
Aya menarik tudung pria itu masuk ke dalam rumah diikuti om Re.
"Ah, hei!" teriak pria bertudung itu.
Aya mendorong masuk pria itu dan teriak. "Bu, Aya mau istirahat sebentar!" setelah itu mengunci pintu.
Kamar yang ia masuki adalah kamar anak om Re, tepat bersebelahan dengan kamar dan tubuh om Re.
"Satu jam saja tidurnya!" teriak ibu dari dapur.
"Kasar banget sih jadi manusia, nggak diajarkan tata krama apa? eh, ngomong-ngomong kok manusia bisa menyentuhku?" pria itu mengangkat kepalanya dan membuka tudung. "Kamu-"
"Jadi itu kamu?!" Aya berkacak pinggang. "Syukurlah!"
"Apanya yang syukurlah! kamu nggak lihat apa tadi narik-narik aku sampai kepala kejedot pintu kamar? ini pula kenapa masang pintunya rendah." Teman Jonathan menoleh ke om Re.
"Malah nyalahin saya, rumah saya. Weee- salahnya sendiri mencabut nyawa orang seenaknya," ujar om Re.
Teman Jonathan menunjukan telapak tangannya. "Nih, lihat! ada nama dan data lengkap situ, emangnya aku penjahat apa! enak aja!"
"Udah! udah!" Aya berdiri di tengah dan melambaikan tangan untuk menghentikan pertengkaran mereka. "Bukan saatnya bertengkar!"
Teman Jonathan melipat tangan di dada dengan malas. "Terus, kenapa kamu tarik-tarik aku?"
"Aku ingin tanya mengenai kondisi Andrea, bagaimana keadaannya?"
Teman Jonathan mengangkat kedua bahunya. "Entahlah tapi dari yang aku curi dengar sih besok Andrea balik ke rumahnya, kamu sudah buat alasan ke mamanya kan?"
Aya mengangguk. "Terus, Jonathan? berarti Jonathan yang menghilang?"
Teman Jonathan menghela napas. "Entahlah, sepertinya memang Jonathan yang menghilang."
Aya bersandar di pintu. "Tapi, dia berjanji bersama dengan Andrea selamanya dan mereka akan menikah bukan?"
"Aku tidak tahu apa yang dipikirkan sahabatku itu, tapi dia selalu memegang janjinya."
"Janji?" tanya Aya dan om Re bersamaan.
"Mereka sudah menikah." Teman Jonathan mengangguk. "Sepertinya ada ke salah pahaman disini, Jonathan berjanji menikah dan bersama dengannya kan?"
Aya mengangguk.
"Itu berarti Jonathan hanya bersedia bersama Andrea sampai menikah, itu saja." Jawab teman Jonathan dengan enteng.
"Tapi bagaimana dengan masa depan? Jonathan berjanji akan memberikan masa depan Andrea seperti kuliah di Perancis, eh Jepang."
Teman Jonathan menghela napas. "Ada dua pilihan kan? Jonathan yang menghilang jiwanya atau Andrea yang mati kan? kalau jiwa Jonathan menghilang itu berarti dia sudah mempersiapkan masa depan Andrea dengan sesuatu tapi kalau Andrea mati berarti janji itu sudah tidak berlaku lagi."
Aya bersandar di pintu. "Kejam sekali."
"Makanya kaum kami tidak mau melaksanakan ritual itu, bodoh sekali menjadi manusia kembali, hanya akan membuang waktu!" teman Jonathan mendengus kasar. "Tapi biar bagaimanapun dia sahabat baik aku dan itu pilihannya."
Aya menendang keras kaki teman Jonathan, teman Jonathan teriak kesakitan.
"Auw! astaga! kamu tega sama orang yang sudah nolong kamu!?" teman Jonathan berguling-guling di kasur sambil memegang tulang keringnya. "Sakit!"
"Memangnya malaikat bisa ditendang manusia juga?" tanya om Re tidak mengerti.
"Terakhir." Aya menatap tajam teman Jonathan. "Bagaimana dengan kita?"
Teman Jonathan menghentikan gulingan dan duduk sambil mengusap tulang keringnya. "Tidak ada yang spesial diantara kitakan?"
"Ta... tapi kamu... ci... ci..." Wajah Aya berubah merah dan terbata-bata.
