KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
SEJARAH II


__ADS_3

Waktu pun berlalu dengan cepat. Raja sudah tidak berdaya karena terlalu tua. Beliau memutuskan memberikan tahta kepada pewarisnya, sang selir menjadi panik lalu memiliki ide, dia meminta tolong putri untuk mengambilkan pesanan jahitan di penjahit terkemuka, putri menyetujuinya.


Lalu sesuai dugaan sang putri diserang pesuruh selir dan meninggal. Raja dan rakyat berduka, mereka kehilangan kabar putri cantik kesayangan sementara Selir kembali bahagia dan bersuka cita, diam-diam ia berpesta pora atas kenaikan tahta putranya.


Sesuai tradisi, Raja meletakan mahkota satu hari satu malam di ruang khusus. Keesokan harinya dihadapan petinggi istana dan duta besar, pangeran mahkota yang buta naik tahta. Setelah mahkota disematkan ke kepala pangeran mahkota seluruh pendukung pangeran mahkota dan selir bersorak sementara pendukung lama ratu dan putri hanya menghela napas tidak berdaya, mereka sudah tahu kelakuan buruk sang selir, keinginan memberontak mereka kian membesar.


Tak lama pangeran mahkota jatuh ke lantai dan meninggal. Semua yang ada disitu terkejut termasuk raja, selir lari menghampiri putranya dan menangis keras, menuduh semua orang membunuh putranya.


"Sayang sekali kalau yang membunuh putramu itu adalah kamu sendiri."


Semua orang menoleh ke arah pria bertudung hitam yang berdiri dihadapan pangeran mahkota. "Dia sudah mati."


"Kamu, kamu pasti membunuh anakku!" seru selir. "Pengawal! tangkap dia! hukum mati dia!"


Tidak ada yang mendekat ke pria bertudung itu. "Saya sudah membuat pingsan seluruh pengawal, maafkan saya Yang Mulia Raja." Pria bertudung itu menunduk hormat. "Para petinggi istana dan duta besar juga tidak mungkin mendekati saya mengingat betapa kotornya saya."


Petinggi istana dan duta besar hanya berdehem canggung.


"Yang mulia, silahkan masuk." Pria bertudung itu berlutut kearah pintu yang terbuka, saat seorang perempuan masuk. Semua di dalam ruangan menarik napas terkejut.


"Putri! masih hidup?!" seru raja tidak percaya.


Putri menatap raja dengan sedih, "Yang Mulia."


"Kenapa kamu masih hidup? bukankah kamu sudah mati?!" seru selir di samping mayat putranya.


"Mengapa anda tahu saya sudah mati?" tanya putri.


Sang selir baru menyadari kesalahannya, "Karena- karena orang-orang mengatakan-"


"Karena saat itu anda di sana untuk memastikan kematian putri." Pria itu membuka tudungnya, ternyata pria itu adalah pemuda yang menyelamatkan putri dari jurang. "Saya adalah malaikat pencabut nyawa, tugas saya sekarang mencabut nyawa pangeran mahkota."


"Dengarkan Yang Mulia! pemuda ini mengakui dirinya pembunuh!" teriak selir sambil menunjuk pemuda itu.


Raja terlalu kalut, beliau masih tidak mengerti apa yang terjadi. Ia hanya memeluk erat tangan putrinya supaya tidak meninggalkannya lagi.


"Yang mulia!" bentak selir. "Pangeran mahkota meninggal di hadapan kita tanpa sebab, apa Yang Mulia tidak bersedih?! saya sebagai ibunya berduka, anda malah menggenggam tangan perempuan yang mirip dengan putri!"

__ADS_1


"Berduka? untuk perempuan yang mengorbankan janinnya demi kematian putri masih menyebut dirinya ibu?" pemuda itu tertawa keras.


"Janin ap-"


Pemuda itu menarik selir dan menggenggam erat tubuhnya. "Yang Mulia, periksa kedua mata pangeran mahkota."


Selir itu meronta. "Jangan! jangan berani menodai putraku dengan tangan kotor kalian!"


Putri menarik pelan raja ke tubuh pangeran mahkota yang sudah tidak bernyawa. "Ayo, ayahanda."


Raja pasrah dan berlutut, ia membuka penutup mata pangeran mahkota, betapa terkejutnya ia, sang putra mahkota bermata hijau. "Kenapa-"


Selir menjadi ketakutan sekaligus bingung. Bukankah anak yang belum lahir itu bermata hijau? kenapa sekarang menjadi berubah?


"Selir diam-diam berselingkuh dengan musuh anda, dan merencanakan mengambil alih negeri ini." Pemuda itu menjelaskan sambil tetap memegang selir.


"Bohong! Saya keturunan negeri yang anda musuhi, saya menutup mata pangeran supaya anda tidak mengingat musuh anda Yang Mulia," tangis selir.


