KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
SPECIAL CASE KAZE


__ADS_3

___


Kaze membuka matanya ia melihat kucing berwarna hitam menjilat wajahnya, Kaze terbangun dan mengangkat perlahan kucing itu... kucing bermata hijau. Kaze melotot begitu tahu siapa kucing itu.


"A..." Kaze hendak bicara, wajahnya dicakar oleh kucing itu. Kaze mengerang kesakitan sambil menutup kedua wajahnya.


"Sudah bangun?" Ratna masuk membawa nampan berisi cangkir susu cokelat, "kamu pingsan tiga jam."


"Tiga jam?" Kaze melihat jam di dinding kamar. Jam 1? Bukannya sudah lewat batas waktu?


"Tante sempat panic nak Angin mendadak teriak dan pingsan, teman nak Angin sudah di bawah bersama menantu saya lainnya."


"Siapa?"


"Katanya teman yang bersama nak Angin di London."


Kaze keluar dari kamar sambil menggendong si kucing, ia turun ke bawah melihat malaikat berkumis tertawa bersama Thomas dan Jill, malaikat berkumis itu memakai jas rapi.


"Oh... kau sudah bangun!" Malaikat berkumis itu mengangkat cangkir tehnya, menyapa Kaze.


"Kenapa..." Kaze mendekati malaikat berkumis itu.


"Oh, ternyata kucingku sudah sampai duluan hahahaha..." tawa malaikat berkumis, "aku mencarimu kemana-mana, setelah mengikuti insting kucing itu... akhirnya aku bisa menemukanmu."


"Jadi pak Henry, bapak sudah lama tinggal di Indonesia?" tanya Jill teratrik. "Saya dengar Indonesia cocok buat liburan keluarga."


"Sejak lahir saya sudah tinggal disana." Tawa malaikat berkumis yang menyebut dirinya Henry.


Kaze menunduk dan berbisik, "sejak kapan anda menjadi Henry?"


"Kamu kayak tidak tahu kaum kita lainnya." Balas Henry dengan berbisik juga.


"Saya sempat khawatir, nak Angin teriak dan pingsan." Ratna duduk di samping Laura. "Kalau masih belum kuat, lebih baik istirahat saja."


"Ah tidak, tidak... anak ini memang suka kerasukan, makanya tidak boleh jauh-jauh dari kucing hitam saya." Henry menjawab serampangan.


Kaze menghela napas. Sejak kapan dirinya suka kerasukan? Tapi mungkin ini satu-satunya alasan yang bisa diterima terutama untuk orang Indonesia.


Kaze melirik Aura. Mimpi tadi itu apa?


Henry melihat jam tangannya, "sudah jam 1, waktunya kita kembali."


Kaze teringat dengan mimpi tadi... ia masih penasaran dengan jenis kelamin adik Aura dan Laura tapi Kaze juga tidak bisa memastikan apakah itu hanya sebuah mimpi atau mimpi mengenai masa lalu?


"Hei." Henry menepuk kedua pipi Kaze dengan keras.


Kaze menjatuhkan kucing hitam dan mengusap kedua pipinya yang sakit. "Kasar banget sih!"


Henry tertawa, "salahnya sendiri melamun."


Kaze cemberut mendengar jawaban Henry.


Laura dan Aura menghampiri Kaze lalu mengusap pipinya di kedua sisi. Laura di sebelah kiri sementara Aura di sebelah kanan.


"Sakit, sakit... hilanglah." Laura mengusap lembut pipi Kaze, "pipi kamu seperti bayi, lembut dan halus."


Aura tertawa dan mengangguk setuju.


Kaze menunduk malu. Ah... seandainya mereka berdua benar-benar saudara kandungnya.


Henry mengangkat kucing hitamnya, "waktunya kita pergi."


Kaze menggigit bibir bawahnya. Apa? Apa jenis kelamin adik kalian?


Henry menggandeng tangan Kaze. "Ayo... waktunya terbatas."


Kaze melepas tangan Henry. "Boleh saya tanya satu hal?"


Laura dan Aura berdiri di sisi ibu mereka.


"Apa... apa jenis kelamin adik kalian?" tanya Kaze.

__ADS_1


Laura dan Aura saling melirik, Ratna menatap sedih Kaze.


"Kumohon... aku ingin mengetahuinya..." seru Kaze, berusaha melepas tarikan Henry.


"Kalau kamu ingin mengetahuinya... datanglah ke tempat kita bertemu sebulan lagi." Jawab Ratna dengan sedih.


