KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
EMPAT PULUH TUJUH


__ADS_3

Aya, Andrea dan teman Jonathan berhenti tertawa seketika.


"Aku sudah lama hidup di dunia manusia, tenagaku juga sudah habis. Aku harus secepatnya kembali ke kantor atau reinkarnasi. Kalau aku tidak bisa melakukan kedua hal itu, maka aku sendiri akan musnah." Cerita J panjang lebar. "Tidak disangka ada malaikat pencabut nyawa yang nekat kembali menjadi manusia dan melakukan ritual menjadi manusia, lagipula jarang sekali ada tumbal gagal."


"Apakah ritual itu sebenarnya bohong? makhluk seperti kami tidak bisa menjadi manusia?" tanya Jonathan.


"Kamu kan tahu syarat menjadi manusia, kenapa bertanya padaku?" J balik bertanya. "Bersyukurlah kalian diambil saat di dalam perut ibu kalian, bagaimana dengan anak-anak yang diambil nyawanya setelah lahir? seumur hidup mereka akan menjadi budak setan, setelah yang melakukan ritual itu mati maka pelakunya lah yang menggantikannya dan kita bisa mengambil anak-anak itu, dengan satu syarat lagi."


"Belum akhil baligh, dengan kata lain masih belum bisa membedakan dosa." Sambung Seroja.


J melirik sekilas Seroja. "Benar, tapi sekarang mana ada malaikat yang mau ikut campur."


"Kenapa?" Aya bertanya dengan heran.


"Para malaikat sudah terlalu muak dengan manusia, meskipun mereka harus menghormati manusia tetap saja jika anak-anak yang diselamatkan tumbuh dewasa, maka anak-anak itu bisa merusak alam. Makanya beberapa ada yang membiarkan, apalagi kalau anak-anak itu sudah ikut dengan para jin itu, sifat jahat mereka akan tetap menempel. Seperti bapak kamu itu, Andrea."


Andrea menunjuk dirinya sendiri.


"Bapak kamu itu dulunya sempat dijadikan tumbal oleh ibunya sendiri demi menarik perhatian pria, para jin meminta bayaran dan berhasil mengambil jiwa bapak kamu. Tapi, untung saja ayahnya tahu dan balas dendam ke dukun. Beberapa malaikat berhasil menyelamatkan jiwa yang diambil paksa termasuk bapak kamu dan akhirnya- kamu bisa melihat sendiri bukan, dia merasa tidak bersalah meski kamu dijadikan tumbal. Dia malah menyebut kamu sebagai sampah, huh! spermanya dia berarti sampah dong ya." Omel J.


"Aku baru tahu hal ini." Andrea menoleh ke Jonathan. "Kamu tahu?"


Jonathan menggeleng. "Aku juga baru tahu."


"Tentu saja, karena hanya malaikat tertentu yang mengetahuinya atau malaikat pencabut nyawa yang sudah berumur tua." Sahut J. "Ayo masuk!"


Semua bingung dengan perkataan J.


"Masuk kemana?" tanya Aya dengan bingung.


J menunjuk tembok di depannya. "Jalan lurus."

__ADS_1


"Itukan tembok." Andrea memiringkan kepalanya


"Jalan saja, tidak usah cerewet." J jalan melewati tembok dan lenyap.


Seroja mengikuti dari belakang.


Aya yang memeluk lengan Seruni, mengikuti langkahnya disusul teman Jonathan.


Andrea terlihat ragu untuk masuk lalu ditarik Jonathan dengan lembut.


"Aku akan melindungimu." Kata Jonathan.


Andrea mengangguk lalu jalan melewati tembok bersama dengan Jonathan. Setelah mereka melewati tembok, terlihat bagian dalam ruang mewah. Di sekelilingnya banyak perabotan emas.


Aya menatap takjub sekelilingnya. "Saat melewati tembok, aku teringat Harry Potter begitu melewatinya dan melihat ini semua- entah kenapa kita jadi terlihat memasuki sarang penyamun. Apa ini emas asli?"


"Tentu saja." Jawab Seroja. "Disini adalah barang-barang sitaan yang diambil dari pengikut manusianya. Emas, emas, dan emas termasuk berlian."


Jonathan sontak memeluk bahu Andrea dengan satu tangannya. "Sejak kecil aku selalu bersamamu jadi kemungkinan besar energiku-"


"Salah! itu gara-gara jantung kamu sempat ada di Andrea makanya Andrea bisa merasakan hawa gaib meski sedikit, pasti dulu kamu sering dipanggil makhluk haluskan?" tebak J sambil berjalan menjadi petunjuk arah.


Andrea mengangguk kecil. "Ya."


"Kenapa kosong? seharusnya ada yang menyambut kita." Kata teman Jonathan sambil matanya mengitari sekeliling ruangan. "Tidak mungkin mereka membiarkan kita masuk begitu saja."


"Tidak, dari awal mereka sudah ada hanya saja mereka mengawasi kita. Kalau kalian perhatikan baik-baik, mereka sebenarnya ada hanya saja mereka membiarkan kita masuk, tidak mungkin mereka melewati hal ini."


Mereka berenam memperhatikan sekeliling dengan seksama bahkan menajamkan pendengaran sambil jalan mengikuti J.


Makan...

__ADS_1


Ada makanan...


Jantung...


Darah...


Raja... raja pasti menyukainya....


Benar... raja...


Ketika menajamkan pendengaran mereka, suara itu terus menggema sepanjang mereka berjalan.


"Mereka tidak akan berani menyerang kalian, tenang saja," kata J.


"Tapi waktu itu mereka menyerang Andrea dan Aya." Kata Jonathan.


"Itu hanya jin kasta rendah, mereka tidak bisa berpikir. Tidak mampu tepatnya. Kalau di dalam istana ini, hanya ada jin kasta menengah." Jawab J. "Persamaan mereka hanyalah menuruti raja mereka. Kita sudah sampai."


Aya menelan saliva saking gugupnya.


J naik ke pundak teman Jonathan tanpa ijin. "Kamu duluan, Seroja."


Seroja menghela napas lalu membuka pintu berukuran besar dengan lapisan emas mewah dimana-mana.


Andrea mengintip dari balik punggung teman Jonathan. Di dalam terasa kemewahannya, banyak barang-barang berharga seperti yang ia lihat di film-film, hanya saja yang membuat berbeda, banyak makhluk di sisi kanan dan kiri, menyambut mereka. Makhluk itu bentuknya tidak karuan.


"Takut?" tanya Jonathan.


Andrea mengangguk. "Ini sama saja dengan istilah mengantar ke gerbang kematian, kita tidak tahu apakah kita bisa keluar selamat atau tidak."


"Jangan gitu dong Ndreaaaa," rengek Aya.

__ADS_1


__ADS_2