KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
SPECIAL CASE KAZE II


__ADS_3

Sepuluh tahun kemudian Kaze mendengar wanita itu meninggal dari Henry, sang ibu dimakamkan di samping nisan kosong tidak bernama, awalnya banyak orang heran dan terus berdatangan melihat makam itu hingga akhirnya Ratna meletakan foto janin di nisan. Tidak ada nama dan tanggal atau tahun lahir, yang ada hanya tahun kehilangan janinnya.


"Pergilah kesana, kamu sudah lama tidak bertemu dengan diakan terutama belum mengucapkan terima kasih pada keluarga itu." Saran Henry


Kaze diam menunduk, ia tidak berani menatap Henry. "Aku banyak pekerjaan."


"Pekerjaan kita hanya mencabut nyawa dan mengawasi roh yang akan berangkat." Henry berkacak pinggang, ia gemas melihat kelakuan Kaze yang duduk seharian, "kamu kira aku tidak tahu kalau kamu hanya duduk disini?"


Kaze melirik sekilas Henry yang berdiri didepannya lalu meminum susu cokelatnya kembali.


"Pergilah kesana, aku akan menggantikan semua tugasmu. Mana tanganmu!"


Kaze cemberut lalu memberikan tangan kanannya ke Henry.


Henry menggenggam erat tangan kanan Kaze hingga mengeluarkan asap, "pokoknya pergilah ke Inggris... berterima kasihlah pada nyonya itu." Henry melepas genggaman tangannya.


Kaze melihat telapak tangan kanannya, muncul tulisan di jari manisnya. "Ratna Sujana, 78 tahun. Hanya satu?"


"Tiap malaikat pencabut nyawa hanya menangani lima roh yang sedang berada di dunia manusia selama 40 hari lalu dicatat di tiap jari tangan kanan bukan?" Henry menyeringai, "tapi berbeda dengan kami yang berhadapan dengan area iblis, negara Inggris merupakan tempat berkumpulnya para iblis secara rahasia, iblis yang melakukan praktik makan jantung dan minum darah malaikat seperti kita, kami hanya menangani satu roh selama 40 hari di Inggris."


Kaze menghela napas dan membaca kembali nama di jari manisnya, "hari ini benar-benar menganggur."


"Anggap saja ini kebaikan hatiku, tenang saja... mereka tidak akan menyerangmu kembali." Henry menepuk pundak Kaze dan mengirimnya ke London tanpa persetujuan Kaze.


Kaze mengangkat kepalanya, ia melihat pemandangan sekelilingnya sudah berubah. "Orang itu..." Geram Kaze lalu ia berdiri dan melihat Ratna berdiri di depan nisan dirinya sendiri dan nisan tak bernama.


Kaze menelan saliva, ia masih belum siap.


"Nak Angin tidak mengunjungi tempat ini lagi?" Ratna bicara sambil tetap memunggungi Kaze.


"Saya..."


"Saya tahu perbuatan suami saya dan saya tahu bagaimana rasa sakit hati kedua putri saya untuk melindungi adiknya. Itu sebabnya saya memilih dimakamkan disini, makam kosong dengan nisan tidak bernama."


Kaze menelan saliva.


"Nak Angin ingin melihatnya?"


Kaze maju dan berdiri di samping Ratna, Kaze menutup mata, ia masih tidak berani membaca nisan itu.


Ratna tersenyum lalu menunjuk nisan itu, "lihatlah."


Kaze membuka matanya perlahan dan membaca nisan di depannya, masih tidak ada nama yang tertera... hanya foto janin dan tahun hilangnya janin itu. "Kenapa..."


"Saya dan kedua anak saya memutuskan membiarkan nama nisan ini kosong, karena kami tahu 'dia' masih hidup." Ratna tersenyum, "benarkan nak Angin? Bukankah beberapa janin yang diselamatkan menjadi malaikat pencabut nyawa?"


Kedua mata Kaze terbelalak, "bagaimana anda tahu?"


"Ra... ha... si... a." Ratna tertawa geli lalu menyentuh kedua pipi Kaze, "benar kata Laura dan Aura, pipi nak Angin lembut dan halus seperti bayi."


Kaze memejamkan kedua matanya dan menunduk, ia memegang kedua tangan Ratna yang menyentuh pipinya. Begini ya rasanya genggaman tangan seorang ibu.


