KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
SPECIAL KAZE II


__ADS_3

Kaze melihat telapak tangannya ketika asyik duduk diatas atap sambil mengawasi salah satu targetnya. Ia terkejut membaca nama, usia dan alamat roh yang akan dicabutnya. "Inikan... tuan dukun?"


Kaze cepat-cepat pergi ke tempat tuan dukunnya, saat sudah tiba ia melihat dukun itu sedang sekarat dan dikelilingi beberapa anaknya yang tidak peduli dengan kondisi bapaknya.


Kaze berdiri di samping tempat tidur dan melihat dukun itu sudah tua dan tergolek lemah tidak berdaya diatas tempat tidur.


"Kamu siapa?"


Kaze menoleh. Ia melihat seorang anak kecil berdiri ketakutan di pojok ruangan, ia merasa déjà vu dengan situasi ini. "Kamu sendiri siapa? Salah satu anak buah tuan dukun?"


"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja aku ada disini dan tidak bisa keluar. Kamu siapa?"


Sepertinya anak ini bukan berasal dari janin yang diambil tapi anak yang dijadikan tumbal, Kaze menghela napas. "Sudah berapa lama kamu disini?"


Anak laki-laki itu berusaha mengingat lalu menggeleng. "Aku tidak tahu, yang aku ingat aku sudah disini dan tidak bisa keluar, om itu menakutkan dan mengancam aku." Tunjuk anak laki-laki itu ke dukun.


"Siapa nama kamu?"


"Nanang."


"Nanang... hmmm," Kaze berjongkok, ini bukan kasus kali pertamanya ia tangani. "Nanang sudah tahu kalau Nanang sudah meninggal?"


Nanang berusaha menahan air matanya, "iya... om itu yang bilang, padahal aku sedang main sama teman-teman, tiba-tiba ada yang menembus badan aku dan ditarik keatas gitu."


"Ada berapa anak yang bersamamu disini?"


"Cuma aku aja, aku takut..." Isaknya.


Kaze menghela napas, "kalau begitu om bantu kamu nanti ya." Kaze menulis kosong di tangan kanan Nanang, "ini untuk memanggilku jika terjadi sesuatu sama kamu. Sekarang aku harus melakukan sesuatu."


"Mau kemana?" Nanang melihat tangan kanannya dipenuhi garis-garis.


"Kerja, kita berdua akan membalas dendam."


"Balas dendam?" tanya Nanang tidak mengerti.


Kaze tersenyum penuh misteri dan mengangkat tangannya, ia mulai mencbut roh sang dukun yang kesakitan. Nanang berdiri ketakutan di belakang Kaze sambil memegangang jubah hitamnya.


Roh dukun itu keluar dari tubuhnya, ia menatap kedua tangannya yang tembus pandang. "Aku... sudah mati?" tanyanya tidak percaya lalu melihat tubuhnya yang sudah tidak bernyawa. "Kenapa aku bisa mati? Aku membuat perjanjian dengan raja supaya aku tidak mati."


"Perjanjianmu dengan jin tidak akan pernah berpengaruh terhadap kami." Kaze menyeringai puas melihat wajah pias sang dukun.


"Siapa kamu?" hardik sang dukun.


"Aku malaikat pencabut nyawa!"


Dukun itu melihat Kaze dari atas sampai bawah lalu gemetar ketakutan. "Ma... malaikat?"


Kaze membuka tudung jubahnya, matanya berkilat penuh amarah ke dukun itu. "Aku ingin bertanya sesuatu padamu."


___

__ADS_1


Kaze duduk di atas tumpukan sampah kering, ia melihat kedua pasangan lansia sedang memunguti botol-botol yang akan dijual sesuai dengan cerita sang dukun yang mengambil dirinya di kandungan untuk tumbal ayahnya, dukun itu cerita dari awal sampai akhir dan gossip yang didengar dukun itu saat ayahnya tidak mampu mencari tumbal lagi, Kaze mengepalkan tangannya, ia menahan diri untuk memukul wajah tua dukun itu. Samar-samar Kaze mendengar bisik-bisik dari kejauhan.


"Dengar, kamu tahu pasangan suami istri itu?"


"Tidak. Memangnya kenapa mereka berdua?"


"Itu... suaminya mantan pejabat sementara itu istri mudanya."


"Oh ya? Masa?"


"Iya, istri mudanya beda 20 tahun gitu, tahu nggak... itu ya si suaminya meninggalkan istri sah terus memfitnah istri sahnya sampai anak-anaknya tidak diurusin sama suaminya. Naudzubillah mindzalik, jangan sampai menantu saya nanti seperti itu."


"Terus, terus?"


"Ya taulah ujung-ujungnya gimana, istri sah difitnah disana-sini, anak ditelantarkan demi istri mudanya dan sekarang lihat nasibnya bagaimana. Saya kasihan sama istri sahnya, dengar-dengar anak terakhirnya dijadikan tumbal demi bisa duduk di kursi DPR. Hiii ngeri saya."


"Astaga, kok bisa ya... terus anak-anak sama istri sahnya sekarang dimana?"


