
Dihinggapi rasa penasaran, dengan nekat Andrea membuka matanya perlahan dan mencari sosok Jonathan dengan penglihatan yang masih beradaptasi.
Samar-samar Andrea melihat Jonathan berdiri di depannya dengan jarak hanya tiga langkah, di hadapan Jonathan berdiri makhluk menyerupai manusia dengan tinggi seperti Jonathan dan berparas rupawan.
Andrea memukul-mukul Aya. "Ay, ay."
Aya mengangkat kepalanya tanpa membuka mata, ia menoleh kebingungan. "Apa, apa?"
"Buka, buka matamu!" perintah Andrea.
Aya mengerutkan kening. "Yakin?"
"Iya."
Teman Jonathan hanya menghela napas melihat antusiasme Andrea.
Aya membuka matanya perlahan, matanya langsung mengarah ke makhluk tampan di hadapan Jonathan. Makhluk tampan itu melihat dirinya dan Andrea dengan heran. "Subhanallah-" celetuk Aya.
"Saya tidak mungkin mengijinkan makhluk bernafsu masuk ke dalam." Komentar makhluk tampan itu.
"Bagaimana dengan Andrea? Dia tunangan saya." Jonathan menarik kasar Andrea ke dirinya.
Makhluk tampan itu menaikan salah satu alisnya. "Kamu yakin mau menjadi manusia? bukankah sudah bagus sekarang ini?"
Jonathan tidak menjawab, dia menantang makhluk itu melalui matanya sementara Andrea tidak bergeming di dalam rangkulan Jonathan, Andrea terlalu takut mencari masalah.
"Saya harus bertemu dengan bidadari yang sudah menolong saya," kata Jonathan.
"Bidadari disini ada banyak, kamu bisa memberitahu namanya?"
Jonathan tidak menjawab, dia tidak tahu nama bidadari itu.
"Saya tidak bisa membantu kalau-"
"Bagaimana kami mengetahui nama bidadari sementara kami sendiripun tidak peduli mengenai nama." Sela teman Jonathan. "Kalian pasti tahukan kalau kami sendiri saja dilahirkan tidak bernama."
Makhluk tampan itu tertawa. "Tapi teman kamu sudah tahu namanya sendiri."
Teman Jonathan terdiam.
"Saat ini yang ada di hadapan saya adalah makhluk bernama dan makhluk setengah malaikat pencabut nyawa."
"Itu artinya sebelum ritual kami harus bertemu dengan bidadari dulu sebelum darah nafsu tercemar? begitu?" tanya teman Jonathan.
"Benar." Tawa makhluk tampan itu.
Jonathan dan Andrea saling bertukar pandang.
"Terus bagaimana? Kami sudah melakukan semuanya tapi-" Andrea tidak melanjutkan kalimatnya.
"Dari awal semua memang dibuat berantakan."
"Apa?!" seru Jonathan, Andrea, Aya dan teman Jonathan.
"Semua perjanjian itu dibuat berantakan atau tidak berurutan, yang bertugas melakukan dan mencari urutan benar adalah sang pelaku." Jawab makhluk tampan itu.
"Itu tidak adil! Itu sama saja dengan menghancurkan harapan mereka yang ingin kembali menjadi manusia!" tukas Aya.
"Itu memang peraturan awal." Sahut makhluk tampan itu.
"Peraturan yang menyesatkan." Celetuk Aya.
__ADS_1
"Para makhluk rendahan sudah dibantu oleh bidadari untuk meninggalkan hal jahat tapi dengan tidak tahu dirinya kalian malah ingin menjadi manusia." Kata makhluk tampan itu sambil duduk di atas batu.
Andrea memiringkan kepalanya, di belakang makhluk itu tidak ada pemandangan apapun. Hanya warna putih. Dimana gerbangnya?
"Kamu pasti bertanya-tanya dimana gerbangnya bukan?"
