KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
TIGA PULUH TUJUH


__ADS_3

Aya duduk bersandar di dinding gua sambil memangku Jo, boneka penguin buatan Jonathan. "Berapa lama lagi kita harus menunggu?"


"Sedikit lagi."


"Aku jadi tidak bisa membedakan apakah sudah pagi atau malam di luar sana." Aya memejamkan matanya.


Jo menoleh ke belakang. "Sebaiknya kamu istirahat, pasti teman-teman di luar sudah membantu."


"Maksudnya teman Jonathan?" Aya menggaruk tengkuknya. "Yah, memang dia sama-sama malaikat tapi tetap saja aku meragukannya apalagi dia berusaha membunuh aku dan Andrea meskipun itu demi Jonathan."


"Aku tahu."


"Darimana kamu mengetahuinya?"


"Saat tuanku membuatku, sebagian ingatannya ikut."


Aya menghela napas. "Aku benci harus menunggu saja disini."


DUAGH! DUAGH!


Aya menoleh ke arah pintu masuk gua yang bergetar hebat. "Apa itu?"


"Kita sudah berpindah tempat, sepertinya ke tempat yang tidak menyenangkan." Jawab Jo.


DUAGH! DUAGH!


Aya lari dan duduk di samping Jonathan, memegang erat baju Jonathan.


"Jangan berisik, mereka memaksa masuk kesini karena penasaran, tapi mereka tidak tahu ada orang disini." Tegur Jo.


Kepala Aya dibenamkan ke pundak Jonathan. Ia benar-benar ketakutan sekarang. "Sampai kapan seperti ini?"


DUAGH! DUAGH!


"Sebenarnya apa itu?" tanya Aya yang gemetar ketakutan.


"Itu hanya hewan buas biasa, sepertinya rumahnya memang di dalam gua. Hewan itu marah karena tidak bisa masuk ke dalam rumahnya." Jawab Jo.


Aya mengabaikan penjelasan Jo, ia berdzikir dalam hati.


_________________


Teman Jonathan dan Seruni sudah berpindah tempat di tengah sawah. Kehadiran mereka tidak tampak di mata manusia biasa.


"Kamu tidak kerja?" tanya Seruni.


Teman Jonathan memamerkan tangan kanannya ke Seruni. "Lihat! Semuanya sudah selesai, tinggal aku awasi."


Seruni menelitinya dengan seksama. "Baguslah kalau kamu memang kerja, sekarang bagaimana kita mulainya?"


"Apanya?"


Seruni memutar kedua bola mata. "Keris itu."


Teman Jonathan memutar otak. "Seroja dimana sekarang?"

__ADS_1


"Sepertinya mencari keris di air terjun, tadi suruhan aku ke sana." Jawab Seruni.


"Kalau begitu kita kembali ke rumah Andrea.


"Untuk apa ke sana lagi?" tanya Seruni.


"Kita pakai cara cepat dan kasar. Ke dukun bapak Andrea, itu berarti kita harus bertemu dengan adik Andrea."


"Apa hubungannya adik Andrea dengan dukun itu?" tanya Seruni.


Teman Jonathan mendecak kesal. "Kamu pernah menjaga Andrea masa tidak merasakan apapun?"


Seruni menaikan salah satu alisnya untuk menuntut jawaban.


"Dengar, aku memang tidak pernah bertemu langsung adik Andrea, tapi saat di rumah itu- aku tahu kalau ada yang tidak beres dengan adiknya, dengan kata lain kemungkinan besar ada beberapa makhluk gaib yang awalnya menempel di Andrea jadi beralih ke adiknya."


Seruni melotot ngeri. "Kenapa aku tidak pernah kepikiran?"


"Tentu saja kalian tidak pernah berpikir sampai sana, fokus kalian hanya Andrea." Sindir teman Jonathan.


"Kamu- pernah bertemu dengan makhluk yang menempel di adik Andrea?" tanya Seruni.


"Ada salah satu yang tinggal di kamarnya, aku rasa mudah saja bertemu dengan makhluk itu, terutama jika kita paksa bicara."


"Tadi dia ada disana?" tanya Seruni.


Teman Jonathan menghela napas. "Kalau sekarang sepertinya kawanannya ada alias inangnya. Adik Andrea."


"Kita ke sana." Seruni memegang tangan Jonathan dan melakukan transportasi.


Teman Jonathan melihat berbagai macam makhluk gaib menempel di badan adik Andrea. Sesuai tebakannya, makhluk gaib itu beberapa diantaranya berasal dari dukun bapak Andrea.


Seruni memandang jijik para makhluk itu dan mulai menghitung. "Satu, dua, tiga-"


"Niat amat menghitung."