"Oh." Teman Jonathan mengangguk mengerti, "itu hanya ciuman untuk menghentikan mu."
__ADS_1
Aya menatap Jonathan tidak mengerti.
"Kamu berisik sekali sih, makanya aku diemin. Memangnya spesial ya?" teman Jonathan mengangkat kedua bahunya tanpa dosa.
Aya menunduk kecewa. Ah, iya. Kenapa dirinya bisa lupa?
"Dengar. Aku bukan orang nekat seperti Jonathan, aku menikmati pekerjaanku yang sekarang. Aku sudah kenyang dan muak dengan perilaku manusia, lalu kamu pikir aku akan melakukan ritual yang sama? tidak! Coba sekarang kamu lihat realitanya, jiwa Jonathan hilang lalu Andrea hidup dan menangis, dia harus melupakan Jonathan."
"Aku tahu." Aya mengangguk lesu.
"Kalaupun aku nekat seperti Jonathan, pada akhirnya akan sama. Kita berpisah meskipun awal ritualnya romantis bagi manusia. Kamu menginginkan itu? kalau aku tidak! Lebih baik aku tidak mau mengambilnya." Teman Jonathan melirik Aya yang menunduk lesu. "Tidak usah seperti itu, masih banyak pria di dunia ini."
Aya mengangkat kepalanya dan mendengus kasar. "Iya tahu, kamu kan lebih memilih bidadari cantik daripada manusia jelek seperti aku."
Teman Jonathan tertawa geli dan menunjuk hidungnya sendiri. "Kalau bidadari hidungnya masih kelihatan, kalau kamu? Hidung aja nggak kelihatan gimana indra penciumannya beres hahahaha."
Aya menghentakkan kakinya dan merasakan gempa bumi kecil. "Apa itu?"
"Bencana alam?" om Re menatap sekeliling ruangan. "Cuma sebentar gempanya."
Teman Jonathan mengerutkan kening ke om Re. "Memangnya kamu merasakan gempa bumi?"
Om Re mengangguk kecil. "Iya, seperti ada getaran gitu dikaki."
Teman Jonathan melirik Aya. "Ada yang tidak beres."
"Tidak beres? ada hubungan apa dengan gempa?" tanya Aya tidak mengerti.
"Temui aku di luar, kita coba cek bersama. Ada bagian yang tidak boleh aku sentuh." Teman Jonathan menghilang dari hadapan Aya dan om Re.
"Ah, hei!" seru Aya.
"Om tetap disini ya Aya, om tidak bisa lepas dari tempat ini," kata Om Re dengan muka masam. "Seandainya om bisa keluar."
"Iya. Tadi sebelum kamu datang, om diperingatkan seorang perempuan cantik pakai baju kebaya mewah terus datangnya pakai alunan music gitu- sebelumnya om merinding pertama kali melihat, tapi malah terpesona melihat kecantikannya." Om Re membelai dagunya.
SEROJA, ITU SEROJA! teriak Aya dalam hati.
"Kamu malah melamun, cepat susul teman kamu keluar sana! Siapa tahu ini penting." Om Re menepuk tangannya di depan wajah Andrea yang melamun.
Aya tersadar dari lamunan lalu terburu-buru lari ke luar rumah mengabaikan teriakan bapak dan saudara-saudaranya yang berjaga di luar rumah.
------
Andrea membuka mata, dia melihat sekeliling ruangan ternyata masih di tempat Seroja. Tadi ia bermimpi bermain di rumahnya bersama Andre. Andrea duduk dan melihat langit kamarnya yang menunjukan langit biru dan awan seputih kapas.
"Indahnya, baru kali ini aku melihat langit seindah ini." Gumam Andrea.
"Sudah bangun?"
Andrea menoleh. "Siapa?"
"Saya Seruni, saya diperintahkan tuan putri untuk menjaga anda selama tuan putri tidak ada disini." Seruni meletakan nampan emas berisi kue dan air. "Sarapan."
"Seroja memangnya kemana?"
"Tuan putri sedang keluar sebentar, anda jangan keluar dari tempat ini ya." Seruni memperingatkan Andrea. "Diluar masih bahaya, jin yang selama ini mengincar nyawa anda masih diluar."
"Bukannya sudah dimusnahkan mas Jo?" Andrea terkejut.
