu, sudah lebih baik?"
Andrea mengangguk. "Terima kasih."
"Sama-sama."
Andrea merenung lalu bertanya. "Ada satu yang membuat aku penasaran, boleh aku menanyakannya?"
"Selama saya bisa menjawab."
"Bagaimana caranya pelindung putri meninggal? bukankah pelindung itu sama dengan kamu?"
Seroja terdiam. Rupanya Andrea anak yang cerdas.
"Kamu tahu kenapa pelindungnya meninggal? bagaimana caranya pelindung meninggal hanya karena melindungi putri? bukannya pelindung itu punya kekuatan?"
"Saya tidak tahu detailnya. Di dunia manusia tidak ada yang pernah memperhatikannya, di dunia kami, kaum kami hal itu beredar luas." Seroja memutuskan cerita pada Andrea. "Pelindung itu meninggal karena bunuh diri."
"Eh?"
"Pelindung itu tahu apa yang sebenarnya terjadi, demi mengungkapkan fakta itu ia rela membunuh dirinya sendiri ketika menyelamatkan putri."
"Tapi kenapa-"
"Karena itu tugas pelindung, sudah menjadi tugas kami melindungi tuan kami. Bunuh diri merupakan keputusan pelindung sendiri bukan keputusan tuannya."
"Kamu akan melakukan itu juga?" tanya Andrea.
"Kalau itu memang demi kebaikan Andrea, saya juga rela bunuh diri." Seroja merapikan selimut Andrea supaya hangat. "Sekarang sesuai janji, harus istirahat supaya besok bisa kembali ke rumah."
__ADS_1
Raut wajah Andrea berubah murung. "Sudah berapa lama aku menghilang?"
"Satu hari dunia manusia, satu minggu dunia kami. Makanya saya membawa anda ke tempat saya, teman anda sudah menolong saya membuat alasan. Jadi istirahatlah."
Andrea mengangguk lalu menutup matanya, Oggy dan Hero mengeong minta dibukakan pintu. Seroja membuka pintu dan membiarkan Oggy, Hero menggulung kan badannya di samping tempat tidur Andrea.
"Jangan mengganggu Andrea. Oggy, Hero." Setelah mengatakan itu, Seroja menutup pintu kamarnya, ia melihat teman Jonathan menggulung perban ke tangannya dengan susah payah.
"Sudah berapa lama kamu disini?" Seroja membantu teman Jonathan menggulung perban.
"Dari awal cerita pada jaman dahulu kala." Teman Jonathan meringis perih. "Pelan-pelan dong!"
"Sudah ketemu?" Seroja mengabaikan teriakan teman Jonathan.
Teman Jonathan menggeleng sedih. "Hilang tidak berbekas, persis dengan cerita kamu."
"Itu hanya dongeng sebelum tidur."
"Tapi di dunia kamu kan, juga ada dongeng itu."
"Kaum kami mengetahuinya karena berbaur dengan manusia, bahkan sering digunakan manusia." Seroja sengaja mengikat keras.
"Auw!"
"Ini luka waktu itu? masih belum sembuh?"
Seroja mengangkat kepalanya dan tersenyum jahil. "Oh-"
Melihat gelagat Seroja, teman Jonathan hendak menarik tangannya tapi ditahan Seroja. "Jangan aneh-aneh ya!"
"Tidak, saya tidak aneh-aneh! Saya hanya belum membalas dendam!"
Teman Jonathan menarik-narik tangannya. "Kau! dasar makhluk jahat! lepaskan tanganku!"
"Tidak, sebelum saya bisa membalas dendam." Seroja mengambil sebuah daun di dalam pot meja, daun ini bisa menimbulkan gatal untuk kaumnya. "Saya penasaran, kalau daun ini gatal untuk kami lalu bagaimana dengan malaikat pencabut nyawa ya?"
"Seroja! hentikan! Itu tidak lucu!" bentak teman Jonathan. "Seroja! Ah! Ah!" teman Jonathan menutup matanya saat Seroja hendak meletakan daun itu di lengannya yang bebas perban.
"Belum saya letakan malah teriak." Goda Seroja.
Teman Jonathan keringat dingin, "tolong! Aku tidak mau gatal-gatal! Kesakitan saja susah payah apalagi gatal-gatal!"
"Hooo- Lebih baik terluka daripada gatal-gatal ya." Seroja mengangguk mengerti lalu meletakan daun itu di lengan teman Jonathan.
Teman Jonathan menjerit keras lalu jatuh pingsan di tempat duduknya.
"Malah pingsan." Seroja tertawa geli.
__ADS_1
Setelah berkali-kali mencoba pejamkan mata, Andrea duduk termenung memikirkan sejarah yang diceritakan Seroja.
Seandainya benar itu terjadi, mengapa ada begitu banyak yang berubah? satu-satunya cerita yang sama hanyalah pergi ke air terjun bidadari untuk menyelamatkan diri atau mencari keluarga, lalu bagaimana caranya si Jaka ini tahu mengenai keluarganya semudah itu? dan masalah jantung pun-
Andrea menyentuh dada.
Jantung Jonathan ada di dalam dirinya, jika meninggal lagi maka hanya ada dua pilihan- dirinya yang meninggal atau Jonathan
Tapi jika dirinya masih hidup sampai sekarang setelah lompat dari jurang berarti yang meninggal adalah Jonathan?
Jantung Andrea berdenyut perih, membayangkan Jonathan pergi untuk selamanya, membuat luka besar di jantung. Tapi Andrea sangat yakin kalau Jonathan masih hidup, tidak mungkin malaikat pencabut nyawa mati hanya gara-gara lompat ke jurang.
"Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" gumamnya pelan.
"Masih memikirkan cerita Seroja?" teman Jonathan berdiri di depan pintu.
Andre menoleh. "Kamu disini?"
"Tentu saja. Setidaknya aku berutang maaf padamu." Teman Jonathan duduk di kursi samping tempat tidur Andrea. "Maaf."
"Untuk apa?"
"Karena aku berusaha membunuhmu."
Andrea menelan ludah mengingat hal itu.
Teman Jonathan menatap tajam Andrea. "Aku kenal Jonathan lebih lama dari kamu dan tentu saja aku tidak rela sahabat baik yang aku anggap sebagai keluarga mati untuk manusia lain."
Andrea duduk memeluk kedua lututnya, kepala bersandar di lutut. "Ada satu hal yang aku ingat, kenapa raja jin itu tertawa dan mengatakan akan mencicipi jantung dan darah malaikat pencabut nyawa?"
Teman Jonathan terkejut. "Kamu mendengarnya?"
"Waktu itu aku sudah sadar dari pingsan."
Teman Jonathan menghela napas. "Sebenarnya ini hanya dongeng omong kosong diantara mereka."
"Dongeng?"
Teman Jonathan mengangguk. "Tahu tentang naga atau putri duyung yang jika memakan dagingnya dan meminum darahnya akan diberi kehidupan abadi?"
"Makan daging akan diberi perpanjangan umur, minum darah akan diberi kehidupan abadi." Ralat Andrea. "Itu hanya dongeng, faktanya naga dan putri duyung tidak pernah ada."
"Mereka ada."
"Eh?"
"Zaman dahulu kala naga dan putri duyung itu benar-benar ada."
"Eh? serius? aku kira bohongan."
__ADS_1