Ratna menitikan air matanya, "bisakah kamu memaafkan ayahmu?"


Kaze terisak lalu mengangguk keras.

__ADS_1


"Ada satu cerita yang belum kamu ketahui."


Kaze menatap mata ibunya, "apa itu?"


"Sewaktu bapak kamu sakit, memang ada seseorang yang berusaha melindungi dirinya... ibu tahu siapa yang melindunginya, dia adalah jin genderuwo yang melindungi rumah kita di Indonesia."


Kaze tercengang mendengarnya, di dalam mimpi memang pernah ditunjukan tapi tidak ada tentang hal itu.


"Tapi genderuwo itu tidak langsung mengambil kamu, karena tugasnya memang melindungi rumah dan bapak kamu dari siapapun termasuk malaikat pencabut nyawa."


"La... lalu...?"


Ratna menghela napas. "Lalu bapak kamu yang sudah sembuh mulai putus asa, karena uangnya sudah mulai menipis... ia melakukan hal nekat, ia pergi ke dukun langganannya dan meminta tolong menjadikan dia anggota DPR dengan pertukarannya kamu dalam bentuk janin."


Kaze menghela napas. Jadi itu kelengkapan ceritanya, "tapi bagaimana ibu tahu mengenai hal itu? terutama aku..."


"Aura dan Laura yang menceritakannya." Potong Ratna, "Awalnya ibu tidak percaya, setelah kamu menghilang... mau tidak mau ibu percaya, setelah itu kedua kakak kamu mati-matian mencari uang untuk meninggalkan Indonesia, beruntung mereka berdua bertemu dengan pria baik."


Kaze merenung. Seandainya saja ia memiliki kekuatan untuk menolong keluarganya...


"Waktu itu kami tidak tahu bagaimana cara menyelamatkanmu, maafkan kami... maafkan kami..."


Dahi Kaze bersentuhan dengan Ratna, "tidak perlu minta maaf... aku berterima kasih karena diberi kesempatan seperti ini."


"Siapapun namamu, dimanapun kamu berada... kamu tetap anakku."


Kaze terisak, ia mengangguk.


"Bagi kami... nama itu tidak penting, yang terpenting kamu selamat dan hidup sampai sekarang."


Kaze mengangguk.


Kaze mengangguk.


"Aku menyayangimu."


"Aku juga menyayangimu... Ibu."


Ratna tersenyum bahagia, ini kali pertamanya Kaze memanggilnya Ibu. Setelah itu Ratna menghilang dari hadapan Kaze. Kaze jatuh berlutut dan memegangi kedua pipinya.


Henry dan Jonathan yang berdiri tidak jauh dari sana hanya menghela napas.


"Ironis... tahu siapa keluarganya tapi tidak tahu namanya." Henry buka suara, "padahal bagi kita yang tidak memiliki keluarga, nama peninggalan keluarga itu sangat berharga."


Jonathan melirik Henry, "bagi manusia... nama itu hanya sebuah nama, karena mereka menyadari usia mereka pendek, jadi nama tidak terlalu penting bagi mereka... yang terpenting adalah bagaimana cara mereka menjalani hidup bersama keluarganya."


"Tidak semua manusia seperti itu, ada lho manusia yang mementingkan nama dan artinya supaya anaknya kelak sukses."


Jonathan menaikan salah satu alisnya lalu balik badan, "yah... terserahlah."


"Hei! Kamu mau kemana?" seru Henry pelan.


"Ke suatu tempat." Jonathan melambaikan tangannya sambil tetap memunggungi Henry lalu menghilang.


Henry menghela napas. "Dasar, mentang-mentang usianya lebih tua seratus tahun." Gumamnya setelah itu merintih kesakitan merasakan telapak tangannya yang memerah, "ah... waktunya kerja!"

__ADS_1


Henry melihat sekali lagi Kaze yang masih menangis, mungkin lebih baik membiarkan anak itu sendiri. Putusnya.


Setelah puas menangis, Kaze menghapus sisa air mata di kedua pipinya lalu jalan menelusuri kota London menuju rumah kedua saudarinya. Sekarang musim dingin dan salju sudah mulai turun, warga London lalu lalang sambil membawa bungkusan besar dengan suka cita.


Kaze memandang iri kedua pasangan di depannya, pasangan muda dengan balita laki-laki yang digendong di pundak.