"Jin itu tidak akan musnah hanya dengan ditusuk dengan keris yang sama dengan miliknya, makanya tuan putri keluar mengejar." Seruni berdiri di samping tempat tidur Andrea. "Karena itu anda juga dilarang keras keluar dari kamar ini, saya akan menjaga anda disini."
Andrea mengambil kue di nampan dan mengamatinya, "ini- getuk kan?"
"Anda tahu?"
__ADS_1
"Tentu saja tahu." Andrea memakan getuknya.
"Kata tuan putri itu makanan favorit anda jadi saya menyiapkan ini untuk sarapan, maaf saya tidak bisa menyediakan nasi karena persediaan habis."
"Memangnya kalian makan sama seperti manusia?" tanya Andrea penasaran. "Maaf, semalam aku sempat khawatir dikasih makan kembang."
"Itu hanya dugaan manusia, mereka hanya mengira-ngira saja lagipula itu makanan makhluk level rendah."
"Memangnya di dunia kalian ada berbagai macam level ya?"
"Ya. Tuan putri kami memiliki kedudukan lebih tinggi."
"Kalau kedudukannya tinggi, kenapa melayani manusia seperti aku?"
"Apakah anda tidak pernah diceritakan keluarga anda?"
Andrea menggeleng pelan. "Aku berani bertaruh kalau keluargaku sendiri tidak mengetahuinya, mama saja benci hal-hal seperti itu. Mungkin itu sebabnya mama tidak cocok dengan papa ya, papakan suka cari sesuatu yang instan dengan hal seperti itu tapi kedoknya ibadah terus."
Seruni tertawa kecil. "Itulah manusia banyak sifatnya."
"Terus kamu tahu kenapa Seroja melayani keluarga kami selama beberapa generasi?"
Seruni mengangguk. "Saya tahu."
Andrea menarik Seruni untuk duduk di sampingnya. "Ceritakan dong. Aku penasaran, keluargaku sangat tertutup tentang hal ini."
"Itu karena kakek buyut anda yang orang asing dan tidak percaya hal seperti itu, makanya ceritanya terputus dari generasi nenek anda."
"Lho, jadi eyang putri juga tidak tahu mengenai hal ini?"
"Dulu tuan putri melindungi eyang putri anda."
"Ah, aku pernah mendengarnya- yang dilindungi adalah anak perempuan pertama kan?"
"Benar."
"Lalu?"
Seruni memiringkan kepalanya. "Kalau saya tidak salah mengingat, anda dulu tidak terlalu suka diceritakan hal ini oleh tunangan anda bukan? Kenapa anda sekarang menjadi penasaran?"
"Karena dulu aku benar-benar ketakutan mendengarnya, aku sendiri tidak pernah membayangkan kalau terlibat dengan hal ini." Andrea menunduk malu. "Kamu pasti mendengarnya dari Seroja atau kamu mendengar langsung. Maaf ya, aku tidak bermaksud kasar dan menyakiti perasaan kalian tapi..."
Andrea mengeratkan genggamannya di tangan Seruni. "Tapi aku benar-benar berterima kasih karena kalian masih menolong dan melindungi ku, aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikan kalian- padahal aku tidak pernah memberikan apapun kepada kalian. Apa perlu aku membakar kemenyan atau bunga?"
Seruni menggeleng. "Kami tidak seperti itu, dilarang disini."
"Benarkah?"
"Benar. Kami malah berterima kasih pada moyang anda yang sudah menyelamatkan kami."
"Memang apa yang dilakukan moyangku?"
Seruni tersenyum menenangkan, wajah cantiknya semakin bersinar. "Suatu hari nanti anda akan mengetahuinya tapi tidak dari saya, tuan putri yang akan menceritakan semuanya."
"Jadi kamu tidak akan cerita?"
"Saya minta maaf, saya tidak berhak biar tuan putri yang menceritakannya."
Tiba-tiba Andrea dan Seruni merasakan gempa kecil.
"Ditempat ini bisa ada gempa ya?" Andrea melihat pemandangan di langit-langit kamar sudah berubah menjadi langit malam. "Cepat sekali waktu berubah."
Seruni ikut melihat langit kamar yang sudah berubah gelap pekat. "ini tidak bagus."
"Eh?"
__ADS_1