Andrea terkesiap, ia menoleh ke makhluk tampan itu. Rupanya makhluk itu bisa membaca pikirannya.
"Tanpa membaca pikiran pun saya sudah tahu, sekarang begitu tahu kedatangan kalian sia-sia lebih baik kembali."
Aya berusaha memutar otak, ia tidak mau kedatangan mereka menjadi sia-sia. Enak aja!
Tiba-tiba Teman Jonathan menutup tudung jubah Aya dari belakang.
Aya yang tidak terima, menoleh ke belakang. "Hei!"
"Aku kan sudah bilang jangan melepas tudungnya." Kata teman Jonathan.
"Tapi inikan garis batas ke tempat bidada-" Aya tercekat. Di belakang punggung teman Jonathan gelap pekat berbanding terbalik dengan di belakang makhluk tampan itu.
Wajah teman Jonathan menutupi pemandangan di belakangnya. "Sudah aku bilangkan-"
"Gelap sekali, kenapa-"
"Kalian terlalu silau melihat di depan tapi tidak melihat kegelapan di belakang. Itu sebabnya aku yang berjalan di belakang, melindungi kalian kalau tidak begitu, bisa terhisap kalian di perjalanan."
Aya menatap sengit tatapan mengejek teman Jonathan di hadapannya. Tenang Aya! Ini bukan waktunya bercanda. Aya mengingatkan dirinya sendiri.
"Kamu bilang kalau kamu bertemu dengan bidadari itu di air terjun bukan?" Andrea bertanya ke Jonathan.
Jonathan mengangkat salah satu alisnya. "Ya, benar."
"Apakah itu berarti kita juga harus menemui bidadari itu di tempat yang sama?" tanya Andrea.
Jonathan dan Andrea menoleh ke teman Jonathan.
"Saat ini tidak mungkin para bidadari itu mandi disana lagi, mengingat ada masalah di luar sana." Teman Jonathan langsung menutup mulutnya.
"Masalah?" tanya Andrea ke Jonathan.
"Dari manusia menjadi budak setan lalu menjadi malaikat pencabut nyawa tak bernama dan sekarang melakukan ritual untuk mengubah dirinya menjadi manusia merupakan santapan yang menarik." Cerita makhluk tampan itu. "Itu sebabnya aku membenci makhluk rendahan."
"Kamu-" Andrea menatap tidak percaya Jonathan.
"Nanti aku jelaskan." Jonathan tidak ingin cerita hal ini ke Andrea.
"Terlepas dari itu, bagaimana caranya kita bertemu dengan bidadari itu?" tanya Aya. "Waktu kalian berdua tidak banyak."
"Aya benar," sahut teman Jonathan.
Aya mendekati makhluk tampan itu dan berdiri di depannya. "Tidak bisakah hanya Andrea dan Jonathan yang masuk ke dalam?"
Makhluk tampan itu menatap tajam Aya.
"Yang melakukan ritual itu adalah temanku dan tunangannya, aku rasa kami berdua tidak terlalu berguna masuk ke dalam." Aya menunjuk teman Jonathan yang berdiri di belakang dengan jempolnya.
"Aku sudah bilang kan kalau makhluk yang tercemar dengan nafsu tidak bisa datang." Hardik makhluk tampan itu.
Aya mendecak kesal. "Kalau begitu beritahu kami dimana bidadari yang membantu Jonathan mendapatkan pekerjaannya?"
"Aku tidak tahu, bidadari itu banyak sementara teman kalian saja tidak tahu namanya." Balas makhluk tampan itu.
__ADS_1
Jonathan memijat keningnya. Percuma saja, semua jadi berputar-putar.
"Bagaimana dengan pertukaran?" pancing teman Jonathan.
"Pertukaran?" tanya makhluk tampan itu.
"Aku membawa hewan yang bukan hewan, tapi aku rasa ini bisa menarik bagi kalian." Teman Jonathan mengeluarkan botol di dalam saku jasnya.
Jonathan menarik Aya dan Andrea untuk menjauh.