Laura dan Aura mengangguk bersamaan.


Setelah itu Henry, Kaze dan kucing hitam lenyap dari pandangan mereka. Thomas dan Jill terkejut.


"Itu... itu tadi apa?" tanya Thomas pada Aura. "Mereka... mereka penyihir?"


Jill tertawa hambar. "Mana ada penyihir di dunia ini..."


Aura dan Laura tertawa sementara Ratna meninggalkan ruang keluarga.


"Hei, jangan menakut-nakuti kami... kenapa mereka menghilang? Kamu tidak terkejut? Tidak takut?" Jill mengguncang tubuh Laura.


Laura menepuk kedua bahu suaminya, "tidak apa, mereka tidak jahat kok... itu hanya kenalan lama."


Aura menggandeng Thomas masuk ke dalam kamar, wajah suaminya mendadak pucat. "Aku ceritakan di dalam, ayo!"


__


"Kamu ini seharusnya tahu, tidak mungkin ada yang memberikan kekuatan secara gratis kecuali iblis, kalau saja kami berdua tidak mencarimu... roh kamu sudah lenyap!" Henry berkacak pinggang di depan Kaze yang sedang duduk di ayunan taman. Sekarang ia sudah memakai jubah panjang berwarna hitam favoritnya.


"Kalian pernah melihat malaikat pencabut nyawa bermata cokelat di kanan dan hitam di kiri?" tanya Kaze sambil tetap menunduk.


Jonathan yang sudah kembali ke wujudnya menoleh ke Henry. "Memangnya ada?"


Henry menghela napas. "Kalaupun ada, pasti terkenal sekali di kalangan kita!"


"Namanya juga Henry seperti dirimu." Kaze mengangkat kepalanya.


"Dengar ya anak muda, nama Henry itu banyak yang pakai." Henry duduk di ayunan sebelah Kaze. "Kamu kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"


Kaze kembali menunduk. "Karena malaikat itulah yang tahu jenis kelamin adik Laura dan Aura."


"Tahu darimana?" tanya Henry.


"Mi... mi... mimpwattpadi..."


Jonathan mengacak rambut Kaze. "Mimpi itu bunga tidur, jangan terlalu dipercaya."


"Tapi..." Kaze mengangkat kepalanya.


Henry berdiri, "ayo kembali ke Indonesia! Aku ada kerjaan nih." Henry menunjukan telapak tangan kanannya lalu menoleh ke Kaze, "kamu masih mengawasi dukun itukan?"


Kaze teringat kembali dengan pekerjaannya. "Oh iya! Sekalian saja tanya dukun itu!"


"Percuma, percuma." Henry mengibaskan tangannya, "dukun itu sudah tua, dia tidak akan ingat jenis kelamin korbannya."


"Benar juga." Kaze kembali menunduk.


"Jangan bersedih, kembalilah ke London sebulan lagi... mungkin ada jawabannya." Kata Jonathan.


Kaze berdiri, "tetap saja lama."


"Lho." Wajah Jonathan mendekati wajah Kaze, "kamu menangis?"


Kaze menutup kedua matanya dengan punggung tangan kanan. "TIDAK!"


Jonathan mengacak rambut Kaze. "Menangislah, memang sulit menghadapi ini semua."


"AKU TIDAK MENANGIS!" Pekik Kaze.


Jonathan menarik Kaze ke dalam pelukannya, "tidak apa... pria menangis itu hal yang lumrah, yang penting jangan menangis di depan wanita."


Kaze tidak kuasa menahan air matanya, ia menangis di pelukan Jonathan seperti anak kecil, tidak mempedulikan ada Henry di samping mereka.


Henry menghela napas melihat kelakuan kedua sahabat itu.

__ADS_1


Setelah puas menangis, Kaze memutuskan kembali ke Indonesia sementara Henry berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya di Inggris.


"Hebat ya dia, bisa bertugas di Inggris." Kaze menatap iri punggung Henry.


"Pekerjaan dia berhubungan dengan iblis, berbeda dengan kita yang hanya mencabut nyawa biasa." Jawab Jonathan dengan enteng.


"Memang ada bedanya dengan jin dan iblis?" tanya Kaze bingung.


Jonathan mengangkat kepalanya memandang langit Inggris yang sudah mulai pagi, "iblis menyerang makhluk seperti kita untuk dimakan sementara jin menyerang manusia untuk keuntungan mereka sendiri, kamu paham?"