Balita itu menoleh ke belakang lalu melambaikan tangannya ke Kaze, Kaze celingukan, di belakang pasangan itu tidak ada orang lain lagi, hanya dirinya saja. Kaze melirik balita itu tertawa sambil memukul-mukul kepala ayahnya lalu menoleh ke belakang lagi sambil melambaikan tangannya. Kaze ikut melambaikan tangan.


Karena larut dengan balita itu, tanpa sadar Kaze sudah berdiri di depan rumah keluarga saudarinya. Ia melihat kesibukan kedua kakak dan anak-anaknya dari jendela.


Kaze memejamkan mata lalu membayangkan seandainya saja sang ayah tidak egois, seandainya... seandainya... tidak ada seandainya dan waktu tidak akan terulang kembali. Kaze hendak meninggalkan rumah itu, tiba-tiba ia mendengar teriakan Aura.


"Angin! Kaukah itu?!"


Kaze balik badan, sebagian badan Aura keluar dari jendela.


Aura berteriak menggunakan bahasa Indonesia. "Aku tidak bisa melihatmu, tapi aku bisa merasakanmu!"


Kaze tersenyum lalu mengetuk pagar yang terbuat dari kayu.


Aura mendengar ketukan itu dan tersenyum, "apa kamu sudah bertemu dengan ibu?"


Ketukan tiga kali terdengar.


Laura berdesakan dengan Aura, "siapapun namamu, siapapun dirimu... kamu tetap adik kami!"


Kaze tersenyum lega, "terima kasih." Gumamnya pelan.


"Lalu... lalu... jaga dirimu, jaga kesehatanmu! Kami menyayangimu!" Seru Laura cekikikan dengan Aura.


Kaze mengetuk tiga kali. Ia berdoa dalam hati, semoga dirinya yang mencabut nyawa kedua kakaknya sehingga bisa bertemu dan bercanda dengan mereka lagi meskipun dengan cara yang berbeda.


"Angin." Kepala Kaze mendongak ke atas, menatap langit malam London. "Tidak ada salahnya memiliki nama ini."


Meskipun lahir tidak bernama, meskipun hanya bisa bertemu dengan keluarganya selama satu hari... Kaze tidak akan menyesali semuanya, ia sudah terlanjur menjalani hidup ini. Lalu ia teringat dengan hari itu... hari pertama bertemu dengan teman Andrea.


"Kamu ngapain disini? Sudah aku bilangkan jangan kesini!"


"Aku hanya ingin melindungi sahabat baikku!"


Kaze tertawa sinis, itu hanya perasaan sesaat. Ia tidak akan lupa bagaimana hati manusia yang mudah menyakiti dan melupakan orang lain lalu ia terbius dengan mata tajam anak perempuan manusia, mata tajam seakan menusuk dirinya.


"Terserah kamu mau gimana! Pokoknya aku akan melindungi Andrea!"


Entah kenapa meskipun diperlakukan seperti itu, hatinya berdesir hangat. Lalu hari itu saat teman Andrea membuat nama untuk dirinya.


"Masa aku harus memanggilmu teman Jonathan atau kamu? Bagaimana kalau nama kamu Kaze?" tunjuk Aya pada Kaze. "Yah, meskipun sudah terlambat memberimu nama... tapi tidak apakan? Jadi aku bisa mengingatnya sebagai Kaze."


"Kaze?" Kaze terkejut.


"Nama itu cocok untukmu." Angguk Aya. "Kaze itu bahasa jepang dari angin, karena kamu seperti angin... suka menghilang sesuka hati."


Kaze tersenyum lebar. "Ah, nama yang indah." Ia jadi teringat dengan masa lalu.


Kaze menghela napas ketika mengingat kenangan dirinya bersama Aya di tengah sawah, sehari sebelum Aya memutuskan menikah dengan pria lain sementara dirinya tetap sebagai malaikat pencabut nyawa, tidak ada keinginan untuk kembali menjadi manusia meskipun itu demi cinta pertama atau sahabat sejatinya... karena pekerjaan inilah yang membuat dirinya mengerti tentang hidup yang sebenarnya.

__ADS_1


Kaze meninggalkan rumah kedua kakaknya, ia merasakan angin berhembus di sekitarnya. Angin memang cocok untuk nama yang tidak bernama seperti dirinya.


__ADS_2