Teman Jonathan membuka tutup botol itu dan muncul angin besar dari dalam botol. Aya dan Andrea hampir menjerit melihat makhluk besar tidak bernyawa keluar dari botol itu.
"Itukan makhluk yang di air terjun-" kata Andrea.
"Kamu tahu?" tanya Jonathan untuk memastikan.
"Sebelum terlempar aku melihatnya sekilas." Jawab Andrea tanpa mengalihkan pandangannya. "Kenapa masih dibawa?"
"Kami tidak tahu ini makhluk apa dan aku rasa ini tidak dibutuhkan di dunia manusia." Kata teman Jonathan sambil melihat makhluk besar berbulu berkaki empat. "Seperti beruang tapi juga seperti. Yah, kami tidak tahu tentang makhluk ini."
Wajah makhluk tampan itu seketika mengeras. "Darimana kalian dapatkan ini?"
"Makhluk ini sempat menyerang kami dan juga menghancurkan hampir keseluruhan air terjun," jawab teman Jonathan. "Kamu tahu?"
"Bagaimana aku tidak mengetahuinya? makhluk ini dipelihara untuk menjaga tempat favorit para bidadari, tidak ada yang bisa menyentuhnya. Tapi kenapa bisa terkontaminasi?" Makhluk tampan itu berdiri dan berjongkok di depa makhluk berbulu yang sudah tidak bernyawa. "Dia dilarang menyerang siapapun."
"Jadi sebenarnya makhluk ini bukan suruhan manusia atau makhluk jahat?" tanya teman Jonathan tidak yakin. "Tapi kenapa malah menyerang kami? bukankah dilarang saling menyerang?"
"Aku juga tidak tahu." Makhluk tampan itu menjawab singkat.
"Berarti ada yang menyentuh dan memanfaatkan makhluk ini?"
"Tidak ada yang bisa menyentuhnya kecuali-" Makhluk tampan itu tidak melanjutkan kalimatnya.
"Kecuali manusia, dalam hal ini bisa saja dukun." Aya meneruskan.
"Dukun?" tanya Andrea.
"Logika saja, bagaimana manusia bisa mempengaruhi penjaga bidadari?" tanya Aya ke Andrea. "Dan bagaimana manusia bisa mengetahui keberadaan makhluk ini."
Teman Jonathan melirik Jonathan. "Raja iblis itu."
Wajah Jonathan berubah mengeras.
Andrea jalan mendekat dan berjongkok di samping makhluk tampan itu. "Apakah dia sudah mati atau akan hidup?"
"Bisa hidup, harus dibawa ke dalam dan para bidadari yang- tapi untuk menyadarkannya butuh waktu seratus tahun." Makhluk tampan itu mendecak kesal, "Kalau aku tahu pelakunya, akan ku tangkap dan hukum dia."
"Karena itulah, kamu bisa mengijinkan kami masuk ke dalam?" tanya teman Jonathan.
Makhluk tampan itu mengangkat kepalanya dan tersenyum hambar. "Kamu memang makhluk tidak punya perasaan, itu sebabnya aku benci kalian."
"Terserah bagaimana penilaian kamu tapi kalau saja aku tidak membawa makhluk ini kesini, mungkin saja kamu tidak akan tahu keadaannya selamanya," ujar teman Jonathan. "Izinkan kami masuk ke dalam sebagai pertukaran makhluk itu."
Makhluk tampan itu mendesis. "Kamu-"
"Kalau kamu mengijinkan kami menyelesaikan ritual, kami akan mencari tahu siapa pelakunya dan membawanya kesini." Janji Jonathan.
Makhluk tampan itu menoleh ke Jonathan dan menatap matanya. "Apa kamu bisa berjanji?"
Jonathan dan Andrea mengangguk cepat.
__ADS_1
Makhluk tampan itu menghela napas dan berdiri. "Baik. Aku ijinkan kalian masuk dengan satu syarat."