Kaze mengekori Jonathan yang sudah mulai jalan meninggalkan taman, "ngomong-ngomong bagaimana kalian bisa menemukanku? Lalu iblis itu?"


Jonathan menghentikan langkahnya dan balik badan, ia membungkuk dan kepalanya bersandar di pundak Kaze. "Jangan mengulangi hal ini lagi, keluargaku sekarang hanya kamu... seandainya kami terlambat, aku akan kehilangan kamu."


Kaze memejamkan kedua matanya. "Maaf."


"Untung saja Henry sering berada disini dan melacak keberadaan iblis itu, dia juga yang menyarankan aku untuk menggigit leher iblis itu."


"Kenapa leher?"


Jonathan mengangkat kepalanya dan memandang Kaze. "Iblis itu ingin makan jantung dan minum darah kita, makanya Henry menyuruh kita memutus urat nadi di lehernya hingga musnah."


Kaze menghela napas. "Maafkan aku, kalian berdua jadi terlibat seperti ini."


Jonathan tersenyum, "tidak apa. Yang penting kamu selamat."


Kaze berjanji dalam hati tidak akan mengulangi perbuatannya lagi, lalu... tentang makam itu, mungkin suatu hari nanti jika hatinya sudah siap... ia akan datang kesana tanpa merasa sedih atau beban. Karena sekarang ini Jonathanlah keluarganya.


Jonathan meraba-raba udara lalu mendorongnya sedikit, Kaze menghirup napas melihat Jonathan melakukan hal itu... ia merasa belum siap meninggalkan Inggris. Jonathan yang menyadari kegelisahan Kaze berkomentar, "kita masih memiliki waktu banyak untuk kembali lagi kesini lagipula kita malaikat pencabut nyawa, bukan manusia yang membutuhkan waktu berjam-jam untuk tiba ke Negara ini."


Kaze mengangguk.


Jonathan mendorong lagi udara kosong, Kaze sudah melihat sebuah tempat yang sangat ia kenal, tempat yang dekat dengan pondok pesantren. "Déjà vu?"


Kaze masuk sementar Jonathan menutup pintu udara di belakangnya, "tempat pertemuan pertama kita."


"kalau kamu perempuan pasti sudah bahagia sekalikan, biasanya anak perempuan sentimental dengan pertemuan pertama." Jonathan melihat sekelilingnya, "banyak yang sudah berubah, lebih banyak bangunan disini... pondok pesantrennya sudah lebih bagus dan besar daripada dulu."


"Untuk apa kita kesini?" tanya Kaze pada Jonathan.


Jonathan menghela napas. "Aku... berpikir untuk kembali menjadi manusia."


"A... apa?"


"Tapi aku bimbang, entahlah... tetap menjadi sekarang atau kembali menjadi manusia."


"Kamu akan meninggalkanku?"


Jonathan tertawa geli, "jangan bersikap seperti pacarku begitu, aku hanya menyuarakan keinginanku."


"Tapi kenapa tiba-tiba..."


"Jika kamu ingin mengetahui keluargamu maka aku ingin kembali ke keluargaku, aku tidak seberuntung kamu yang mengetahui bagaimana keluargaku, tapi diluar itu aku sudah bosan menjadi malaikat pencabut nyawa." Jonathan berkata tegas ke Kaze. "Karena itulah aku mengatakan hal ini dengan jujur padamu."


Kaze bisa melihat kesungguhan hati Jonathan di matanya, Kaze menatap iri mata hijau Jonathan. Seandainya saja dirinya seberani Jonathan... bertemu dengan keluarga meskipun masih berstatus malaikat pencabut nyawa tidak sebanding dengan kembali menjadi manusia... Kau harus mempertaruhkan rohmu.


"Pertaruhannya besar sekali lho." Kaze mengingatkan Jonathan.


"Aku tahu."


"Kamu sudah siap?"


"Entahlah."


Kaze mengepalkan kedua tangannya di dalam mantel sekilas lalu tersenyum, "baguslah... kali ini aku akan mendukung sahabat baikku."


Jonathan memandang muram Kaze, "itu berarti perpisahankan? Aku jadi tidak enak tadi sempat marah."


Kaze tersenyum. "Tak apa, aku maklum... kalau aku di posisi kamu, aku akan melakukan hal yang sama. Jadi tidak perlu dipikirkan."


Jonathan tersenyum dan mengucapkan terima kasih, setelah itu mereka berdua jalan beriringan mengelilingi tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2