Seruni mengabaikan sarkas teman Jonathan. "Ada sekitar 20an. Kamu mau tanya yang mana? mereka menatap kita dengan kesal."


Teman Jonathan mendecak kesal. "Duh, gara-gara kamu nih."


"Malah nyalahin aku."


"Kalian siapa?" salah satu makhluk gaib yang menempel Andre mendekati teman Jonathan dan Seruni.


"Kami ingin bertanya." Teman Jonathan maju selangkah. "Kalian kenal dengan teman bapak anak yang kalian tempeli? yang dukun itu." Tanya teman Jonathan.


"Maksud kamu temannya Mahmud?" tanya salah satu makhluk berwujud perempuan.


Mahmud?


Teman Jonathan mencoba mengingat pemilik nama itu.


Seruni menyenggol tangan teman Jonathan. "Nama bapak kandung Andrea."


Teman Jonathan menjentikkan jarinya. "A- terima kasih."

__ADS_1


"Ada hubungan apa kalian dengan Mahmud?" tanya salah satu makhluk gaib berwujud anak kecil.


"Anak kecil jangan ikut-ikutan ya, aku tahu kalau kamu tidak tahu apa-apa." Seruni maju selangkah untuk menantang mereka. "Tidak peduli apa urusan kami dengan si Mahmud ini, yang pasti beritahu informasi itu ke kami!"


Teman Jonathan bertepuk tangan dengan heboh.


"Apa yang ingin kamu ketahui?"


Seruni dan teman Jonathan sontak mundur selangkah. Kali ini yang mereka hadapi sosok makhluk gaib yang paling tua mendiami tubuh adik Andrea.


Teman Jonathan bersiul nyaring. "Sepertinya lebih susah dari bayanganku."


Seruni melirik sekilas teman Jonathan lalu menatap lurus makhluk gaib berukuran sedang dan berpenampilan seperti orang tua. "Pertama, kenapa kamu mendiami tubuh adik majikan kami?"


"Sama halnya dengan kamu yang mendiami tubuh kakak anak ini." Jawab makhluk itu.


"Tidak. Tujuan kamu bukan perlindungan, tapi penghancuran!" balas Seruni. "Aku tanya sekali lagi, untuk apa kamu mendiami tubuh adik majikan kami?"


"Buat apa kami menjawab?" makhluk gaib itu balas bertanya.


"Karena-"


Seruni mengangkat tangannya di depan wajah teman Jonathan untuk diam. "Serahkan ini padaku, malaikat tidak ada urusannya dengan ini."


Teman Jonathan mengangkat kedua bahunya lalu berjalan mundur dua langkah. Ia tidak mau mengganggu diskusi para makhluk gaib.


"Kamu pasti salah satu kiriman teman Mahmud bukan? Perjanjian lah yang membuat kalian mendiami tubuh adik majikan kami."


"Hahahaha kamu tahu apa anak kecil. Jangan hanya karena kamu memiliki status lebih tinggi dari kami, sehingga bisa memperlakukan kami seenaknya." Tawa makhluk itu.


"Jadi kamu tidak berniat memberikan informasi ke kami?" tanya Seruni.


"Tidak." Makhluk itu menjawab dengan tegas, disambut suara tawa makhluk-makhluk lainnya.


"Baiklah! hei, kamu!" Seruni menoleh ke belakang. "Bereskan mereka!"


"Apa?! Kamu kan yang bilang mau menghadapi mereka."


"Ya, untuk diskusi. Aku tidak mau mengotori tanganku untuk menyentuh makhluk rendahan." Seruni mengangkat dagunya dengan angkuh.


Teman Jonathan mendecak dengan kesal. "Itu berarti aku juga akan mengusir kalian dari tubuh adik Andrea."


"Begitu lebih baik."


"Kamu malaikat pencabut nyawa? Untuk apa malaikat bekerja sama dengan jin?" tanya makhluk gaib berwujud perempuan."


"Bukan urusan kamu." Seringai teman Jonathan yang mengangkat tangan kanannya. Telapak tangannya di arahkan ke para makhluk itu. "Setidaknya aku bisa mendapatkan informasi dengan kasar."


"Tu- tunggu! Kalau kamu menghabisi atau mengusir kami dari tubuh ini, anak ini akan sakit." Ujar makhluk gaib berwujud perempuan.


"Bukan urusan kami." Sahut Seruni. Dia tahu kalau itu hanya akal-akalan makhluk itu.


"Baik, baik. Kami akan cerita, tapi jangan sakiti kami." Ujar salah satu makhluk gaib yang berwujud hewan ular.


"Ceritakan!" perintah teman Jonathan.

__ADS_1


__ADS_2