"Justru kau yang berbohong! apa perlu aku datangkan raja negeri sebelah kesini?" ancam pemuda itu.


"Berani sekali kau menipuku selama ini." Geram raja. "Tidak akan ku maafkan kau, buang dia ke tempat jauh!"


"Dosa wanita ini tidak sebatas itu. Wanita ini juga membunuh ratu dan tiga kali berusaha membunuh putri, yang pertama mendorong jatuh kereta dan para pengawal ke jurang, kedua berusaha membunuh putri dengan menyuruh seseorang dan ketiga saat ini. Mengoleskan racun ke mahkota, yang ketiga ini merupakan senjata makan tuan."


"Saya tidak-"


"Ingatkah kamu. Kamu menukarkan janin ke dukun supaya bisa membunuh putri?" potong pemuda itu.


Putri memekik ngeri sementara raja menggelengkan kepalanya.


"Ini sebabnya saya bersikeras menikah dengan orang yang saya cintai bukan yang dipilih para tetua," kata raja dengan sedih.


"Jadi ramalan yang dikatakan bibi pengasuh sebenarnya itu benar? hanya saja itu terbalik?" tanya putri.


"Ya. Fakta itu sengaja dibalik selir dan pendukungnya." Pemuda itu menoleh ke petinggi istana yang mendukung selir. Pengawal mengepung istana sehingga mereka tidak bisa kabur.


"Dan janin itu adalah-" Raja baru ingat.

__ADS_1


"Janin itu adalah anak kandung anda raja, dan- janin itu adalah saya." Pemuda itu tersenyum.


"Ap-" Selir itu terkejut dan menoleh ke pemuda itu.


"Terima kasih putri, tidak- kakak. Berkat kakak, saya jadi tahu siapa diri saya meskipun tidak pantas menyebut diri saya sebagai adik."


Putri itu mengerjapkan mata tidak mengerti.


"Masih ingatkah kakak dengan anak kecil yang menangis di bawah pohon depan kamar kakak?" tanya pemuda itu.


Putri itu mengangguk, bagaimana ia bisa melupakan hari itu? ia selalu mengingatnya, setiap hari berdoa supaya anak itu menemukan orang tua dan keluarganya.


"Itu adalah saya." Pemuda itu tersenyum miris. "Saya sudah menemukan keluarga saya meskipun dalam keadaan seperti ini."


Raja menghampiri pemuda itu dan memegang pipinya, "lesung pipimu mirip sekali dengan ibu saya, nenek kamu."


"Anda mempercayainya?" tanya pemuda itu tidak percaya.


"Engkau sudah menyelamatkan putri, kakak engkau kenapa ayahanda tidak boleh percaya?" tanya raja itu sambil tersenyum sedih. "Maafkan ayahanda karena engkau merupakan janin dari wanita jahat."


Pemuda itu menoleh ke selir yang tetap meronta. "Wanita ini memang jahat, biar bagaimanapun dia tetap ibu saya. Sudah waktunya saya pergi."


"Kemana?" tanya raja.


"Tugas saya sudah selesai termasuk pekerjaan. Saya tidak boleh berada di dunia ini lagi." Pemuda itu tersenyum sedih. "Terima kasih kakak, ayahanda. Saya jadi bersyukur bisa hidup di dunia ini meskipun dengan wujud lain."


Raja menangis sedih begitu juga dengan putri yang memeluk adiknya.


"Disini saja, bersama kami." Isak putri.


Pemuda itu menggeleng. "Saya sudah tidak memiliki jantung. Jantung saya untuk menyelamatkan putri dari tikaman pesuruh ibu saya. Sebagai seorang anak, saya meminta maaf atas kejahatan ibu saya." Pemuda itu menunduk. "Terima kasih ayahanda sudah percaya."


Raja mengangguk dan menarik putrinya ke dalam pelukan. "Ayahanda berjanji akan membuatkan nisan kau nak, dan selalu mendoakan kau disini."


Pemuda itu mengangguk dan menitikan air mata. "Terima kasih banyak."


Setelahnya pemuda itu menghilang bersama dengan jeritan kesakitan selir, mereka berdua sudah hilang entah kemana meskipun dicari seluruh pelosok negeri sementara pendukung raja dan putri memerintahkan pengawal menangkap pendukung selir dan menghukum mati mereka atas pengkhianatan, lalu tubuh mereka dibuang bersama tubuh pangeran mahkota yang meninggal jauh dari istana, raja membangun sebuah makam kosong dengan nama putranya, janin yang sudah menghilang.

__ADS_1


Setelah peristiwa itu sang putri naik tahta menggantikan raja dan adiknya, ia memerintah negerinya dengan arif dan bijaksana dan membuat musuh lama menyerah. Sang putri berjanji akan hidup sesuai keinginan ratu dan adiknya yang sudah melindunginya dari bahaya.


                                                 


__ADS_2