"Ya sudah tidak di kota ini bu, ngapain juga satu kota sama mereka berdua. IIIIhhh... dulu bau bejat, sekarang mah bau sampah... makan itu karma!"


Setelah itu mereka meninggalkan kedua pasangan itu sambil memandang jijik. Kaze memandang wajah tua bapaknya, ia yakin bapak kandungnya mendengar semua percakapan itu. Ia menggeleng pelan lalu kembali ke kantornya untuk menemui salah satu kenalannya.


"Ini nama ibu kamu?" tanya salah satu malaikat berkumis yang sedang duduk, "nama ini banyak sekali, kamu bisa menjelaskan secara spesifik? Tanggal lahir atau kota ia berada misalnya."


Kaze mengangguk mantap. "Yang pasti tidak di Malang."


Malaikat berkumis itu membuka topinya, "dengar ya anak muda, manusia yang memiliki nama ini itu banyak terutama di Indonesia, tidak tahu lagi kalau ibu kandung kamu pindah keluar negeri jadi kamu harus bisa spesifik supaya saya bisa membantu kamu."


Malaikat berkumis itu berpikir sejenak lalu menghela napas, "akan kucoba cari tapi aku tidak janji bisa menemukannya, yang penting kamu coba cari detailnya siapa tahu itu bisa membantu."


Kaze tersenyum senang. "Terima kasih."


"Sama-sama."


"Tapi jangan bilang kedia ya."


"Kenapa? Diakan sahabat baik kamu." Malaikat berkumis itu langsung paham siapa yang dimaksud Kaze.


"Pokoknya jangan, aku mohon."


"Baiklah, baiklah. Kalau yang ini kamu berhutang padaku."


"Beres."


Malaikat berkumis itu memakai topinya, "kalau begitu aku kerja dulu, aku harus tepat waktu mencabut nyawa manusia."


Kaze tertawa. "Kita berdua juga manusia."


"Jangan katakan itu di depan manusia." Malaikat berkumis itu mengingatkan sambil tertawa lalu menghilang dari hadapan Kaze.


Tak lama Jonathan menghampiri Kaze, "kamu disini rupanya."

__ADS_1


Kaze menoleh, "ah... lama tidak jumpa."


"Aku..." Jonathan menggaruk hidungnya, "aku dengar kalau tuan dukun itu... kamu yang mencabut nyawanya.


Kaze tertawa muram. "Ironiskan, dia menculik aku saat masih dalam kandungan dan menjadi budaknya sekarang malah aku yang mencabut nyawanya."


"Lalu?"


"Lalu?" Kaze mengernyit.


"Kamu tidak penasaran siapa orang tua kamu? Dukun itu pasti tahukan, tidak mungkin ia tidak tahu atau mau aku bantu?"


Kaze menggeleng. "Aku bisa sendiri."


"Bisa sendiri? Jadi kamu sudah mencari tahu?"


Kaze salah bicara. "Maksud aku, aku bisa menanganinya sendiri."


Jonathan menatap curiga Kaze, "atau jangan-jangan kamu... diam-diam mencari tahu sendiri tanpa sepengetahuanku?"


Kaze menggeleng cepat untuk menutupi rasa terkejutnya. "Aku tidak mungkin menyembunyikan sesuatu dari kamukan."


"Siapa tahu, dulukan kamu pernah iseng meskipun keisengan itu membantu aku." Jonathan mengangkat kedua bahunya. "Kalau kamu sudah tahu siapa namamu, berarti kamu sudah menjadi malaikat bernama... traktir aku ya kalau itu terjadi."


Kaze menghela napas, "iya doakan saja cepat ketemu."


"Amin."


Kaze menepuk pundak Jonathan, "aku balik ke dukun itu dulu ya."


Jonathan mengangguk lalu teringat sesuatu. "Oh ya, aku dengar ada anak yang diculik dukun itu ya? Kamu tidak membawanya kesini?"


"Namanya Nanang. Sebenarnya mau aku bawa kesini tapi masalahnya Nanang sedang ada masalah."


"Masalah apa?" tanya Jonathan tidak mengerti. "Bukannya kekuatan gaib yang diberikan jin tidak berpengaruh dengan kita?"


"Aku memiliki masalah dengan raja jin yang bekerja sama dengan dukun itu."


"Tunggu! Kamu ingin membalas dendam?" Jonathan mulai mengerti apa yang diinginkan Kaze. "Tapi dendam tidak diijinkan di tempat kita."


"Awalnya aku ingin dendam, tapi aku sudah tidak tertarik lagi. Aku membutuhkan raja itu karena dia yang membuat kontrak dengan bapak kandungku."


"Kamu yakin?"


"Dukun itu yang cerita, dia hanya menjadi perantara."


Jonathan menghela napas. "Mau aku bantu?"


"Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri, kamu focus dengan urusanmu."


Jonathan mengangguk. "Kalau begitu pergilah dan selesaikan semuanya."

__ADS_1


"Thanks bro." Kaze menepuk pundak Jonathan lalu menghilang.


__ADS_2